Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 : Rumah atau Mansion
Pintu mobil itu terbuka perlahan. Arsen keluar dengan tenang, seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh ketegangan yang baru saja terjadi.
Tatapannya langsung tertuju pada Nayra, lalu beralih ke Angga. Dingin. Tegas. Tidak tergoyahkan. Langkahnya mendekat, berhenti beberapa meter dari mereka.
“Masuk,” ucapnya singkat pada Nayra.
Nayra menatap Arsen sesaat. Jantungnya masih berdebar kencang, tangannya dingin, tapi… ada rasa aman yang aneh saat melihat pria itu berdiri di sana.
Ia tidak ingin berpikir lagi, tidak ingin ragu lagi. Tanpa berkata apa-apa, Nayra langsung menggenggam tangan Raya dan Alea.
“Ayo, sayang masuk,” bisiknya pelan.
Raya mengangguk cepat. Ia membantu Alea masuk lebih dulu ke dalam mobil, lalu menyusul di belakangnya.
Nayra menjadi yang terakhir. Sebelum masuk, ia sempat menoleh. Untuk terakhir kalinya, tatapannya bertemu dengan Angga. Tidak ada lagi takut di sana.
Pintu mobil tertutup.
Di dalam mobil, suasana langsung hening. Alea memeluk Nayra, sementara Raya duduk di sampingnya, masih waspada.
Arsen kembali ke kursi pengemudi. Tanpa menoleh, tanpa berkata apa-apa. Mesin mobil dinyalakan. Dan… mobil itu melaju cepat.
Di luar Angga berdiri membeku beberapa detik. Lalu rahangnya mengeras. Matanya menatap tajam ke arah mobil yang semakin menjauh.
“Nayra...” gumamnya pelan, penuh amarah. Tangannya mengepal kuat. “Berani-beraninya…” Wajahnya berubah gelap.
Melihat Nayra pergi… bukan sendiri, tapi bersama pria lain... itu menghantam harga dirinya lebih keras dari apa pun. Ia menendang pagar dengan kasar.
BRAAK!
“Brengsek! Siapa dia.”
Bentakannya menggema di pagi yang masih sepi. Namun tidak ada jawaban, hanya suara mesin mobil yang semakin menjauh.
Angga mengusap wajahnya kasar, napasnya memburu. Ini bukan sekadar kehilangan, ini penghinaan. Dan Angga… bukan tipe pria yang akan diam.
Matanya menyipit tajam. “Kamu pikir kamu bisa kabur begitu saja, Nayra?” Senyum tipis, penuh amarah, terukir di bibirnya. “Kita lihat… sampai kapan.”
Sementara itu, di dalam mobil, Nayra masih diam. Tangannya memeluk Alea dan Raya bersandar di pundaknya.
Mobil terus melaju, meninggalkan jalan yang semakin asing. Di dalam mobil, suasana masih sunyi. Hanya suara mesin dan napas yang belum sepenuhnya tenang.
Nayra menatap ke luar jendela, namun pikirannya jauh ke mana-mana. Semua terjadi terlalu cepat.
Perlahan, ia menoleh ke arah kursi depan. Pria itu tetap fokus menyetir, ekspresinya datar seperti biasa. Seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah hal kecil.
Namun justru itu yang membuat Nayra semakin bingung.
“Kenapa… Anda bisa datang tepat waktu?” tanya Nayra akhirnya, suaranya pelan tapi penuh pertanyaan.
Tidak ada jawaban, beberapa detik berlalu. Arsen tetap menatap jalan di depannya.
Nayra mengernyit. “Anda mengikuti saya?”
Kali ini, Arsen sedikit menghela napas. Lalu… “saya sudah bilang,” ucapnya tenang. “Saya memperhatikan wanita yang akan menjadi calon istri saya.”
Deg.
Kalimat itu jatuh begitu saja. Namun dampaknya, langsung terasa. Nayra membeku, matanya melebar, napasnya tertahan. Seketika wajahnya memerah... antara kaget, marah, dan… entah apa lagi.
“A-apa maksud Anda?” suaranya naik sedikit, tak bisa menyembunyikan emosi.
Di sampingnya, Raya langsung menoleh cepat ke arah Nayra, lalu ke arah Arsen. Matanya menyipit, penuh waspada.
“Calon… istri?” ulang Raya pelan, memastikan ia tidak salah dengar.
Alea yang masih setengah sadar ikut menoleh bingung. “Mama…?”
Nayra langsung menggenggam tangan Alea lebih erat. Wajahnya kini serius. “Jangan bicara sembarangan di depan anak-anak saya,” ucap Nayra tegas.
Untuk pertama kalinya, ada nada marah yang jelas dalam suaranya. Namun Arsen tidak terlihat terganggu. Ia justru melirik lewat kaca spion. Tatapannya bertemu dengan Raya, beberapa detik.
“Saya tidak bicara sembarangan,” katanya datar.
Kalimat itu membuat suasana kembali menegang. Nayra menahan napasnya, Raya menatap Arsen tajam.
“Siapa Om?” tanya Raya langsung, nada suaranya tidak ramah.
Arsen tidak langsung menjawab. Ia memutar setir pelan saat mobil berbelok. Lalu akhirnya berkata...
“Orang yang akan memastikan kalian tidak kembali ke tempat itu lagi.”
Deg.
Jawaban itu membuat Raya terdiam. Matanya sedikit melebar, tapi ia tidak menunduk. Ia justru menggenggam tangan Nayra lebih erat.
Nayra sendiri masih belum sepenuhnya tenang.
“Apa Anda selalu seperti ini?” tanyanya dingin. “Mengatur hidup orang lain tanpa izin?”
Arsen tidak langsung menjawab. Beberapa detik hening. Lalu… “Saya tidak mengatur,” ucapnya pelan. “Saya hanya… memastikan.”
“Memastikan apa?” tanya Nayra cepat.
Kali ini, Arsen sedikit menoleh. Tatapannya tajam. “Bahwa kamu benar-benar pergi dari sana.”
Kalimat itu menggantung di udara. Nayra tidak bisa langsung membalas. Ada sesuatu dalam nada suara Arsen yang berbeda. Bukan hanya dingin, tapi juga pasti.
Mobil terus melaju, dan tanpa disadari... jalan yang mereka tempuh, semakin menjauh dari masa lalu Nayra.
Beberapa menit berlalu.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya melambat, lalu berbelok memasuki sebuah gerbang besar berwarna hitam dengan ornamen emas yang menjulang tinggi.
Gerbang itu terbuka otomatis. Perlahan… mobil masuk. Pemandangan di dalamnya terlihat, napas Nayra tertahan.
Hamparan halaman luas terbentang rapi, dihiasi taman yang terawat sempurna. Air mancur berdiri megah di tengah, memantulkan cahaya pagi yang mulai menyingsing.
Di kejauhan, sebuah bangunan besar berdiri kokoh. Bukan sekadar rumah, lebih pantas disebut… mansion. Megah dan Elegan.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Beberapa pelayan sudah berdiri rapi, seolah sudah menunggu sejak tadi.
Pintu mobil terbuka.
Raya turun lebih dulu, lalu membantu Alea. Begitu kakinya menginjak lantai halaman...
"Wah… rumahnya bagus banget," celetuk Alea polos, matanya berbinar-binar.
Raya langsung refleks menutup mulut adiknya. "Ssst! Kamu jangan norak," bisiknya cepat.
Alea cemberut sedikit, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Arsen yang berdiri di dekat mobil memperhatikan keduanya.
Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat.
Nayra turun terakhir. Namun begitu ia berdiri dan melihat bangunan di depannya secara utuh... langkahnya sedikit tertahan.
Ini… terlalu jauh dari dunianya. Tangannya otomatis menggenggam kedua tangan anaknya lebih erat. Seolah memastikan mereka benar-benar ada di sampingnya.
Arsen berjalan mendahului beberapa langkah, lalu berhenti dan menoleh.
"Masuk," ucapnya singkat. Nada suaranya tetap datar, tapi kali ini… tidak terasa memaksa.
Seorang penjaga segera mendekat, menunduk hormat.
“Tuan.”
Arsen hanya memberi isyarat kecil dengan matanya. “Bawa barang-barang mereka.”
“Baik, Tuan.”
Penjaga itu langsung mengambil koper Nayra dengan hati-hati. Nayra sempat ragu sejenak, tapi tidak berkata apa-apa.
Ia hanya menarik napas pelan, lalu melangkah. Pintu besar itu terbuka dan saat mereka masuk... lantai marmer mengkilap langsung menyambut. Lampu gantung kristal menjuntai megah di atas, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.
Ruangannya luas… terlalu luas. Alea langsung menatap ke atas dengan kagum.
"Ma… ini kayak di film…"
Raya kali ini tidak menyahut. Ia hanya diam. Matanya menyapu setiap sudut ruangan, penuh kewaspadaan.
Nayra bisa merasakan itu. Anaknya… sedang berjaga, melindunginya.
Arsen berjalan masuk tanpa melihat ke belakang, seolah yakin mereka akan mengikutinya. Dan memang… Nayra tidak punya pilihan lain. Ia mengikuti, langkahnya pelan. Hatinya masih penuh tanya.
Arsen akhirnya berhenti di tengah ruangan. Lalu menoleh tatapannya jatuh pada Nayra.
“Mulai hari ini,” ucapnya tenang, “ini rumahmu.”
Kalimat itu membuat Nayra terdiam. Rumah? Atau… tempat asing yang harus ia pelajari dari awal?
Raya menggenggam tangan Nayra sedikit lebih erat.
semangat, lanjut thoor😄👍