NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17 Datangnya Bantuan

Disaat yang begitu genting. Pertahanan Aksa pun mulai melemah. Ia terlalu banyak mendapatkan pukulan sehingga tubuhnya mulai tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Aksa berpikir keras untuk bisa melawan. Tapi tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan seseorang dari kejauhan. Aksa tidak tahu siapa orang itu.

Prok prok prok

"Wah wah! Benar-benar tidak tahu malu. Bagaimana kalian itu seperti kumpulan orang yang lemah dan pengecut. Bisanya cuma mengeroyok lawannya. Ck ck ck menyedihkan sekali, " ucap orang itu begitu terdengar santai saat menghina sekumpulan pemuda mabuk itu. Aksa mendengarkan suaranya dan dia seolah mengenal suara tersebut.

Mendapatkan penghinaan itu, lantas para pemuda mabuk itu menoleh ke arahnya dan berhenti memukuli Aksa. Mereka menatap dengan sangat liar dan penuh amarah.

"Loh siapa? Gak usah ikut campur! Atau loh bisa menggantinya, dan berakhir lebih menyedihkan daripada dia, " ancam salah satu pemuda.

Namun orang itu hanya tersenyum geli mendengar ancaman yang tidak berguna itu darinya. Ia mengangguk kecil bukan karena ia takut pada ancamannya, melainkan menerima ancaman tersebut.

"Iyah, kan? Gue juga tadinya emang gak mau ikut campur. Tapi, ini sangat tidak adil. Kalian tahu? Gue sangat benci sama orang-orang yang tidak tahu malu, bersikap begitu percaya diri bahwa mereka adalah orang yang harus ditakuti dan disegani. Padahal kalian hanyalah sekumpulan orang yang putus asa dan pengecut yang menyedihkan. Buktinya kalian menghajarnya bersama-sama karena tidak mampu melawannya sendiri, bukankah sudah jelas? " balasnya sambil tersenyum kecil.

Para pemuda itu tersulut emosinya oleh perkataan yang begitu menghina dan merendahkan mereka. Sehingga salah satunya menginjak kaki Aksa dan menekankannya kuat. Aksa meringis kesakitan karenanya. Orang yang baru datang itu menatapnya dingin lalu menoleh ke arah Aksa yang kesakitan. Ia baru sadar kalau orang yang dipukuli itu adalah orang yang dikenalnya.

"Aksa?" ujarnya terlihat sangat terkejut saat tahu. Aksa yang kesakitan perlahan mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah orang itu yang tidak lain adalah si murid pindahan di sekolahnya, Aditya. Aksa hanya mendesah pelan karena merasa malu dipergoki dalam keadaan menyedihkan seperti itu olehnya.

"Jadi kalian saling mengenal? Baguslah, sekalian saja loh kita habisi! " gertak pemuda yang banyak tindik di telinganya itu.

"Hah! Entah kenapa, gue merasa loh dan gue itu ada ikatan takdir yang tidak biasa. Karena gue baik hati, gue bakal bantuin loh," ucap Adit sambil tersenyum.

"Gak usah banyak bacot! Hajar! " Lantas, ke empat pemuda itu kini menyerang Adit bersamaan. Adit memang tidak terlalu pandai dalam berkelahi tapi ia cukup lihai dan hebat. Namun, tetap saja empat lawan satu itu bukanlah lawan yang seimbang. Adit tetap kewalahan dan beberapa kali terkena pukulan. Tapi ia hebat dalam pertahanan.

Aksa yang kesakitan mencoba bangkit berdiri sekuat tenaga tidak mempedulikan rasa sakit ditubuhnya. Ia melihat Adit yang sepertinya tidak terlalu hebat dalam berkelahi namun bersikap begitu percaya diri melawan mereka. Melihat ia akan kalah. Jadi Aksa berniat membantu menahan rasa sakit di tulang rusuk kanannya dan kakinya itu. Kali ini Adit dan Aksa merasa lawannya lebih seimbang. Jadi dengan mudah mereka mengalahkan ke empat pemuda itu hingga babak belur dan terkapar tidak berdaya.

Setelah ke empat pemuda itu tumbang, Adit tersenyum dengan puas dan senang bisa bekerja sama dengan Aksa. "Wah,sepertinya kita bisa jadi partner petarung yang hebat, " ujar Adit sambil memukul pelan lengan Aksa.

"Apa sih? " balas Aksa datar dan dingin. Lantas, Aksa menghampiri salah pemuda yang di tindik dan meminta uang pizza itu lagi.

"Sekarang bayar atau gue laporin kalian ke polisi, " ancam Aksa.

"Iyah iyah. " Pemuda itu merogoh saku celananya dan memberikan uang yang hanya ada dua ratus ribu saja. "Hanya ini yang kami punya, " tambahnya.

Aksa pun mengambilnya tanpa pikir panjang, setidaknya ia tidak terlalu besar untuk menggantikan kerugiannya. Tanpa banyak bicara Aksa pun berdiri dan menghampiri motornya hendak pergi. Sementara para pemuda itu kabur terbirit-birit dari sana.

"Jadi, loh rela di hajar habis-habisan hanya karena uang segitu? " tanya Adit terdengar meremehkan.

"Bukan urusan loh, " balas Aksa dengan tatapan sinis ia membuat Adit tidak berkutik lagi soal masalah uang. Sejenak suasana diantara mereka menjadi hening.

"Makasih, loh udah nolong gue tadi, " ucap Aksa kemudian dengan wajah datarnya mengungkapkan rasa syukur karena sudah ditolong olehnya.

Adit tersenyum senang mendengar ucapan terima kasih itu dari Aksa. "It's oke! Tapi makasih aja kayaknya gak sepadan sama yang gue terima. Lihat? Wajah tampan gue sampai babak belur kayak gini. Aaa.. sakit sekali, " balasnya.

Aksa menatapnya dengan malas. "Lalu, loh mau apa? " tanya Aksa lagi terpaksa.

"Ajak gue naik motor loh dan traktir gue pizza. Gue lapar! " jawab Adit kemudian sambil meraba perutnya yang emang terasa lapar.

Aksa mendengus pelan sambil naik ke motornya. "Ayo naik! " seru Aksa tidak bisa menolak permintaan Adit karena ia merasa berhutang budi atas pertolongannya.

Adit pun dengan senang hati naik di belakang dan memeluk pinggang Aksa tanpa ragu. Aksa yang merasa sangat jijik dan geli menggeliat sambil menoleh kebelakang. "Jangan pegang-pegang! " seru Aksa memberinya peringatan.

"Baiklah." Adit pun segera melepaskan pelukannya itu dan duduk diam dengan pasrah.

Aksa pun melaju pergi untuk kembali ke toko pizza dan melanjutkan pekerjaannya. Ia tidak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya dan luka yang ada di kepalanya. Aksa hanya menyeka darah yang mengucur ke wajahnya dan membersihkannya.

"Tapi, loh sungguh gak perlu ke rumah sakit dulu buat periksa luka loh? " tanya Adit di tengah-tengah perjalanan.

"Tidak papah. Gue baik-baik saja, " balas Aksa dengan santainya.

"Yasudah, " sahut Adit kembali terdiam setelahnya.

Tidak lama setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka sampai di toko pizza. Dan kebetulan seperti biasa teman-teman Aksa datang hanya untuk sekedar nongkrong di sana. Ada Lala juga yang ikut bergabung bersama mereka.

Lala dan yang lain terkejut ketika melihat kepulangan Aksa yang begitu lusuh dan kacau apalagi ada Adit yang ikut bersama dengannya.

"Apa yang terjadi? Loh terluka? " tanya Lala khawatir langsung menghampiri Aksa.

"Gue gak papah, " jawab Aksa singkat.

"Loh gak kelihatan baik-baik saja. Loh terluka Sa, " sahut Feri menimpali.

"Gue iri banget! " sela Adit. "Kalian semua pada mengkhawatirkan Aksa. Tapi sepertinya gue gak terlihat sama sekali, " tambahnya kemudian.

"Loh duduk dulu saja. Gue ambilin loh salep buat luka loh, " balas Aksa dengan datarnya.

"Tidak usah. Loh juga duduk saja, gue akan carikan salep buat kalian, " sergah Lala menyuruh mereka berdua duduk sementara ia bergegas mencari salep di dalam.

Lantas, mereka pun duduk bersama-sama di satu meja. Suasana terasa sangat canggung sekali karena ada Adit.

Surya ikut duduk bersama mereka sedangkan Isan sedang sibuk sendiri di belakang sana. "Apa yang terjadi?" tanya Suryadi penasaran.

Aksa menunduk ia tidak bisa menjawab. Karena ini bukan kali pertama Aksa mengalami hal seperti ini. Dan Aksa merasa malu menghadapi Suryadi yang sudah begitu baik kepadanya.

"Maafkan aku, " balas Aksa hanya mampu meminta maaf. Suryadi pun hanya bisa menghela nafas berat.

"Apa kamu dipukuli lagi oleh pelanggan kita? " tanya Suryadi lagi menebak.

Aksa kembali menunduk dalam. Adit yang sedari tadi memperhatikan bisa mengerti situasi Aksa.

"Maaf sebelumnya aku menyela. Sebenarnya, Aksa tadi sudah menolongku. Aku terlibat masalah dengan beberapa preman, dan kebetulan dia lewat terus membantuku melawan para preman itu, " sela Adit berbohong.

"Kamu siapa? Kenapa dia harus terlibat masalah karena mu? " tanya Suryadi kepada Adit karena baginya ia memang orang yang asing.

"Aku? Aku teman sekelas baru Aksa. Aku baru pindah ke sini. Aku tidak tahu kenapa dia mau membantuku dan terlibat masalah, tapi yang aku tahu dia cukup baik kepada teman barunya yang baru datang ini, " jelas Adit berdalih dengan beralasan.

Aksa menoleh kepada Adit dan menatapnya dingin. Ia merasa sangat rendah diri dan menyedihkan karena harus dibantu lagi oleh Adit kali ini. Suryadi mempercayai omongan Adit dan menatap Aksa dengan lembut.

"Yasudah. Aku mohon lain kali berhati-hati. Jangan sampai terluka. Walau bagaimana pun juga, aku bertanggung jawab atas diri kamu, " ucap Suryadi lagi sambil menepuk bahu Aksa.

"Iyah." Aksa hanya menjawab patuh dengan kepala tertunduk karena malu kepada Suryadi dengan kelakuannya sendiri.

1
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!