"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Ingatan
Gue nggak bisa diem aja di rumah. Rasa paranoid ini pelan-pelan bisa bikin gue gila beneran. Tanpa pamit ke Nadia yang lagi mandi, gue langsung ambil kunci motor cadangan di dapur dan melesat ke apartemen Hana. Kalau ada satu orang yang memorinya nggak gampang diotak-atik, itu pasti Hana. Insting pembunuhnya terlalu kuat buat ditembus ilusi murahan.
Sepanjang jalan, kepala gue rasanya kayak dihantam palu. Bayangan komandan V.E.N.O.M dengan pedang hitamnya berkecamuk sama ingatan tentang kain putih-merah di kantong gue.
Gue sampai di apartemen Hana di kawasan Jakarta Barat. Gue nggak lewat lobi, gue langsung naik lewat tangga darurat dan nuju ke unit kamarnya di lantai 7. Begitu gue sampai di depan pintunya, pintunya udah nggak terkunci. Sedikit renggang.
Insting naga gue langsung siaga. Gue dorong pintu itu pelan-pelap. Krieeek...
"Hana?" panggil gue pelan.
Ruangan apartemennya rapi, terlalu rapi buat ukuran tempat tinggal seorang assassin. Cuma ada satu hal yang aneh. Hana lagi duduk di lantai ruang tengah, dikelilingi oleh belasan foto lamanya bareng Kian. Tapi yang bikin gue merinding, di tengah-tengah foto itu, ada sebuah bulu elang yang persis sama kayak yang gue temuin di jendela kamar gue.
Hana nggak nengok pas gue masuk. Dia cuma natep kosong ke arah dinding.
"Hana, lu gapapa?" gue mendekat, lalu jongkok di depannya.
Hana perlahan nengok ke arah gue. Matanya yang biasa dingin sekarang keliatan sayu dan bingung. "Arka... Kian beneran udah mati, kan?"
Pertanyaannya bikin gue tersentak. "Iya, Han. Lu sendiri yang liat di gudang waktu itu. Kenapa lu nanya gitu?"
Hana ngangkat tangan kanannya yang gemeteran. Dia nunjuk ke cermin besar di ruang tamunya. Di cermin itu, tertulis sebuah pesan pake lipstik merah:
'Elang belum mati, mereka cuma ganti bulu. Sampai jumpa di Banten, Hana.'
"Gue inget kita ke Banten semalem, Arka," suara Hana bergetar, hal yang belum pernah gue denger seumur hidup gue. "Gue inget The Falcons. Gue inget kita dikepung zirah hitam. Tapi pas gue bangun subuh tadi, Leo telepon gue dan bilang kita nggak pernah ke mana-mana. Dia bilang gue cuma halusinasi karena kangen Kian."
Hana nengkram kerah jaket gue keras-keras. "Gue nggak gila, Arka! Gue tau apa yang gue liat! Tapi kenapa semua orang bilang itu cuma mimpi?!"
Gue nahan tangan Hana, nyoba buat tenangin dia. "Lu nggak gila, Han. Gue juga liat benda yang sama di rumah gue. Kain merah-putih milik Klan Kera."
Gue narik kain itu dari kantong gue dan nunjukin ke Hana. Begitu liat kain itu, mata Hana langsung melebar.
"Ini... ini nyata," bisik Hana.
"Sakti Langit," desis gue sambil ngepel tangan sampai terdengar bunyi gemertak otot. "Dia masih hidup, Han. Dia nggak cuma ngincer nyawa kita, tapi dia lagi ngacak-ngacak otak kita. Dia gunain hipnotis atau sejenis ilmu hitam naga buat bikin tim kita pecah dan saling nggak percaya."
Tiba-tiba, lampu apartemen Hana mati total. Suasana langsung gelap gulita.
Dari arah lorong luar, terdengar suara langkah kaki yang berat dan teratur. Langkah kaki baja yang bunyinya sangat gue kenal di mimpi—atau realita—semalam.
TAP... TAP... TAP...
"Mereka datang lagi," bisik Hana, langsung ngeraih dua sabit karambitnya dari balik karpet.
Gue langsung masang kuda-kuda depan pintu. Aura naga perak di tubuh gue mendadak naik, bikin udara di ruangan sempit itu jadi panas bener.
BRAKKK!
Pintu apartemen Hana hancur lebur dihantam satu tendangan besi. Sosok zirah hitam legam V.E.N.O.M merangsek masuk. Tapi kali ini gerakan mereka beda, agak kaku, kayak ada yang nge-delay pergerakan mereka lewat remot kontrol jarak jauh.
"Arka, bawah!" teriak Hana.
Hana melesat rendah kayak bayangan. Sabit karambitnya nyabet kabel-kabel di bagian mata kaki zirah itu. SRAKK! Percikan api listrik warna biru keluar, nyorotin ruangan yang gelap gulita. Si zirah hitam langsung oleng.
Gue nggak sia-siain momen. Gue hantam ulu hatinya pake pukulan berlapis api perak. BOOM! Badan besi itu mental keluar koridor, ngejebol pembatas dan jatuh bebas ke lantai bawah.
Tapi di luar lorong, udah ada tiga orang lagi yang nunggu dengan senjata laras pendek siap tembak.
"Hana, tiarap!"
RATATATATATA!
Peluru-peluru berdesing nembus tembok apartemen. Gue rentangin tangan, nyiptain tameng energi naga buat nahan laju peluru. Tapi anehnya, pas peluru itu nempel di tameng gue, mereka nggak jatuh ke lantai. Peluru-peluru itu mendadak menguap jadi asap hitam.
Asap hitam? Ini bukan teknologi V.E.N.O.M. Ini energi Naga Selatan milik Sakti Langit!
"Ilusi lagi?!" gue teriak, nyoba fokusin pikiran.
"Bukan ilusi, Arka! Ini taktik gabungan!" Hana lompat lewat pundak gue, nyabet leher salah satu penembak. Begitu kepalanya kena sabet, sosok itu nggak ngeluarin darah, tapi pecah jadi kepulan asap hitam, ninggalin satu buah chip mekanik V.E.N.O.M yang jatuh berdenting di lantai.
Gue sadar sekarang. Sakti Langit beneran kerja sama—atau manfaatin—sisa teknologi V.E.N.O.M buat nyiptain prajurit hantu. Dia gabungin hipnotis energi gelapnya sama robotik fisik. Makanya Leo nggak inget, karena secara fisik, pelabuhan Banten itu emang nggak pernah diserang. Yang diserang adalah frekuensi otak gue dan Hana pas kita lagi tidur!
"Mereka mau kita ngebunuh diri kita sendiri lewat panik, Han!" kata gue sambil ngehancurin robot kedua pake jentikan energi naga.
"Terus kita harus gimana?" Hana napasnya terengah-engah, dua sabitnya udah diselimuti sisa asap hitam.
Gue mungut chip mekanik yang ada di lantai, ngerasain getaran frekuensi rendah yang keluar dari benda itu. "Kita cari Leo. Tapi bukan lewat telepon. Kita samperin dia, terus kita hancurin alat pemancar frekuensi Sakti Langit yang ada di sekitar kita. Sebelum otak kita bener-bener angus gara-gara permainan dia."
Gue nengok ke jendela luar. Di seberang gedung apartemen, di atas tower BTS, gue liat ada siluet pria bertopeng hitam lagi berdiri santai sambil natep ke arah kami. Sakti Langit lagi nonton pertunjukannya dari jauh.
Gue nyengir sinis, mata perak gue berkilat tajam. "Lu salah milih lawan, Kakek Tua. Otak gue mungkin bisa lu acak-acak, tapi insting naga gue nggak bakal bisa lu bohongin."