NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Perpisahan dengan Desa

Fajar menyingsing di ujung timur, menyaput langit dengan gradasi jingga keemasan yang perlahan mengusir kegelapan malam. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan, bergerak pelan seperti arwah yang enggan meninggalkan tempat yang dicintai.

Seol berdiri di depan gubuk reyot yang telah menjadi rumahnya selama tujuh belas tahun. Atap jeraminya berlubang di beberapa tempat, dinding kayunya rapuh dimakan rayap, dan pintunya miring karena engsel yang sudah lama rusak. Tapi di sinilah ia dibesarkan. Di sinilah ibunya—seorang perempuan lemah dengan batuk yang tak kunjung sembuh—menghabiskan malam-malam panjang menunggunya pulang.

Ia tidak tega pergi tanpa pamit.

Tapi ia juga tahu, jika ia pamit secara langsung, ibunya akan menangis. Dan jika ibunya menangis, ia tidak akan bisa pergi.

Seol mengambil selembar kertas dari saku dalam bajunya. Kertas itu sudah ia tulis semalam, dengan tangan yang masih gemetar karena luka yang belum sembuh. Tulisannya tidak rapi, tetapi setiap kata keluar dari hati.

“Ibu, maafkan anakmu yang durhaka ini.

Aku harus pergi. Bukan karena aku tidak ingin merawat Ibu, tetapi karena aku harus menjadi lebih kuat. Cheonmyeong tidak akan berhenti. Dan jika aku tetap di sini, suatu hari ia akan datang lagi. Lain kali, aku mungkin tidak akan selamat.

Aku sudah menemukan seseorang—seorang guru—yang akan membimbingku. Aku akan pergi ke Sekte Pedang Surgawi untuk belajar. Aku akan mencari ramuan yang bisa menyembuhkan meridianku. Aku akan menjadi lebih kuat. Cukup kuat untuk melindungi Ibu, cukup kuat untuk tidak perlu lari lagi.

Jangan menangis, Ibu. Aku akan kembali. Aku berjanji.

Anakmu yang selalu menyayangimu,

Seol.”

Ia melipat kertas itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas bantal tempat ibunya biasa tidur. Di samping surat itu, ia meletakkan sebuah kantong kecil berisi uang—hasil tabungan dari kerja kasar selama bertahun-tahun. Tidak banyak, tetapi cukup untuk ibunya makan beberapa bulan.

Ia menatap ibunya yang masih tidur. Wajahnya keriput sebelum waktunya, rambutnya sudah mulai memutih di pelipis. Tangannya yang kurus menggenggam selimut tipis, dan dari dadanya yang naik turun, terdengar suara napas yang berat—napas orang yang paru-parunya sudah rapuh.

Seol berlutut di samping tempat tidur. Ia meraih tangan ibunya—tangan yang sama yang dulu menggendongnya, menepuk punggungnya saat ia menangis, membelai rambutnya sebelum tidur.

“Ibu…” bisiknya, suaranya pecah. “Aku mohon maaf. Aku mohon maaf karena tidak bisa menjadi anak yang baik. Karena membuat Ibu khawatir. Karena selalu menjadi beban.”

Air matanya jatuh. Ia tidak menyeka.

“Tapi aku berjanji, Ibu. Aku akan kembali. Dan saat aku kembali, aku akan membawa Ibu ke tempat yang lebih baik. Ibu tidak akan sakit lagi. Ibu tidak akan kelaparan lagi. Ibu tidak akan menangis lagi karena anakmu ini.”

Ia mencium punggung tangan ibunya. Kulitnya dingin dan tipis seperti kertas tua.

“Tunggu aku, Ibu.”

Ia berdiri. Untuk terakhir kalinya, ia menatap wajah ibunya—ingin mengabadikan setiap garis, setiap kerutan, setiap helai rambut putih yang terlepas di bantal.

Lalu ia berbalik dan melangkah keluar.

---

Di Gerbang Desa

Matahari sudah naik setinggi pohon kelapa saat Seol mencapai gerbang desa. Gerbang kayu tua dengan ukiran naga yang sudah memudar itu berdiri kokoh, dijaga oleh dua orang penjaga klan yang sedang mengantuk.

Mereka tidak menghentikannya. Bahkan, ketika melihat Seol, salah satu dari mereka justru menunduk—sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kabar tentang duel sudah menyebar. Tentang cahaya ungu. Tentang kekuatan aneh yang membuat Cheonmyeong, jenius klan, koma hingga sekarang.

Seol tidak peduli. Ia hanya ingin pergi.

Ia melangkah melewati gerbang, melangkah ke jalan setapak yang menembus hutan. Setiap langkah terasa berat—bukan karena tubuhnya yang masih sakit, tetapi karena ada sesuatu yang menariknya ke belakang.

Desa Cheonho. Satu-satunya rumah yang ia kenal.

Ia hampir menoleh. Hampir.

Tapi ia menguatkan hatinya. Tidak. Tidak sekarang. Jika ia menoleh, ia akan melihat Yeon yang mungkin berdiri di kejauhan. Atau ibunya yang mungkin terbangun dan membaca surat itu. Atau bayangan masa lalunya yang ingin ia tinggalkan.

Ia terus berjalan.

Hutan menyambutnya dengan sunyi. Pepohonan tua menjulang tinggi di kedua sisi jalan, dahan-dahannya saling bertaut membentuk kanopi yang menghalangi sebagian besar cahaya matahari. Udara di sini lembab dan dingin, dan dari kejauhan, terdengar suara burung yang bersiul-siul tak menentu.

Seol berjalan selama mungkin satu jam sebelum ia menyadari sesuatu.

Ia tidak tahu jalan menuju Sekte Pedang Surgawi.

Gu pernah menyebutkan bahwa sekte itu berada di Gunung Cheongmyeong, di jantung Benua Murim Tengah. Tapi Seol tidak pernah pergi sejauh itu. Dunianya hanya sebatas Desa Cheonho dan hutan di sekitarnya. Di luar itu, semuanya adalah kegelapan.

Ia berhenti di tepi jalan, napasnya terengah. Tubuhnya masih lemah, dan perjalanan ini sudah menghabiskan banyak tenaga.

“Gu…” panggilnya pelan. “Kau bisa mendengarku?”

Tidak ada jawaban. Hanya kehangatan samar di dadanya yang berdenyut lemah, seperti orang yang tidur terlalu nyenyak untuk dibangunkan.

Seol menghela napas. Ia duduk di akar pohon besar yang menjulur keluar dari tanah, berusaha memikirkan langkah selanjutnya.

Aku tidak punya peta. Tidak punya bekal yang cukup. Tidak tahu arah. Dan Gu sedang tidur.

Rasa putus asa mulai merayap. Mungkin ini ide bodoh. Mungkin ia seharusnya tetap di desa, bersembunyi, berpura-pura menjadi sampah yang tidak berbahaya sampai Cheonmyeong lupa padanya.

Tapi ia ingat janjinya. Janji pada Gu. Janji pada ibunya. Janji pada Yeon.

“Aku akan menjadi lebih kuat.”

Ia menggenggam erat sakunya, merasakan Batu Giwa yang dingin di telapak tangannya. Batu itu berdenyut pelan—tidak cukup untuk membangunkan Gu, tetapi cukup untuk mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.

“Aku akan menemukan jalannya,” bisiknya. “Entah bagaimana.”

Seperti menjawab bisikannya, angin berembus dari timur, membawa sesuatu yang tidak biasa.

Bau makanan.

Bukan bau makanan biasa. Ini adalah bau daging panggang dengan rempah-rempah yang tidak ia kenal, bau yang membuat perutnya yang kosong berbunyi keras.

Seol menoleh ke arah datangnya bau. Dari balik pepohonan, ia melihat asap tipis membubung ke langit—asap dari api unggun.

Ada seseorang di hutan ini.

Hati-hati, ia bangkit dan melangkah mendekat. Tangannya tanpa sadar mengepal, bersiap jika ada bahaya. Gu pernah mengajarkannya bahwa hutan adalah tempat paling berbahaya bagi seorang musafir sendirian. Bandit, binatang buas, atau bahkan pendekar nakal bisa muncul kapan saja.

Ia mendorong dahan-dahan kecil yang menghalangi jalannya, dan tiba di sebuah tempat terbuka kecil di tepi sungai.

Di sana, di tepi sungai, seorang pria tua sedang duduk di atas batu datar, memanggang ikan di atas api unggun.

Pria itu tidak terlihat seperti bandit. Ia mengenakan jubah abu-abu lusuh yang penuh tambalan, dengan topi anyaman bambu lebar yang menutupi sebagian besar wajahnya. Di sampingnya, sebuah kereta dorong kayu penuh dengan barang-barang aneh—gua, periuk tanah liat, gulungan-gulungan kertas tua, dan berbagai benda yang tidak bisa Seol identifikasi.

Seorang pedagang keliling, pikir Seol. Mungkin tersesat.

Ia hampir berbalik pergi. Tapi perutnya kembali berbunyi, mengingatkannya bahwa ia belum makan sejak kemarin.

Pria tua itu mengangkat kepalanya. Topi anyaman itu bergeser, memperlihatkan wajah yang penuh keriput dengan mata kecil berwarna coklat tua yang menyipit karena senyum.

“Wah, ada anak muda!” serunya, suaranya renyah seperti kacang goreng. “Kemarilah, kemari! Kau pasti lapar. Ikan ini kebanyakan untukku sendiri.”

Seol ragu sejenak. Tapi aroma ikan panggang itu terlalu menggoda. Ia mendekat, duduk di seberang api unggun dengan jarak yang aman.

Pria tua itu tertawa. “Awas, jangan terlalu dekat dengan api. Nanti bajumu terbakar. Baju satu-satunya, kan?”

Seol tersenyum kecil. Pria ini kasar, tetapi ada kehangatan dalam caranya bicara.

“Aku Ryu Seol,” katanya. “Maaf mengganggu.”

“Tidak mengganggu, tidak mengganggu.” Pria tua itu membalik ikan di atas api, lalu mengambil sebuah gua tanah liat dari kereta dorongnya. “Kau dari desa sebelah? Cheonho, ya?”

Seol mengangguk, sedikit terkejut. “Kau tahu desa itu?”

“Aku pedagang keliling, Nak. Aku tahu semua desa di wilayah ini.” Pria tua itu menyeringai, memperlihatkan gigi yang tinggal beberapa. “Tapi biasanya anak muda seperti kau tidak keluar sendirian tanpa bekal. Apa kau kabur dari rumah?”

Seol terdiam. Pria tua itu mengamatinya dengan mata yang tajam—terlalu tajam untuk ukuran seorang pedagang biasa.

“Aku… pergi untuk belajar,” kata Seol akhirnya, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

“Belajar? Belajar apa?”

“Bela diri.”

Pria tua itu bersiul kecil. “Bela diri, ya? Di mana?”

“Sekte Pedang Surgawi.”

Mendengar nama itu, pria tua itu berhenti membalik ikan. Matanya yang kecil menatap Seol dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Sekte Pedang Surgawi,” ulangnya perlahan. “Tempat yang jauh. Jauh sekali. Dan jalannya tidak mudah. Banyak rintangan. Banyak bahaya. Kau yakin?”

Seol mengangguk. “Aku harus.”

Pria tua itu terdiam sejenak. Kemudian ia tertawa lagi—tawanya keras dan renyah, mengusir ketegangan di udara.

“Anak muda yang menarik! Baiklah, karena kau sudah jujur padaku, aku akan memberimu sesuatu.”

Ia bangkit dan berjalan ke kereta dorongnya. Tangannya yang keriput meraba-raba di antara barang-barang, mengeluarkan ini dan itu, sebelum akhirnya menemukan sesuatu.

Sebuah gulungan kertas tua, tepiannya sudah robek dan warnanya sudah menguning karena usia.

“Ini,” kata pria tua itu sambil menyerahkan gulungan itu pada Seol. “Ini akan membantumu.”

Seol membuka gulungan itu dengan hati-hati. Matanya melebar.

Itu adalah peta.

Bukan peta biasa. Peta ini digambar dengan sangat detail, menunjukkan jalan dari Desa Cheonho melewati pegunungan, melewati hutan, melewati sungai-sungai besar, hingga akhirnya mencapai sebuah gunung yang diberi label Gunung Cheongmyeong—markas Sekte Pedang Surgawi.

Di sepanjang jalan, ada catatan-catatan kecil: “Hati-hati dengan binatang buas di sini”, “Jembatan ini sering runtuh, cari arungan di hilir”, “Pos penjagaan, tunjukkan kartu identitas”.

“Ini… ini sangat berharga,” kata Seol, suaranya bergetar. “Aku tidak punya uang untuk membayar ini.”

“Siapa bilang aku minta uang?” Pria tua itu kembali duduk di batu, mengambil ikan yang sudah matang, dan menyerupukannya pada Seol. “Makan dulu. Nanti kalau sudah kenyang, kita bicara.”

Seol menerima ikan itu dengan tangan gemetar. Ia tidak tahu apakah karena lapar atau karena emosi. Ikan itu panas, garing di luar, lembut di dalam. Ia tidak pernah makan ikan seenak ini.

“Kau tahu,” kata pria tua itu sambil mengamati Seol makan, “aku sudah berkeliling Murim selama lima puluh tahun. Aku sudah melihat banyak anak muda yang pergi merantau untuk belajar bela diri. Kebanyakan dari mereka gagal. Ada yang mati di jalan. Ada yang menyerah di tengah jalan. Ada yang sampai di sekte tetapi ditolak.”

Seol berhenti makan. “Lalu?”

“Lalu ada juga yang berhasil.” Pria tua itu tersenyum. “Mereka yang berhasil adalah mereka yang punya sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lain. Bukan kekuatan. Bukan bakat. Tapi…” Ia menunjuk ke dadanya. “Niat. Niat yang tidak pernah padam, meski dunia berkata tidak.”

Seol menatap mata pria tua itu. Di balik keriput dan tawanya yang renyah, ada kebijaksanaan yang tidak bisa ia jelaskan.

“Kenapa kau membantuku?” tanya Seol.

Pria tua itu mengangkat bahu. “Mungkin karena aku dulu juga seperti kau. Meninggalkan desa, pergi merantau, tidak tahu arah. Dan seseorang membantuku dengan peta. Sekarang, giliranku membantumu.”

Ia berdiri, merapikan jubahnya yang lusuh.

“Sekarang, aku harus pergi. Masih banyak desa yang harus aku kunjungi sebelum musim hujan.”

Ia mendorong kereta dorongnya, siap melangkah.

“Tunggu!” Seol berdiri. “Aku belum tahu namamu!”

Pria tua itu berhenti. Ia menoleh, topi anyamannya menutupi setengah wajahnya, tetapi Seol bisa melihat senyum di bawahnya.

“Namaku tidak penting, Nak. Tapi kalau suatu hari kau menjadi pendekar terkenal, dan kau bertemu pedagang tua di pinggir jalan, belilah dagangannya. Itu sudah cukup.”

Ia tertawa, lalu melangkah pergi. Kereta dorongnya berderit pelan di atas tanah berbatu.

Seol berdiri di tempatnya, memegang peta itu erat-erat.

“Terima kasih!” teriaknya.

Pedagang tua itu mengangkat tangannya tanpa menoleh. Satu lambaian. Lalu sosoknya perlahan menghilang di antara pepohonan.

---

Di Tepi Sungai – Sendirian

Seol duduk kembali di tepi sungai. Peta itu terbuka di pangkuannya, dan matanya menyusuri garis-garis yang digambar dengan tinta tua.

Jarak ke Gunung Cheongmyeong: sekitar dua minggu jalan kaki jika tidak ada hambatan.

Dua minggu. Melalui hutan, melewati pegunungan, menyeberangi sungai. Sendirian, dengan tubuh yang masih belum pulih, dan bekal yang hanya cukup untuk tiga hari.

Tapi aku punya peta. Aku punya tujuan. Dan aku punya janji.

Ia melipat peta itu dengan hati-hati, menyelipkannya di saku dalam bajunya—sejajar dengan Batu Giwa.

Di dalam sakunya, batu itu berdenyut pelan. Tidak ada suara, tetapi Seol merasakan kehangatan yang ia butuhkan.

“Aku akan sampai di sana, Gu,” bisiknya. “Aku akan menjadi lebih kuat. Aku akan membebaskanmu. Aku janji.”

Ia bangkit. Tubuhnya masih sakit, tetapi pikirannya jernih.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ryu Seol tahu ke mana ia harus melangkah.

Ia memandang ke arah timur—ke arah Gunung Cheongmyeong yang tersembunyi di balik kabut.

Lalu ia mulai berjalan.

---

Di Desa Cheonho – Saat yang Sama

Ryu Yeon berdiri di depan gubuk Seol, surat itu tergenggam erat di tangannya. Matanya merah, tetapi air mata tidak jatuh. Ia sudah menangis cukup lama.

“Ibu Seol sudah membaca surat itu,” kata seorang tetangga di belakangnya. “Ia menangis sebentar, lalu tersenyum. Ia bilang, ‘Anakku akhirnya tumbuh dewasa.’”

Yeon menggenggam surat itu lebih erat.

“Dia akan kembali,” katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada tetangga itu. “Dia berjanji.”

Ia menatap ke arah gerbang desa—ke arah jalan yang telah dilalui Seol.

“Aku akan menjadi lebih kuat. Aku akan kembali. Aku janji.”

Yeon tersenyum. Senyum yang pahit, tetapi penuh harap.

“Aku akan menunggumu, Seol. Berapa pun lama waktu yang kau butuhkan.”

Angin pagi bertiup, membawa aroma bunga liar dari lereng bukit. Di kejauhan, kabut mulai mencair, memperlihatkan gunung-gunung yang menjulang di cakrawala.

Di salah satu gunung itu, di tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, sebuah petualangan baru sedang menunggu.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!