NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Kau Bawa

Rahasia Yang Kau Bawa

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Bad Boy / Cintamanis
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANGAN TERLALU NYAMAN

BAB 35 — JANGAN TERLALU NYAMAN

Sejak pagi Keisha kesal setengah mati pada kulkasnya sendiri.

Setiap kali lewat dapur, matanya otomatis melirik ke sana, melihat gambar keluarga buatan Leo yang kini ditempel rapi dengan magnet warna-warni.

Dan setiap kali melihat gambar itu, ia teringat satu kata yang diucapkan Arsen kemarin.

Target.

Kurang ajar.

Pria itu bahkan bisa menggoda dan membuat wanita itu deg-degan hanya dengan satu kata saja.

 

Keisha sedang sibuk merapikan berkas kerja di meja ketika ibunya masuk membawa tumpukan baju lipat.

“Gambar Leo lucu banget ya, temannya magnet juga bagus.”

“Hm.”

“Kalau gambar itu jadi kenyataan juga pasti lebih lucu dan bahagia.”

“Bu.”

“Apa?”

“Tolong cari hobi lain deh. Jangan ngintipin aku terus.”

Ibunya tertawa renyah.

“Hobi Ibu sekarang memang lihat kamu salah tingkah dan senyum-senyum sendiri. Sangat menghibur.”

 

Siang harinya Keisha berangkat ke studio.

Ia berniat keras untuk fokus bekerja dan melupakan Arsen setidaknya selama delapan jam ke depan.

Namun baru saja ia melangkah masuk ke ruangan, Nadia sudah berteriak heboh dari mejanya.

“Waduhh! Waduh! Ada kiriman spesial lagi nih buat bos galak!”

Di atas meja kerjanya sudah tergeletak sebuah buket bunga kecil yang cantik dan secangkir kopi susu favoritnya yang masih hangat.

Ada secarik kertas kecil di sampingnya tertulis rapi:

Jangan terlalu galak hari ini.

Dari targetmu. — A

Keisha memejamkan mata dan menghela napas panjang.

“Dia itu pasti sakit jiwa.”

Nadia langsung memeluk bunga itu dengan wajah berbinar.

“Kalau sakitnya begini... sumpah semoga menular ke aku!”

 

“Aku buang ya bunganya?” goda Nadia sambil berpura-pura mau mengambilnya.

“JANGAN!” seru Keisha cepat.

Nadia langsung menyeringai jahil.

“Oho! Protektif sekali!”

“Itu kopiku, jangan disentuh!”

“Terus bunganya?”

Keisha diam, tidak bisa menjawab.

Nadia tertawa puas melihat temannya kalah telak.

 

Sore harinya, Keisha keluar dari gedung studio sambil membawa laptop dan berkas.

Ia sudah siap untuk memesan taksi online.

Namun begitu melangkah ke trotoar, mobil hitam kesayangannya sudah terparkir rapi di sana.

Arsen turun, berjalan mendekat, dan membukakan pintu penumpang lebar-lebar.

“Masuk.”

“Aku bisa pulang sendiri kok.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa kamu ke sini?”

“Aku mau jemput.”

“Aku enggak minta dijemput.”

“Aku juga enggak minta izin sama kamu,” jawab Arsen santai dengan senyum nakal.

Keisha mendecih kesal lalu akhirnya masuk juga ke dalam mobil.

Ia sangat membenci kenyataan bahwa pria itu selalu menang dengan mudahnya.

 

Di dalam mobil, suasana hening.

Tiba-tiba Arsen menyerahkan sebuah kotak kecil berbahan beludru ke pangkuan Keisha.

“Apa lagi ini?”

“Buka saja.”

Keisha membuka tutup kotak itu perlahan.

Di dalamnya terdapat sebuah magnet kulkas berbentuk rumah kecil yang sangat lucu dan detail.

Ia menoleh tak percaya.

“Ini apaan?”

“Buat nempel gambar Leo yang baru tadi. Biar makin kuat nempelnya dan nggak gampang jatuh.”

“Kamu sampai beli beginian?”

“Aku manusia biasa juga kok, Sha. Bisa belanja dan perhatian,” jawab Arsen santai.

Keisha menutup kotak itu cepat, berusaha menahan senyum yang ingin merekah.

 

“Kamu jangan terlalu nyaman,” kata Keisha tiba-tiba dengan nada ketus.

Arsen menoleh sekilas.

“Dengan apa?”

“Dengan masuk rumahku. Makan di rumahku. Terus ganggu hidupku seenaknya.”

“Aku memang nyaman. Sangat nyaman.”

“Itu masalahnya.”

“Bukan. Itu tujuanku sejak awal,” jawab Arsen tenang.

Keisha mendesah keras, merasa kalah awal.

 

Mobil berhenti di lampu merah.

Arsen menatap lurus ke depan, suaranya terdengar serius.

“Kamu kenapa sih takut kalau aku jadi nyaman?”

“Aku enggak takut!”

“Kamu takut... kalau aku jadi kebiasaan buat kamu. Takut kalau nanti kamu terbiasa ada aku.”

Jantung Keisha berdetak pelan namun terasa menohok.

“Percaya diri sekali ya omongannya.”

“Aku observasi. Aku perhatikan semua tingkahmu.”

“Kamu sok pintar.”

“Aku jatuh cinta. Jadi otomatis lebih teliti dan perhatian pada detail kecil.”

Keisha memilih memalingkan wajah menatap jendela, takut pria itu melihat pipinya yang mulai memerah.

 

Sesampainya di rumah, Leo sudah menunggu dengan tidak sabar di teras.

“PAPAAAAA!!!”

Arsen baru saja turun dari mobil, anak itu langsung memeluk kakinya erat-erat.

“Mama hari ini marah-marah terus lho, Pa,” aduh Leo dengan polos.

Keisha langsung melotot.

“AKU ENGGAK MARAH!”

Leo mengangguk-angguk dengan wajah sangat bijak.

“Ooh... iya juga. Sekarang juga lagi marah.”

Arsen tertawa lebar mendengarnya.

 

Malam harinya, langit mendung dan akhirnya hujan turun dengan sangat deras disertai angin kencang.

Tiba-tiba listrik di seluruh rumah padam. Gelap gulita.

Leo yang takut gelap langsung menjerit kecil dan berlari memeluk kaki Keisha erat-erat.

Arsen yang baru saja mau pamit pulang langsung sigap mengambil senter besar dari dalam mobil.

Ia masuk kembali, menyalakan senter, lalu duduk bersila di lantai ruang tamu bersama mereka.

“Ayo kita bikin tenda!”

Dengan bantuan selimut tebal dan kursi-kursi, ia merangkak-rangkak membuat benteng kecil yang lucu di tengah ruangan.

Leo bersorak kegirangan.

Keisha menatap pemandangan itu dari belakang dengan perasaan aneh.

Ia tak pernah membayangkan Arsen bisa seperti ini.

Pria dingin yang biasa duduk di ruang rapat mewah...

Sekarang sedang merangkak di lantai keramik dingin sambil memegang selimut demi membuat anaknya senang.

Hidup memang penuh kejutan.

 

Mereka bertiga masuk merapat ke bawah selimut benteng itu.

Cahaya senter yang remang-remang membuat suasana terasa sangat hangat dan intim.

Leo duduk di tengah-tengah sambil tertawa ceria.

“Wah! Kayak lagi camping di gunung!”

Arsen mengangguk setuju.

“Iya. Kita bertiga ini tim yang paling kuat.”

Leo menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.

“Aku ketua tim!”

“Setuju!” sahut Arsen cepat.

“Terus Mama wakil ketua!”

“Setuju banget!”

“Terus Papa... anggota biasa!”

Arsen langsung memasang wajah pura-pura sedih dan kecewa.

“Kenapa aku paling bawah rank-nya?”

“Karena Papa telat datang lima tahun kemari. Jadi harus tunggu giliran,” jawab Leo polos.

PFFT!

Keisha langsung menutup mulut kuat-kuat menahan tawa agar tidak meledak.

Arsen terdiam selama dua detik, lalu akhirnya mengangguk pasrah.

“Valid. Alasannya valid. Papa terima.”

 

Tak lama kemudian, kelelahan membuat mata Leo akhirnya terpejam dan tertidur pulas di pangkuan Keisha.

Hujan masih deras memukul atap di luar sana.

Di dalam benteng kecil itu, suasana menjadi hening dan tenang.

Arsen bicara pelan sekali, suaranya nyaris berbisik.

“Dia marah-marah sama aku... tapi tetap kasih tempat buat aku di sini.”

Keisha tahu persis siapa yang dimaksud pria itu. Bukan Leo.

“Kamu terlalu banyak bicara,” jawab Keisha pelan.

“Aku lagi jujur.”

“Kenapa malam-malam begini jujur?”

“Karena gelap... bikin orang jadi lebih berani ngomong apa adanya.”

Keisha menatap wajah pria itu yang diterangi cahaya senter yang samar.

“Kalau nanti lampu terang lagi?”

“Aku tetap berani. Lebih berani bahkan.”

 

Arsen perlahan mengulurkan tangannya ke lantai, tepat di sebelah tangan Keisha.

Ia tidak langsung menyentuh.

Hanya meletakkan tangannya di sana, sangat dekat.

“Kalau aku merasa terlalu nyaman...” katanya pelan, hampir tak terdengar.

Keisha menahan napasnya.

“...itu karena aku merasa... ini memang tempatku. Tempat aku pulang.”

Keisha menunduk menatap tangan mereka yang hanya berjarak beberapa senti saja.

Jantungnya berdegup kencang.

Dengan sangat pelan, dengan keberanian yang entah dari mana datangnya...

Ia menggeser tangannya sedikit ke kanan.

Sampai akhirnya, punggung jari mereka bersentuhan hangat.

Arsen tampak membeku sesaat.

Keisha pura-pura menatap wajah Leo yang tidur, beralibi.

“Itu... karena sempit saja. Nggak ada tempat lain,” gumamnya cepat.

Arsen tersenyum lebar dalam kegelapan itu, matanya berbinar bahagia.

“Kalau begitu... sempitnya lama-lama ya. Jangan digeser lagi.”

Di luar hujan turun semakin deras meredam suara dunia.

Namun di dalam benteng kecil itu... dua orang dewasa itu sama-sama tahu. Mereka sudah kalah. Kalah oleh rasa sayang.

Bersambung...

1
Lasmin Alif nur sejati
ohh,, berarti ini ceritanya ngulang lagi ke masa Arsen baru memuin Keisha, mau minta restu ke orang tuanya Keisha, tapi maaf ya Thor, ceritanya jadi bingungin, maaf ini loh Thor bukan mau merendahkan atau menjatuhkan, cuma pendapat dari saya, seharusnya dilanjut saja biar gak bingung pembaca
wiwi: makasih kak😄
total 3 replies
Yunes
Yaaa abis😭😭😭😭
wiwi: tunggu updatenya Kak
total 2 replies
Yunes
Cie cie bau2 nikah nich😍😍😄
Yunes
Wow😍😍😍
Yunes
MasyaAllah aq suka aku suka 😍😍😍💪💪
Yunes
Lanjut Thor kereeennn
Yunes
Alhamdulillahi 😍😍 Happy with ur Son
Yunes
😍😍😍💪💪
Yunes
Semangat Thor😍💪💪
Yunes
😭😭😭
Yunes
Mudah2 an tidak hamli amiiiin🤭
Lasmin Alif nur sejati
ceritanya bagus Thor, tapi kadang bingung, alurnya maju mundur apa gimana ini ya, kemarin sudah ada Aluna sekarang cuma ada leo
wiwi: makasih kak
total 3 replies
Erna Wati
ayolah keisha masak kamu LBH percaya sama org lain dari pada suami mu buka mata kamu keisa KLO Kevin itu org jahat
wiwi: iyaa nih kak, padahal kan kita harus lebih percaya suami😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!