NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam

Mobil Erlangga membelah gerbang megah kediaman Mahardika tepat saat langit Jakarta telah sepenuhnya kehilangan rona senja. Lampu-lampu sorot di sepanjang halaman yang luas itu menyinari pilar-pilar kokoh yang berdiri angkuh, seolah menegaskan status pemiliknya. Erlangga tidak segera turun. Ia terdiam di balik kemudi, menatap kosong pada pantulan dirinya di kaca spion yang tampak kaku dan asing.

Erlangga melangkah keluar dari mobil, disambut oleh heningnya malam yang hanya dipecah oleh suara sepatunya di atas lantai marmer teras. Begitu ia mendekat, pintu utama terbuka lebar. Ibunya berdiri di sana dengan keanggunan yang selalu terjaga, meski gurat kecemasan sempat melintas di matanya sebelum berganti menjadi senyum tipis yang formal.

“Kamu akhirnya pulang, Langga,” sapa wanita itu lembut, namun ada nada tuntutan di dalamnya.

Erlangga hanya mengangguk singkat, menyembunyikan badai yang berkecamuk di dadanya. “Iya, Ma. Maaf ya kemarin Langga ga bisa pulang ke rumah, ada beberapa urusan mendadak yang harus diselesaikan di di perusahaan sampai malam.”

Wanita itu melangkah mendekat, jemarinya yang terawat rapi bergerak mekanis merapikan kerah jas putranya, sebuah gestur kasih sayang yang terasa seperti pemeriksaan kualitas. “Kamu terlihat sangat lelah, Sayang. Wajahmu pucat. Mandilah dulu, hilangkan penatmu. Setelah itu turunlah, Papa sudah menunggumu untuk makan malam.”

“Baiklah, aku akan segera turun secepatnya,” jawab Erlangga pendek, lalu melangkah masuk melewati lorong yang dipenuhi lukisan-lukisan klasik yang seolah sedang menghakiminya.

Setelah itu air dingin mengguyur tubuhnya, namun gagal mendinginkan bara penyesalan yang membakar pikirannya, Erlangga turun ke lantai bawah. Ruang makan keluarga Mahardika tampak megah di bawah pendar lampu kristal. Di sana, di kursi utama, ayahnya sudah duduk dengan wibawa yang mengintimidasi, matanya fokus pada layar tablet sebelum akhirnya beralih saat Erlangga menarik kursi.

“Duduk, Langga,” titah sang ayah dengan suara bariton yang dalam.

Suasana meja makan terasa kaku. Belum sempat Erlangga menyentuh peralatan makannya, sang ayah langsung meletakkan tabletnya ke atas meja. Suara denting benda itu terdengar seperti lonceng dimulainya persidangan.

“Aku baru saja menerima laporan soal pembatalan kontrak dengan perusahaan logistik di Singapura secara sepihak. Kamu tahu mereka adalah mitra strategis kita?” tanya ayahnya, nadanya tenang namun tajam. “Apa alasannya?”

Erlangga menatap lurus ke arah ayahnya, tidak menunjukkan secuil pun keraguan. “Ada pelanggaran etika bisnis yang fatal, Pa. Saya tidak bisa membiarkan Mahardika Group bekerja sama dengan orang yang menggunakan cara-cara kotor untuk mengamankan kesepakatan.”

Papanya mengangkat alis, sedikit terkejut dengan nada bicara putranya yang lebih keras dari biasanya. “Cara kotor adalah bagian dari dunia bisnis, Langga. Kamu bukan anak kemarin sore. Kenapa kali ini kamu begitu reaktif?”

“Karena kali ini dia melintasi batas yang tidak seharusnya, Pa,” jawab Erlangga dingin. “Masalahnya sudah saya tangani. Jalur distribusi akan kita ambil alih sepenuhnya. Tidak akan ada kerugian yang berdampak pada laporan kuartal ini.”

Pria tua itu memperhatikan Erlangga selama beberapa detik, mencoba mencari celah di balik topeng dingin putranya. Akhirnya, ia bersandar di kursinya. “Semua keputusan memang ada di tanganmu sebagai CEO. Tapi ingat, Langga, jabatanmu adalah amanah untuk ribuan orang, ada ribuan keluarga yang bergantung pada setiap keputusanmu itu. Jangan pernah biarkan emosi pribadi mencemari logika bisnismu. Pastikan masalah ini benar-benar selesai tanpa ekor panjang.”

“Baik pa, semua masalah sudah aku selesaikan semuanya,” jawab Erlangga, meski hatinya berbisik sebaliknya.

Mamanya yang sejak tadi diam, segera mencoba mencairkan ketegangan yang menyesakkan itu. “Sudahlah, urusan bisnis jangan dibawa ke meja makan terus. Oh iya, Langga, Mama sudah atur ulang jadwalmu. Tiga hari lagi kamu harus bertemu Sarah di restoran baru di Jakarta Selatan. Tempatnya sangat privat dan cocok untuk pembicaraan serius.”

Erlangga hanya mengangguk pelan, seolah gerakannya adalah bagian dari rutinitas yang membosankan. “Iya, Ma. Aku akan datang.”

Makan malam berlanjut dalam keheningan yang sopan, namun pikiran Erlangga tidak benar-benar berada di sana. Ia menjawab pertanyaan ibunya dengan jawaban satu kata, sementara matanya menatap kosong ke arah piringnya. Yang terbayang di kepalanya bukan Sarah, melainkan bayangan Zea yang meringkuk di ujung kasur dengan bahu yang bergetar hebat.

Setelah makan malam usai, Erlangga segera berpamitan dan naik ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia langsung berjalan menuju balkon, menatap hamparan lampu kota Jakarta yang gemerlap namun terasa sunyi.

“Kenapa wajah itu nggak mau hilang dari kepala gue…” gumamnya frustrasi. Ia menghembuskan napas panjang yang terasa panas, lalu mengacak rambutnya kasar.

Ia mencoba memaksa logikanya bekerja. Ini hanya rasa bersalah, Erlangga. Wajar kalau lo kepikiran karena lo udah ngelakuin kesalahan fatal sama orang nggak bersalah. Ini cuma soal moralitas, batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Cuma rasa bersalah. Nggak lebih. Besok setelah Rian dapet infonya, gue kasih kompensasi, dan semuanya pasti beres,” ucapnya lirih pada kegelapan malam, mencoba menenangkan badai di dadanya.

Namun, semakin ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Zea hanyalah "masalah" yang bisa diselesaikan dengan uang atau tanggung jawab, semakin jelas pula suara tangis Zea terngiang di telinganya. Erlangga mulai menyadari bahwa anomali yang ia ciptakan semalam telah menggali lubang yang terlalu dalam di dalam dirinya—sebuah lubang yang tidak akan bisa ditutup oleh kekuasaan Mahardika mana pun.

1
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
Nessa
gimna nasib zea
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!