NovelToon NovelToon
Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Satu Cinta Untuk Istri Ketiga

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Istana/Kuno / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mom young

Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.

Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...

Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter~10 Pengorbanan seorang Candra

Saat mendengar perkataan Serasa, Layla menjadi semakin khawatir, ia merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada kedua orang tuanya.

Layla terdiam.

Kata-kata Serasa menggantung di udara, bercampur suara denting pedang yang masih ia ayunkan.

“Raja Arta meminta perang… dan Raja Gustaf mengirim pasukannya?”

Suara Layla pelan, tapi ada sesuatu yang pecah di dalamnya.

Bukan kelegaan. Bukan marah. Hanya hampa yang tiba-tiba terisi kebencian baru.

Serasa akhirnya berhenti bergerak. Ia menancapkan pedangnya ke tanah, lalu menatap Layla lurus.

“Ya. Raja Gustaf tidak mau Candra jatuh. Kalau Candra jatuh, Jaya Wijaya kehilangan sekutu dan perbatasan selatan akan terbuka untuk Salira.”

“Jadi ini bukan karena menyelamatkan Ayahku?” Layla menyeringai getir.

“Ini soal politik. Selalu soal politik.” Serasa menghela napas. “Kaka ipar, di istana ini tidak ada yang bergerak tanpa alasan. Tapi… setidaknya Ayahmu dan prajurit Candra masih hidup.”

Layla menunduk. Rambut kepangnya jatuh menutupi wajahnya, menyembunyikan air mata yang akhirnya tumpah juga.

Ia tidak menangis karena takut. Ia menangis karena merasa dipermainkan oleh semua orang—ayahnya, suaminya, bahkan nasibnya sendiri.

“Terima kasih, Serasa,” katanya pelan.

“Kau satu-satunya yang masih mau menjawab jujur padaku.”

Serasa mengernyit.

“Jangan berterima kasih. Kalau Gustaf tahu aku bicara terlalu banyak, kepalaku bisa melayang.”

Layla mengangkat wajah. Matanya merah, tapi tatapannya kembali tajam.

“Kalau begitu, jagalah kepalamu. Karena aku butuh kau tetap hidup… sampai aku selesai dengan permainan ini.”

Ia berbalik, meninggalkan halaman latihan dengan langkah cepat.

Di belakangnya, Serasa hanya bisa menatap punggung itu, merasa untuk pertama kalinya—perempuan itu lebih berbahaya daripada kakaknya sendiri.

__

Malam semakin larut.

Layla kembali ke kamar, tapi tidak langsung masuk. Ia berdiri di depan pintu, mendengar suara pelan dari dalam.

Gustaf ada di sana.

Ia duduk di tepi ranjang, memegang cangkir teh yang sama dari sore tadi. Belum diminum. Belum disentuh.

“Mengintip di depan pintu bukan kebiasaan seorang ratu,” ucapnya tanpa menoleh.

Layla berjalan kesana perlahan.

“Dan menikahi musuh tanpa memberi alasan juga bukan kebiasaan seorang raja.” Layla selalu mampu menjawab ucapan Raja Gustaf.

Gustaf menoleh. Ada senyum tipis di bibirnya. “Kau sudah tahu jawabannya, Layla. Aku tidak butuh alasan untuk mengambil apa yang kumau.”

Layla mendekat, berhenti tepat di depannya.

“Lalu bagaimana kalau suatu hari aku mengambil apa yang kau miliki?”

Gustaf tertawa pelan. “Silakan coba. Tapi ingat… di Jaya Wijaya, orang yang gagal merebut tahta, kepalanya yang direbut.” Raja Gustaf berkata seolah ia, adalah manusia yang tak berhati.

Layla tidak menjawab. Ia hanya menatap mata Gustaf lama, seolah ingin menghafal setiap celah di dalamnya.

"Apa yang kau lihat, hinga menatapku seperti itu?" Raja Gustaf menaik turunkan sebelah alisnya.

Layla terdiam, ia adalah satu-satunya istri Raja yang sangat berani, ia berani masuk kedalam kamar Raja tanpa meminta izin, bahkan ia sangat berani menatap Raja tanpa menunduk, dan rasa takut sedikit pun.

Raja Gustaf beranjak dari duduknya, ia juga berbalik menatap Layla tajam. Bahkan ia langsung melangkah berjalan ke arah Layla.

"Katakan, apa kau sudah siap malam ini?" bukan keinginan dimata Raja Gustaf, melainkan pandangan mengejek pada Layla.

Sepontan Layla langsung meludah... Cuih..."Aku sangat tidak sudi bersetubuh dengan peria kejam seperti dirimu." matanya melotot, Layla merasa terhina.

Raja Gustaf menyunggingkan senyuman di bibirnya. "Kau pikir, kau siapa Layla? semua herem yang ada di sini, adalah milik Raja. Termasuk juga dirimu." kata Raja Gustaf kembali mendengus.

Layla mundur satu langkah, kali ini ia mengaku kalah berargumen, ia takut kehormatan nya akan ternoda.

Raja Gustaf berhenti tepat di depan Layla. Napasnya berat, tapi matanya dingin. Tidak ada amarah, hanya kebosanan yang bercampur kepuasan.

“Layla,” gumamnya pelan, “kau pikir mundur satu langkah akan menyelamatkanmu?”

Layla tidak menjawab. Dadanya naik turun cepat.

Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, menahan diri agar tidak mundur lagi.

Di kepalanya berputar satu hal: _Kalau aku menjerit, aku kalah. Kalau aku menangis, aku kalah. Kalau aku diam… aku masih punya kendali._

Gustaf menyipitkan mata.

“Bagus. Kau belajar cepat.”

Ia mengangkat dagu Layla dengan ujung jarinya, memaksanya menatap lurus.

“Aku tidak butuh kau menyukaiku malam ini. Aku hanya butuh kau ingat siapa pemilikmu.”

Layla menahan napas.

Jari Gustaf dingin. Sentuhannya seperti rantai.

Tapi tepat saat itu, pintu kamar diketuk tiga kali. Keras.

Suara Pangeran Serasa terdengar dari luar, tegang dan tergesa:

“Yang Mulia! Utusan dari perbatasan selatan baru tiba!”

Gustaf melepaskan dagu Layla dengan kasar. Ia menoleh ke pintu, rahangnya mengeras.

“Waktu yang buruk,” gumamnya.

Ia melirik Layla sekali lagi, lalu berbalik dan membuka pintu lebar-lebar. “Katakan, berita apa yang kau bawa, selarut ini?”

Serasa masuk tanpa menunduk penuh. Wajahnya pucat.

“Perang di Candra… berhenti. Raja Arta menarik pasukannya.”

Ruangan membeku.

Layla menatap Serasa.

“Apa maksudmu berhenti?”

“Raja Batar mengirim pesan,” jawab Serasa cepat. “Ia tidak akan berperang demi ambisi menantunya sendiri. Ia bilang… ‘Kalau putriku rela menjadi ratu di kandang singa, maka aku tidak akan membakar kandang itu.’”

Layla merasa lututnya melemah.

Ayahnya. Raja Batara.

Ia menarik pasukannya, bukan karena takut… tapi karena tidak tega melihat darah putrinya sendiri tumpah di tanah musuh.

Gustaf tertawa pelan. Suaranya tidak senang. Tidak lega. Hanya datar. “Jadi begitu. Ayahmu lebih pintar dari yang kukira.”

Ia menatap Layla lagi.

“Selamat, Ratu Layla. Kau baru saja menyelamatkan kerajaannya… tanpa mengangkat pedang.”

Layla menelan ludah.

Kemenangan?

Tidak. Ini bukan kemenangan. Ini hutang. Hutang yang suatu hari harus ia bayar pada Ayahnya.

Gustaf berjalan melewatinya, berhenti sejenak di ambang pintu. “Malam ini kau aman, Ratu. Tapi jangan terlalu nyaman.” Ia kembali menoleh, senyumnya tipis dan berbahaya.

“Perang bisa berhenti di luar. Tapi di sini… di dalam istana ini, perang kita baru dimulai.”

Pintu tertutup dengan suara berat.

Layla berdiri di tengah kamar yang gelap, napasnya masih berantakan.

Di luar, Serasa masih menunggu, tidak berani pergi.

Layla berbisik pada dirinya sendiri: “Ayah… maafkan aku. Aku tidak akan membiarkan pengorbananmu sia-sia.”

Layla tidak menyangka, kalau Ayahnya membatalkan perang terbuka antara kerajaan nya dengan kerajaan Raja Arta. Dan kerajaan mereka malah kembali damai, menyusun rencana demi membebaskan dirinya.

.

.

Pagi itu, udara istana Jaya Wijaya terasa lebih berat dari biasanya. Kabar tentang penarikan pasukan Candra sudah menyebar.

Di sayap timur, para selir berbisik. Di ruang sidang, para menteri menatap Layla dengan tatapan baru—bukan lagi meremehkan, tapi menilai.

Layla sendiri baru tahu isi pesan itu saat matahari sudah tinggi.

Sebuah surat kecil, disegel dengan lilin merah dan lambang Candra, terselip di bawah nampan sarapannya.

Tidak ada nama pengirim. Tapi ia tahu.

Tangannya gemetar saat membuka segel itu.

_Layla,

Anakku.

Aku tidak akan berperang melawan suamimu. Bukan karena aku takut, tapi karena aku tidak sanggup melihatmu terjebak di tengah api yang kubuat sendiri.

Jaga dirimu di sana. Jangan pernah lupa kau darah Candra.

Jika suatu hari kau merasa tidak bisa bernapas lagi… kirimkan burung elang hitam. Aku akan datang, meski harus melawan seluruh dunia.

—Ayah_

Layla membaca surat itu dua kali. Lalu tiga kali. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi kertas yang sudah ia genggam terlalu erat.

“Jadi… kau tidak membenciku, Ayah,” bisiknya.

Pintu kamar terbuka tanpa diketuk. Raja Gustaf masuk. Wajahnya datar, tapi matanya langsung tertuju pada surat di tangan Layla.

“Surat dari Candra?” suaranya datar.

Layla cepat menyembunyikannya di balik punggungnya. “Aku rasa itu bukan urusanmu, Yang Mulia.”

Gustaf mendekat satu langkah.

“Segala yang masuk ke istanaku adalah urusanku.”

Layla menatapnya tanpa gentar.

“Kalau begitu, bunuh aku sekarang. Karena surat ini tidak akan kuberikan padamu.”

Gustaf berhenti. Ia mengamati Layla lama, seolah mencoba membaca isi surat itu dari ekspresi wajahnya. Akhirnya ia tertawa pelan. “Kau pikir dengan menyembunyikannya, kau menang?”

“Aku tidak butuh menang darimu,” jawab Layla.

“Aku hanya butuh kau ingat… aku bukan tahananmu.”

Gustaf tidak menjawab. Ia hanya mengambil cangkir teh di meja, meminumnya dalam satu tegukan. Lalu ia meletakkannya kembali dengan suara keras.

“Jaga baik-baik surat itu, Ratu. Karena kalau jatuh ke tangan yang salah, Candra bisa terbakar lagi.”

Ia keluar tanpa menoleh.

Layla berdiri di sana, masih menggenggam surat itu.

Di luar jendela, burung elang hitam melintas di langit Jaya Wijaya.

Ia tahu.

Ayahnya sedang menunggu.

---

Malam itu, Layla membakar ujung surat itu di lilin.

Abu-abu beterbangan ke luar jendela, terbawa angin menuju selatan.

Ia berbisik: “Ayah, aku akan pulang… tapi bukan sebagai tawanan. Aku akan pulang sebagai ratu yang membebaskan Candra.”

1
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ di usir bocah
Seroja_layu: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
dasar memang sifat lu itu ....susah kasih tahu lalat jika bunga lebih wangi di banding sampah 🤧🤧🤧
vj'z tri
selamattt 🫣🫣🫣🫣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 masa langsung kebuka kartu lu
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 salah cari lawan Mpok
vj'z tri
samperin say 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hayolah keluarkan insting detektif mu 🤧🤧🤧
vj'z tri
maka nya kenalan Mpok kalau gak kenal 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
hadeuhhhh para lampir mulai bergosip ria 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
kerennnnnn🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
yakin amat mas bro ,kaya nya nanti lu yang tunduk 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
mau kesel ,tapi semua itu benar 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
hadeuh 🤧🤧🤧kan juga gegara u nyerang tadi malam neng 🤧🤧
FiaNasa
akankah Laila bisa mewujudkan dendamnya pada guztaf
vj'z tri
yang kemarin itu di hapus ta ?
Blueberry Solenne
iya tapi tindakannya terlalu kejam
Blueberry Solenne
Dasar ibl!$ serakah ya
Blueberry Solenne
wah sekeluarga di sandera, kejam juga tu raja Gustaf
Blueberry Solenne: Heheh takut kena sensor,
total 2 replies
Blueberry Solenne
Ya Tuhan serem amat isinya kelapa orang (takut di hide jadi di plesetin)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!