NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Iblis

Istri Kontrak Sang Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi ke Dalam Novel / Romansa Fantasi
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Terjebak dalam tubuh karakter figuran yang sakit-sakitan, seorang wanita harus bertahan hidup di dunia novel sebelum maut menjemputnya. Demi mendapatkan obat dan perlindungan dari keluarganya yang manipulatif, ia mengajukan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Axion, pria berjuluk "Iblis" kekaisaran.

Namun, pernikahan ini menjadi rumit karena setiap anggota keluarga menyimpan rahasia besar. Axion ternyata menyimpan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang penuh dendam, sementara putra angkat mereka adalah sosok misterius yang aslinya bukan berasal dari dunia manusia.

Meski awalnya penuh ketegangan dan instruksi untuk hidup saling mengabaikan, sikap sang suami perlahan berubah drastis. Pria yang semula dingin itu kini menjadi sangat protektif dan tidak segan bertindak kasar pada siapa pun yang merendahkan istrinya. Hubungan yang seharusnya berakhir dalam setahun kini berubah menjadi ikatan keluarga yang rumit namun tak terpisahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monster Kecil Argenta.

Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa burung yang bangun lebih pagi akan mendapatkan cacing?

Benar saja, Gabriella yang sudah berkutat menggali tanah di halaman belakang sejak fajar menyingsing, baru saja menemukan keberuntungan besar yang tak terduga.

Semua ini...

Itu adalah magi—energi iblis yang pekat.

Di dalam tanah yang di gali Gabriella, energi iblis itu terkumpul dengan begitu pekat. Bagi orang awam, pemandangan ini pasti akan membuat mereka pingsan ketakutan, namun Gabriella justru mengulurkan tangannya dengan tenang.

Begitu jemarinya menyentuh kegelapan itu, kilasan ingatan milik orang-orang yang telah tiada mulai mengalir masuk kepikirannya.

"Ini Mika, anak Liliana. Selama ini dia di besarkan sebagai anak perempuan agar bisa terus bertahan hidup."

"Mencintai sahabat istriku sendiri bukanlah sebuah kesalahan! Bukankah kau juga bilang ingin bersamanya selamanya? Kalau begitu, kita ini sejalan, bukan?"

Ada sebuah fakta yang tidak di ketahui banyak orang: energi iblis menyimpan sisa-sisa ingatan dari orang yang telah mati.

Melalui magi yang terkubur di dalam tanah itu, berbagai macam memori bercampur aduk merasuki benak Gabriella. Dan di antara tumpukan ingatan itu, ia menemukan sosok nenek Hans.

“Cucuku, lihat pergelangan tanganmu ini! Sudah tinggal tulang saja!”

“Nenek, bicara apa, sih? Aku justru harus menjaga makan agar tidak terlalu gemuk.”

“Apa? Bagian mana yang mau dikurangi! Badanmu saja tinggi menjulang begitu! Nenek sudah panggang pai apel, makan dulu sebelum pergi!”

'Sepertinya aku hanya bisa melihat ingatan orang-orang yang mati di wilayah ini,' batin Gabriella.

Berbekal informasi dari ingatan-ingatan itulah, ia bisa dengan mudah memenangkan hati penduduk Utara.

Terutama Hans, ajudan sang Duke. Menjalin hubungan baik dengannya jelas tidak ada ruginya.

Setelah merasa tidak ada lagi informasi berguna yang bisa di gali, Gabriella segera menutup kembali lubang tanah tersebut.

“Ya ampun, Nyonya! Jangan bilang Anda menggali tanah lagi!”

Tepat saat itu, Hans datang dan berlari dari kejauhan.

"Pekerjaan kasar seperti ini, serahkan saja pada saya! Nyonya tidak perlu mengotori tangan!"

"Kebetulan kebunnya sudah rapi, aku juga baru mau selesai. Apa kamu sudah makan? Hari ini aku berencana memasak sup tomat."

Mendengar kata 'memasak', wajah Hans seketika cerah.

"Kalau begitu, biarkan saya membantu Anda menyiapkan bahan-bahannya!"

Hans segera melangkah cepat demi mensejajarkan posisinya di belakang Gabriella.

Setelah beberapa hari terakhir bisa menikmati hidangan yang layak dan tidur tanpa gangguan, rona wajahnya kini tampak jauh lebih segar. Kelelahan yang biasanya menggelayuti matanya seolah sirna tanpa bekas. Hans menyadari sepenuhnya, perubahan besar dalam hidupnya ini adalah berkat kehadiran wanita di hadapannya.

"Sepertinya suasana hatimu sedang sangat baik," ujar Gabriella.

Hans menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia sedikit malu karena kegembiraannya mudah terbaca. "Benar, Nyonya. Kemarin saya sudah menyelesaikan proses pembelian lahan yang di tumbuhi Amaryllis. Saya dengar Nyonya yang memberi tahu lokasinya?"

"Ya, memang benar," jawab Gabriella singkat.

Gabriella sudah menduga bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk membeli lahan itu.

'Aku juga sudah tahu kelemahan Hans lewat ingatan yang tersimpan di dalam magi. Aku bisa saja mengancamnya untuk menggelapkan Amaryllis itu demi kepentinganku sendiri, tapi sebaiknya aku simpan dulu kartu ini.'

Sebagai langkah antisipasi, Gabriella memutuskan untuk mempererat hubungannya dengan Hans. Tujuannya hanya satu: menyembuhkan penyakit yang ia derita tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun.

"Nyonya benar-benar sosok yang terlalu berharga untuk Tuan Duke," gumam Hans.

Tanpa menyadari niat terselubung Gabriella, Hans terus menatapnya dengan binar kekaguman yang dalam.

Tok, tok.

Suara ketukan memecah keheningan.

"Sepertinya ada yang mencari Nyonya lagi," gumam Hans, bersiap untuk membukakan pintu.

Namun di luar dugaannya, pelayan yang berdiri di ambang pintu justru mencari Hans, bukan Gabriella.

-

"Ada apa?" tanya Hans.

"Itu..." Pelayan itu melirik Gabriella ragu, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Hans.

"Apa? Baiklah, aku akan segera ke sana." Ekspresi di wajah Hans seketika berubah.

"Apa ada masalah?" tanya Gabriella tenang.

"Saya harus segera melihat anak yang di bawa oleh Tuan Duke. Mohon maaf, saya harus pamit lebih dulu."

"Apa terjadi sesuatu yang serius?"

"Hanya masalah adaptasi. Karena lingkungannya mendadak berubah, anak itu sulit menyesuaikan diri. Seharusnya bukan masalah besar."

"Aku ikut."

"Ya? Tapi..." Hans tampak ragu.

"Bagaimanapun juga, dia adalah anakku. Jika itu menyangkut urusan anak itu, aku ingin membantu."

Hans sempat bimbang, namun akhirnya ia mengangguk setuju.

"Baiklah, saya akan jelaskan detailnya sambil jalan."

Sambil melangkah menuntun Gabriella menuju kastel utama, Hans menjelaskan situasi yang terjadi dengan raut cemas.

"Anak itu menolak setiap pelayan yang mencoba mendekatinya. Sudah berminggu-minggu dia tidak mau mandi. Kalau soal kebersihan mungkin masih bisa kami tunda, tapi sekarang dia mulai mogok makan. Itulah yang paling mengkhawatirkan."

Gabriella terdiam sejenak. Ia ingat hari pertama Duke menyelamatkan anak itu dari genangan magi. Saat itu, Axion memandikannya dengan kasar seolah sedang membilas tumpukan cucian kotor. Tampaknya, perlakuan dingin itu menyisakan trauma mendalam bagi si kecil.

"Mungkin dia merindukan keluarganya," gumam Gabriella.

"Sejujurnya, aku pun ingin mempertemukannya kembali dengan orang tuanya dan memberi mereka waktu untuk beradaptasi. Namun... kemungkinan besar seluruh keluarganya sudah tewas."

"Apa?"

"Nyonya tentu sudah mendengar kabar tentang desa di wilayah Barat yang hancur akibat ledakan magi baru-baru ini, bukan? Anak itu adalah satu-satunya penyintas dari sana."

Hans menelan ludah, suaranya memberat karena rasa bersalah.

"Hanya ada dua orang yang selamat dari tragedi itu. Penyintas satunya lagi selamat karena kebetulan sedang berada jauh dari desa saat ledakan terjadi. Tapi dia sama sekali tidak punya hubungan darah dengan anak ini. Karena tidak ada orang lain lagi yang tersisa, maka keluarga anak ini sudah pasti..."

"Apa anak itu tahu fakta ini?"

"Ya. Dan sekarang saya menyesal telah memberitahunya."

Hans menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Kenyataan pahit itu bahkan sulit di terima oleh orang dewasa, apalagi bagi seorang anak kecil yang belum sempat menjalani separuh hidupnya. Hans menyesal karena tidak mempertimbangkan dampak mental tersebut lebih dalam.

"Ini kesalahanku," gumam Hans dengan suara rendah yang penuh penyesalan.

Sambil terus bercakap, langkah mereka akhirnya berhenti di depan sebuah kamar. Saat itulah Gabriella teringat bahwa ia belum menanyakan hal yang paling mendasar.

"Siapa nama anak itu?"

Sebenarnya, Gabriella sudah tahu nama anak itu dari cerita aslinya. Namun, akan terasa sangat aneh jika ia tiba-tiba menyebutkan nama yang seharusnya belum pernah ia dengar.

"Namanya Luceran," jawab Hans sambil perlahan membuka pintu.

Dari celah pintu yang terbuka, suasana dalam ruangan yang gelap gulita mulai terlihat. Namun, hal pertama yang menyambut Gabriella adalah bau menyengat yang menyesakkan.

Gabriella sedikit tersentak, lalu memberanikan diri mengintip ke dalam. Berkas cahaya yang masuk dari pintu yang terbuka menyinari sesosok kecil di sudut ruangan.

Pipi yang cekung, lengan yang kurus kering, serta pakaian kotor yang sudah koyak dan compang-camping. Di tambah lagi, sepasang mata merah menatap ke arah mereka dengan kilatan kewaspadaan yang tajam.

Di sana, dalam kesunyian yang mencekam, meringkuk seorang anak kecil yang usianya mungkin belum genap lima tahun.

"!"

Begitu mata mereka beradu, anak itu tersentak dan langsung berlari bersembunyi di balik tirai jendela.

Lucunya, ia hanya menyembunyikan kepalanya saja, sementara seluruh tubuh mungilnya masih terlihat jelas.

Kepolosan anak itu sempat membuat Gabriella ingin tersenyum, namun di saat yang sama, ia merasa heran. Siapa yang akan percaya bahwa anak serapuh ini akan di juluki sebagai 'Monster Kecil Argenta' hanya dalam waktu satu tahun?

Dalam cerita aslinya, Luceran adalah perwujudan dari watak yang sulit di kendalikan. Sifatnya sama kasarnya dengan Axion sendiri.

“Aakh! Anak itu menggigit tanganku!”

Luceran pernah menggigit tangan Catherine begitu dalam hingga berdarah. Kehadirannya selalu identik dengan kekacauan dan kekerasan. Julukan itu melekat padanya karena ia akan menyerang siapa saja yang berani mendekat.

'Tapi, ini benar-benar aneh.'

Bagaimana mungkin anak sekecil ini bisa berubah menjadi sosok yang tega melukai orang lain? Padahal, cara bersembunyinya saja masih terlihat begitu naif.

'Apa sebenarnya yang terjadi selama satu tahun ini, sampai bocah itu berubah drastis?'

......................

Akhirnya, mereka berdua keluar dari kamar tanpa hasil apa pun.

"Ternyata ini memang sulit, bahkan bagi Nyonya sekalipun," ujar Hans sambil melirik Gabriella dengan perasaan tidak enak.

Tadi, baru saja Gabriella memanggil namanya, Luceran sudah gemetar ketakutan. Begitu Gabriella melangkah maju, anak itu akan bergeser menjauh. Jarak di antara mereka seolah tidak pernah terpangkas.

'Kalau tadi aku mencoba mendekat secara paksa, dia pasti sudah lari kabur.'

Pantas saja para pelayan menyerah; kewaspadaan anak itu benar-benar di luar dugaan.

"Sepertinya memang akan sulit. Tapi aku tetap ingin membantu anak itu. Apa aku boleh datang ke sini secara rutin?"

"Saya tidak keberatan, tapi Nyonya tidak perlu memaksakan diri."

Hans tampak ragu. "Merawat anak itu bukan bagian dari kontrak pernikahan Anda. Saya rasa Tuan Duke pun akan mengerti jika Nyonya memilih untuk tidak terlibat."

"Aku melakukannya bukan karena merasa terbebani olehnya."

Gabriella tidak memberikan perhatian ini hanya karena alasan dangkal seperti kewajiban atau rasa sungkan pada Argenta.

"Ini murni keinginanku sendiri, jadi kamu tidak perlu merasa khawatir."

Punggung kecil yang bersikeras tidak mau menunjukkan wajahnya itu terus terbayang di benak Gabriella.

Mungkin karena sosok itu mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa lalu. Berada di lingkungan yang mewah namun terasa asing, dikelilingi orang-orang yang sulit diajak berbagi rasa, dan dipaksa bertahan di sana layaknya benda asing yang tidak diinginkan.

"Jadi, percayakan saja padaku."

Gabriella menyunggingkan senyum tipis sembari menyingkirkan memori kelam itu.

"Ah, sebelum itu."

Gabriella mendekat dan membisikkan sesuatu. Hans refleks memiringkan kepala, tampak bingung dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Anda butuh benda itu?" tanya Hans sekali lagi dengan ragu. "Apa benar hanya itu saja yang Nyonya butuhkan?"

"Iya. Apa permintaanku terlalu berlebihan?"

Hans segera menggeleng cepat. "Ah, tidak! Justru aku terkejut karena permintaannya sangat sederhana. Akan aku siapkan dalam waktu satu jam!"

Ternyata, solusi yang di tawarkan Gabriella jauh lebih simpel dari pada semua beban pikiran yang menghantui Hans selama ini.

'Kuharap rencana Nyonya benar-benar berhasil pada Luceran.'

......................

Beberapa jam kemudian, Gabriella kembali mengunjungi kamar Luceran.

Sepertinya anak itu sama sekali tidak beranjak dari posisinya. Luceran masih tetap di sana, meringkuk dengan kepala yang di sembunyikan di balik tirai, seolah waktu telah terhenti baginya.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪🍊
Mita Paramita
tuh kn keluarga Valencia masuk aja gangguin hidup Gabriela 😈😈😈
Mita Paramita
untung aja topeng kejahatan Grayson ketauan 🤣🤣🤣 rasain tukang bohong ngaku2 jadi ayah nya Gabriela
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
@Biru791
kapan up pagiii
@Biru791
thour kapan upp lagi
lady parasol: author up besok ya, bbrp hari ini lagi drop hihi, makasih udh baca 🤍
total 1 replies
@Biru791
thour semngagt yukk up lagi💪
@Biru791
semngatt truss double upppp💪
@Biru791
cemungutt up
lady parasol: sambil nunggu up, baca novel terbaru berjudul Violetta : Menulis Ulang Akhir Hidupku 😄

di jamin seru
total 1 replies
@Biru791
cepat capatt uppp seruuu abiss
Mita Paramita
keluarga bahagia 🤣🤣🤣tapi sayang Gabriela umur nya pendek 😭
lady parasol: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor🔥🔥🔥
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor sering update 🔥🔥🔥💪💪💪
@Biru791
gk ada niat lanjut kah
Mita Paramita
axion masih gengsi aja kalo naksir sama Gabriella 🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
@Biru791
semngatt dong kapan upp
Mita Paramita
axion simpati dikit sama Gabriella 🤨 obatin penyakitnya 😭 umur ny gak lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!