Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Rumah yang Menjadi Museum
Suara deru mesin mobil Adrian perlahan menghilang, digantikan suara hujan yang menghantam atap rumah dengan nada yang monoton dan menyedihkan. Rey masih berdiri di teras. Pakaiannya setengah basah, rambutnya berantakan, dan napasnya memburu.
Ia menatap gerbang yang masih terbuka lebar, seolah berharap mobil itu akan berputar balik dan Tania akan keluar sambil berkata bahwa ini semua hanya gertakan. Tapi, gerbang itu tetap kosong. Hanya ada genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalan yang redup.
"Rey... kamu nggak apa-apa? Masuk, Rey, nanti kamu sakit," suara lembut Bianca terdengar dari ambang pintu.
Rey tidak menoleh. Ia merasa suara Bianca yang biasanya terdengar seperti melodi indah, kini justru terasa seperti kebisingan yang mengganggu telinganya. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya—rasa yang sama saat ia kehilangan Bianca dulu, tapi kali ini terasa lebih tajam dan... berbeda.
Rey berbalik dan masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya meninggalkan jejak air di atas lantai marmer yang selalu dibersihkan Tania setiap pagi.
Di ruang tengah, Mama Ratna duduk dengan wajah kaku. Beliau menatap Bianca dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu beralih pada Rey. "Puas kamu, Rey? Istrimu pergi. Menantu Mama pergi dari rumah ini karena ulahmu!"
"Ma, Tania cuma emosi sebentar. Paling besok juga pulang," sahut Rey, mencoba meyakinkan dirinya sendiri meski hatinya bergetar hebat.
"Dia bawa koper, Rey. Dia nggak bawa tas kecil buat menginap semalam," Mama Ratna bangkit, menyambar tasnya dengan kesal. "Mama kecewa sama kamu. Urus masalahmu sendiri. Dan kamu, Bianca... Mama harap kamu tahu batasan!"
Mama Ratna pergi dengan kemarahan yang meluap, meninggalkan Rey berdua dengan Bianca di ruangan yang mendadak terasa terlalu luas itu.
"Rey, maafkan aku... aku nggak bermaksud bikin rumah tangga kalian hancur," Bianca mendekat, mencoba menyentuh lengan Rey dengan jemarinya yang lentik.
Rey menarik tangannya secara refleks. "Aku mau istirahat, Bi. Kamu bisa pakai kamar tamu di bawah. Besok pagi aku minta Pak Lukman antar kamu pulang."
"Tapi Rey, ayahku—"
"Aku capek, Bianca. Tolong," potong Rey, suaranya terdengar sangat lelah.
Rey naik ke lantai atas, menuju kamar utama. Saat ia membuka pintu, aroma parfum bunga lili milik Tania langsung menyergap indra penciumannya. Kamar itu rapi, sangat rapi. Sprei yang kencang, bantal yang tertata simetris, dan udara yang sejuk. Semua ini adalah hasil kerja keras tangan Tania yang selama ini ia anggap remeh.
Rey duduk di tepi ranjang, meletakkan kepalanya di atas telapak tangan. Suasana sangat sunyi. Tidak ada suara gemericik air dari kamar mandi tempat Tania biasanya bersiap tidur. Tidak ada suara gesekan gantungan baju. Tidak ada aroma minyak telon atau krim malam yang biasanya dipakai istrinya.
Rey menoleh ke arah meja rias. Meja itu tampak kosong. Botol-botol skincare Tania yang biasanya berjejer rapi kini hilang setengahnya. Yang tersisa hanyalah sebuah botol parfum yang hampir habis dan... sebuah benda kecil berwarna perak.
Rey bangkit dan mendekat. Itu adalah cincin pernikahan mereka.
Tania meninggalkannya tepat di depan cermin. Seolah ingin memberi tahu Rey bahwa status mereka kini tak lagi melingkar di jarinya.
Rey meraih cincin itu, menggenggamnya kuat-kuat sampai pinggirannya menusuk telapak tangannya.
"Kenapa kamu senekat ini, Tan? Kenapa kamu harus pergi sama dia?" gumamnya frustrasi.
Pukul 02.00 pagi.
Rey terbangun karena rasa haus. Ia turun ke bawah menuju dapur. Di kegelapan, ia secara otomatis memanggil, "Tan, air putih..."
Hening. Tidak ada jawaban.
Rey tersadar. Ia berdiri di tengah dapur yang gelap. Biasanya, Tania akan terbangun lebih dulu meski hanya mendengar suara langkah kakinya, lalu dengan sigap menyiapkan gelas untuknya. Rey membuka kulkas sendiri. Ia mencari botol air dingin, tapi yang ia temukan adalah sebuah wadah plastik tertutup.
Ia membukanya. Itu adalah rendang yang dimasak Tania beberapa waktu lalu untuk makan malam. Ada secarik kertas kecil yang tertempel di sana dengan tulisan tangan Tania yang rapi:
'Rendangnya jangan lupa dipanasin dulu sebelum dimakan. Aku tahu kamu nggak suka makanan dingin.'
Rey tertegun. Kertas itu ditulis Tania sebelum keributan malam itu terjadi. Di saat hatinya hancur melihat Rey bersama Bianca di butik tas, Tania masih memikirkan perut suaminya. Masih memikirkan detail kecil tentang apa yang disukai dan tidak disukai Rey.
Tiba-tiba, rasa sesak itu meledak. Rey duduk di kursi meja makan, menatap rendang yang sudah membeku itu. Ia merasa seperti pecundang paling besar di dunia. Ia mengejar bayangan masa lalu yang ia pikir adalah kebahagiaan, sementara ia menginjak-injak permata yang ada di depan matanya.
Ia meraih ponselnya, mencoba menghubungi nomor Tania.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Rey mencoba lagi. Hasilnya sama. Ia beralih ke WhatsApp. Foto profil Tania menghilang—pertanda nomornya telah diblokir.
"Brengsek!" Rey memukul meja makan.
Rey teringat Adrian. Adrian yang tadi merangkul pundak Tania saat masuk ke mobil. Adrian yang menatap Rey dengan pandangan pemenang. Pikiran bahwa istrinya sedang bersama pria lain malam ini membuat darah Rey mendidih, tapi kali ini ia tidak bisa melabrak. Ia tidak punya hak bicara soal kesetiaan saat ia sendiri yang membawa "selingkuhannya" masuk ke dalam rumah.
Di sisi lain, di sebuah apartemen minimalis milik Maya—tempat Adrian mengantarkan Tania—Tania sedang duduk di balkon, menatap lampu-lampu kota.
"Kamu yakin dengan ini, Tan?" tanya Adrian yang berdiri di ambang pintu balkon, membawakan secangkir cokelat hangat.
Tania menerima cangkir itu, merasakan hangatnya menjalar ke tangannya yang gemetar. "Aku nggak punya pilihan lain, Yan. Tetap di sana hanya akan membuatku mati perlahan. Aku mau napas sebentar."
"Tinggallah di sini selama yang kamu mau. Maya nggak keberatan, dan aku... aku akan pastikan Rey nggak akan bisa ganggu kamu," ucap Adrian tulus.
Tania menatap Adrian. "Akankah kau temui hati sebaik dia..." bait lagu itu kembali terlintas. Di depan matanya ada Adrian yang tulus, sementara di belakangnya ada Rey yang egois.
"Terima kasih, Yan. Untuk semuanya."
Tania menyesap cokelatnya, merasakan rasa manis dan pahit yang bercampur—persis seperti hidupnya sekarang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi satu hal yang pasti: ia tidak akan kembali ke rumah yang terasa seperti museum itu lagi.
km hina hrga diri istrimu demi gundik murahanmu..🙄🙄
selamt mnikmati kbodohnmu rey😄😄