Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Krystal dan anak laki-laki itu mendarat di lantai kamar Krystal. Lantai yang terbuat dari papan kayu tua berwarna cokelat. Di atasnya, terhampar karpet besar berwarna biru tua dengan motif sayap dan bintang yang senada dengan sprei tempat tidur.
Jendela lengkung gotik besar berlapang gorden biru, yang menyajikan panorama malam magis berupa laut tenang yang memantulkan sinar bulan purnama di bawah langit bertabur bintang.
"Ternyats kau bisa menggunakan batu teleportasi," gumam anak itu.
Anak itu memindahkan Krystal ke ranjang kayu berukir tua tampak serasi dengan sprei bermotif bintang dan bangku kecil di ujungnya. Ia melanjutkan pemurnian untuk mengurangi rasa sakit Krystal—namun—ia mendapati energi dari Dewi Astraia yang mengalir dari tubuhnya; energi itu berbenturan dengan energi murni yang ada di tubuh Krystal.
Anak itu melihat setiap sudut kamar berukuran kecil yang terlihat tua. "Mereka bilang, kau diasingkan di Istana Aquamarine. Kupikir ini lebih mirip kastil terbengakali, atau bahkan sepertinya lebih bagus kandang kuda di mansion ayah," gumamnya.
Mira mengetuk pintu kamar. "Rys. Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku, aku harus bergegas membantu ayahku yang baru pulang melaut; aku tadi tidak sempat mengatakannya padamu dan langsung pergi begitu saja. Aku lupa kalau malam ini bulan purnama," ujar Mira dengan suara bergetar karena khawatir.
Anak laki-laki itu membuka pintu. "Kau terlalu berisik. Anak yang kau panggil Rys itu sedang tertidur. Tadi dia begitu kesakitan; aku menemukannya meringkuk di semak-semak Istana Kekaisaran. Saat aku mau menolongnya, tiba-tiba kami berpindah ke kand— kamar ini."
"Terima kasih Tuan Muda. Terima kasih karena menolongnya," ucap Mira dengan membukukan badan.
Anak itu meminta Mira untuk menunjukkan seluruh bagian dari Istana Aquamarine; sembari berjalan, Anak itu juga memintanya untuk menceritakan semua yang Mira ketahui tentang Krystal. Sesampainya di dapur, Mira menawarkan minuman dan camilan pada Anak itu. Mereka duduk di kursi dapur dengan jendela yang memperlihatkan laut yang tenang. Mira menceritakan segala hal yang ia ketahui dengan sangat detail—dengan nada penuh emosi—Mira tanpa sadar sampai memukul meja.
"Tuan Muda, bolehkah saya meminta tolong? Jika Anda tidak keberatan, tolong beri tahu Rys agar ia tidak lagi pergi ke istana kekaisaran," ucap Mira
"Baiklah."
Anak itu menunggu Krystal hingga pagi, berjaga-jaga jika Krystal merasa kesakitan lagi; sinar matahari mulai menerangi ruangan, —jendela yang menghadap arah timur—jendela yang sedikit terbuka sejak semalam. Anak itu menutup tirai jendela agar ketika Krystal membuka mata, sinar matahari tidak akan menyilaukan matanya.
Krystal terbangun dengan tubuh yang segar setelah mimpi-mimpi buruk semalam. Anak itu berdiri memandangi lemari kayu besar yang berada tepat di depan ranjang tidur, kemudian ia merapal sebuah mantra—Wuuush!—sebuah portal terbentuk di pintu lemari.
"Kakak siapa?" tanya Krystal, suaranya masih serak khas suara bangun tidur.
"Aku Eros Biov. Panggil saja Eros."
"Kak Eros?"
"Tidak, jangan panggil aku kak. Panggil namaku saja."
"Ah, baiklah, Eros."
Mira mengetuk pintu, Tok! Tok! "Bolehkah saya masuk? Saya membawa susu dan camilan pagi"
"Masuklah," ucap Eros. Setelah memasang sebuah portal, ia memberikan batu teleportasi yang diberikan penjaga semalam pada Mira. "Bakar batu ini. Jika tidak, mungkin penjaga itu akan berada dalam masalah—batu itu milik kekaisaran yang hanya disediakan untuk ksatria, penjaga, dan pengawal—ada sihir pelacak yang bisa mendeteksi keberadaan dan keadaan penggunanya. Aku sudah menghapus jejaknya."
"Ah, baiklah," Mira segera meletakkan nampan lalu mengambil batu itu dan segera menuju perapian di dapur.
Eros membalikkan badan, berjalan mendekati Krystal yang masih duduk di atas ranjangnya. "Bolehkah aku memanggilmu Rys?" tanya Eros sambil menyentuh dahi Krystal untuk memastikan ia baik-baik saja.
"Aku—aku baik-baik saja, Eros," ucap Krytal masih menatap Eros dengan bingung. "Kenapa kau menolongku? Aku pikir akan lebih baik jika aku mati di depan istana semalam."
Eros menyentil dahinya—Ctak!—hingga meninggalkan bekas kemerahan. "Apa kau bodoh? Jika mereka mengatakan untuk kau mati saja, apakah kau akan mengabulkan hal menakutkan itu?!" ucap Eros kesal.
"Aw!" mengusap dahi yang merah. "Apa karena aku tidak bisa melakukakn apa-apa? Apa aku menjadi tidak berharga jika Aku tidak bisa menggunakan sihir ataupun aura," Krystal menangis.
"Hey, Rys! Kenapa kau menangisi hal seperti itu? Kau—kau berharga! Orang-orang yang merawatmu di sini pasti menganggapmu berharga! Berhentilah menangis!" ucap Eros panik.
"Apa menurutmu aku berharga hingga kau menolongku yang sedang sekarat? Atau kau hanya merasa kasihan?" tatap Krystal dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu. Tentu saja setiap nyawa itu berharg," ucap Eros mencoba menenangkannya. "Aku harus pulang sekarang, Rys. Jika kau ingin menemuiku, kau bisa membuka lemarimu; portal ini terhubung ke pintu yang ada di balik rak buku kamarku. Sampai jumpa."
Krystal merasa sangat senang karena Eros mengatakan bahwa ia adalah orang yang berharga. Api semangat yang semalam padam, kini mulai kembali berkobar. Ia beranjak mengambil susu dan camilan yang berada di atas naka kecil.
Apakah aku boleh menemuinya nanti? Aku ingin menanyakan banyak hal padanya. Batin Krystal sambil mengunyah roti memandangi deburan ombak di luar jendela.
Tok! Tok! "Bolehkah aku masuk?"
"Masuklah, Mira."
"Oh, ternyata Tuan Muda sudah pergi," gumam Mira. "Rys! Kenapa kau nekat pergi ke sana?! Apa kau menyelinap kereta kuda kemarin?! Apa kau tau, betapa khawatirnya aku saat melihatmu begitu menderita semalam?!"
"Maafkan aku, Mira. Aku bersalah. Aku tidak akan lagi datang menemui mereka."
Krystal tidak menceritakan apa yang telah terjadi semalam, ia tak ingin membuat—Mira—merasa semakin khawatir. Ia bertekad untuk menjadi semakin kuat, agar bisa hidup bebas sesuai yang ia inginkan tanpa status Tuan Putri yang memberatkan hati.
"Rys, hari ini kau harus istirahat. Aku akan pulang untuk membantu ibu di kedai. Kau jangan melakukan hal-hal aneh lagi ya."
"Tunggu, Mira. Apakah aku berharga bagi kalian?" tanya Krystal sedih.
"Hah? Apaada yang menyakitimu dengan ucapan bahwa kau tidak berharga? Apa mereka mengatakan itu?!" tanya Mira kesal sembari memegang pundak lalu memeluk Krystal. "Dengarkan aku, Rys. Kau sangat berharga bagi kami. Apa kau ingat saat kau baru datang kemari? Kau membantu kedai dengan tangan mungilmu untuk membayar setiap makanan yang kau makan; kau selalu membuat ibuku marah karena ibuku tak ingin kau kelelahan, kami hanya ingin kau tumbuh dengan baik, Rys. Berhentilah memikirkan hal yang membuat dadamu sesak."
Krystal menangis tersedu-sedu. Mira memeluk dan menepuk punggung Krystal untuk menenangkannya. "Menangislah, Rys. Sampai dadamu tidak terasa sesak."