SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.
Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Tujuh hari enam malam berlalu begitu saja, terasa berjalan secepat kilat seolah waktu sengaja dipercepat saat mereka sedang bahagia. Liburan impian di Pulau Dewata yang penuh kemewahan, keindahan alam, budaya, dan momen-momen manis itu akhirnya harus berakhir. Pagi itu, langit Bali masih sama cerahnya seperti hari pertama mereka datang, tapi kali ini ada rasa berat di hati masing-masing untuk meninggalkan surga kecil yang sudah jadi saksi kebahagiaan dan kelengkapan cinta mereka.
Di halaman villa megah itu, koper-koper mewah sudah berjejer rapi, siap dibawa ke mobil penjemputan. Mereka semua berdiri berkelompok, memandangi bangunan indah, taman luas, dan pemandangan laut yang membentang di depan mata dengan pandangan penuh kenangan. Setiap sudut tempat ini menyimpan cerita: mulai dari momen Jisung mengungkapkan cinta, tawa riuh saat makan malam romantis, sampai ketenangan saat duduk berdua menikmati angin laut.
"Gila... rasanya nggak mau pulang deh. Enak banget di sini, tenang, indah, bebas... pengen ngulang lagi rasanya," keluh Haechan sambil menghela napas panjang, merangkul bahu Ningning di sebelahnya. Matanya menatap laut biru yang perlahan berkilau kena sinar matahari pagi.
Ningning mengangguk pelan, senyumnya manis tapi ada sedikit rasa sedih. "Iya ya. Tapi semua yang indah pasti ada akhirnya kan? Yang penting kita pulang bawa kenangan indah banget, dan hubungan kita makin kuat semua. Nanti kita bisa ke sini lagi kok, pas lulus nanti atau pas liburan panjang lain."
"Pasti dong! Nanti kita liburan lagi, tempat yang lebih indah, lebih mewah, dan tetep sama orang-orang yang sama pastinya," sahut Chenle dengan nada percaya diri, meski mukanya juga terlihat berat berpisah. Dia memegang erat tangan Miyeon, memastikan ceweknya tetap di dekatnya.
Mark berdiri paling depan, memandangi teman-temannya satu per satu. Dia sendiri juga berat hati pergi, tapi dia sadar, masa depan mereka masih panjang, dan tugas utama mereka sebagai pelajar belum selesai.
"Oke teman-teman... sedihnya ditahan dulu ya. Kita harus pulang. Kenangan di sini bakal kita simpan selamanya, tapi sekarang waktunya kita balik ke kenyataan. Sebentar lagi kita masuk kelas 12, tahun paling penting, tahun penentu masa depan kita. Kita pulang bukan buat berhenti bahagia, tapi buat persiapin diri biar nanti sukses bareng-bareng," kata Mark tegas tapi hangat, bikin suasana yang agak muram jadi kembali semangat.
Gisel di sebelahnya mengangguk setuju, tersenyum cerah. "Bener banget! Bali udah kasih kita banyak tenaga dan kebahagiaan. Sekarang kita bawa semangat ini balik ke sekolah, belajar yang rajin, bikin kenangan indah lagi di sana sampai kita lulus nanti."
Perjalanan ke bandara, penerbangan, sampai tiba kembali di kota asal terasa cepat namun penuh keheningan yang nyaman. Di dalam pesawat, mereka saling lihat foto-foto hasil jepretan selama liburan: pemandangan pantai, senyum bahagia mereka, foto berenam pasangan yang serasi, dan momen-momen lucu yang tak akan terlupakan. Setiap kali melihat foto itu, senyum kembali menghiasi wajah mereka.
Sesampainya di bandara Jakarta, keluarga masing-masing sudah menunggu dengan mobil-mobil mewah mereka. Sempat ada perpisahan sebentar di sana, saling berpelukan, saling berpesan untuk istirahat, dan berjanji besok pagi sudah harus siap kembali ke sekolah.
"Besok ketemu di sekolah ya! Jangan telat, jangan lupa semangatnya!" seru Jaemin sebelum masuk ke mobilnya sambil melambaikan tangan ke arah Winter yang sudah masuk ke kendaraannya.
"Siap! Besok kita mulai babak baru kelas 12!" jawab Winter kencang sambil tersenyum manis.
Keesokan paginya, gerbang SMA Aexdream kembali dibuka. Suasana sekolah yang biasanya ramai dan berisik, hari ini terasa beda sedikit. Murid-murid berdatangan dengan seragam rapi, tapi ada perubahan status di diri rombongan kita: mereka semua sekarang resmi jadi kakak kelas, jadi angkatan tertua, dan jadi panutan bagi adik-adik kelas di bawahnya.
Mereka berkumpul seperti biasa di halaman depan sebelum bel masuk berbunyi. Wajah-wajah mereka segar kembali, meski sisa kelelahan perjalanan masih terlihat sedikit di mata, tapi semangat mereka membara.
"Wih... rasanya aneh banget ya. Baru kemarin kita lari-larian di pantai, sekarang udah harus bawa buku tebal lagi hahaha," ucap Haechan sambil mengangkat tas punggungnya yang berat, tapi senyumnya tetap ceria.
Ningning menepuk bahu cowoknya pelan. "Namanya juga hidup. Ada saatnya main, ada saatnya usaha. Tenang aja, selama kita bareng-bareng, segala sesuatunya bakal tetep seru kok."
Mark dan Gisel berjalan beriringan masuk ke dalam gedung sekolah. Sebagai Ketua dan Wakil Ketua OSIS, tanggung jawab mereka makin besar sekarang. Ruang OSIS yang dulu jadi tempat curhat, nongkrong, dan bertengkar, sekarang bakal jadi markas besar persiapan tahun terakhir.
"Siap jadi kakak kelas, Ketua?" tanya Gisel sambil melirik cowoknya.
Mark tersenyum bangga, merangkul bahu ceweknya. "Siap banget. Dan lebih siap lagi karena ada lo di sebelah gue. Tahun ini bakal sibuk banget, Gisel. Ada ujian akhir, persiapan kuliah, acara perpisahan, dan banyak lagi. Tapi gue janji, gue bakal tetep jadi Mark yang sama, yang bakal jagain lo dan teman-teman semua sampai detik terakhir kita di sini."
Di koridor, Jeno dan Karina berjalan tenang seperti biasa, saling genggam tangan di balik tumpukan buku pelajaran. Mereka berdua sudah menyusun rencana belajar dan target universitas yang sama. Hubungan mereka yang tenang dan setia, makin kokoh seiring waktu.
"Karina, nanti sepulang sekolah kita belajar bareng ya? Ada materi baru yang lumayan berat katanya," ajak Jeno pelan.
Karina mengangguk lembut. "Boleh banget, Jen. Kita bantu-bantu ya. Kita harus masuk kampus yang sama kan? Harus usaha bareng."
Chenle berjalan dengan gaya percaya diri seperti biasa, tapi kali ini dia terlihat lebih dewasa sedikit. Di sebelahnya Miyeon berjalan tenang, sesekali menanggapi omongan cowoknya yang masih tetap saja bangga diri.
"Tenang aja Miyeon, walaupun kita balik sekolah, prestasi gue tetep bakal paling tinggi kok. Gue bakal buktiin kalau jenius tetep jenius, mau liburan mau enggak tetep aja paling hebat! Nanti pas lulus, nama gue bakal tercatat jadi murid paling berprestasi sedunia di sekolah ini!" seru Chenle penuh semangat.
Miyeon tertawa kecil, senyumnya lembut. "Iya iya, gue tau. Gue bakal dukung lo terus kok, dan gue juga bakal usaha biar kita sama-sama sukses ya."
Dan di ujung koridor, Jisung dan Shuhua berjalan berdampingan, malu-malu tapi makin berani nunjukin kasih sayang. Jisung yang dulu cuma jadi anak bungsu yang pemalu, sekarang udah tumbuh jadi cowok yang berani dan bertanggung jawab, apalagi setelah resmi jadian dengan Shuhua. Dia selalu berjalan di sisi luar, menjaga ceweknya dari keramaian murid yang lalu lalang.
"Kak Shuhua... nanti jam istirahat ketemu di kantin ya? Gue udah siapin minuman kesukaan Kakak," bisik Jisung pelan, mukanya sedikit memerah tapi matanya berbinar cerah.
Shuhua tersenyum manis, mengangguk lembut. "Siap, Sayang. Makasih ya. Belajar yang rajin ya hari ini, kita sama-sama semangat ya masuk kelas 12."
Jam pelajaran pun dimulai. Suasana kelas berubah jadi lebih serius dibanding tahun-tahun sebelumnya. Guru-guru mulai menekankan pentingnya nilai rapor, persiapan ujian akhir, dan rencana masa depan. Meski begitu, di antara kesibukan dan beban pelajaran itu, kehangatan tetap terasa. Di setiap sudut kelas, di setiap jam istirahat, di setiap rapat OSIS, selalu ada senyum, canda, dan dukungan dari pasangan masing-masing.
Mereka sadar, masa-masa indah di Bali itu bukan akhir, tapi bahan bakar semangat buat mereka menghadapi tahun paling berat sekaligus paling indah ini. Kenangan indah itu jadi pengingat bahwa seberat apa pun ujian atau tugas yang datang, selama mereka saling menjaga, saling percaya, dan tetap bersama, semuanya pasti bisa dilewati.
SMA Aexdream kembali hidup dengan rutinitasnya: suara bel, deru langkah kaki, tawa murid, dan semangat belajar. Tapi ada satu hal yang berubah selamanya di sekolah ini: enam pasangan remaja yang dulu saling asing, saling benci, atau cuma sekadar teman, sekarang sudah jadi satu ikatan persahabatan dan cinta yang tak terputuskan. Mereka masuk ke tahun terakhir SMA dengan hati penuh, kenangan indah, dan tekad baja buat menjadikan sisa waktu di sekolah ini jadi yang paling berkesan seumur hidup.