NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *18

Reyno menunduk dalam, menatap meja kerjanya yang berantakan. Tangannya mengepal pelan di atas paha.

"Lucas mati gara-gara gue, Dim," suaranya berat dan serak. "Kalau hari itu gak ada gue, kalau gue gak minta dia nemenin pulang, kalau gue gak ngajak dia lewat jalan itu, dia pasti masih hidup. Dia pasti masih sama Yara sekarang."

"Bukan," potong Dimas tegas dan cepat. "Lucas meninggal karena kecelakaan murni. Karena takdir. Bukan karena lo nyuruh dia mati. Bukan karena salah lo. Stop nyalahin diri lo sendiri terus, Rey. Lucas pasti lebih rela mati daripada ngeliat hidup lo hancur karena rasa bersalah."

"Tapi dia nyelametin gue. Dia mundur lagi ke mobil cuma buat nolongin gue yang sempat tertinggal," suara Reyno mulai bergetar. "Kalau hari itu dia gak balik, dia masih hidup sampai sekarang."

Sunyi menyelimuti mereka sejenak. Dimas menatap sahabatnya itu dengan tatapan sedih dan prihatin.

"Dan sekarang lo mau nebus rasa bersalah itu dengan cara ngorbanin rumah tangga lo sendiri? Dengan cara bikin wanita yang udah janji sehidup semati sama lo jadi sedih dan sepi sendirian?" tanya Dimas perlahan, namun setiap katanya terasa tajam.

Reyno langsung mengangkat kepala, menatap sahabatnya itu membela diri. "Aku gak ngorbanin Merlin! Aku tetep sayang dia, aku tetep anggap dia istriku!"

"Yakin?" tanya Dimas singkat, satu kata yang sederhana namun langsung membuat Reyno kehilangan jawaban.

"Lo tau gak kenapa Merlin diem? Kenapa dia gak pernah nuntut? Kenapa dia selalu ngalah?" tanya Dimas lagi.

Reyno menggeleng lemah.

"Karena dia capek rebutan sama rasa bersalah lo, Rey. Dia capek harus bersaing sama bayang-bayang masa lalu lo. Dia capek harus berbagi perhatian lo sama rasa bersalah itu," jelas Dimas jujur. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dia istri lo, Rey. Istri sah lo. Dan selama ini, selama lo sibuk sama Yara, dia terus ngalah demi lo. Dia sabar luar biasa. Tapi kesabaran manusia ada batasnya, Reyno."

Rey memejamkan mata pelan, membiarkan semua ucapan itu masuk dan menyesakkan dadanya. Ia tahu sahabatnya benar. Ia tahu semua itu fakta pahit yang ia coba tutupi.

Sementara itu, di apartemen mereka, Merlin sedang membereskan sisa piring dan gelas bekas sarapan tadi. Ia berjalan menuju wastafel dengan tumpukan piring di tangan. Namun tiba-tiba, tubuhnya terasa limbung luar biasa. Pandangannya berkunang-kunang, kakinya lemas seolah tak bertulang.

Gelas kaca di tangannya hampir tergelincir jatuh ke lantai. Untung saja ia cepat berpegangan kuat pada pinggiran meja makan, menahan tubuhnya agar tidak ambruk.

"Uh ...." Merlin mengerang pelan, tangan kanannya menekan pelipis yang terasa berdenyut kencang dan sakit.

Pusing. Sangat pusing. Diikuti rasa mual yang tiba-tiba naik ke tenggorokan, membuatnya ingin memuntahkan isi perutnya.

Sudah beberapa hari terakhir ini tubuhnya terasa aneh. Ia cepat sekali merasa lelah padahal tidak melakukan aktivitas berat. Sering merasa pusing di siang hari. Perutnya sering terasa tidak nyaman, kadang melilit, kadang terasa penuh. Nafsu makannya pun naik turun tak tentu arah.

"Mungkin kecapekan aja. Atau kurang tidur karena mikirin hal-hal aneh," gumamnya pelan pada diri sendiri sambil mengusap dadanya yang masih terasa mual.

Ia tidak terlalu memikirkannya lebih jauh. Bagaimanapun juga, pikirannya sudah terlalu penuh oleh masalah rumah tangga, oleh sikap Reyno, oleh keberadaan Yara, dan oleh rasa sakit hati yang menumpuk. Ia pikir itu hanya efek dari stres dan kelelahan batin.

Namun tanpa Merlin sadari, ada sesuatu yang sedang tumbuh perlahan, diam-diam di dalam dirinya. Sesuatu yang kecil, rapuh, namun begitu berharga. Sesuatu yang nantinya akan mengubah seluruh jalan hidup mereka berdua selamanya.

Pagi itu, udara di luar terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Langit kelabu dan mendung menggantung rendah di atas gedung-gedung kota, sementara suara rintik hujan kecil terdengar samar dan berirama dari arah balkon apartemen. Suasana yang biasanya membuat hati tenang. Namun, pagi ini justru terasa lebih berat dan penuh teka-teki bagi Merlin.

Di dalam kamar mandi, Merlin berdiri cukup lama di depan cermin dan wastafel. Wajahnya terlihat sangat pucat, bibirnya kering, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

Tangan wanita itu mencengkeram pinggiran keramik wastafel dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, tepat setelah ia selesai memuntahkan isi perutnya untuk ketiga kalinya pagi ini. Napasnya masih tersengal pendek-pendek, berusaha mengatur kembali ritme pernapasannya yang kacau. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan seluruh tubuhnya terasa lemas seolah baru saja berjuang melawan penyakit berat.

"Aneh banget." Merlin bumam pelan. Suaranya hampir tak terdengar.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin berharap rasa mual itu segera hilang. Awalnya, ia benar-benar mengira dirinya hanya kecapekan biasa. Kurang tidur karena terlalu banyak memikirkan masalah rumah tangganya belakangan ini. Kurang makan karena hilang selera. Atau mungkin hanya terlalu banyak pikiran yang membuat fisiknya ikut menurun. Ia pikir rasa pusing dan mual itu akan hilang sendiri jika ia cukup istirahat.

Namun saat matanya tidak sengaja jatuh pada kalender kecil yang tertempel di dinding dekat pintu, gerakan tubuhnya langsung terhenti.

Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia melangkah mendekat, matanya menyipit menatap kotak-kotak tanggal di kertas itu. Ia mulai menghitung cepat dalam kepalanya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Menghitung mundur hari-hari terakhir siklusnya.

Dan semakin ia menghitung, semakin kencang detak jantungnya berdegup tidak karuan. Campuran antara rasa takut, kaget, dan sesuatu yang lain yang sulit untuk dijelaskan.

"Eng-- enggak mungkin," bisiknya lirih, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri untuk menyangkal kenyataan itu.

Tangannya perlahan bergerak turun, menyentuh perutnya sendiri dengan sangat pelan dan hati-hati. Seolah takut mengganggu sesuatu yang mungkin ada di sana. Seolah takut menyadari kemungkinan besar yang sedang mencuat di benaknya. Namun bersamaan dengan rasa takut itu, sesuatu yang kecil namun hangat mulai tumbuh di dalam dadanya. Sesuatu yang bernama harapan.

Satu jam kemudian, Merlin berdiri dengan tangan gemetar di depan apotek kecil yang terletak tak jauh dari gedung apartemennya. Udara dingin pagi itu seolah tak ia rasakan sama sekali. Telapak tangannya terasa dingin dan basah oleh keringat saat ia menerima kantong plastik kecil dari tangan kasir. Di dalam kantong itu, ada sebuah benda kecil yang membuat jantungnya tidak berhenti berdebar kencang sejak tadi. Itu, test pack.

Sepanjang perjalanan pulang berjalan kaki di bawah rintik hujan, pikirannya benar-benar kacau. Ia takut jika hasilnya negatif. Ia gugup membayangkan jika dugaan itu benar. Namun jauh di lubuk hatinya, ada rasa bahagia yang meluap-luap. Sangat bahagia.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!