NovelToon NovelToon
Mencintai Mantan Istri Sahabatku

Mencintai Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest
Popularitas:109k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Wahyudi

Handi harus meregang nyawa akibat kecelakaan, meninggalkan Lisa dan kedua anak mereka.

Haris yang hidupnya diselamatkan Handi dan menyaksikan kematian Handi secara tragis mengalami trauma dan hampir gila. Dia menutup diri selama 1 tahun sejak kepergian sahabatnya.

Dini dan Bu Nani sudah kehilangan akal untuk memaksa Haris mendapatkan perawatan. Hingga akhirnya, Dokter Van Heerdt memberikan ide kepada Dini untuk mendekatkan Lisa dan anak-anaknya kepada Haris.

Di sela-sela usaha Lisa membantu Haris mendapatkan pengobatan atas traumanya, Arga hadir dengan menjanjikan cinta tulus kepada Lisa dan anak-anaknya. Saat itulah Haris menyadari bahwa dia jatuh hati kepada Lisa.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Akankah usaha Lisa membantu Haris berhasil?
Apakah Haris tega mengkhianati Dini dan beralih hati kepada Lisa?
Baca sampai tamat ya 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DOKTER HANS VAN HEERDT

Dini mengemudikan mobilnya dengan tergesa-gesa. Dia punya janji temu dengan seseorang dan dia dilarang terlambat. Orang itu tidak suka jam karet. Dia sangat disiplin.

Mobil Dini memasuki halaman sebuah rumah bergaya eropa kuno. Seorang laki-laki paruh baya membukakan pagar dan membungkukkan diri kepadanya. Dini membalasnya dengan lambaian tangannya. Halaman rumah itu amat luas dengan hamparan rumput hijau yg tertata rapi. Jalan aspal menuju rumah diapit pohon cemara di kedua sisinya.

Waktu menunjukkan kurang sepuluh menit dari waktu janji pertemuannya. Dini keluar dari mobilnya dan berlari menuju rumah itu. Seorang wanita berpakaian serba hitam menyambutnya dengan mengatakan," Dokter Heerdt sudah menunggu Anda, Nona."

Dini mengangguk sekilas. Rumah itu memiliki pintu sangat besar dan tinggi. Ruang tamunya sungguh luas, lantai marmernya berkilauan. Barang-barang yang terdapat di dalam rumah bernuansa serba kuno, seolah-olah kita memasuki rumah kuno jaman penjajahan Belanda dulu. Rumah itu memiliki tiga lantai dengan tangga super besar menuju setiap lantainya. Tidak perlu ditanya berapa ruangan kamar yang ada disana, sudah pasti banyak.

Dini berlari menuju ruangan persis arah jam dua belas dari pintu. Dia mendengar suara wanita memanggilnya tapi tidak digubrisnya. Dia terus berlari menimbulkan suara tuk-tuk keras di lantai akibat gesekan dengan sepatunya. Dia membuka pintu ruangan yg ditujunya tanpa mengetuk pintu dan dilihatnya seorang pria tua dengan rambut hampir botak sedang menghisap rokok dari pipanya. Pria itu berusia delapan puluh tujuh tahun, berperawakan tinggi dan tubuhnya ramping, berkacamata besar dan sisa rambutnya berwarna putih total. Dia berjenggot panjang elegan berwarna putih perak. Wajahnya jelas berkeriput tapi penampilannya tampak seperti anak muda, anak muda jaman penjajahan Belanda tentunya, sebab dia memakai kemeja rapi dengan jas rompi dan celana baggies. Pria itu mengangkat tangannya dan melirik jam tangannya, mengangkat sebelah alisnya melihat Dini yang masih memegang gagang pintu dengan napas ngos-ngosan. Pria itu mengetuk jam tangan tuanya sambil memperlihatkannya ke arah Dini. Raut wajahnya benar-benar serius.

" Kamu terlambat dua puluh tiga detik," katanya dengan aksen khas Meneer Belanda. " Dan dimana sopan santunmu? Kenapa kamu selalu tidak pernah mengetuk pintu?"

Dini berdiri mantap dan berjalan mendekati pria itu. " Maafkan saya. Saya takut Anda tidak mau menemui saya bila saya terlambat."

" Dan kamu sudah terlambat. Saya tidak suka." Pria itu sudah memutari ruangan dan hendak mengambil kursinya ketika seorang wanita berusia lima puluh lima tahun memasuki ruangan dengan berseru," Vader, sebegitunya Anda memperlakukan cucu sendiri?!"

Pria itu bernama Dokter Hans Van Heerdt, asli keturunan Belanda, seorang dokter jiwa terkenal. Beliau adalah kakek Dini dari pihak ibunya. Dokter Heerdt jatuh cinta pada seorang gadis pribumi dan membantu perjuangan perebutan kemerdekaan Indonesia demi membuktikan cintanya yang tulus kepada sang kekasih. Dia hidup bahagia kemudian dan mendapatkan seorang putri dan seorang putra. Putrinya adalah ibu Dini, berwajah Eropa dengan bola mata coklat dan rambut ikal coklat. Sedangkan ayah Dini adalah seorang Indonesia asli, berprofesi sebagai dokter bedah. Lalu, Dini menjadi dokter anak. Ya, kakeknyalah yang berperan besar atas apa yang menjadi pilihannya. Bisa dibilang Dini adalah cucu kesayangannya. Dokter Heerdt lah yang mengajarkan banyak hal kepada Dini ketika dia masih kecil, termasuk kebencian beliau kepada jam karet khas Indonesia. Bila Dini berjanji menemuinya pada jam sekian, maka Dini harus tepat waktu memenuhi janjinya. Dini sudah pernah diusir dari ruangannya hanya karena terlambat dua menit. Satu hal lagi, beliau selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga semua yang berbicara kepadanya harus benar-benar menjaga lisannya. Beliau akan mengoreksi sopan santun perilaku dan tata bahasamu kepadanya.

Dokter Heerdt sudah duduk di kursinya. " Jangan kamu mengajarkan hal buruk kepadanya!"

" Vader...," keluh Anne, ibu Dini.

" Ibu, sudah," Dini memotong ibunya. "Ibu kembali saja. Saya mau berbicara dengan kakek."

" Grootvader..," koreksi Dokter Heerdt.

Dini tersenyum geli. " Baiklah. Saya ingin berbicara dengan Grootvader, berdua, empat mata."

Nyonya Anne mengangguk. " Baiklah, saya akan menyiapkan makan malam."

Dini tersenyum kepadanya sampai ibunya menghilang dan menutup pintu.

" Jadi apa yang kamu mau?," tanya Dokter Heerdt.

" Ada yang mau saya diskusikan bersama Grootvader."

" Tentang kekasihmu?"

Dini mengangguk lesu.

" Baiklah. Saya akan mendengarkan," kata Dokter Heerdt.

****

Dini masih berdiri di tempatnya, di apartemen Haris, di depan televisi, di hamparan balon-balon hiasan pesta ulang tahunnya. Matanya terpancang ke pintu kamar Haris yang menutup keras. Tangisan Hana dan Hamza terdengar samar di telinganya. Dini sungguh tak menyangka Haris akan bereaksi sedemikian rupa. Di kepalanya masih teringat bagaimana ekspresi Haris yang marah kepada Hana dan Hamza. Mimik muka marah dan sedih yang bercampur menjadi satu. Saat Haris meneriakinya dan mengacungkan telunjuk kepadanya, di situlah dia benar-benar melihat seberapa besar penderitaan batin yang dibawa Haris selama ini. Dia bukan Haris yg Dini kenal selama ini.

Dini ambruk di lantai. Dia mulai meneteskan air mata. Tangannya terbentur meja kaca dan dia mencengkeramnya.

" Dini, kamu ngga apa-apa?," tanya Lisa. Dia berjongkok di sebelah Dini dan memeriksanya.

Dini mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Hana dan Hamza sudah pergi, mungkin Lisa membawanya ke kamar mereka. Sedangkan Lisa, matanya merah, masih ada sisa air mata di pelupuk matanya dan pipinya masih basah.

" Lisa, ayo bantu aku!," Dini mulai geragapan berdiri, Lisa membantunya dengan memegang tangannya yg bebas. " Kita harus membuka kamar Mas Haris. Aku takut dia pingsan di dalam kamar."

Lisa mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju pintu kamar Haris dan Dini langsung membuka tanpa mengetuknya terlebih dahulu, dan benar kata Dini, Haris tergeletak di lantai tidak jauh dari tempat tidurnya dengan posisi tengkurap.

" Mas....," teriak Dini.

" Haris,...," teriak Lisa.

Dini dan Lisa berlari mendekati Haris. Mereka berusaha membalikkan tubuh Haris sekuat tenaga, lalu Lisa mengambilkan bantal dan menyorongkannya kepada Dini. Mereka tidak kuat membaringkan Haris di tempat tidur. Jadi Dini hanya memberi kepala Haris bantal.

Dini dan Lisa masih menangis dalam diam. Mereka terjebak dalam keheningan total selama beberapa waktu.

" Dini,...," Lisa memberanikan diri berbicara setelahnya. " Apakah menurutmu masih bijaksana membiarkan aku tinggal di sini, sementara..."

" Lisa,...," potong Dini," Kita akan membahasnya besok. Lebih baik kamu istirahat."

Lisa diam. " Baiklah, kalau itu maumu." Dia beranjak pergi meninggalkan Dini yang bersimpuh di sebelah Haris.

Benar, batin Dini, apakah masih bijaksana membiarkan Lisa tetap berada di rumah yang sama dengan Haris. Dini harus segera melakukan sesuatu. Dia tidak bisa membayangkan Haris akan berakhir di Rumah Sakit Jiwa bila dia terus seperti ini.

Dini membuka handphonenya dan menelpon kakeknya, Dokter Heerdt, " Halo, Kakek, bisakah saya bertemu Anda besok pagi jam sembilan?"

****

Dokter Heerdt menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. Asapnya mengepul memenuhi ruangan itu. Dia mendengarkan dengan seksama ketika Dini bercerita tentang kondisi Haris. Selama ini Dini selalu berkonsultasi dengan kakeknya perihal Haris. Kakeknya juga yang menyarankan segala sesuatu yang harus dilakukan Dini sebagai upaya kesembuhan Haris, termasuk mendekatkan Haris dengan Lisa dan anak-anaknya. Melihat reaksi Haris akan kehadiran Lisa dan anak-anaknya, Dini ragu akan keberhasilan rencana kakeknya. Mungkinkah dia harus melakukan upaya by pass, membawa Haris ke Rumah Sakit Jiwa. Dia tidak mau melakukannya.

" Lalu apa yang kamu mau?," tanya Dokter Heerdt.

" Grootvader, apakah saya harus membawanya ke Rumah Sakit Jiwa?," tanya Dini sambil meneteskan air mata.

" Separah itukah?," kata Dokter Heerdt.

Dini menggeleng.

" Tegakah kamu?," tanya Dokter Heerdt lagi.

" Tidak," kata Dini sembari menggeleng.

Dokter Heerdt menaruh pipa rokoknya. Dia meletakkan tangannya di atas meja dan menatap Dini lekat-lekat. " Dini, kamu yang tidak sabar, bukan Haris yang sakit parah."

" Grootvader..."

" Biarkan Lisa bekerja!"

Dini menegakkan kepalanya. " Apa maksud Anda?"

" Lisa yang menyarankan untuk mengadakan pesta di rumah Haris. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya berikutnya. Biarkan dia bekerja!"

" Maksud Anda, membiarkan Lisa sengaja mendekatkan dirinya dan anak-anaknya kepada Haris?"

Dokter Heerdt mengangguk. " Betul."

Dini terdiam.

" Bagaimana bila Lisa ingin menyerah?," tanya Dini.

Dokter Heerdt menyeruput kopinya dengan santai, kemudian dia menjawab," Saya rasa tidak."

" Bagaimana Anda yakin?," cecar Dini.

Dokter Heerdt melayangkan pandangan mematikan kepada Dini. " Dini, sebenarnya kamu yang mau menyerah, bukan Lisa."

Dini menelan ludah. Dia sampai salah tingkah di hadapan kakeknya.

" Buang jauh-jauh apa yang ada di kepalamu bila kamu memprioritaskan kesembuhan Haris," ucap Dokter Heerdt tajam.

1
Niluh Laeni
bagus sekali

/Angry//Angry/
🌹Devitha anggraini🌹
ya Allah aku bayangin kok ikut merasakan sakit ya. sedih
😘shanty😘
up thor
❤ning🍀⃝⃟💙༄⃞⃟⚡
kok blm up lg thor...
Arga Pratama
jgn lama,, upnya thor
Ningrum Fitria
tetap semangat thor selalu menunggu kelanjutannya
❤𝘽𝙄𝙉𝘼𝙍 ༄⃞⃟⚡
ditunggu kelanjutannya Thor ....ga sabar euy ..
DianWahyudi
maaf ya kak
kadang kondisi kesehatan ga memungkinkan buat up tiap hari 😄
terimakasih sudah setia membaca 🥰
Bee
upnya kenapa lamaaaaaaaaa aku nunguinnnnnn
Kristia Ningsih
like
Arga Pratama
akhirnya up thor
Bee
lama nggak up thour
Ulfa Riady
Ahirnya up juga... semangat thoooor... setia menanti
❤ning🍀⃝⃟💙༄⃞⃟⚡
akhirnya yg ditunggu2 update jg.... semangat ya thor bt selesaiin ceritanya... ga sabar baca kelanjutannya...
MUTTAQIN FAMILY
up lagi donk thor.....😍
Ulfa Riady
semangat thor udh lama banget baru up. .. ceritanya bagus sayang kalau digantung💪💪😍😍😍
❤ning🍀⃝⃟💙༄⃞⃟⚡
penasaran sm kelanjutan ceritanya...semoga kehamilannya lancar dan bs lanjutin cerita ini lg... semangat thor 👍👍👍
MUTTAQIN FAMILY
semangat utk berkarya thor, sehat selalu debay dan ibunya...🙏👍
Muniroh Mumun
semangat thoor ....semoga calon bayi dan ibunya sehat selalu ....karyamu selalu di tunggu .....🥰🥰🥰
®αf|_>_<: aamiin ya rabb..semangat thor tetap di tunggu up nya😍
total 1 replies
Lia Poly
Ayo dilanjut donk... g sabar menunggu nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!