NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Istri Pendiam

Sisi Gelap Istri Pendiam

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Pelakor / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nanaxu

Tiara adalah istri pendiam yang selalu dihina Bima karena hanya memiliki toko roti kecil dan belum bisa memberi anak. Saat Bima berselingkuh dan merendahkannya, Tiara diam-diam bangkit membangun usaha hingga sukses besar. Ketika hidup berbalik—Tiara naik, Bima jatuh—lelaki itu menyesal dan ingin kembali.
Namun Tiara yang sekarang bukan lagi wanita yang bisa diinjak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanaxu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 10 Rasa dan Gensi

​Pagi hari di Toko Kue Tiara Manis selalu dipenuhi aroma manis adonan yang dipanggang dan kesibukan para pegawai. Tiara sendiri, sang pemilik, seperti biasa selalu berada di toko utama yang juga berfungsi sebagai pusat produksi besar-besaran. Tangannya cekatan mengawasi setiap proses, dari pencampuran bahan hingga dekorasi akhir. Meskipun sesekali ia perlu memantau toko cabang, fokusnya tetap di sini, memastikan kualitas kue yang akan dikirim ke berbagai pelanggan. Ia adalah seorang entrepreneur muda yang sangat menjunjung tinggi standar kebersihan dan rasa.

​Siang itu, Tiara baru saja menyelesaikan pengepakan beberapa lusin croissant almond pesanan besar yang dijadwalkan akan diambil sebentar lagi. Ia menyeka sedikit tepung di pipinya ketika bel pintu berbunyi, menandakan kedatangan tamu. Namun, yang datang bukanlah pelanggan biasa.

​Farrel melangkah masuk, memancarkan aura seorang pengusaha sukses yang sibuk. Pria muda itu memang sedang naik daun, namanya dikenal di dunia ekspor-impor dan kini merambah bisnis kuliner dengan investasi di beberapa restoran kelas atas. Toko kue Tiara Manis sedang viral, dan Farrel datang untuk membuktikan rumor tersebut. Ia ingin memastikan, seenak apa sih kue yang sedang diperbincangkan banyak orang ini?

​"Selamat siang, saya mau ketemu owner toko ini," ucap Farrel, suaranya terdengar formal dan sedikit kaku.

​"Saya owner-nya," balas Tiara sambil tersenyum ramah, senyum yang sayangnya tidak Farrel balas. Ia hanya menatap Tiara dengan tatapan menilai yang membuat Tiara sedikit kesal.

​"Sombong banget bocil ini," Tiara meruntuk dalam hati. Usia Farrel yang terlihat lebih muda atau setidaknya seumuran dengannya, serta sikapnya yang terkesan kurang menghormati, membuat Tiara yang biasanya sabar menjadi sedikit defensif. Ia yakin, anak-anak seperti Farrel, yang terbiasa hidup enak, seringkali lupa bagaimana menghormati orang lain, terutama wanita yang terlihat santai di dapur.

​"Saya mau roti gratis," ucap Farrel tanpa basa-basi, langsung ke intinya. Ia berdiri tegak, tangannya dimasukkan ke saku celana chinos-nya, terlihat arogan.

​Tiara tertegun sesaat. Ia bahkan tidak menyangka akan mendengar permintaan sekonyol itu dari seseorang yang tampak berkelas. "Di toko saya tidak menyediakan roti gratis, Pak. Kalau Bapak mau makan, silakan beli di etalase sana," jawab Tiara, nadanya berubah datar, bahkan sedikit jutek. Senyumnya lenyap tak bersisa.

​Keduanya saling tatap. Udara di antara mereka terasa tegang dan penuh penilaian. Farrel, yang dikenal gentle dan lihai bicara di depan klien, mendadak kaku tak bersuara. Sementara Tiara, yang biasanya sangat ramah pada setiap pelanggan, merasa harga dirinya tersinggung dan memilih memasang wajah dingin.

​Padahal, maksud Farrel bukanlah ingin roti gratis karena kelaparan. Perutnya baru saja terisi makanan mewah. Ia hanya ingin mencicipi, menguji rasa tanpa prosesi beli-membeli yang dianggapnya membuang waktu. Ia ingin "sample" profesional. Namun, entah kenapa, lidahnya kelu dan kata-kata yang keluar malah terdengar sangat tidak bijak, bahkan terkesan meremehkan. Ia tidak bisa mengeluarkan satu pun kalimat diplomatis yang biasa ia gunakan.

​Di belakang Farrel, berdiri Fatir, sang asisten, yang kini berada di antara perasaan malu dan terkejut. Ia sungguh tidak menyangka bosnya, yang jago merayu dan negosiasi bisnis, bisa menjadi sedemikian canggung dan awkward. Keheningan menyelimuti mereka berdua, yang hanya dipecahkan oleh suara samar mesin adonan dari ruang produksi.

​Melihat situasi yang semakin tidak nyaman dan bosnya yang membisu, Fatir segera mengambil alih. "Maaf Bu," Fatir maju selangkah, memberikan senyum profesionalnya yang terbaik. "Kami sebenarnya ingin uji rasa beberapa jenis roti. Bos saya ingin melihat apakah produk Ibu cocok untuk dijual di restoran kami, mengingat akhir-akhir ini toko Ibu sangat viral."

​Keduanya terhenyak. Tiara menyadari kesalahpahaman itu. Matanya melebar sedikit, rasa kesal di hatinya melunak berganti rasa malu. Farrel tidak lagi banyak bicara, membiarkan asistennya melanjutkan negosiasi. Tiara pun kembali tersenyum, kali ini senyum lega bercampur geli.

​"Oh, begitu rupanya. Iya, silakan Pak. Mau roti yang mana? Nanti pegawai saya akan menyiapkan yang paling fresh untuk Bapak cicipi," kata Tiara, kembali ke mode profesionalnya.

​Fatir berjalan ke etalase, matanya berkeliling melihat beragam roti dan kue yang terlihat sangat menggugah selera. Ia memilih beberapa signature item toko itu. Sementara Fatir sibuk memilih, Farrel memilih duduk diam di sofa tunggal di sudut toko. Dari sana, ia curi-curi pandang ke arah Tiara yang kembali melayani pelanggan lain dengan senyum manis dan keramahan yang sejati.

​Setelah pegawai Tiara menyajikan piring berisi potongan roti dan kue, Tiara bergabung dengan mereka, duduk di sofa tunggal yang berada di seberang sofa yang diduduki Farrel dan Fatir.

​"Rasanya biasa saja," celetuk Farrel tiba-tiba setelah potongan roti pertama masuk ke mulutnya. Ia berbicara dengan nada blasé, seolah yang ia makan adalah roti murah di pinggir jalan.

​Namun, yang membuat Tiara terkejut, pria itu makan dengan sangat lahap. Dalam hitungan menit, piringnya hampir kosong. Bahkan, tanpa permisi, Farrel bangkit dari duduknya, berjalan sendiri ke etalase, dan mengambil beberapa jenis roti lain. Entah ia benar-benar lapar, atau memang doyan dengan rasanya. Tiara hanya melihatnya dengan tatapan intimidasi dan kening berkerut.

​"Biasa saja? Padahal dia melahap semua jenis roti. Dasar munafik," batin Tiara, sambil menahan senyum sinisnya.

​Fatir hanya tersenyum tipis, berusaha menjaga martabat bosnya. Ia tahu betul, bosnya tidak sedang tidak enak badan atau tidak lapar. Menurut Fatir, Farrel hanya kehabisan kata-kata untuk sekadar memuji. Farrel sedang berjuang dengan gengsinya sendiri.

​Setelah Farrel menghabiskan potongan terakhir cinnamon roll, Tiara memutuskan untuk menagih opini Farrel. "Bagaimana Pak? Roti saya tidak mengecewakan kan? Soalnya semua jenis roti sudah Anda santap," ucap Tiara, nadanya sengaja dibuat sedikit menyindir, menanggapi pernyataan 'biasa saja' Farrel sebelumnya.

​"Sombong juga ini perempuan," Maki Farrel dalam hati, merasa tersudutkan.

​"Rasanya tidak masuk kategori saya," jawab Farrel, tetap mempertahankan gengsinya. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa. "Tapi, saya akan meminta beberapa jenis roti yang akan dijual di restoran saya. Saya yakin ini akan menjadi kerja sama yang menguntungkan," lanjutnya, berharap Tiara akan merasa tersanjung dengan tawaran kerja sama dengannya, seorang Farrel yang terkenal.

​Namun, jawaban Tiara sungguh di luar dugaan Farrel. Tiara menggeleng pelan.

​"Maaf Pak Farrel, tapi sepertinya saya tidak berminat bekerja sama dengan Anda," putus Tiara tanpa basa-basi. Keputusannya mantap. Ia merasa Farrel terlalu arogan dan meremehkan produknya. Ia tidak ingin berbisnis dengan orang yang tidak menghargai usahanya.

​"Sok-sok an. Padahal roti habis dia makan," lanjut Tiara dalam hati, menikmati sedikit kemenangan kecilnya.

​Fatir buru-buru mengklarifikasi, merasa kerja sama ini sangat penting. "Mohon maaf Bu Tiara, kami benar-benar ingin bekerja sama. Saya melihat di sini standar kebersihan sangat baik, rasa dan tekstur juga sangat baik dan unik. Kami bisa menawarkan lokasi yang sangat strategis untuk produk Ibu," Fatir berusaha meyakinkan. "Kalau Ibu Tiara berminat, silakan hubungi saya. Dan... saya juga membeli beberapa jenis roti yang akan saya bawa pulang untuk istri saya yang lagi mengidam."

​Mendengar bagian 'mengidam' dan melihat ekspresi Fatir yang tulus, hati Tiara sedikit melunak. Ia memang dongkol pada Farrel, tetapi Fatir menunjukkan profesionalisme dan kebaikan hati. Ia berencana akan mempertimbangkan kerja sama itu, namun hanya melalui Fatir.

​Berbeda dengan Fatir, Farrel yang mendengar penolakan Tiara mendadak ciut. Ia seperti kucing yang tercebur got, terkejut dan malu. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri atau meyakinkan Tiara, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap Tiara dengan mata lebar, tidak percaya ia ditolak mentah-mentah.

​Kerja Sama yang Canggung

​Dua hari kemudian, setelah negosiasi intensif yang dilakukan Fatir, Tiara sudah resmi bekerja sama dengan restoran milik Farrel. Syarat utama dari Tiara adalah semua koordinasi dan komunikasi teknis harus melalui Fatir.

​Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Sejak insiden di toko itu, Farrel semakin kehilangan kata-kata jika berhadapan langsung dengan Tiara. Gengsi dan ketertarikannya terhadap Tiara bercampur menjadi satu adonan aneh yang membuatnya bersikap aneh.

​Siang itu, Tiara datang ke kantor Farrel untuk membahas detail pengiriman mingguan. Setelah Fatir menjelaskan panjang lebar, Farrel tiba-tiba bersuara, mengakhiri rapat.

​"Bu Tiara, jika sudah tidak ada kepentingan, silakan keluar dari ruangan saya," ucapnya, nadanya formal, kaku, dan terdengar seperti sebuah pengusiran yang tidak perlu.

​Tiara mendelik tajam ke arah Farrel. "Emang ada ya manusia yang kehilangan kata-kata sehingga ungkapan formal pun tidak bisa ia susun dengan baik?" batin Tiara, kesal. Ya, Farrel si jago gombal, kini menjadi pria paling canggung di hadapannya.

​Melihat Tiara marah, Fatir cepat-cepat menyela, menengahi bos dan mitranya. "Maaf Bu Tiara, terima kasih sudah bekerja sama dengan kami. Semoga sukses dan order minggu ini berjalan lancar."

​"Baik kalau begitu," jawab Tiara, menahan amarahnya. Ia menatap Farrel sekali lagi dengan tatapan penuh intimidasi. "Lain kali sopan sedikit jadi orang," ujarnya, mengeluarkan 'kata-kata mutiara' terakhirnya sebelum berbalik dan keluar dari ruangan Farrel dengan wajah cemberut yang jelas kurang enak dipandang.

​Farrel yang ditinggalkan di ruangan, diam-diam tersenyum. Senyum yang lebar, tidak diketahui Fatir. Melihat Tiara cemberut, rupanya malah menjadi hiburan tersendiri baginya. Entah apa yang ada di pikirannya sampai ia mengeluarkan kata-kata seperti mengusir. Mungkin itu adalah cara aneh Farrel untuk menunjukkan bahwa ia terpengaruh, terintimidasi, dan tertarik pada Tiara.

​Selanjutnya, Fatir pamit pulang karena masih ada pekerjaan lain di kantor. Farrel hanya duduk diam di kursinya, ruangan itu kini hening. Ia mengambil ponselnya, membuka media sosial. Jari-jarinya otomatis mengarah ke akun Tiara Manis. Ia menatap foto-foto Tiara yang sedang tersenyum, berinteraksi dengan pelanggan, dan mengawasi proses baking.

​Ia mendecih pelan, bergumam pada dirinya sendiri, "Apakah saya sudah tidak waras? Hanya melihat foto-foto dia di medsos?"

​Farrel menyadari ada yang salah. Pria yang biasanya penuh percaya diri, mendadak menjadi canggung di hadapan Tiara. Rasa roti yang 'biasa saja' itu, kini mulai terasa manis dan candu. Ia tahu, kerja sama bisnis ini hanyalah awal. Ia hanya perlu menemukan kembali kata-kata bijak yang hilang dan terutama, menyingkirkan gengsi setinggi langit yang telah menjebaknya. Ia tahu, permainannya baru saja dimulai.

1
Suci Dava
Penulisannya banyak yg typo, tanda baca perlu di perhatikan lgi
Wa Ode Afsheen Diyah Muktamiroh
Cerita nya bagus, menceritakan tentang kisah nyata 👍
Nana Xu: Terimakasih kak. Baca juga ceritaku yang lain ya🙏
total 1 replies
Wanita Aries
ya ampun farel gemesin
Wanita Aries
seru thor
Wanita Aries
maaf thor koreksi penulisan salam, yg benar Assalammualaikum. krna salah tulis artinya pun beda
Suci Dava: Iyaa thor penulisan salamnya hrs di revisi, yg benar Assalamu'alaikum 🙏
total 2 replies
Wanita Aries
ihh bodohnya jd wanita mau aj dipanggil mandul. gk enak thor bacanya kl ada kata saya dan anda gtu kyk aneh
Nana Xu: terimakasih kak. 🙏
total 1 replies
Ipah
dlanjut
Nana Xu: iya kak. sudah update kembali ya🙏
total 1 replies
Ipah
lanjut lagi seru seru nya ni
Ipah
seharus nya laki-laki seperti itu d sunat lagi sampai habis greget🤭
Nana Xu: seharusnya iya yah Kak🙏😄.
total 1 replies
Lisa Yacoub
thor, ma'af ...rasaya kaku benerkok pake " saya"?
Nana Xu: iya say 🙏🙏🙏
total 2 replies
SHAIDDY STHEFANÍA AGUIRRE
Bagus banget, jadi mau baca ulang dari awal lagi🙂
Nana Xu: Terimakasih🙏🙏
total 1 replies
Kiyo Takamine and Zatch Bell
Lanjutin dong, penasaran banget!
Tsumugi Kotobuki
Mesti dibaca ulang!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!