Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.
Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.
Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.
Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.
Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjalankan Permintaan
Hari ini adalah hari minggu. Jia ragu harus pergi ke rumah Al, tapi Pak Wijaya dari tadi terus menerus menanyakan kapan ia ke rumahnya dan mulai mengajari Al semua mata kuliah di kampus. Mau tidak mau, Jia harus pergi dan menjalani permintaan Pak Wijaya.
“Bu, kakak izin keluar dulu ya,” pamit Jia.
“Mau kemana kak?”
“Mau ke rumah temen Bu, ngerjain tugas.”
“Ya sudah, hati-hati di jalan ya!”
“Iya Bu, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Jia membawakan makanan dari rumah untuk Pak Wijaya. Dan sesampainya di rumah Pak Wijaya, ia pun langsung menginjakkan kakinya ke teras dan mengetuk pintu dengan hati-hati. Tak lama, pintu ynag besar itu terbuka.
“Assalamu’alaikum Pak,” sapa Jia.
“Wa’alaikumsalam, Jia, akhirnya kamu datang juga. Ayok masuk!” sambut pak Wijaya.
“Baik pak, terimakasih. Ini pak, ada sedikit makanan untuk Bapak.”
“Wah ... terimaksih banyak. Silahkan duduk dulu!”
Jia menyapu seluruh sudut ruangan, ia melihat sebuah foto keluarga yang nampak sangat bahagia.
Di dapatinya wajah Al yang masih remaja, sekitar kelas 3 SMA, "Kayaknya, Al anak satu-satunya," ucap Jia dalam hati.
Ia baru pertama kali melihat Al tersenyum sebahagia itu, "aku baru lihat Al tersenyum sebahagia itu. Apa sekarang senyumannya masih tetap sama?" gumamnya lagi dalam hati. Jia pun terus memandangi foto keluarga itu.
“Kalau gitu, kamu langsung naik saja ya, ke ruangan tv di atas. Nanti saya akan suruh Al untuk segera ke ruangan tv,” suara Pak Wijaya mengalihkan pandangan Jia
“Baik Pak.”
Jia pun berjalan menaiki tangga besar itu, dengan langkah yang sangat berhati-hati. Ia sambil menelusuri rumah besar yang berwarna putih.
Suasana rumah itu sangat terasa mewah, sungguh rumah ini adalah rumah impiannya. Jia pun tak henti-hentinya melihat dengan kagum rumah mewah itu.
Beberapa menit kemudian, Al datang menghampiri Jia yang sedang duduk sembari melihat album foto. Saat Al melihat itu, ia langsung merebut album foto dari tangan Jia dan memasukkannya ke dalam laci lemari.
“Jangan sentuh barang orang lain,” ketus Al.
“Sorry, tapi tadi aku udah izin kok sama Pak Wijaya,” bela Jia.
“Ya udah, sekarang mau ngapain?” Al menjatuhkan pantatnya di kursi.
“Besok kan ada tugas yang harus dikumpulin, jadi sekarang kita kerjain.”
“Oh, oke,” singkat Al.
Sikap Al masih terlihat cuek pada Jia, entah apa sebabnya. Namun, hati Jia berkata bahwa Al seperti terpaksa melakukan hal itu, berusaha cuek tapi tatapan matanya tetap sama seperti Al yang dulu pertama kali bertemu.
Jia pun berusaha melakukannya sebisa mungkin untuk mengajari Al, meskipun ia sama-sama masih belajar. Tapi setidaknya, ilmu ynag sudah ia dapat bisa dibagikan pada orang lain.
Tak butuh lama untuk mengajari Al. Semua yang dijelaskan Jia sangat mudah Al serap dengan begitu cepat. Tugas yang dikerjakannya pun selalu tepat sasaran. Al cukup tanggap dalam memahami semuanya.
"Sebenarnya, Al sangat pintar. Iyalah, toh ayahnya juga seorang ketua yayasan di kampus. Pasti anaknya bisa lebih hebat dari Ayahnya," ucap Jia dalam hatinya.
Jia pun tak henti-hentinya menggerutu dalam hati, membicarakan Al dan Pak Wijaya. Pikirannya pun selalu saja menimbulkan beribu pertanyaan tentang keduanya. Sayangnya, mungkin pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa menemukan jawabannya.
“Jadi, kamu udah paham kan semuanya?” tanya Jia sembari menutup buku tugasnya.
“Ya, lumayan,” jawab Al singkat.
“Alhamdulillah, kalau gitu buat belajar hari ini udah selesai. Aku pamit pulang ya,” Jia membereskan buku-bukunya yang masih berantakan.
Saat semua sudah beres dirapikan, Jia beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan rumah Al.
“Tunggu,” tiba-tiba Al menghentikan langkah Jia.
Jia kaget dan membalikan badannya. Ia tak mengatakan sesuatu, hanya mengerutkan dahinya menandakan kebungungan.
“Em ...” perkataan Al terhenti. Ia bingung harus bicara apa. Karena dalam hatinya ia tak ingin Jia pergi. Tapi, Al tidak mungkin mengatakannya.
“Hati-hati di jalan,” akhirnya Al mengatakan itu. Walaupun sebenarnya, ia masih ingin berlama-lama dengan Jia.
Saat di ambing pintu keluar, Pak Wijaya memanggil Jia. Jia pun masuk kembali dan menghampiri Pak Wijaya.
“Semuanya sudah selesai Pak, saya mau pamit pulang.”
“Bentar dulu, Bapak lupa mau minta tolong buat beli baju yang rapi untuk Al. kamu bisa kan?”
“Oh, iya Pak saya bisa kok.”
“Ya sudah, ini uangnya. Kamu beliin semua keperluan Al supaya dia bisa merubah penampilannya jadi lebih baik. Enggak kayak sekarang, dia kalau ke kampus suka kayak gembel. Celana yang sudah sobek, masih aja di pake,” gerutu pak Wijaya sembari memberikan sebuah amplop yang berisi uang.
Jia terkekeh, “Baik Pak, saya akan mengubah semua penampilannya dengan sangat baik,” Pak Wijaya pun ikut tertawa, lalu memanggil Al dengan sedikit berteriak.
“Ada apa sih?” Al menuruni tangga sembari mengerutkan dahinya kesal.
“Kamu pergi sama Jia ya untuk membeli perlengkapan kamu! Karena, selama ini ayah belum lagi membelikan perlengkapan kamu.”
Al tertawa sinis, “Gak perlu,” Al meresponnya dengan dingin. Tapi, di dalam hatinya ia sangat senang karena ia bisa pergi dengan Jia.
Pak Wijaya tersenyum, “Gak apa-apa. Ya sudah, kalian pergi sekarang ya biar gak kemalaman!”
“Baik Pak, kalau gitu saya pamit." Jia menyalami Pak Wijaya. Sedangkan Al, tidak berkata apapun. Ia segera mengikuti Jia dari belakang.
Mereka pergi menggunakan mobil milik Pak Wijaya. Jia pun duduk di samping Al dan memasang sikap yang kaku. Tidak ada sedikit pun suara di dalam mobil itu, hanya ada hembusan napas dari hidung mereka. Hingga akhirnya, Al membuka juga mulutnya.
“Mau kemana?”
“Hmm, kita ke mall aja ya?!” jawab Jia.
Al tidak meresponnya. Ia pun langsung mengoper dan menambah gas mobil sedikit lebih cepat. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah mall besar di kota kembang.
Jia mencari-cari store baju untuk laki-laki dan menunjukinya pada Al. Namun, Al hanya terdiam dan mengatak ‘terserah’ pada semua yang Jia katakan.
Seperti tidak perduli, namun kenyataannya Al sangat menikmati perjalanannya dengan Jia. Tapi. Ada apa sebenarnya dengan Al, sehingga bersikap seperti itu pada Jia?
“Kamu mau beli baju yang gimana?” Jia mencoba mencairkan suasan dengan Al.
“Terserah,” lagi-lagi Al hanya menjawab seperti itu.
“Ya udah, aku coba pilihin beberapa baju ya?” ucap Jia sembari memilih baju yang cocok untuk Al.
Al hanya berdiam diri menunggu Jia. Sesekali ia mencuri pandangannya pada Jia yang sedang fokus memilih baju. Al terus memandang Jia dari kejauhan, memandang seorang wanita yang selalu membuat matanya tak bisa berpaling.
Jia pun sudah mendapatkan beberapa pakaian yang menurutnya cocok untuk Al pakai. Ia langsung menghampiri Al dan memberikannya untuk dicoba terlebih dahulu. Dan Al pun langsung mencoba semua bajunya.
“Kamu suka gak sama semua baju pilihanku?” tanya Jia saat Al sedang memakai baju pilihannya.
“Ya, lumayan,” jawab Al sambil merapikan bajunya.
“Syukur deh. Kalau aku suka banget,” Jia tak sadar mengembangkan senyumnya dan memandang wajah Al. Al pun terdiam dan berusaha memahami ucapan Jia.
“Em ... maksud aku, aku suka banget lihat cowok pakai baju kayak gitu. Kelihatannya tuh rapi banget. Iya, sangat rapi,” sambung Jia yang salah tingkah.
Al hanya mengangguk, lalu ia pun kembali ke kamar ganti untuk mengganti pakaiannya. Saat akan mengganti pakaiannya, Al melihat wajahnya dikaca lalu melengkungkan bibirnya.
Mereka pun langsung membayar semua baju yang dibeli. Lalu bergegas pulang karena senja rupanya sudah mulai tak terlihat.
“Makasih ya, udah anterin aku pulang,” ucap Jia.
“Sama-sama.”
“Kalau gitu, aku masuk duluan.” Jia langsung masuk ke dalam rumah.