Padahal tujuan Mashka hanya ingin belajar terus menerus dan mendapatkan peringkat satu, serta menjadi murid yang berprestasi.
tapi kenapa dia malah masuk ke dalam novel? dengan adegan pertama kali satu kamar dengan Raja? padahal tubuh yang dia tempati adalah seorang Maid.
dan dia teringat tentang alur cerita ini, dimana dia menjadi korban kambing hitam dan harus tiada di usia muda karena hamil anak raja.
"aku tidak akan pernah membiarkan harga diriku jatuh begitu saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violaww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 Tuan Muda yang Penasaran
Ratu Lorin kembali menormalkan ekspresinya "bawa saja."
Tanpa sadar sudut bibir Jayden terangkat, menatap Ratu Lorin penuh Tebak-tebakkan dikepalanya.
Bagaimanapun kekuasaan Duke Hector tidak bisa dianggap remeh bahkan dari Ratu Lorin, walau dia telah menjadi Ratu tidak dapat memungkinkan dia dapat memiliki hubungan erat dengan Duke Hector. Karena Duke Hector hanya setia kepada Raja.
Jika Jayden membocorkan ini maka mungkin saja sekarang jabatannya menjadi Ratu akan dilengserkan dan tidak akan ada perdana mentri yang akan menolongnya.
Kini Jayden dan Gerlad berjalan bersama-sama menikmati hamparan bunga menghiasi kediaman Putra Mahkota.
"Saya harap anda akan selalu berani Yang Mulia." Harapan Jayden menatap Gerlad.
Walau dia tadi agak dibuat tidak puas karena Gerlad hampir saja pasrah saat ingin di tampar, apa boleh buat. Mungkin menurutnya Putra Mahkota masih menyayangi Ratu Lorin.
Putra Mahkota Gerlad hanya diam mendengar ungkapan dari Jayden, Anak bungsu Duke Hector.
Gerlad masih bingung dengan pikirannya, dia hanyalah anak berusia 5 tahun yang dihadapkan dengan kehidupan politik panas. Tidak ada dimasa dia hidup normal seperti anak-anak pada semestinya.
Jayden tahu itu, dia juga merasakan karena mereka berada dilingkungan kehidupan bangsawan, anak laki-laki hanya digunakan untuk urusan pemerintahan, tidak ada kebebasan.
Tapi Jayden lebih prihatin dengan kehidupan Gerlad yang menurutnya tekanan lebih dalam, tidak bisakah Ratu Lorin melihat bahwa putranya bahkan hampir tidak bisa menghirup udara segar?
"Sudahlah Putra Mahkota, tinggalkan pikiran yang membebani anda, ingat keluarga saya akan terus mendukung Raja dan anda, tidak peduli jika anda berselisih dengan Yang mulia Ratu."
Jayden menepuk-nepuk pelan pundak Gerlad untuk meyakinkannya, menurutnya tidak seharusnya anak kecil memikirkan masalah berat dan seakan-akan dia hanya berjuang sendirian.
Lagian, Ratu Lorin tidak sebegitu kuatnya kedudukan, hanya bermodal belas kasih dan sedikit pengorbanan dari keluarga Perdana Mentri Harris, jika dari golongan Duke Hector tidak menyukainya, itu akan sangat mudah menggugurkan kedudukan Ratu.
"Ya aku dapat mengerti itu, aku akan melakukan apa yang telah Marquess ajarkan kepada ku yang benar." Balasan dari Gerlad.
Jayden tersenyum "kalau begitu, Mari kita ke kediaman yang mulia Raja." Ajaknya.
Gerlad mengangguk menyetujui, kini mereka berdua berjalan beriringan untuk menemui Raja, Duke Hector dan Tuan muda Keenan.
Setibanya di kediaman semua orang masih bersantai menikmati teh mereka dengan damai di ruangan rapat, hanya ada orang-orang Duke Hector dan Raja Aleron.
Jayden dan Gerlad dipersilahkan mendengarkan, demi menambah wawasan mereka dan ini juga menyangkut dengan keduanya, mereka harus tahu tentang ini.
Setelah semuanya terkumpul lengkap Duke Raiden memulai pembicaraan mereka bersama Raja.
"Yang mulia Raja, saya ingin mengibarkan perang dengan Kerajaan Yashima, mereka mulai mengambil wilayah pesisir pantai Tousl secara perlahan." Duke Raiden menjelaskan sebagaimana Kerajaan Yashima bersikap buruk kepada Wilayahnya.
Kerajaan Yashima diam-diam ingin memperluas Kerajaannya dengan mengambil alih Wilayah kekuasaan Duke Hector yang sekarang dipimpin oleh Duke Raiden, penguasa Tousl dan membawa kedalam Kejayaan dengan hasil perikanan melimpah.
Selama dua minggu terakhir, banyak sekali prajurit Duke Hector melenyapkan kapal-kapal asing yang berlayar sambil membawa jerami penangkap ikan.
"Prajurit kami diserang saat ingin melenyapkan puluhan kapal, mereka menganggap seakan-akan kamilah yang merebut perairan mereka." Jelas Duke Raiden kembali.
"Duke, sebelum mengibarkan bendera perang, kita lebih dulu membicarakan ini dengan mereka secara langsung, aku ingin melihat bagaimana William menginginkan wilayah Tousl." Jelas Raja Aleron memandang Duke Raiden tenang.
Anggap saja ini masih remang-remang, jika hanya menggunakan bukti kapal asing dari Kerajaan Yashima tentu tidak akan kuat, kapal asing itu suruhan langsung dari Raja William atau sekelompok orang hanya ingin mencukupi kebutuhan hidup dan itu masih belum mengetahui tujuan utama mereka apa.
Akan lebih baik membicarakan langsung dengan Raja Kerajaan Yashima.
Duke Raiden menghela nafas, pria berumur 38 itu terlihat tidak sabaran, dia serasa ingin melenyapkan kekuasaan penyusup yang telah menyerang wilayahnya.
"Yah.. Saya rasa bisa seperti itu." Setujunya.
"Yang Mulia, jika diizinkan kami akan mengundang Raja Wiliam besok. Karena kapal asing setiap hari makin bertambah banyak dan mereka semakin berani menentang, kami tidak ingin pasukan kami tenaganya terbuang sia-sia demi menghalang keras kepala mereka." Keenan bersuara.
Putra Pertama Duke Raiden mulai membuka pembicaraan, dia memiliki kesamaan dengan Ayahnya, tidak sabaran.
Sebab menurutnya tenaga prajurit Duke Hector akan sia-sia jika terus meladeni kapal asing tanpa putus, lebih baik langsung perang dari pada seperti ini.
"Tenang saja Keenan, aku akan mengirimkan prajurit dan Jendral Tian bersama kalian untuk sementara waktu ini, kita tidak boleh terpancing dengan gerak-gerik mereka." Raja Aleron memperingati.
Bagaimanapun hal gegabah akan berdampak pada kesialan, jika terlalu dini mengacungkan perang, maka Kerajaan lain akan memandang buruk Kerajaan Jarous. Dan dengar-dengar Raja Wiliam sangat pandai dalam membalikkan keadaan dengan akting bicaranya yang bagus.
Sementara Jayden memandang malas kedua anggota keluarganya, apa karena mereka mempunyai cukup kekuataan sampai-sampai menganggap yang lain remeh?
Huuh kalo saja Jayden lebih tua dan lebih berani,dia bisa saja langsung bilang 'kekuatan perang tidak mampu melawan siasat buruk orang lain, biar pun menang dalam tanding militer tetap saja Raja Wiliam akan bersikap ditindas dan mengambil simpati Kerajaan lain, lalu wilayah kita akan diasingkan dan runtuh sekejap!'
"Baiklah yang Mulia, saya menerimanya." Duke Raiden mengakhiri pembicaraan.
•••
Saat ini.
Jayden duduk dibalkon kamarnya, ditemani secangkir teh hangat dan koran majalah di meja tepat didepannya.
Hari sudah gelap, bulan terlihat terang dan bersinar digelapnya malam, hanya ada satu bintang yang menemaninya dan saat inilah malam terlihat sangat sunyi dan tidak berwarna.
Jayden masih memikirkan kejadian sepulang dari Kerajaan, di air terjun Humai.
Niatnya ingin tebar pesona dan mendapat pujian dari gadis-gadis desa menjadi redup akibat ada seorang perempuan menatapnya aneh.
Jayden belum pernah melihat wanita itu di Desa, Yang membuat Jayden menyesal adalah dia tidak sempat menanyakan Nama dan tidak tau asalnya dari mana.
Bisa saja perempuan itu adalah mata-mata kiriman Kerajaan sebelah yang mereka tidak ketahui.
Memikirkan ini membuat Jayden ingin kembali kesana besok pagi.
Dia harus melakukan ini agar tidak lengah.
Keesokan paginya, Jayden benar-benar mendatangi air terjun Humai.
Tidak banyak persiapan dan dia hanya ditemani satu pengawal, yaitu Jacob.
Pakaian sederhana tapi masih terkesan mewah untuk dilihat, dengan penampilan memukaunya dia masih membuat para gadis memujanya.
Setiap kali dia lewat semua orang pasti akan menunduk memberi hormat, Jayden hanya memberi anggukan dan tetap terus berjalan.
Sampai tiba disaat dia berada di air terjun Humai, suasanya ramai penuh dengan anak-anak bermain air dan para perempuan mendominasi tempat itu. Mungkin laki-laki hanya anak-anak, sementara orang dewasa semuanya perempuan.
Melihat kedatangan Jayden, para gadis berbondong-bondong mulai mencari perhatian dan memberhentikan acara mandinya.
Apakah orang tua mereka marah? Tidak! Justru mendukung anak gadis mereka tebar pesona pada Putra Duke, memang siapa yang tidak menginginkan hidup kaya raya?
Hidup di zaman ini memanglah kejam, orang hanya ingin mereka hidup berkecukupan baik secara murni ataupun instan.
"Salam Tuan Muda Jayden." Sapa salah satu seorang gadis yang bisa dibilang dia adalah paling populer disini. Gadis seorang kepala Desa.
Gadis itu sengaja membiarkan rambutnya tergerai dan masih menggunakan kain mandi, sialan. Dia terang-terangan menggoda Jayden dilingkungan luar.
Jayden hanya berdeham, tetapi respon itu membuat sang gadis tersipu malu dan menyombongkan diri kepada teman-temannya.
"Apa Tuan Muda ingin saya teman—"
"Lanjutkan saja mandi anda." Tukas Jayden sembari ingin pergi, lanjut ingin mencari perempuan yang dia temui semalam.
Gadis itu, yang bernama Maitha menatap tidak percaya, padahal disaat dia bertemu dengan Jayden itu menjadi moment paling membahagiakan dimana Jayden menatapnya minat, lalu sekarang mengapa berubah.
Jayden mencari-cari di dekat air terjun, tidak ada sama sekali, apa perempuan itu tidak mandi lagi disaat melihatnya?
Tak kenal lelah dia terus memperhatikan disekitar bersama Jacob pengawalnya.
Sampai dia menemukan Anastasia yang sedang mencuci pakaian diujung sana.
Tanpa basa-basi dia segera menghampiri Anastasia yang bersama Bibi Yasmin di sampingnya.
"Hei kau." Suara Jayden menggema ditelinga Anastasia, sontak saja dia menoleh.
Bibi Yasmin juga ikut menoleh, betapa terkejutnya dia melihat Putra Duke Raiden berdiri di belakangnya.
"Salam Tuan Muda Jayden." Bibi Yasmin segera berdiri dan memberi hormat
"Salam Tuan Muda." Anastasia juga ikut berdiri dan menyalami.
"Siapa namamu?" Tanya Jayden langsung, sambil menatap Anastasia.
Anastasia menatap balik Jayden, tidak mengira bahwa dia akan kembali kesini dan menghampirinya.
"Saya Anastasia." Jawab Anastasia, disini ada Bibi Yasmin, jadi dia harus menghormati perasaan Bibi Yasmin dan tidak akan mengecewakannya.
Jayden terdiam sebentar "Anastasia, aku ingin membicarakan suatu hal denganmu."
Anastasia menatap Bibi Yasmin mencari jawaban, Bibi Yasmin yang lebih mengenal bagaimana sifat Jayden lebih pada dirinya, jadi dia ingin mengetahui apakah ini aman.
Bibi Yasmin menggangguk dan memberi kode untuk setuju.
"Baiklah."