NovelToon NovelToon
Istri Kedua Suamiku

Istri Kedua Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Kehidupan di Kantor / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Suami ideal
Popularitas:32k
Nilai: 5
Nama Author: ARSLAMET

Sebuah keluarga yang harmonis dan hangat,
tercipta saat dua jiwa saling mencinta dan terbuka tanpa rahasia.
Itulah kisah Alisya dan Rendi—
rumah mereka bagaikan pelukan yang menenangkan,
tempat hati bersandar tanpa curiga.

Namun, kehangatan itu mendadak berubah…
Seperti api yang mengelilingi sunyi,
datanglah seorang perempuan, menembus batas kenyataan.

“Mas, aku datang...
Maaf jika ini bukan waktu yang tepat...
Tapi aku juga istrimu.”

Jleebb...
Seketika dunia Alisya runtuh dalam senyap.
Langit yang dulu biru berubah kelabu.
Cinta yang ia jaga, ternyata tak hanya miliknya.

Kapan kisah baru itu dimulai?
Sejak kapan rumah ini menyimpan dua nama untuk satu panggilan?

Dibalut cinta, dibungkus rahasia—
inilah cerita tentang kesetiaan yang diuji,
tentang hati yang terluka,
dan tentang pilihan yang tak selalu mudah.

Saksikan kisah Alisya, Rendi, dan Bunga...
Sebuah drama hati yang tak terucap,
Namun terasa sampai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARSLAMET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas antara Rumah dan tugas

Alisya berdiri di depan pagar yayasan, menenteng dua besek besar berisi nasi tumpeng. Senyum ramah pengurus menyambutnya, dan beberapa anak-anak kecil berlarian menghampiri, memeluk pinggangnya dengan antusias.

“Untuk kalian, ya,” ucap Alisya lembut, membelai kepala mereka satu per satu.

“Terima kasih, Tante Alisya!” seru mereka bersamaan, mata mereka berbinar.

Alisya hanya tersenyum. Ada kehangatan yang tak bisa dibeli dari tatapan polos mereka. Setelah menyerahkan semua makanan dan mengucapkan beberapa patah kata syukur, ia berpamitan dan melangkah pulang dengan hati ringan.

...****************...

Di tempat lain, suasana rapat di kantor terasa lebih tegang dari biasanya. Rendi duduk di depan layar besar, bersama timnya yang menatap data pembukaan restoran cabang di Bandung.

Selesai presentasi, Bunga sekertaris pribadi nya mendekat dengan ekspresi cemas.

“Pak, maaf. Tapi vendor dapur belum datang. Beberapa instalasi utama masih belum terpasang. Sementara…”

“Nanti malam uji coba dapur,” potong Rendi pelan, sudah paham arah pembicaraan.

Bunga mengangguk. “Besok pagi pembukaan, Pak. Media sudah dijadwalkan. Influencer juga. Kita gak punya banyak waktu.”

Rendi diam sejenak, lalu mengangguk. “Saya turun ke sana malam ini. Mobil aja. Siapkan semua berkas dan kontak teknis. Saya butuh waktu berpikir di jalan.”

Bunga tampak lega meski masih tegang. “Baik, Pak. Akan saya siapkan semua.”

Sore menjelang. Rendi baru saja keluar dari kantor, map dan laptop sudah di tas kerja. Di parkiran, ia menyalakan mobil, lalu mengirim pesan.

Rendi: Sayang, maaf... aku harus ke Bandung malam ini. Besok pagi restoran buka, dan banyak yang belum siap. Doakan ya.

Balasan dari Alisya datang cepat:

Alisya: Ya Allah… hati-hati di jalan, Mas. Jangan paksain nyetir kalau lelah. Semoga lancar urusan nya"

Rendi: Cium Rasya buatku. Aku usahain pulang secepatnya.

Ia meletakkan ponsel, menatap langit yang mulai redup. Lagu pelan mengalun dari radio, mengiringi mobil yang melaju meninggalkan Jakarta menuju Bandung.

Mobil melaju mulus di jalan tol Cipularang. Di luar jendela, malam telah menyelimuti bukit-bukit dengan kabut tipis yang menggantung pelan. Rendi menyetir sendirian, menyusuri jalur panjang menuju Bandung. Musik mengalun lirih dari radio, tapi pikirannya justru melayang jauh—ke wajah Alisya yang tadi mengecupnya penuh sayang sebelum ia pergi.

Ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar tugas. Ini tentang tanggung jawab, tentang nama baik, dan tentang waktu yang sudah terlalu lama tersita untuk hal-hal di luar rumah.

Begitu keluar dari gerbang tol Pasteur, udara Bandung menyambut lebih dingin, lebih akrab. Rendi membuka sedikit jendela mobil, membiarkan semilir angin menyusup masuk, membawa aroma kota yang dulu sering ia rindukan saat tugas ke luar negeri.

Lampu-lampu kota memantul di kaca depan. Dari kejauhan, kawasan Dago mulai tampak—tenang tapi hidup, seperti jantung kota yang berdetak pelan namun pasti.

Ia menarik napas panjang, lalu mengambil ponsel. Sambil menyetir pelan di lampu merah Pasteur, ia mengirim pesan suara ke Alisya.

 “Sayang, aku baru sampai Bandung. Lewat Pasteur. Sebentar lagi sampai di lokasi. Doakan ya, semoga semuanya lancar. "

Tak ada balasan, tapi dua centang biru muncul di layar. Itu sudah cukup. Alisya selalu tahu cara mendengar, bahkan dalam diam.

Rendi kembali fokus ke jalan. Dago tinggal sepuluh menit lagi. Dan malam masih panjang, penuh pekerjaan yang menanti.

Pukul 21.00, mobil hitam berhenti di depan venue. Rendi turun cepat, menenteng tas kerja kecil. Ia langsung menghampiri Bunga yang sedang duduk di tangga depan, ponsel masih di tangannya, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Gimana situasinya sekarang?” tanya Rendi langsung.

Bunga berdiri. “Saya udah hubungi lebih dari enam vendor, Pak. Semuanya penuh atau nggak bisa last minute. Ada satu yang minta tarif tinggi sekali, saya tunda dulu.”

Rendi mengangguk. “Saya coba juga. Kita ke dalam.”

Mereka berdua masuk ke area tengah venue yang masih kosong. Rendi membuka ponsel dan mulai menghubungi beberapa rekan vendor yang pernah bekerja dengannya secara langsung. Nada bicaranya tenang tapi penuh tekanan profesional.

Tak sampai satu jam, salah satu dari mereka menyanggupi.

“Bisa. Tapi kami sampai lokasi jam sebelas malam,” kata si vendor di ujung telepon.

“Datang saja. Langsung kerja. Kami tunggu,” jawab Rendi singkat.

Ia menoleh ke Bunga setelah menutup telepon. “Sudah dapat.”

Bunga menatapnya, sedikit lega. “Serius, Pak?”

“Vendor kenalan lama. Nggak besar, tapi bisa diandalkan.”

Bunga mengangguk cepat. “Saya langsung bantu urus akses masuk dan area kerja.”

“Bagus.”

Pukul 23.00, truk vendor tiba. Rendi dan Bunga mengawasi langsung penataan dapur dan logistik. Kru vendor bekerja cepat.

Rendi duduk di kursi plastik dekat dinding, melepaskan napas berat.

“Kita selamat... untuk malam ini,” ucapnya pelan.

Pukul 03.00 dini hari.

Setelah vendor dapur selesai menata semua kebutuhan, venue akhirnya tampak siap menghadapi hari esok. Rendi masih berdiri di sudut ruang sambil menatap keseluruhan area. Bunga menghampiri dengan catatan terakhir di tangannya.

“Sudah semua, Pak. Dapur, logistik, tenda cadangan. Besok tinggal buka dan briefing awal,” ujarnya pelan.

Rendi mengangguk pelan. “Terima kasih, Bunga. Malam ini kamu luar biasa.”

“Sama-sama, Pak. Tapi jujur, kalau Bapak nggak dapat vendor tadi, saya mungkin sudah panik setengah mati,” ujarnya sambil tersenyum lelah.

Rendi membalas senyum itu, lalu melirik jam tangannya. 03.07. Napasnya berat.

Ia lalu merogoh ponsel dari saku dan membuka pesan.

“Sebentar, saya kabari istri dulu.”

Bunga mengangguk pelan, lalu menjauh, memberi ruang.

Rendi mengetik pesan dengan jempol yang mulai kaku karena dingin:

> Rendi: “Bun, maaf ya. Aku nggak bisa pulang malam ini. Ada gangguan besar di dapur, baru beres sekarang. Besok pagi langsung pembukaan, terlalu tanggung kalau aku maksa balik sekarang.”

Pesan terkirim. Tak lama kemudian, balasan masuk.

> Alisya: “Iya, Yah. Aku paham. Fokus di sana ya. Yang penting Ayah jaga diri, jangan lupa istirahat. Besok aku doain semua lancar.”

Rendi menatap layar sejenak. Rasa letih di pundaknya terasa sedikit ringan setelah membaca balasan Alisya. Ia menyimpan ponsel kembali ke saku.

“Kamu udah booking kamar hotel, kan?” tanyanya ke Bunga yang kembali menghampiri.

“Sudah, Pak. Dua kamar. Bapak di lantai empat, saya di lantai tiga.”

“Bagus. Tapi... saya baru ingat satu masalah baru.”

“Apa lagi, Pak?” tanya Bunga.

“Saya nggak bawa baju ganti.”

Bunga tertawa pelan. “Bapak nggak sempat mikir hal remeh ya?”

Rendi hanya mengangkat bahu. “Yang penting dapur dulu.”

Bunga lalu berkata, “Nanti pagi saya antar ke mall. Kita cari baju yang rapi buat pembukaan. Langsung dipakai, selesai urusan.”

Rendi tersenyum tipis. “Oke. Kamu memang bisa diandalkan.”

Mereka melangkah keluar venue, meninggalkan gedung yang kini tenang dalam diam malam. Jalanan Bandung sepi, lampu-lampu kota redup mengiringi langkah kaki mereka menuju mobil masing-masing. Besok pagi adalah hari penting. Tapi malam ini, mereka sudah menaklukkan ujian pertama—dengan akal, kesigapan, dan sedikit keberuntungan.

1
Lee Mbaa Young
Di pikir dng minta maaf semua akn baik baik saja. tntu tidak. km blm mnderita smp mau mati kok. pling tdk kehilangan anakmu juga rahim mu. hingga gk punya harga diri br impas hukuman buat pelakor. biar gk ngangkang pd laki orang lagi si bunga Bangkai itu.
Lee Mbaa Young
Heh bunga Bangkai kl km minta maaf mang semua akn kembali lagi. ingat karma mu masih berjalan walau alisha maafin km.
pokok nya bunga Bangkai harus hancur sehancur hancurnya. dasar wanita pendidikan tp gk punya moral.
semoga anaknya gugur biar rasha gk punya saudara Dr ibu pelakor mcam km.
j4v4n3s w0m3n
aduh maaf ya bunga denger.ceritamu maaf sekali aku tetap gak.respek sama.kamu.heheheh maaf ya mungkin.krn.sakit.hati alisya itu.jadi aki.gak.bisa dukunh kamu apapun.keadaanmu dan.silsailah.kamu ..jalananin.aja.dech kesusahanmu.itu
Lee Mbaa Young: sama aku juga gk respek ma bunga tu. manipulatif. di pikir setelah minta maaf ma alisha bisa bhgia paling. o tentu tidak. dia hrs hncur lebur hingga kehilangan anak dan rahim nya br impas. biar gk bisa nglahirin anak anak pelakor.
total 1 replies
Maizaton Othman
tetap sabar untuk bab seterusnya,bintang 5 utk setakat ini,harap selanjutnya ia tetap menjadi karya yg bagus sampai ending
Retno Harningsih
up
Lulu-ai
emng gg tau dendam tp situ tau rendi dah punya istri tetep nikah tuh
Iis Dawina
biarkan bunga stres trs keguguran deh
Mundri Astuti
dah tau ibunya begitu, dah ngerasain dampaknya, lah malah ngikutin, definisi bodoh si ini
Lee Mbaa Young
lah ibu sendiri seorang pelakor kok. Ya sm saja lah dng anakmu. pelakor juga.

semoga hbis ini bunga bnyak pikiran kecelakaan trus keguguran. wes ngunu ae. biar kapok para tua bangka bpk rendi dan bpk bunga.
ARSLAMET: kesel kan yaa , next bab di tunggu ya
total 1 replies
sutiasih kasih
ini gmn sih... bukankah anda jga merebut suami org bu tati.... ayah lisya yg lbh memilih minggat dgnmu... dan mnikahimu... dan rela menelantarkn lisya dan ibunya...
bukankah kalian sama" pelakorrrr...
ARSLAMET: kesel kan ya , next bab nya di tunggu ya
total 1 replies
Machmudah
karma otw ya thor
ARSLAMET: iya nih huhu
total 1 replies
Lee Mbaa Young
Alkhamdulillah semoga proyek gk lancar.. Aamin.
beda istri beda rejeki.
akhirnya viral semoga makin viral biar tmbh malu tu bunga Bangkai.
Retno Harningsih
lanjut
ARSLAMET: siap di tunggu ya next bab nya
total 1 replies
sutiasih kasih
beda istri beda rizkinya.... kelak knyataan akn mnamparmu pak wiratma.... krna sdh mnjadi mertua yg zdolim trhdp alisya....
wloupun kau brmantukan bunga.... blm tentu kerajaan bisnismu semakin maju...
Ifah Al Azzam Jr.
buat Rendi menyesal termasuk bunga dan kedua org tua mereka,,,
dtunggu thor jgn lama2
Retno Harningsih
lanjut
Rubyna
heh Rendi. kenapa jadi pria tolol gak tegas. cuekin saja bunga biar dia merasa memiliki raga mu tapi tidak dengan hati mu .
Anty Niez
ayo buktikan alisya kamu bisa berdiri di kaki sendiri dan bangun perusahaan mu sendiri tanpa ada yg namanya pewaris,kamu perintis bukan pewaris...jadi tinggikan wajahmu,biar muka angkuh Wira dan Hendra bisa kamu kalahkan, dan untuk bunga akan tau posisi mana yg lebih kuat...
sutiasih kasih
piciknya wirarma dan hendra.... mengangp alisya tak ada apa"nya di banding bunga....
mndepak alisya dgn sengaja sangat mmbahagiakan ya untuk kalian....
smoga karma berpuluh kali lipat mnyiksa kalian melebihi trlukanya yg alisya rsakan....
dan untuk rendi.... yakin km tahan tak myntuh bunga lgi...
laki" g setia macam km... emang sepatutnya di lepas....
Lee Mbaa Young
Masih nungguin Karma bunga Bangkai, rendi dan kluarga nya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!