Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 - Merasa hina
Takdir memang sulit ditebak, kita tidak pernah mengerti apa yang terjadi dengan hidup kita esok hari. Seperti hidup Ivanka saat ini, pilihannya untuk berada di samping Leon si malaikat penyelamat hidupnya membuat ia harus merasakan kecewa dengan pilihan yang sudah diambilnya.
Ivanka berusaha keras menutup mata, tapi ia tidak bisa untuk tidur, semua yang terjadi malam ini terlalu sulit untuk diterima dengan akal sehatnya. Adrian sendiri belum berani bertanya apapun kepada wanita itu.
Adrian sangat mengenal sifat Ivanka, ia hanya akan mulai bicara jika ia menginginkanya.
Tak lama kemudian Ivanka bergegas masuk ke kamar mandi lalu menyalakan shower dan membiarkan air dari shower itu membasahi tubuhnya yang kotor, Ivanka merasa hina sambil menggosok-gosokkan tubuh dengan emosi sambil kulitnya menjadi kemerah-merahan karena ia merasa tidak layak. Ia memejamkan mata di antara gemericik air, berharap tragedi yang barusan terjadi bisa dengan mudah dilupakan. Tapi tidak! Terlalu sakit! terlalu nyata! Ini sangat menyakitkan dan sulit untuk dilupakan.
Ivanka mengambil sabun lalu menggosok seluruh tubuhnya berulang-ulang dan berkali-kali. Ia membersihkan tubuhnya dengan kasar hingga tak ada satupun yang terlewat, meski sempat ia meringis saat membersihkan area selang*kangannya nyeri dan sakit, tetapi ia terus melakukannya sambil menangis terisak, hingga akhirnya ia lemparkan sabun yang ada di tangannya karena emosi dalam jiwanya. Dia berdiri bersandar pada dinding kamar mandi dengan tangisan pilu dan hatinya sangat pedih karena Leon sudah merusak masa depannya. Sampai Ivanka mulai merasa lelah dan mulai bosan.
Dengan bodohnya gadis itu berharap sebuah sabun bisa membersihkan noda yang selamanya akan membekas yang Leon berikan kepadanya dan berharap tubuhnya akan suci kembali seperti sedia kala. Berharap air yang mengalir bisa membawa pergi rasa pedihnya, tetapi semua adalah sebuah kemustahilan.
Adrian kembali ke apartement dan mencari keberadaan Ivanka. Setelah Ivanka masuk ke kamar mandi pria itu sempat pergi sebentar, mengambil beberapa potong pakaian untuk Ivanka dari adik perempuannya, untung saja ukuran tubuh adiknya sama dengan ukuran tubuh gadis itu. Adrian melihat apartemennya sepi, ia tak menemukan Ivanka, padahal Adrian pergi sudah lumayan lama karena ia harus kembali ke rumah orang tuanya untuk mengambil pakaian itu. Adrian pergi ke kamarnya dan samar-samar ia mendengar bunyi gemercik air dari kamar mandi yang masih tertutup. Pria itu mendekat lalu mengetuk pintu.
Tok ...tok...tok
"Cinta, cinta apa kamu sudah selesai? Berapa lama lagi kamu mau di dalam sana? Nanti kamu akan sakit," teriak Adrian supaya Ivanka dapat mendengarnya dengan baik.
Ivanka mendengar tapi tak ingin menggubris, padahal tubuhnya kini mulai membiru dan kulit pun mulai mengkerut karena begitu lamanya ia mengguyurkan tubuhnya dengan air.
Adrian mulai cemas, dalam keadaan seperti ini muncul ketakutan pria itu. Takut akan terjadi sesuatu pada si cinta yang baru saja ditemukannya.
"Cinta kamu dengar aku?" Sekali lagi Adrian memanggil dengan suara lebih keras. Namun masih sama, Ivanka tak menjawab. Adrian sudah tak ingin berdamai dengan hatinya lagi. Ia takut terjadi sesuatu. Ia mengambil ancang ancang, bersiap untuk mendobrak pintu kamar mandi.
"Cinta, jika kau masih tak mau keluar, aku akan mendobrak pintu ini," seru Adrian. Ia mengambil jarak, dan bersiap sambil berhitung sendiri.
"Satu .... Dua ....ti ....
Belum sempat ia selesai, pintu kamar mandi terbuka. Ivanka keluar dengan menggunakan sehelai handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Dadanya mengkilat, terkena tetesan air dari rambutnya yang masih basah.
Glek ...
Adrian menelan ludah. Ia bergumam sendiri dalam hati. "Sejak kapan gadis ini mulai tumbuh dewasa. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya."
Adrian memalingkan wajahnya. Entah kenapa pemandangan ini mendadak membuatnya malu.
"Ehm, ku kipir kamu tidak mau keluar dan masih betah di dalam sana. Aku sangat khawatir dan hampir saja aku akan merusak pintunya," ucap Adrian dengan muka cemas.
Andrian berjalan menghampiri Ivanka. Kini ia tepat berada di hadapannya. Wangi sabun yang sangat dikenalnya menyeruak di dalam hidung. Menggelitik, menggodanya untuk semakin dekat, dan menciumnya jika diperbolehkan. Tapi tentu hal ini tidak mungkin terjadi karena Adrian bukanlah Leon, pria ini masih bisa mengontrol apa yang ada dalam dirinya sebisa mungkin.
"Jangan pernah keluar dalam keadaan seperti ini, terlebih lagi di depan pria lain. Dan jangan pernah membuatku khawatir lagi," lanjut Adrian.
Adrian tak bisa lagi menunggunya. Ia meraih tubuh Ivanka, dan memeluknya dengan erat.
"Auw sakit ..." Ivanka menyentuh sesuatu di balik handuknya. Menyadari ringisan Ivanka, Adrian melepas pelukannya. Pandangannya mengarah pada tangan Ivanka yang menutupi sesuatu. Sesuatu yang memang sudah membuatnya curiga sejak pertama mereka bertemu di jalan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Adrian dengan lembut. Ivanka memalingkan wajahnya, ia tak sanggup membalas tatapan mantan kekasihnya ini. Gadis itu hanya menggigit bibirnya kuat kuat. Namun apa yang dilakukannya mulai menyulut emosi pria itu. Adrian memegang bahu Ivanka, dan memanggil namanya.
"Ivanka ..."
Gadis itu masih tetap diam, berusaha menahan tangis yang ingin sekali meledak, tapi rasanya sangat enggan ia menunjukan kelemahannya. Terlalu malu baginya untuk bercerita bahwa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Bagaimana ia harus bercerita bahwa kesuciannya sudah terenggut oleh Leon si lelaki baji*ngan.
"Alexa Ivanka jawab aku. Kamu berjalan tengah malam sendirian. Di komplek perumahan elit, dalam keadaan seperti ini. Apa yang terjadi apa yang sudah kamu lakukan hah?" tanya Adrian dengan sedikit keras.
"Huuuu... A ... Aku "
Dan meledaklah tangis gadis itu. Ia sudah tak mampu membendungnya lagi. Tangis yang berusaha disembunyikannya. Tanpa perlu menjawab Adrian sudah bisa menebak apa yang terjadi. Rasanya amat sakit membayangkan apa yang terjadi pada gadisnya.
"Maaf ... Maafkan aku Ivanka. Demi Tuhan, aku menyesal. Seharusnya aku tak pernah meninggalkanmu." ucap Adrian sambil memukul tembok karena ia merasa bersalah terhadap gadis itu.
Seandainya dulu ia tidak meninggalkan Ivanka mungkin hal ini tidak akan terjadi.
Perlahan lahan Adrian menarik kepala dan tubuh Ivanka, memeluknya lagi dengan lembut. Hanya satu yang belum bisa ia tanyakan, melihat kondisi Ivanka yang buruk, ia bahkan tak memiliki gambaran. Siapa laki lak baji*ngan itu?
"Siapa dia yang sudah membuat noda hitam dalam hidupmu? Jawab aku Ivanka!" tanya Adrian sedikit emosi.
Ivanka hanya bisa menangis dan tidak mampu menjawab karena bagaimanapun baginya ia masih berhutang nyawa terhadap Leon yang sudah menyelamatkan dirinya dari kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu diam cinta? Apakah ia mengancam kamu? Sampai segitu takutnya kamu kepada baji*ngan tengik itu?" tanya Adrian lagi sambil menggoyang-goyangkan bahu Ivanka.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa like, komen, dan vote setelah membaca ... happy reading ya.
Bagi kalian yang belum menekan tombol favorit ❤️ tekan dulu ya supaya bisa dapat notifikasi terbaru kalau novel ini up, biar kalian tidak ketinggalan baca.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭