Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Akhirnya mereka pun sampai di restoran mahal yang tidak pernah mereka kunjungi sebelumnya.
Kemewahan gedung dengan lampu kristal yang berpijar dari balik kaca besar membuat tempat itu terlihat begitu magis dari luar.
Alneo turun dari mobil terlebih dahulu, sementara Riani tetap berada di dalam untuk menukar seragam sekolahnya dengan gaun yang baru saja mereka beli di butik tadi.
Setelah beberapa saat pintu mobil terbuka, Riani pun turun dengan langkah ragu dan wajah yang tampak merona malu-malu.
"Kakak... bagaimana penampilanku? Bagus tidak? Aku merasa agak aneh memakai baju seperti ini," tanya Riani sambil memilin ujung gaunnya, tidak berani menatap langsung mata kakaknya.
Alneo terpana sesaat, lalu senyum bangga terkembang di wajahnya.
"Wah, adik Kakak ternyata gadis paling cantik dan berkharisma! Sempurna!" puji Alneo tulus sembari mengacungkan kedua jempolnya.
"Ih, Kakak! Jangan keras-keras, aku jadi malu!" bisik Riani setengah merengek, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Alneo terkekeh geli melihat tingkah adiknya. Ia mengulurkan lengannya. "Sudah, jangan disembunyikan wajah cantiknya. Ayo."
Riani menyambut lengan Alneo.
"Kakak gandeng tangan aku begini beneran nggak masalah nih? Nanti orang-orang di dalam mikir kita pacaran, lho. Kalau rumornya menyebar, nanti Kakak nggak dapat pacar beneran baru tahu rasa!"
"Ngomong apa, sih?" Alneo menjitak pelan dahi adiknya, membuat Riani mengaduh sakit.
"Sekarang nggak ada waktu buat mikirin cinta-cintaan. Di tempat seperti ini, Kakak itu wali kamu. Kakak menggandengmu justru untuk menjaga kamu dari pria-pria hidung belang yang suka jelalatan. Kamu juga ya, sekolah yang bener, jangan berani-berani mikir pacaran dulu!" omel Alneo panjang lebar.
Riani mengerucutkan bibirnya. "Tapi... bagaimana jika nanti di sekolah tiba-tiba ada yang suka sama Riani? Kan Riani nggak bisa ngatur perasaan orang, Kak."
"Pria yang mau mendekatimu itu harus disaring, difilter, diayak, sampai benar-benar layak! Kalau belum melewati ujian dari Kakak, jangan harap bisa minta nomor HP kamu. Udah ah, ayo masuk, malah bahas cowok di parkiran," ajak Alneo menarik pelan adiknya masuk.
Mereka melangkah melewati pintu kaca otomatis, Rasanya sejuk pendingin ruangan dan alunan musik klasik yang menenangkan.
Beberapa karyawan membungkuk hormat.
"Selamat datang di Gourmet Pavilion, Tuan, Nona. Apakah sudah memesan meja sebelumnya?" tanya seorang pelayan dengan ramah.
"Belum. Apakah ada meja yang kosong?" tanya Alneo.
"Kebetulan meja nomor 20 sedang kosong, Tuan. Mari, saya antar," pelayan itu menuntun mereka membelah ruangan yang diisi oleh kalangan kelas atas.
Setelah duduk nyaman di kursi beludru nomor 20, pelayan tersebut dengan cekatan meletakkan dua buku menu di hadapan mereka.
"Silakan Nona dan Tuan Muda, dipilih menunya. Jika sudah siap memesan, saya akan kembali," kata pelayan itu sangat sopan.
"Terima kasih," ucap Alneo menerima buku menu tersebut.
Alneo membuka menunya, makanan harga di restoran itu sangat mahal sekali.
Namun, ia menahan ekspresinya dan beralih menatap adiknya yang matanya sudah berbinar-binar.
"Kamu pilih saja semua makanan yang kamu mau. Jangan khawatirkan harga," kata Alneo, mencoba terdengar royal demi membahagiakan adiknya.
"Beneran ya, Kak? Asyik!" Riani langsung membolak-balik halaman menu dengan antusias.
"Aku mau coba Wagyu Steak ini, lalu Truffle Pasta, oh! Pencuci mulutnya aku mau Chocolate Lava Cake, sama... ini, ini, dan ini!"