seorang gadis rambutnya dikuncir cepol, memakai kaca mata tebalnya. gadis itu bernama melati atmaja, gadis berusia 25 tahun seorang desainer yang memiliki butik cukup ternama di jakarta. gadis itu adalah putri dari pasangan agung atmaja dan dahlia atmaja..
suatu hari gadis itu terpaksa harus menerima perjodohan yang telah di atur keluarganya untuk menggantikan sang kakak.
jadi bagai mana perasaanmu ketika kamu di jodohkan dengan laki-laki yang sedari dulu menjadi musuhmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aprilia frahesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
tiga bulan telah berlalu, hubungan varo dan melati pun sedikit demi sedikit telah mengalami perubahan. varo sudah bisa menerima melati sebagai istrinya, bahkan rasa itu telah tumbuh tanpa varo sadari.
pagi itu, seperti biasa mereka sekeluarga sarapan bersama.
"varo"
"iya kek"
"kapan kamu akan memberi kakek seorang cicit."
uhukk... uhukk melati tidak sengaja kesedak ketika mendengar kakek meminta seorang cicit.
"ini minum dulu, kamu kalau makan hati-hati dong" ucap varo sambil menyodorkan air minum kepada melati.
"makasih" ucap melati setelah menenggak air itu hingga tandas.
"iya varo, mama juga sudah tidak sabar ingin menimang cucu"
"masih otw ma. mama sama kakek doain aja semoga lekas jadi"
"mama dan kakek kamu pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian, iya kan pa.?"
"iya, kami pasti akan selalu doain hal-hal baik untuk kalian"
"terima kasih ma, kek" jawab melati dan varo bersamaan.
"yaudah ayo mel kita berangkat sekarang. aku ada pertemuan penting pagi ini"
"iya. yaudah ma, kek mel dan varo pamit bekerja dulu ya" ucap melati sambil mencium tangan keduanya, dan di ikuti varo.
"hati-hati dijalan sayang"
"iya ma" jawab melati dan varo sambil berlalu.
setelah sampai di dalam mobil, varo langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"kenapa kamu nggak mau bawa mobil sendiri sih.?"
"jadi kamu keberatan kalau mengantarkan aku bekerja"
"tidak, bukan seperti itu"
"lalu, seperti apa.?"
"aku kan nggak setiap hari bisa antar kamu ke butik, dari pada kamu naik taksi mending bawa mobil sendiri"
"aku nggak apa-apa naik taksi varo, lagian aku sudah terbiasa dari dulu"
"bagaimana kalau aku carikan kamu sopir.!"
"nggak usah, aku merasa itu nggak penting"
"ya sudah, terserah kamu saja"
setelah 15 menit mobil yang varo kemudikan telah sampai di depan butik milik melati.
"hati-hati dijalan"
"iya, kamu juga hati-hati kalau bekerja"
melati mengangguk dan bersiap untuk membuka pintu mobil, namun ia urungkan dan ia berbalik menghadap ke arah varo.
"ada apa lagi.?"
"ada yang ketinggalan.!"
"apa.?"
tanpa aba-aba melati mencium pipi varo dan bergegas turun dari mobil. varo benar-benar tidak menyangka kalau istrinya itu akan memiliki keberanian untuk menciumnya, ia hanya bisa menyunggingkan senyum melihat tingkah laku istrinya, yang ia rasa begitu menggemaskan. setelah mengantar melati varo lantas melajukan mobilnya menuju kantor.
*******************
sesampainya di dalam ruangannya melati masih saja merutuki kebodohannya.
"aduh mel, kamu bodoh sekali sih kenapa harus menciumnya, dia pasti akan kepedean" gumam melati sambil tak henti-hentinya menyesali perbuatannya. "apa aku mulai jatuh cinta sama varo.? ah tidak mungkin. mana mungkin aku jatuh cinta sama pria gila seperti dia" melati tersenyum sendiri ketika mengingat momen-momen kecilnya bersama varo, hingga ia larut dalam lamunannya.
tokk...... tokk..... tokk
"mel kamu lagi sibuk nggak.?" tanya sarah. namun tak ada respon dari sahabatnya itu, melati bahkan masih larut dalam lamunannya. "melati"
"ehh iya sar, ada apa.?"
"loe lagi sibuk atau tidak.?"
"tidak memangnya ada apa.?"
"nggak apa-apa sih, gue cuma bete aja. liyla ambil cuti hari ini, jadilah gue kesepian. ehh tapi muka loe kenapa tuh kok merah gitu.?" tanya sarah penuh selidik.
"masak sih muka gue merah.?"
"ya elah mel ngaca gih, orang kalau lagi jatuh cinta gitu ya, hawanya selalu berbunga-bunga"
"siapa juga yang jatuh cinta"
"ya elo lah, yakalik gue"
"apa mungkin gue jatuh cinta sama cowok sedingin kutub utara itu sar.?"
"bisa jadi, loe kan istrinya. sedingin-dinginnya kak varo, pasti ada sisi baiknya juga kan.!"
"iya sih sar. tapi gue sampai saat ini nggak tau gimana perasaan dia ke gue"
"semua itu nggak ada yang instan mel, sabar aja. mungkin kak varo masih butuh beradaptasi, sama kayak loe. coba loe fikirkan dulu sebenci apa loe sama kak varo, sampai pada akhirnya sekarang loe jatuh cinta kan sama dia"
"loe bener sar, semuanya nggak ada yang instan. dan gue percaya, akan selalu ada pelangi setelah hujan"
"betul banget tuh"
tring.... tring
dering ponsel sarah, dan melati berbunyi secara bersamaan, menandakan ada pesan masuk.
"dari grub SMA nih, lusa ada reoni. loe datang nggak mel"
"entahlah sar gue nggak tau, loe taukan gimana dulu sikap temen-temen ke gue"
"apa yang kamu takutkan mel. gue sama liyla pasti akan selalu ada di dekat loe"
"tapi gue ragu sar buat datang"
"tenang aja gue sama liyla bakal selalu jagain loe mel. dan satu lagi, ketika acara reoni nanti lepas kaca mata loe yang jelek itu, agar teman-teman kita tidak memandang kamu sebelah mata. ngertikan loe.?"
melati hanya bisa menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan sahabtnya tersebut.
"ya udah ayok ke cafe depan mel, gue laper banget nih. dan lagi sebentar lagi sudah masuk jam makan siang"
"iya udah ayo"
mereka pun keluar berjalan kaki menyebrangi jalan untuk menuju cafe yang tidak jauh letaknya dari butik.
"ada yang bisa saya bantu mbak.?" tanya pelayan ketika melati dan sarah telah tiba disana.
"loe pesen apa mel.?"
"samain aja sama pesenan loe" sarah mengangguk mengerti.
"pastanya dua, trus minumnya orange juicenya dua ya mbak"
"baik mbak, harap tunggu sebentar ya" ucap pelayan itu sambil pergi menyiapkan mesanan mereka. setelah menunggu sekitar 15 menit, makanan yang mereka pesan telah datang. sarah dan melati langsung melahap makanan mereka dengan begitu rakusnya.
"huh kenyangnya"
"tapi gue masih laper mel.!"
"haduh dasar perut karet"
"hehe loe kan tau mel seberapa besar porsi gue"
setelah membayar mereka pun kembali lagi ke butik, namun di tengah jalan ada yang memanggil melati dan juga sarah.
"melati, sarah. tunggu"
melati dan sarah menghentikan langkah mereka dan menoleh ke asal suara
"hai mel, hai sar. apa kabar.?"
"aldo" ucap sarah dan melati bersamaan.
"iya ini gue aldo, temen sekolah kalian dulu. biasa aja dong nggak usah kaget gitu, iya gue tau kalau gue itu gantengnya kelewatan, makanya kalian segitu terkejutnya melihat gue"
"dihh narsis"
"bukannya kamu lagi ada di london do.?"
"iya mel. aku memang tinggal di london, kebetulan aku sekarang juga telah bekerja di salah satu rumah sakit suwasta disana"
"wah, hebat ya loe do. masih muda udah jadi dokter"
"biasa saja mel, itu memang sudah menjadi cita-citaku sedari kecil. oh ya ngomong-ngomong kalian ngapain di sini.?"
"kita kerja di butik depan itu, kebetulan ini habis pergi makan siang"
"owh kalian kerja di sana. tapi ngomong-ngomong liyla mana.? kenapa kalian cuma berdua.!"
"liyla hari ini cuti, karna ada keperluan"
"owh gitu. owh iya lusa kalian datangkan ke acara reoni SMA kita.?"
"pastinya dong" jawab sarah antusias.
"yasudah sampai ketemu lagi di reoni ya. gue pamit duluan, masih ada urusan soalnya"
"oke hati-hati do"
"iya mel" jawab aldo sambil menatap melati dengan penuh perasaan.
ketika di rasa mobil aldo telah menghilang dari pandangan mata, melati dan sarah pun kembali ke butik.
"gue selalu mengira kalau aldo tuh sebenarnya suka deh mel sama loe"
"apaan sih sar, ngaco loe tuh. jelas-jelas kita udah berteman dari dulu. dan dia satu-satunya laki-laki yang mau berteman sama gue"
melati ingat betul, dulu ketika semua orang menjauhi dirinya bahkan sebagian besar dari mereka membully dirinya. sarah, liyla, dan aldo lah yang masih mau berteman dan dekat dengan dirinya.
kata "itu" mestinya digunakan sbg petunjuk bhw keadaan/kondisi yg digambar oleh kalimat dimaksud terjadinya sdh lewat(bentuk lampau...)🙏