Seorang penulis novel bernama Bagas sedang bertemu dengan titik jenuh nya. Kehidupan nyata terasa sangat membosankan bagi nya, sehingga hanya dunia imajinasi lah yang bisa membuat nya bahagia. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan sebuah masalah yang membuat nya sulit untuk kembali ke dunia imajinasi. Novel pun terpaksa berhenti di tengah jalan. Hingga pada suatu hari, sebelum tidur ia berdoa pada tuhan.
"Semoga mimpi malam ini, lebih indah dari kehidupan nyata" kata Bagas.
Semenjak saat itu, ia masuk kesebuah dunia yang asing bagi nya. Setiap ia tertidur di dunia nyata, ia terbangun di dunia tersebut, begitu juga sebaliknya. Hingga semua itu menjadi mimpi yang nyata bagi nya.
Apakah yang ia temukan di dunia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Banda Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan
Bagas berjalan menuju gunung Agra, terlihat jelas betapa tingginya gunung tersebut. Ia berjalan menyusuri hutan, sesekali Bagas berhenti sejenak untuk istirahat.
"Coba aja ada ojek online di sini, pasti udah nyampe nih," keluh Bagas.
Bagas merasakan ada mengintai nya, kemudian ia berkata.
"Keluar kau siluman."
Muncul lah beberapa siluman harimau, mereka mengelilingi Bagas.
"Main nya keroyokan terus," kata Bagas.
Mereka pun menyerang Bagas, ia melawan siluman itu dengan cincin mustika itu. Namun kali ini siluman itu sangat kuat. Pukulan Bagas yang biasa nya membuat musuh nya terpental tidak berefek sama sekali.
"Mereka semakin kuat, gue gak bawa panah lagi," kata Bagas.
Bagas di hajar habis-habisan oleh mereka, bekal nya pun di makan. Bagas babak belur, mereka pun ingin membunuh nya. Tak lama kemudian datang lah seorang bertopeng, dengan gesit mengalahkan siluman itu satu persatu dengan pedang nya.
Setelah mereka semua kalah, orang bertopeng ini hendak pergi. Bagas pun memanggil nya.
"Hei tunggu ...."
"Siapa kau?" tanya Bagas.
"Kau tak perlu tau, lanjutkan perjalanan mu," kata orang bertopeng itu lalu ia pergi.
Bagas melanjutkan perjalanan nya meskipun babak belur. Hari mulai malam, kemudian ia beristirahat kembali di bawah sebuah pohon.
Saat Bagas beristirahat, tiba-tiba akar pohon keluar dari tanah dan mengikat kedua kakinya.
"Eh kenapa ini?"
Akar itu menjalar ke seluruh tubuh nya, mengikat tubuh nya hingga tak bisa bergerak.
"Tolong!!!" Teriak Bagas
Bagas pun di tarik dan masuk ke batang pohon. Ia tak bisa bergerak, namun ada lubang kecil yang membuat nya bisa melihat ke luar.
Terlihat beberapa orang berjubah bersenjata melewati nya. Bagas pun melihat Tiara yang di telah di ikat tangan dan kaki nya, ia di gotong entah kemana tujuannya.
Setelah mereka jauh dan tak terlihat lagi, perlahan-lahan Bagas di keluarkan dari batang pohon. Ia pun berkata.
"Makasih," ucap Bagas melihat ke pohon.
"Kemana mereka membawa Tiara?" kata Bagas dalam hati.
Bagas pun bimbang untuk melanjutkan perjalanan atau langsung menyelamatkan Tiara. Kemudian Bagas memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
Dua jam berjalan kaki, Bagas melihat bayangan seekor kuda. Saat ia mendekati nya, benar saja. Ada seekor kuda berwarna coklat tua sedang asyik memakan rumput.
Bagas mengelus-elus kepala nya, kuda itu sangat jinak.
"Kalo gue naik kuda, bakal cepet nyampe nih," kata Bagas kesenangan.
Karena hari sudah sangat larut,Bagas memutuskan untuk tidur. Ia menggiring kuda itu ke sebuah pohon, kuda itu pun mengikuti nya. Setelah sampai di pohon, ia pun tidur di bawah nya.
Hari mulai pagi, burung-burung berkicau. Bagas membuka mata nya. Kuda itu masih ada di sampingnya. Bagas di kejutkan dengan aneka buah-buahan yang juga ada di sampingnya.
"Ini siapa yang nyiapin?" Bagas heran, lalu ia melihat ke arah kuda.
"Gak, gak. Mana mungkin kuda," kata Bagas.
Karena Bagas lapar ia langsung memakan buah-buahan tersebut. Setelah kenyang,ia membawa sisa nya untuk bekal di perjalanan.
Saat ingin melanjutkan perjalanan ia ragu untuk menaiki kuda tersebut.
"Aduh, gue gak pernah naik kuda lagi."
Bagas pun mencoba menaiki kuda tersebut, akhirnya ia berhasil membuat kuda itu menurut.
"Asikk, kapan lagi coba gue naik kuda begini."
Kuda itu berjalan, di perjalanan Bagas merasa jalan kuda masih agak lambat.
"Bisa lebih kenceng gak ya?"
Tiba-tiba kuda berlari kencang, Bagas menikmati perjalanan nya hingga tidak sadar di depan ada cabang pohon yang melintang. Ia pun menabrak nya dan terjatuh.
"Aduhh ...." kata Bagas kesakitan.
Ia merasakan ada yang mendekati nya, dengan sigap Bagas berdiri dan memasang kuda-kuda.
"Anna?" kata Bagas.
"Kan aku udah bilang biarkan aku sendiri yang mengambil pusaka nya," lanjut Bagas.
"Kamu gapapa kan?" tanya Anna.
"Gapapa sih."
"Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik aja," kata Anna menghampiri Bagas.
"Aku baik-baik aja kok," kata Bagas sok kuat.
"Baik-baik aja? lalu kemana bekal mu?dan kenapa kau babak belur?"
"Hehehe, jadi kamu yang kamu siapkan buah-buahan nya."
"Iyaa," jawab Anna mengangguk.
Mereka menunggangi kuda, kemudian melanjutkan perjalanan.
"Kedua kakak mu tidak mencari mu?" tanya Bagas.
"Aku sudah izin kok, lagi pula aku sudah besar tidak perlu di jaga."
"Iya juga, kau kan pendekar hebat," kata Bagas memuji Anna.
Anna tersenyum malu, kemudian berkata.
"Kau juga calon ksatria hebat," Anna balik memuji.
Kuda menyandung sesuatu sehingga Anna hampir jatuh, Anna tidak terjatuh karena ia memeluk Bagas.
"Mmm maaf yaa," kata Anna.
"Gapapa," jawab Bagas tersenyum.
Mereka menyusuri hutan, gunung Agra terlihat semakin dekat. Anna mendengar suara gemericik air.
"Bagas kamu mendengar sesuatu?" tanya Anna.
"Dengar."
"Apa?"
"Degup jantung mu," goda Bagas.
"Iiihh bukan itu," jawab Anna kesal.
"Hehe iya suara gemericik air, kenapa?" tanya Bagas.
"Berarti di dekat sini ada sungai."
"Iya terus?"
"Dasar lelaki."
"Loh kenapa?" tanya Bagas heran.
"Ya ayo kesana, aku haus. Masa gak ngerti," ajak Anna manja.
"Cewek di dunia manapun sama aja ternyata" kata Bagas dalam hati.
"Bagas, kok diem?" tanya Anna.
"Iya, iya ayo kesana," jawab Bagas.
Mereka beranjak ke sungai, sungai itu sangat jernih dan bisa langsung di minum. Anna mengambil air untuk minum.
"Ngambil sendiri nih," goda Bagas.
"Ya kamu gak mau ngambilin," jawab Anna.
"Hehe iya iya aku ikut turun." Bagas menghampiri Anna.
"Kamu kok beda ya kalo gak ada kedua kakak mu"
"Takut di marahin," jawab Anna.
"Di marahin kenapa?"
"Kata mereka aku jangan ganggu konsentrasi kamu, biar kamu fokus buat selamatin dunia ini."
"Oohh gitu."
"Iya, padahal aku mau deket sama kamu terus," kata Anna.
"Gimana, gimana."
"Gapapa," jawab Anna
Tiba-tiba Anna terpleset kemudian terjebur ke sungai. Bagas langsung menolong nya dan membawa nya ke tepi.
"Hati-hati Anna," kata Bagas sambil menggendong nya.
"Iya maaf tadi licin."
"Anna cantik banget, mana basah lagi," kata Bagas dalam hati.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Anna.
"Gak kok gapapa," menurun kan Anna dari gendongan nya.
"Nih orang tau aja gue lagi mikir," kata Bagas dalam hati.
"Yaudah, ayo lanjutkan perjalanan," ajak Anna.
Mereka melanjutkan perjalanan, setelah beberapa jam melakukan perjalanan akhirnya mereka sampai di kaki gunung Agra. Terlihat ada sebuah rumah.
"Eh ada rumah."
"Rumah Adibrata kayaknya, berarti makam nya gak jauh dari sini," kata Bagas.
Mereka mengunjungi rumah tersebut. Bagas mengetuk pintu namun tidak ada yang menyambut mereka.
"Kenapa di ketuk? Bukan nya Adibrata sudah tiada, lagipula rumah ini di beri pagar ghaib. Kita gak akan bisa masuk," tanya Anna.
"Siapa tau ada anak nya?" jawab Bagas.
Bagas pergi ke halaman belakang rumah tersebut, ada sebuah batu nisan di sana.
"Anna, sini ...." panggil Bagas.
"Iyah." Anna menghampiri Bagas.
Bagas membersihkan makam nya, lalu menyiramkan sebagian air pada batu nisan nya kemudian mendoakan nya.
Setelah itu, Bagas dan Anna kembali ke depan rumah. Tiba-tiba pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Mereka terkejut lalu masuk ke dalam rumah. Ternyata di dalam rumah tersebut ada beberapa pusaka dan batu mustika.
"Ini akan sangat berguna bagi kita, tapi apa ini boleh di ambil," kata Anna.
"Aku di amanat kan untuk kesini, kita juga sudah berziarah ke makam Adibrata. Pintu terbuka sendiri, berarti dia mengijinkan kita untuk mengambil nya. Tapi aku akan mengambil benda yang menarik perhatian ku saja, lagipula jika kita ambil semua nya, repot bawa nya," kata Bagas.
Mereka mengambil pusaka dan mustika yang ada di rumah tersebut. Bagas keluar dari rumah namun Anna masih di dalam melihat sebuah lukisan.
"Anna," Panggil Bagas.
"Iyah." Anna menoleh.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan," kata Bagas. tersenyum pada nya, Anna pun demikian.
***
jangan lupa mampir.../Coffee//Coffee/
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih
Agak bingung ngembacanya karena terlalu rapat.
...dan next up date 👍👍👍
btw, Ki Candra kok bingung 😅 sebelumnya tanya dulu Ki.. di pimpin siapa ✌️
ayam bakarnya satu ya Thor 😂😂✌️✌️
Bara! kenapa kamu jadi anak durhaka 😳 gara-gara pusaka sampe nusuk jantung Ki Candra😳
astaghfirullah 😥 cerita si Alvin ternyata 😭
next like mantap👍🏻 sambungan jejak Penduduk bunian..
saling mendukung thor
Mampir dicerita ku kak "Bunga Magnolia"
Semangat 💪💪up lagi thor
Aku mendukungmu 👍👍
Lagi seru"nya.
Tapi asli Thor, kata"nya keren habis....
terus ikuti karya aku ya thor
makasih😊