Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nomer WhatsApp Boleh?
Ziya dan Khaira sudah duduk di foodcurt, mereka belum memesan makanan dan minuman.
"Mana temanmu?" tanya Ziya karena tidak melihat orang lain selain mereka berdua di meja itu.
Khaira mendongak, mengalihkan tatapannya yang sedari tadi fokus menatap ponsel genggamnya.
"Sudah di depan, lagi jalan masuk ke sini." Jawab Khaira menatap Ziya.
Ziya mengangguk, tidak lagi bertanya.
"Kau belum punya ponsel?" tanya Khaira.
"Belum, gajiku hanya cukup untuk membantu ayah. Jadi aku belum bisa membeli ponsel." terang Ziya
Khaira mendesah, "Kalau begitu bagaimana kita akan bertukar kabar saat kita sudah lulus nanti?" keluh Khaira
"Kau berkata seolah-olah kita tinggal dengan kota berbeda. Kita masih di satu kota Key. Jika kau mau, nanti kau main saja ke rumah jika ingin tau kabarku." Terang Ziya
"Aku memang akan pindah kota Ziy, aku akan kuliah di Jakarta." Timpal Khaira
Ziya tercengang, dia terkejut. Apa yang di katakan sahabatnya mendadak sekali baginya.
"Kenapa kau tidak memberi tau aku lebih awal?" tanya Ziya dingin
Khaira mencibir, "Kau tidak pernah bertanya," jawab Khaira acuh
"Ka,-" suara Ziya terputus karena sapaan seseorang.
"Hai Key, Sorry membuatmu menunggu," ucapnya
Seorang laki-laki memakai seragam sekolah menyapa Khaira. Tampak tubuhnya tinggi, berkulit putih dan tampan. Terlihat dari atribut yang di pakai sepertinya dia berasal dari keluarga kaya.
Khaira mendongak mendengar seseorang menyapanya, seketika dia tersenyum sumringah.
"Hai Redo, ayo duduk lah," Khaira menunjuk bangku untuk di duduki Redo
Ziya hanya diam memperhatikan mereka berdua.
Sebelum Redo menduduki bangku, Khaira kembali bersuara
"Oh ya Do, kenalin ini sahabatku namanya Ziya," Khaira memegang lengan Ziya lalu menariknya sedikit mendekat ke arah Redo
"Ziy, ini temanku namanya Redo." Khaira memperkenalkan Ziya dan Redo.
Redo mengulurkan tangannya begitupun dengan Ziya, mereka berjabat tangan dan saling melempar senyum.
"Udah kenalannya. Ayo duduk." Ledek Khaira karena Redo dan Ziya tak kunjung melepas tangan mereka.
Ziya tersentak kemudian buru-buru melepas tangannya yang masih tergenggam tangan Redo. Redo terlihat santai dan tersenyum licik.
Ziya memilih duduk tepat di sebelah Khaira. Redo menyadari ada dua bangku tersisa yang berhadapan dengan Ziya dan Khaira, dia memilih duduk di depan Ziya.
"Kamu mau pesan apa Ziy?" tanya Khaira
Khaira tidak pernah makan di tempat seperti itu di buat bingung akan memesan apa. Dia sedikit berfikir namun kemudian justru balik bertanya.
"Kamu pesan apa?" tanya Ziya
"Punyaku samain sama pesanan kamu aja," sambungnya
"Baiklah, Kamu Do pesan apa?" tanya Khaira beralih menatap Redo
"Samain saja dengan yang kamu pesan?" jawab Redo
"Kamu memangnya tau apa yang akan aku pesan?" cibir Khaira
"Sudah sana pesan, aku sudah lapar." Jawab Redo
"Yang pasti kamu pesan makanan kan, aku ngikut aja biar cepat," sambung Redo.
Khaira mendengus, kemudian beranjak memesan makanan untuk mereka bertiga.
"Hem," Redo berdehem karena Ziya tidak kunjung bersuara setelah beberapa menit di tinggal Khaira.
Ziya mendengarnya namun dia tidak bergeming, tetap melihat ke arah lain. Kecanggungan Ziya membuatnya memilih diam.
"Ziya," Redo memanggil Ziya dengan sedikit ragu. Ragu untuk memulai percakapan karena tampaknya Ziya acuh padanya.
Ziya menoleh, "Iya." balas Ziya.
"Kamu sudah lama berteman dengan Khaira?" tanya Redo
"Sudah lama, sejak awal masuk SMA ini." Jawab Ziya
Redo manggut-manggut menanggapi Ziya.
"Apa kalian satu kelas?" tanya Redo lagi
"Iya." Jawab Ziya singkat
Tidak ada perbincangan lagi di antara mereka. Ziya diam dengan mata mengedar seperti mencari seseorang. Sementara Redo kembali sibuk dengan ponselnya.
"Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Redo mengalihkan tatapannya ke wajah Ziya.
"Aku tidak punya nomor ponsel," balas Ziya yang berhasil membuat Redo mengerutkan dahi.
"Nomer Whatsap boleh?" pinta Reyhan hati-hati. Dia merasa Ziya tidak menyukai perihal ini.
Ziya menunduk, "aku tidak punya ponsel," Ziya berterus terang setelah menghindari pertanyaan Redo.
Redo terkesiap merasa tidak percaya. Dia menatap gadis yang ada di hadapannya ini, tampak tidak ada kebohongan di mata itu. Dia paham sekarang.
Redo akan kembali bersuara namun seseorang menghampiri meja mereka dengan nampan berisi makanan. Karyawan foodcurt mengantar pesanan mereka dan meletakkan pesanan di atas meja.
Ziya tidak mendapati Khaira membuatnya heran. Dia akan bangkit namun tertahan karena mendapati Khaira berjalan ke arah meja mereka.
"Sorry ya membuat kalian menunggu," setelah mendekati meja Khaira membuka suara
Ziya menatap heran ke arah Khaira. "Kamu bukannya tadi pesan makanan ya?" tanya Ziya menyelidik
"Iya, tadi aku kebelet jadi aku minta mereka yang bawa pesanan kita. Lagian mana mungkin aku bisa bawa sendiri semuanya." Jawab Khaira
Ziya merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Khaira. Dia menerka-nerka mencari tau, namun dirinya tidak menemukan jawaban.
"Ayo makan," Khaira menepuk bahu Ziya yang hanya diam.
Tepukan di pundak Ziya berhasil membuyarkan semua yang ada di pikirannya saat ini. Dia menoleh menatap Khaira yang telah menyantap makanannya kemudian beralih menatap Redo yang juga sudah menyantap makanannya.
Ziya menepis dugaan yang terlintas di benaknya kemudian mulai menyantap makanannya.
"Ziy, aku pasti akan rindu saat-saat seperti ini nanti," di sela makan Khaira menyuarakan isi hatinya.
"Sedih aku berpisah sama kamu, terlebih aku tidak bisa menghubungimu." ucap Khaira menghentikan makannya
"Aku belikan kau ponsel ya?" tanya Khaira terdengar seperti meminta
Ziya menghentikan tangannya yang akan menyuap makanan, melirik Khaira dari sudut matanya tanpa menoleh.
Khaira tau arti lirikan tidak suka dari Ziya, dia bungkam dan kembali melanjutkan makan hingga makanan tak bersisa.
"Do, sahabatku ini selalu menolak kebaikanku. Apa menurutmu dia bisa di katakan sahabat?" Khaira menyindir Ziya dengan ucapannya.
Redo tertawa kecil, "Aku rasa kau lebih paham akan dia," balas Redo
"Aku tidak mau merepotkanmu, aku harap kau mengerti," Sambung Ziya menatap Khaira
"Kau lihat Do, dia tidak mengambil keuntungan dariku. Dia sahabat terbaikku. Meski terkadang menyebalkan." Ucap Khaira
"Berkali-kali aku berniat baik jawabannya selalu sama, dia selalu menolak. Dia tidak pernah memanfaatkanku atau mengambil keuntungan dariku," sambungnya
Redo mengalihkan tatapannya, menatap Ziya yang terlihat sedikit menunduk dengan wajah merona. Redo tersenyum melihat Ziya seperti tengah menahan malu.
"Aku beruntung mempunyai sahabat sepertinya. Kau tau, dia ini berbeda dengan anak-anak seumuran kita. Dia anak yang baik selalu membantu orang tuanya, tidak pernah ingin menjadi beban orang tuanya.
Dia bekerja di Cafe saat pulang sekolah. Kau tau itu dia lakukan untuk membantu keuangan keluarganya. Dia hanya punya waktu satu jam untuk istirahat saat pulang sekolah setelahnya harus bekerja hingga malam. Itu dia lakukan setiap hari!
Belum la-." Perkataan Khaira terhenti seiring jeritan keluar dari mulut itu.
"Aww,"
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉