"Aku lelah, aku lelah mengejar dan mengemis cinta mu. Mulai sekarang aku akan berhenti, berhenti mengharap cinta yang tidak mungkin bisa ku gapai".
Amanda, seorang gadis muda yang terjerat cinta seorang dokter, cinta nya bertepuk sebelah tangan, namun ia tidak menyerah untuk bisa mendapatkan cinta itu. Berharap suatu saat nanti cinta itu akan membalas cintanya.
Akankah manda bisa mendapatkan cinta itu? atau hanya akhir yang menyakitkan karena cinta tak kunjung terbalas?
Nantikan kisahnya di "Mengejar cinta dokter tampan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umi ayi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Udara yang dingin menembus kulit mengusik tidur Amanda. Ia mengerjapkan matanya menetralisir pengelihatan nya. Ia melihat jam yang di atas nakas, sudah menunjukkan puku lima pagi. Segera ia bangun dan langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai berwudhu ia langsung menggelar sajadah untuk bersujud pada sang khalik.
"Assalamualaikum warahmatullah" selesai salam tak lupa ia me_munajatkan apa yang ada di hatinya saat ini. Ia juga meminta agar dijodohkan dengan Julian. Memang seperti maksa tali apa salahnya ia meminta, toh siapa tahu Allah akan mengabulkan karena kesungguhan nya.
"Kak Julian sudah bangun belum ya." gumamnya teringat pada Julian. Ia penasaran jika di jam segini apa yang dilakukan oleh Julian.
Sementara orang yang di pikirkan Manda masih tidur dengan begitu pulas_nya. Julian tidur hampir jam dua tadi malam karena harus menyelesaikan tugasnya, hingga ia telat waktu subuh.
Julian sedikit terganggu karena seperti ada suara yang membangunkan nya. Ia langsung membuka mata ternyata alarm ponselnya yang dari tadi berbunyi. Ia kaget karena melihat jam sudah hampir jam enam. Dengan sigap ia bangkit dan langsung menuju kamar mandi. Ia mencuci muka serta menggosok gigi, barulah ia mengambil wudhu.
Dengan khusu ia melaksanakan tugasnya, meskipun kesiangan tapi ia tetap wajib melaksanakan nya, toh ia bukan sengaja lalai.
Selesai sholat, ia langsung bersiap-siap untuk segera pergi ke kampus. Rasanya sangat lelah, pergi pagi dan pulang malam, serta tugas yang begitu banyak membuat ia terpaksa harus lembur dan kurang tidur. Tali ini adalah konsekuensinya sebagai dokter. Ini juga impiannya, jadi ia harus kuat dan semangat menjalankannya.
Julian melangkahkan kakinya menuruni anak tangga
satu persatu. Ia langsung ke dapur untuk mengambil minum.
"Kakak mau kemana? kok udah rapi?" Tanya Manda penasaran melihat tampilan Julian yang rapi. Saat ini Manda sedang membantu mama Sania di dapur. Juga bersama bik ijum.
Tanpa menjawab pertanyaan Manda, Julian mengambil gelas dan menuangkan air ke dalam nya.
"Pergi sekarang Jul? Ada tugas pagi?" tanya Sania sembari menuangkan gula ke dalam gelas. Ia sudah hapal dengan rutinitas putera nya.
"Iya ma." Sahut Julian singkat.
"Kakak mau kuliah? kenapa pagi sekali?" timpal Manda bertanya. Lagi-lagi Julian tidak menjawab. Ia langsung melangkahkan kakinya hendak pergi namun Manda menahannya dengan menarik tangan Julian.
"Aku nebeng mobil kakak ya." Sambung manda. memelas.
"Gak bisa." Sahut Julian datar kemudian kembali melangkahkan kaki nya.
Sampai depan rumah Manda juga menghentikan langkahnya nya. "Kak tunggu sebentar." ucap Manda yang sudah berada di depan Julian.
Julian terpaksa berhenti karena Manda menghalangi jalannya.
"Kakak suka dengan kado nya?" Tanya Manda tersenyum menatap Julian, sementara julian hanya diam cuek .
"Sudah saya buang, dan ingat jangan lagi kamu memberi saya kado gak jelas gitu apalagi lancang masuk kamar saya." tegas Julian kemudian pergi meninggalkan Manda yang masih berdiri mematung.
"Huf, sabar sabar, pasti nanti akan luluh" Gumam manda mengelus dada nya sembari melihat mobil Julian yang semakin menjauh. Setelah mobil Julian tidak terlihat lagi Leh pandangan matanya barulah ia masuk kerumah.
"Tan, kak Julian memang sering pergi sepagi ini ya Tan?" Tanya Manda saat sampai ke dapur.
Sania langsung menoleh. "iya Manda. Pergi pagi dan pulang hampir malam, kadang juga gak pulang. Belum lagi tugas yang begitu banyak, hingga membuat ia bergadang hampir setiap malam. Tante kasihan melihatnya. badan nya jadi kurus" sahut sania.
"Ternyata perjuangan menjadi dokter, apalagi spesialis itu berat ya. Tidak seperti yang di lihat orang-orang yang berpikir enak jadi dokter tanpa tahu perjuangannya." Sambung Manda mengerti. Memang berat untuk menjadi seorang dokter, mereka harus belajar tujuh hingga delapan tahun untuk mendapat gelar dokter umum, ditambah lagi jika harus mengambil spesialis butuh waktu empat hingga lima tahun lagi. Perjuangannya yang berat dan biaya yang tidak sedikit jadi pantas dan wajar saja gaji dan penghasilan dokter itu tinggi.
"Iya." Sahut Sania tersenyum. "Kamu kuliah hati ini kan? Biar pak Kamal saja yang antar ya." Sambung Sania.
"Kuliah Tan, tapi agak siang." Jawab Manda. "Gak usah repot-repot Tan, aku naik motor aja." sambung Manda. Ia sungkan jika harus merepotkan.
"Tante khawatir jika kamu naik motor," Sambung Sania lagi. Ia memang khawatir, apalagi melihat motor nya Manda yang super gede begitu. Badannya yang kecil tentu akan sulit mengendalikan motor itu.
"Gak papa Tan, aku udah biasa kok. Tante jangan khawatir ya." Sambung Manda tersenyum.
Sania membawa Manda pergi dari dapur menuju ruang tengah. Biar bik ijum yang meneruskan masakannya.
Mereka berjalan ke ruang tengah dengan Manda menggandeng lengan Sania, mereka seperti ibu dan anak saja. Sesampainya si ruang tengah mereka langsung duduk, dan Manda duduk disamping Sania tanpa melepaskan tangan nya yang bergelayut di lengan Sania.
"Oh ya Tan, kak Julian udah punya pacar belom?" Tanya Manda langsung sembari melepaskan tangannya dari lengan Sania.
"Emm...setahu Tante belum, karena dia gak pernah mengenal kan perempuan sama Tante." Jawab Sania jujur. Memang Julian tidak pernah mengenalkan seorang perempuan kepada nya dan suami. Setiap ditanya kapan menikah ia selalu jawab belum memikirkan soal wanita. Ia hanya fokus pada pendidikan nya terlebih dulu.
"Kenapa? apa kamu menyukai Julian? Tebal Sania menatap Manda dengan senyum menggoda.
Manda hanya bisa tersenyum dan itu sudah cukup jelas bagi Sania bahwa Manda memang menyukai putranya.
"Apa Tante suka wanita seperti aku half pacar nya kak Julian?" Tanya Manda serius. Sebelum mendapatkan hati Julian, ia lebih dulu mengambil hati mama nya.
Sania tersenyum mendengar pertanyaan Manda. "Tante akan selalu setuju dengan pilihan Julian. Siapapun dan bagaimana pun keadaan nya. Asalkan dia wanita yang baik" Sahut Sania. Sania memang wanita dan ibu yang baik, tidak hanya cantik, ia juga lembut dan penyayang.
Senyum Manda semakin merekah mendengar jawaban Sania. Jadi ian tidak perlu khawatir soal drama orang tua yang tidak setuju dengan hubungan sang anak.
Di tengah obrolan mereka datang seorang wanita. Wanita itu sangat cantik dan anggun dengan gamis serta hijab nya. Manda sempat tertegun. Ia seperti tidak asing dengan wajah itu, beberapa saat ia baru ingat jika wanita itu adalah salah satu wanita yang ada di foto bersama Julian.
Deg
"Apakah dia pacar Julian?" Batinnya.
.
Bersambung.
Stay tune terus ya 🤗🥰
Happy reading 🥰
kayak nya
para pembaca...
pasti itu bukan julian...
lanjut thor ceritanya
terimakasih sudah up
di tunggu kelanjutan nya
ceritanya
semoga tripel up...
yg donorin...
semoga Manda hamil
Manda...
Dasar suami plin plan...
nyesel belakang Julian...
lucky, biar julian tau rasa...