Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Menghalangiku!
Esok paginya wajah Nesa begitu sumringah, setelah mandi istri dari Devan itu keluar dari kamarnya lalu melangkah menuju dapur, ia melihat Mbok Nab sedang menatah sarapan di atas meja.
"Mbok, maaf saya kesiangan, jadi tidak ikut membantu menyiapkan sarapan," ujar Nesa.
"Nggak apa-apa, Neng, kamu teh majikan Mbok, malah Mbok senang kalau Neng Nesa nggak bantuin," ujar Mbok Nab.
"Tapi ... nggak enak aja lihat Mbok kerja sendirian, saya 'kan sudah bilang ke Mbok jangan pernah menganggap saya seperti majikan di rumah ini," tutur Nesa.
Mbok Nab tertawa renyah mendengar Nesa mengatakan itu.
"Ya udah, Neng, bantu Mbok nyiapin kopi buat Bapak aja."
"He he ... kalau itu sudah pasti, Mbok, kan Kak Devan suami saya. Karena tanggung jawab istri itu memang harus melayani suaminya terlepas dari ada atau tak ada asisten rumah tangga," kata Nesa membuat Mbok Nab tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Neng udah bangunin bapak?" tanya Mbok.
"Kak Devan mah nggak usah di bangunin, Mbok, entar juga bangun sendiri."
Keakraban Mbok Nab dan Nesa terjalin semenjak Nesa datang ke jakarta menjadi istri dari majikannya. Kerja sama mereka begitu baik, Nesa yang sering membantu Mbok Nab membersihkan seisi rumah terkadang juga mereka berbagi tugas. Nesa sudah menganggap Mbok Nab seperti ibunya sendiri.
Sesaat kemudian, suara deheman Devan terdengar, membuat Nesa juga Mbok berbalik, Devan kini sedang menuruni tangga.
"Apa sarapan sudah siap?" tanya Devan.
"Sudah, Kak," jawab Nesa.
"Ada soto betawi nggak?"
"Wah. Nggak ada soto betawi, Pak, Mbok nggak buat."
"Biar aku buatkan, Kak," kata Nesa. "Kak Devan nggak terlambat kerja, 'kan?"
"Iya buatin aja. Aku lagi ingin sarapan soto betawi."
Nesa sumringah dan begitu semangat menghampiri kompor, Nesa tidak pernah menyangka suaminya itu mau mengajaknya berbicara, semalam mereka sudah mengobrol banyak.
Mbok Na
Suara ponsel Devan terdengar, membuatnya menoleh dan melihat nomor ponsel Lestari.
'Halo, Sayang,' ucap Devan.
'Sayang, kamu nggak jemput?'
'Oh iya. Aku sedang menuju ke sana,' jawab Devan.
'Hem. Aku tunggu.'
Devan memutuskan sambungan telpon, lalu beranjak dari duduknya, dan menghampiri dapur.
"Aku nggak jadi sarapan," kata Devan membuat senyum di wajah Nesa berubah menjadi kecewa.
"Tapi, Pak, Neng Nesa sudah hampir selesai masaknya."
"Nggak perlu. Aku harus pergi." Devan segera meninggalkan Nesa dan Mbok Nab yang masih bergulat di dapur.
Nesa menghela napas panjang dan mematikan kompor, lalu membuka celemeknya.
"Biar Mbok yang lanjutin ya," kata Mbok Nab, sangat tahu bahwa Nesa sedang kecewa.
"Nggak apa-apa, Mbok?"
"Nggak apa-apa kok, Neng. Ini sudah tugas Mbok."
"Baiklah, Mbok, saya ada pekerjaan penting, jadi hari ini harus tepat waktu."
***
Lestari terus melihat jam yang ada dipergelangan tangannya, sudah hampir satu jam menunggu, namun Devan belum juga datang. Bahkan batang hidung lelaki itu tidak pernah terlihat.
Lestari hendak menahan taksi karena putus asa menunggu kekasihnya itu. Namun, suara klakson menderu, membuat Lestari menoleh dan mendengkus ketika melihat Devan baru saja sampai.
Lestari menghampiri mobil Devan, dan langsung masuk. Wajah Lestari terlihat kesal.
"Sayang, aku minta maaf," lirih Devan.
"Minta maaf saja terus," gumam Lestari.
"Aku benar-benar minta maaf," kata Devan menggenggam tangan kekasihnya, ia sempat melupakan Lestari ketika semalam mengobrol senang dengan Nesa, dan baru sadar pagi ini ketika mendapatkan telpon dari wanita yang duduk disampingnya.
"Kita sarapan dulu nggak nih?"
Devan menganggukkan kepala, dan berkata, "Tentu saja. Kita sarapan dulu lalu ke kantor."
Lestari menganggukkan kepala.
Devan tersenyum dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan depan kost Lestari, ia merasa bersalah pada Lestari karena dengan mudah terpengaruh oleh Nesa, gadis yang menurutnya masih belum pantas menjadi istrinya.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Lestari.
Devan menoleh sesaat, dan berkata, "Dia baik-baik saja."
"Entah sampai kapan aku harus bersabar atas pernikahanmu," lirih Lestari, menundukkan kepala.
"Bukankah kita sudah sering membahasnya? Beri aku kesempatan sampai Nesa melahirkan. Setelah itu kita akan hidup bahagia."
"Aku ingin sekali terus ada di sampingmu. Meski kamu terus disampingku, namun rasanya kamu makin jauh." Lestari menghela napas dan sesaat memalingkan wajahnya.
"Sayang, aku akan menepati janjiku, meski sudah sebulan bersama dengan Nesa, namun hatiku tetap milikmu," jawab Devan, meyakinkan Lestari lewat genggaman tangannya di jari jemari wanita itu.
Sampai di sebuah resto, Devan turun dari mobil dan membuka pintu untuk Lestari, wanita itu sangat merona ketika mendapatkan perlakuan baik oleh kekasihnya.
Lestari mengalungkan tangannya di lengan Devan dan mereka memasuki restoran.
"Devan?" Sebuah suara membuat Lestari dan Devan menoleh.
Wanita yang kini menegur Devan dan Lestari adalah sepupu Devan sekaligus istri dari sahabatnya. Manda—namanya.
"Manda?" tanya Devan.
"Iya ini aku. Kamu masih sama Lestari?" Manda menoleh melihat Lestari, sedangkan Devan melepaskan rangkulan tangan Lestari.
"Gani mana?" tanya Devan.
"Dia akan datang sebentar lagi. Kamu nggak jawab pertanyaanku."
"Oh iya. Lestari—"
"Aku masih kekasih Devan," sergah Lestari membuat Devan menoleh.
"Lestari, apa kamu sadar? Devan sudah menikah, dan istrinya saat ini sedang hamil," tanya Manda.
"Aku tahu. Lalu memangnya kenapa? Aku duluan yang menjalin hubungan dengan Devan, lagian Devan menikahinya karena ingin tanggung jawab saja."
"Maksud kalian apa?"
Devan menarik Manda untuk meninggalkan Lestari dan sepasang mata yang melihat mereka. Lestari kesal sekali dan memonyongkan bibirnya.
"Apaan sih, Dev." Manda melepaskan diri dari genggaman tangan sepupunya itu. "Kamu itu sudah menikah, kenapa masih bersama Lestari?"
"Kamu kan tahu aku sudah bersama Lestari, sebelum menikah, aku menikahi Nesa hanya karena tanggung jawabku sebagai ayah dari anak yang sedang ia kandung. Jadi, jangan pernah mengurusi urusanku."
"Wah. Kamu memang nggak akan pernah mendengarkanku, anak yang dikandung Nesa bisa kena dampaknya jika kamu berbuat seperti ini. Seharusnya tahan dirimu, meski kamu menikah hanya karena tanggung jawab, namun kamu nggak bisa melakukan ini ketika kamu sudah beristri." Manda menghela napas panjang dan kembali berkata, "Bagaimana jika Mama kamu tahu? Mama kamu bisa kambuh penyakitnya."
"Man, please, jangan sampai Mama mengetahui ini."
"Dev, kamu harus sadar, semua yang kamu lakukan ini salah, kasihan Nesa."
"Salah? Salahnya dimana? Aku nggak selingkuh, dan Lestari sudah sabar mau menungguku sampai Nesa melahirkan."
"Apa kamu secinta itu pada Lestari?"
"Cinta banget, karena itu aku seperti ini."
"Wah. Kamu memang terlalu mempercayainya. Mama kamu sudah mengatakan bahwa dia nggak menyukai Lestari, namun kamu masih memacarinya. Kamu memang luar biasa, Dev."
"Jangan menyalahkanku, aku juga tersiksa seperti ini."
.
.
Mau tahu kelanjutannya? Jangan lupa voted dan komentar, ya.
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻