NovelToon NovelToon
Cinta Seindah Khayalan

Cinta Seindah Khayalan

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Anak Genius / Tamat
Popularitas:94.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dewi Payang

Sizy Caserina, tidak pernah menduga bila dirinya bisa dijebak oleh seorang pria kecil sehingga bisa tidur dengan seorang pria konglomerat yang bernama Clive Mandelson.

Begitulah cara Berry, pria kecil yang jenius yang berusia 5 tahun, memilih seorang wanita cantik untuk menjadi ibunya.

Ikuti kisahnya di Cinta Seindah Khayalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Seberharga Itukah?

"Tuan Clive dan Tuan kecil, mereka biasanya suka makan apa saja?" tanya Sizy didepan pintu kamarnya, begitu David baru selesai membawanya berkeliling dan memperkenalkan kediaman barunya.

"Semua jenis sayur-sayuran, beberapa jenis daging merah, semua jenis unggas, ikan, seafood juga Nyonya. Hanya saja--, tuan Clive alergi dengan kepiting, tubuhnya akan dipenuhi dengan ruam-ruam kalau memakannya. Begitu juga dengan Tuan kecil, dia juga memiliki alergi yang sama dengan Tuan, ruam-ruam yang besar dan melebar akan muncul dikulitnya begitu memakannya."

Ungkap David, mengingat pernah tanpa sengaja menghidangkan makanan hewan laut itu pada kedua majikannya beberapa bulan yang lalu karena keteledoran salah satu rekan sesam asistennya.

"Biasanya, Tuan sendiri yang memasak, saya hanya disuruh menyiapkan semua bahannya saja, kecuali bila Tuan pulang terlambat, barulah saya yang memasak buat Tuan kecil."

"Dalam hal ini, tuan Clive mirip dengan Paman, suka memasak," batin Sizy, begitu mendengar penuturan David.

"Kebetulan saya berada dirumah hari ini, saya yang akan memasak makan malam," putusnya.

"Tapi Nyonya, tuan Clive tidak ada berpesan seperti itu pada saya," David gegas menginterupsi, ia khawatir sang majikannya akan mengomeli dirinya nanti saat pulang.

"Bukannya memasak itu memang bagian tugas dari seorang isteri dan seorang Ibu? Tidak perlu sekaku itu asisten David, tidak harus mendapat persetujuan Tuan-mu hanya persoalan memasak."

"I-iya, Nyonya benar. T-tapi--" David nampak serba salah.

"Sudahlah, tidak perlu khawatir, saya rasa tuan Clive tidak akan memarahimu. Saya mau istirahat dulu, asisten David boleh kembali."

"Iya, baik Nyonya," pasrah David, pria itu merunduk sebentar lalu bergegas.

"Pegal juga kakiku rupanya," Sizy memijat betisnya sambil duduk disofa kamarnya. Walau hanya berkeliling diarea rumah, ternyata cukup melelahkan dirinya yang tidak terbiasa menghuni rumah sebesar rumah milik Clive

Drrt. Drrt. Drrt.

Sizy beranjak dari duduknya, begitu mendengar ponselnya berbunyi diatas nakas.

"Bibi?" gumamnya pelan, ia segera menggeser tombol hijau untuk berkomunikasi dengan bibinya itu.

📞"Hallo Bibi," sapa Sizy bersemangat sembari tersenyum.

📞"Dari tadi Bibi menelpon tapi tidak diangkat, apa kamu baik-baik saja?" terdengar nada omelan.

📞"Maaf Bibi, aku meninggalkan ponselku dikamar karena sedang diisi daya," sahut Sizy memberi alasan.

📞"Disini, aku baik-baik saja Bi," imbuhnya lagi.

📞"Ya syukurlah kalau begitu. Tadi Bibi sudah mengirimkan pakaian dinas kerjamu, sopir suamimu yang mengambilnya kemari. Dan pakaianmu yang lainnya ditinggal, menurut nak Clive, bila kamu berkunjung kemari tidak repot membawa pakaian ganti lagi. Enak ya jadi orang kaya," gumam Margareta sembari tertawa kecil, lalu menutup telepon seenaknya.

Sizy menatap layar ponselnya yang sudah terputus, padahal ia masih ingin berbagi kabar. Dilihatnya ada notif e-mail, tentu dari tempatnya bekerja, batinnya, sambil menekan notif.

"Apa ini?" Sizy menggulir layar ponselnya terus kebawah.

"I-ini tidak mungkin..." kaget Sizy, wajahnya berubah tegang.

"Se-enaknya saja dia melakukan ini padaku," begitu membaca beberapa daftar nama perusahaan dengan 60% saham milik suaminya disana telah beralih atas nama dirinya, belum lagi beberapa properti juga sudah beralih atas namanya.

"Oh ini sangat menakutkan," Seketika wanita itu merasa kalut dan ngeri, membayangkan bagaimana dirinya harus membayar pajak bumi dan bangunan akibat kepemilikan aset properti itu, belum lagi pajak penghasilan dan lain sebagainya yang memusingkan.

Dengan sedikit sempoyongan Sizy beringsut menuju tempat tidurnya untuk segera berbaring. Kepalanya pening, seketika penuh dengan angka-angka fantastis yang tidak terjangkau olehnya. Niat awalnya yang akan beristirahat seketika sirna, kalut memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia cemaskan.

...***...

"Ibu masih menunggu Ayah?" Berry memandangi wajah Sisy yang baru selesai merapikan selimut yang menutupi tubuhnya.

Sizy mengangguk sembari tersenyum, memandangi raut Berry yang sudah mulai mengantuk.

"Apa boleh Ibu berbaring disini menemanimu sampai tertidur?"

"Sebenarnya aku tidak terbiasa tidur ditemani seseorang, apalagi seorang wanita. Kata Ayah, pria sejati tidak boleh tidur dengan sembarang wanita, kecuali itu isterinya. Kalau bukan isterinya, dia wajib menikahinya sebagai bentuk tanggung jawab."

Sizy tertegun mendengar penuturan pria kecil itu, apa itu sebabnya Clive begitu memaksa menikahi gadis biasa seperti dirinya karena insiden tidak terduga waktu itu?

"Jadi, kalau Ibu tidur denganku, aku bingung bagaimana caranya menikahi isteri Ayahku? Tentu Ayahku itu akan membuat perhitungan denganku."

Sizy tertawa pelan, merasa lucu mendengar ucapan Berry yang begitu polos menurutnya.

"Anak pintar," gumamnya, membelai lembut kepala pria kecil itu.

"Bila seorang ibu menemani anak laki-lakinya tidur, itu adalah hal yang wajar, semua ibu didunia ini boleh melakukannya. Jadi kamu tidak perlu mencemaskan itu. Mungkin maksud Ayahmu, bila seorang pria dewasa tidur bersama wanita dewasa dan keduanya bukan sedarah, hal yang kamu katakan tadi baru boleh terjadi."

"Kasihan sekali anak ini, pengajaran dan didikan tuan Clive membuatnya dewasa sebelum waktunya," batin Sizy, merasa iba.

"Aku mengerti, Ibu boleh tidur disini bersamaku, dan tidak perlu menunggui Ayah. Mulai sekarang, Ibu harus terbiasa dengan Ayah yang sering pulang larut malam," Berry tersenyum tipis dan memberi ruang untuk Sizy berbaring disebelahnya.

"Ibu baca'in dongeng ya, kebetulan tadi ibu membawa buku kemari," Sizy meraih buku yang sebelumnya ia letakan diatas kepala tempat tidur Berry, dan pria kecil itu hanya mengangguk kecil mengiyakan, karena tidak ada pilihan lain.

"Burung Bangau Yang Angkuh," Sizy memulai bacaan dongengnya.

"Pada suatu pagi yang indah, terdapat seekor burung bangau yang berdiri di pinggiran sungai. Ia melihat ke arah sungai tersebut, terdapat ikan yang berenang di pinggiran sungainya. Hanya saja, menurut Bangau ikan tersebut tidaklah indah, kurus, kecil dan seperti tidak ada nutrisinya."

"Bangau pun berkata, 'Aku tak akan memakan ikan-ikan kecil di pinggiran sungai itu. Mana mungkin bangau yang anggun dan indah sepertiku akan memakan ikan-ikan sekecil dan sekurus itu'.”

Berry memandangi wajah Sizy, wanita itu nampak serius. Pria kecil itu dapat merasakan kalau ibu barunya itu begitu pandai memainkan intonasi nada suaranya, sehingga ceritanya terdengar hidup dan menarik.

"Karena sudah bertekad demikian, ketika ikan-ikan kecil lewat di depannya Bangau pun memilih mengabaikannya. Ia tak mengambilnya satu pun. Bangau hanya menunggu sampai ikan-ikan yang lebih besar berenang di pinggiran sungai dan menurutnya cocok untuk dirinya yang anggun."

"Tak berselang lama, terdapat seekor ikan besar lewat. Namun alih-alih mengambilnya, bangau pun bilang, 'Aku tidak mau ikan besar itu. Ia terlalu besar untukku'." Sizy mengatur suaranya, seolah-olah itu suara bangau, membuat Berry kembali tertawa kecil mendengarnya.

"Sampai pada akhirnya, Bangau menunggu lagi dan lagi. Matahari pun mulai naik dan hari sudah mulai panas. Air menyurut dan ikan-ikan pun berenang ke tengah sungai."

"Saat itu terjadi, Bangau berusaha mengejar mereka. Tapi Bangau tidak bisa berenang seperti ikan. Ia tak bisa menjangkau ke tengah sungai."

"Bangau hanya bisa memakan siput-siput yang tertinggal di pinggiran sungai. Dan akhirnya sampai sore tiba, sama sekali ia tak bisa mendapatkan ikan. Selesai. Kamu suka?" Sizy mengulas senyum terbaiknya memandangi Berry yang malah matanya tidak mengantuk.

"Suka Bu, ceritanya bagus. Pesan moralnya, setiap orang memang menginginkan yang terbaik untuk dirinya. Namun jangan juga terlalu memilih-milih karena alih-alih mendapatkan yang terbaik, justru kita tidak akan mendapatkan apapun sama sekali."

Sizy terperangah, ia begitu kagum pada pemahaman Berry setelah mendengar dongeng yang ia bacakan.

"Kita tidak akan pernah tahu mana yang terbaik jika tidak mencoba mengambilnya. Kita juga tidak akan pernah tahu kapan kesempatan yang sama itu muncul. Jadi lakukan yang terbaik dan ambil kesempatan yang ada di depan mata, jangan menunda-nundanya karena esok mungkin kesempatan itu tidak ada lagi untuk kita," imbuh Berry mengakhiri.

"Luar biasa Sayang, Ibu sangat kagum padamu," puji Sizy dengan rautnya yang benar-benar merasa kagum.

"Itulah sebabnya ayah buru-buru menikahi Ibu, bila ditunda--, aku dan Ayah khawatir tidak punya kesempatan kedua."

Sizy kembali terperangah, bagaimana bisa Berry berucap demikian, dan seberharga itukah dirinya yang hanya seorang wanita dari kalangan biasa?

Bersambung...✍️

1
Elisabeth Ratna Susanti
top banget 🥰
Dewi Payang: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
kenapa masih saja ada perundungan ya
Dewi Payang: Dari jaman ke jaman tidak pernah punah😭
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍🥰
Zenun
iya benar sekali
Dewi Payang: Cucok👍🏻😁
total 1 replies
Zenun
terimakasih untuk apa nih🤭
Dewi Payang: Untuk segalanyaaa😁
total 1 replies
Oma yeni*🦋
udah tamat dengan akhir yg sangat indah. Makasih karya indahnya 🥰
Dewi Payang: Ma kasih juga kak, udah setia membaca hingga akhir😘😘😘😘
total 1 replies
Oma yeni*🦋
oke thor siaappp makasih sarannya, semoga selalu bahagia dan penuh cinta ❤️🥰
Dewi Payang: Amin Akak🫰🫰😍
total 1 replies
Oma yeni*🦋
dilarang terbang lagi kyknya nih
Dewi Payang: Disuruh netap/Joyful/
total 1 replies
Oma yeni*🦋
si babe sistimnya liberal/Chuckle/
Oma yeni*🦋
yuk makan makan thoorrr
Dewi Payang: Ayuk😅😅
total 1 replies
Oma yeni*🦋
horeee,,,, sah jadi pasangan suami istri...
Dewi Payang: Ehemmmn😅
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
dah hadir... pertama malah/Sneer//Joyful/
Dewi Payang: 😄😄😄iya kak😍😍😍
total 1 replies
neng ade
aku udah hadir disana thor 🙏❤️
Dewi Payang: Iya Kak, terima kasih banyak ya kak😍😍😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
wah dikibarkan baju Teletubbies nya 😆
Dewi Payang: Haha😅😅😅😅
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ciusss end Bun? kok aku nda ikhlas huwwwaaaaa
Dewi Payang: Haha kebanyakan bab na kak😄
total 1 replies
Zenun
sah sah sah🥳
Dewi Payang: Berry-Yunna : 😍😍😍
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
Papay juga kak Dewi... di tunggu karya luar biasa selanjutnyaaa❤️❤️❤️❤️😘😘😘
〈⎳ FT. Zira: sehat selalu juga buat akak🫰🫰🫰... jangan lama lama luncurin karya barunya yaaa.. menanti/Kiss/
total 2 replies
〈⎳ FT. Zira
eeehhh... enddd😳😳😳😳
〈⎳ FT. Zira
jawaban cerdas
Dewi Payang: /Joyful/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
kalo gak berakhir indah.. judulnya bukan cinta seindah khayalan lagi nanti
Dewi Payang: Yuna : 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!