Ini adalah kisah tentang dua insan yang sangat jauh berbeda, tetapi jatuh cinta.
Takdir menyedihkan menimpa keduanya selama hidup sampai Mahapatih Candrakumara Dewananda dan Putri Balqis Humaira Azhari meninggal dalam pesakitan memperjuangkan cinta untuk melampaui sekat-sekat agama dan sosial.
Tapi...
Kisah Candrakumara dan Balqis kembali terjalin dengan inkarnasi modern mereka. Candrakumara terlahir kembali sebagai Garalt Zayn Mahesa, seorang bintang film yang sangat menawan. Dan Balqis terlahir kembali sebagai Aneska Zoya Raveena, seorang gadis cantik nan lugu yang bermimpi menjadi seorang aktris besar. Semesta mempertemukan mereka kembali.
Dapatkah mereka mencegah tragedi yang sama terjadi pada diri mereka? Atau justru takdir pahit itu akan terulang lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pizza
Di Istana Ekantika, Balqis dan Khansa merayakan hari raya Idul Fitri. Mereka mempersiapkan semuanya sendiri, ini adalah Idul Fitri pertama mereka yang jauh dari Kerajaan Citrapsada.
Tiba-tiba, Balqis merasa seperti ada yang memanggilnya. Dia menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Dia mencoba berlari menuju sumber suara dengan rasa penasaran yang luar biasa.
"Selamat Idul Fitri di tempat ini, Putri! Mana hadiahku?" tanya Khansa seraya membawa makanan yang biasanya di masak mereka saat Idul Fitri.
Menyadari tidak ada respon apa-apa dari Balqis, Khansa bertanya lagi. "Ada apa?"
"Aku merasa Mahapatih sedang memanggil namaku," ucap Balqis.
"Bagaimana mungkin, Putri?! Dia akan ke tempat tinggalnya dulu untuk merayakan kemenangannya," ucap Khansa.
Balqis mendengarkan ucapan Khansa dan berbalik untuk mengambil makanan yang lainnya tetapi dia kembali mendengar suara itu, kali ini suaranya terdengar lebih jelas.
"Putri Balqis!" Suara itu membuat Balqis kembali membalikkan badannya ke sumber suara.
Dia segera berlari keluar dan melihat Candrakumara sudah berdiri di halaman Istana Ekantika dengan tangan membentang dan siap memeluk Balqis kapan saja. Balqis sangat senang melihat kedatangan Mahapatih sehingga senyum tak berhenti mengembang dari sudut bibirnya.
"Apa ini, Candrakumara?" tanya Balqis.
"Kekuatan cintamu, Balqis!" ucap Candrakumara.
"Selamat atas kemenanganmu."
"Dan selamat Idul Fitri untukmu."
Balqis berjalan dengan perlahan menghampiri Candrakumara dan segera menghamburkan dirinya ke dalam pelukan laki-laki itu. Candrkumara sedikit mengangkat tubuh Balqis dan berputar-putar di bawah langit biru yang cerah itu, seakan-akan alam semesta ini turut merasakan kebahagiaan mereka.
"Wajahmu bercahaya, Balqis." Candrakumara melepaskan pelukannya saat dia melihat mata Balqis yang berbinar.
"Karena kau telah kembali," ucap Balqis.
"Seperti cahaya di langit sebelum matahari terbit. Kita harus memikirkan nama untuk calon anak kita!" ucap Candrakumara karena dia tahu bahwa saat ini Balqis tengah mengandung buah hati mereka.
Mendengar itu, Balqis kembali memeluk Candrakumara dengan erat dan melampiaskan kerinduannya pada suaminya itu.
"Putri! Ada pesan untuk anda dari ibu Mahapatih," ucap Khansa yang baru saja sampai di depan pintu bersama seorang pengawal.
Balqis langsung melepaskan pelukannya dan menatap Khansa dengan tatapan kebingungan.
"Apa itu?" tanya Candrakumara.
Sang pengawal kemudian membacakan isi surat itu. "Akan ada perayaan dalam rangka kemenangan Mahapatih. Untuk itu, Balqis diperintahkan untuk mempersembahkan tariannya--" Sang pengawal itu berhenti membacanya saat melihat isyarat dari tangan Candrakumara untuk berhenti. Dia sangat murka mengetahui ibunya sedang berusaha mempermalukan istri keduanya.
Di sisi lain, para Brahmana itu sedang membacakan doa-doa dan pujian-pujian kepada Dewa. Salah satu pemimpin dari Brahmana itu memberitahukan ketidaknyamanannya karena Candrakumara tidak ada disana.
"Nyonya, makanan sudah disajikan dan para Brahmana sedang menunggu. Mengapa Mahapatih belum datang juga?" tanya Indra Bhatt.
"Dia sedang di perjalanan, silahkan dimulai perayaannya," ucap Arimbi.
"Tapi bagaimana bisa kami mulai tanpa tuan rumah?" tanya Indra Bhatt.
Tiba-tiba seorang pengawal datang kepada mereka dengan napas tersengal-sengal.
"Nyonya!" panggilnya yang membuat Arimbi dan Gasendra menoleh ke belakang.
"Apa kau sudah mengirim pesan?" tanya Arimbi.
"Ya, tapi...."
"Tapi apa?" tanya Arimbi.
"Putri Balqis tidak akan lagi tampil sebagai penari Istana," ucap pengawal itu.
"Kata siapa? Balqis?" tanya Arimbi dengan meninggikan sedikit nada bicaranya seraya berbalik menghadap sang pengawal.
"Bukan, Nyonya... Mahapatih. Dia juga bilang bahwa dia akan kembali setelah perayaan Idul Fitri. Anda tidak perlu menunggunya," ucap sang pengawal yang membuat Arimbi dan Gasendra sangat terkejut. Dan membuat Indra Bhatt sangat murka mendengarnya.
"Ya Dewa," gumam Indra Bhatt.
Arimbi berbalik lagi menghadap Indra Bhatt dan mengatakan, "Indra Bhat--" Tapi ucapannya di potong oleh Brahmana itu.
"Kami tidak bisa makan di rumah ini lagi!" ucapnya seraya menyatukan kedua tangannya dan bergegas menghampiri para Brahmana yang lain.
"Indra Bhatt, kau tidak menghormati Mahapatih dengan berbuat demikian!" ucap Gasendra.
"Dan apakah Mahapatih menghormati kita?" tanya Indra Bhatt.
Gansendra terdiam.
"Dia juga sedang beramal di mesjid. Ayo pergi!" ucap Indra Bhatt seraya meminta para Brahmana yang lain pergi dari tempat itu. Mereka semua pergi dengan perasaan yang sangat marah karena menganggap Candrakumara telah menghina mereka semua.
***
Setelah menelepon Aidan dan memberitahunya perihal Zoya, Zayn membantu gadis itu untuk duduk. Seketika suasana menjadi sangat awkward diantara mereka.
Zoya senyum-senyum sendiri dengan mata sesekali melirik ke arah Zayn, sementara laki-laki itu sangat gengsi karena sudah ketahuan bahwa dia mengkhawatirkan keadaan Zoya.
"Kamu beneran baik-baik aja, kan?" tanya Zayn.
"Zayn, kamu ngekhawatirin aku?"
Zayn mengangguk.
"Beneran?" tanya Zoya dengan senyum mengembang di bibirnya.
Zayn mengangguk lagi.
"Kenapa?"
"Itu karena kalo sesuatu yang buruk terjadi sama kamu, orang nggak dikenal, nggak punya rumah dan keluarga disini... itu bakal jadi bener-bener mengganggu," ucap Zayn.
"Zayn ngekhawatirin aku," gumam Zoya dengan senyum yang masih mengembang.
"Kenapa kamu nggak ngehindarin mobil?"
"Kamu tadi megang tangan aku karena kamu khawatir sama aku, kan?"
"Apa kamu nggak liat kalo aku lagi ngomelin kamu sekarang? Kalo nyebrang jalan tuh liat kiri kanan," ucap Zayn.
Tiba-tiba laki-laki itu merasakan seseorang menjitak kepala belakangnya.
"Kenapa lo ngomelin dia? Ini semua gara-gara lo nyuruh dia belanja!" cerocos Aidan.
Aidan kemudian mendekati Zoya dan menanyakan keadaan gadis itu.
"Kamu baik-baik aja, Zoy? Kenapa kamu bisa kecelakaan kayak gini? Aku khawatir banget waktu kesini. Tapi kenapa--" Belum sempat Aidan selesai berbicara, Zayn sudah memotong ucapannya.
"Berhenti ngomong sama dia. Dokter bilang nggak bagus kalo dia banyak ngomong," ucap Zayn.
"Lo bilang kakinya yang luka-luka, kenapa jadi dia nggak boleh banyak ngomong?" tanya Aidan.
"Nggak usah ngurusin itu, mending sekarang lo pergi dan urus registrasinya."
Aidan kemudian pergi dari rumah sakit itu dan mengurus registrasi Zoya.
***
Setelah satu malam berada di UGD, keesokan harinya Zoya dipindahkan ke ruang rawat inap untuk tindakan pengobatan lebih lanjut.
Selama berjam-jam dia menunggu seseorang datang dan membawa makanan untuknya karena perutnya sudah sangat lapar. Tak lama kemudian, seorang suster masuk untuk memeriksa keadaannya.
"Maaf, sus. Saya udah nunggu berjam-jam tapi kok nggak ada yang dateng nganter makanan, ya? Saya laper banget sekarang," ucap Zoya.
"Mbak Zoya, Mbak disuruh puasa sama dokter. Ada kemungkinan Mbak harus dioperasi, jadi Mbak harus nunggu dengan perut kosong," ucap sang suster yang bagai sambaran petir di siang bolong bagi Zoya, bagaimana caranya dia bisa hidup dan sehat jika dia tidak diberi makan?
Zoya segera menelepon Zayn untuk mengadukan semuanya pada laki-laki itu. Setelah beberapa saat, telepon itu tersambung.
"*Apa? Kenapa kamu nelpon a*ku?"
"Zayn, apa yang harus aku lakuin? Ada masalah besar." ucap Zoya.
"Apa?!"
"Aku dapet perintah buat puasa. Aku laper banget sekarang, apa yang harus aku lakuin?" tanya Zoya dengan suara memelas.
"Apa maksud kamu? Itu mungkin karena kamu harus dioperasi."
"Zayn, aku nunggu dengan perut kosong."
"Aku ngerti. Mending sekarang kamu tidur aja, itu bakal bikin kamu nggak laper lagi sekaligus mempersingkat waktu."
"Waktu aku nyoba nutup mata aku, dia lewat bolak-balik di depan mata aku."
"Apa?"
"Pizza. Karena pizza... aku nggak bisa tidur," ucap Zoya.
Tanpa mengatakan apapun, Zayn segera menutup teleponnya dan membuat Zoya yang belum selesai berbicara merasa sangat menderita.
***
Zayn datang ke rumah sakit dengan membawa satu kotak pizza untuk Zoya, dia sama sekali tidak tega saat gadis itu meneleponnya dengan suara bergetar karena kelaparan.
Zayn kemudian memberikan pizza itu pada seorang suster dan memintanya untuk memberikannya pada Zoya dengan foto bersama sebagai syarat tutup mulut.
Sedangkan Zoya yang melihat suster datang dengan membawa sekotak pizza merasa sangat gembira. Dia lantas dengan cepat membukanya lalu memakannya dengan lahap.
Di balik pintu, Zayn melihat Zoya seraya tersenyum geli. Beberapa lama kemudian dia kembali sadar dan berhenti tersenyum.
"Apa yang lo lakuin? Apa lo bahagia cuma karena ini? Kenapa lo bahagia cuma karena dia bisa makan pizza?" tanya Zayn pada dirinya sendiri seraya menepuk-nepuk wajahnya.
Tiba-tiba handphonenya berdering dan tertulis nama Zoya disana. Dengan sigap, laki-laki itu mengangkatnya.
"Sekarang apa?" tanya Zayn.
"Zayn! Aku baru aja makan makanan spesial."
"Terus? Aku sibuk, dah." Zayn mematikan teleponnya lalu pergi dari sana.
Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit, hari ini Zoya dinyatakan pulih dan diperbolehkan untuk pulang. Zayn juga sudah ada di rumah sakit untuk menjemputnya.
***
Di kantor polisi, para polisi itu masih berdiskusi tentang pembunuhan yang terjadi komplek Flamboyan, yaitu komplek tempat tinggal Zayn.
"Sejauh ini kita belum punya bukti atau petunjuk yang ditinggalkan pelaku. Nggak ada uang atau barang-barang yang hilang, mereka bilang tersangkanya adalah pacarnya yang sekarang kabur ke luar negeri, tapi jika kita lihat catatan perjalanan orang yang diduga adalah pacar korban sudah melakukan perjalanan sebelum insiden pembunuhan itu terjadi. Jika ini karena dendam, pasti sudah direncanakan. Coba liat waktu dan lokasinya. Itu terjadi di siang bolong jam 2, siapapun bisa ngeliat itu waktu lewat. Tapi kejadiannya cuma sebentar dan rapi. Pelakunya pasti adalah orang yang punya temperamen tinggi," ucap Rizal.
"Sekarang ini, banyak orang yang punya masalah dengan amarah mereka, dan pasti bakal sulit kita lacak," ucap Denis.
"Itu sangat rapi. Sangat bersih tanpa ada sidik jari ataupun jejak DNA. Ini dilakukan oleh seseorang yang selalu siap untuk pembunuhan," ucap Rizal.
"Tapi kalo tersangka berhasil lolos, kita nggak bisa apa-apa," ucap Ivan.
Tiba-tiba atasan mereka datang dan mereka semua kembali membahas masalah itu bersama-sama.
***
Bersambung...
Next up. 😉
Semangat untukmu. 😊
Salam manis dari STILL IN LOVE. 💖
Ditunggu kelanjutannya. 😉
Salam manis dari Still In Love. 😊
maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Semangat menulisnya
Salam dari LOVATY
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
hmmm...