Binar Ayudhisa Daneswara harus terpisah dengan kekasih nya Kenzie Janardana, sepasang kekasih saling mencintai itu harus menjalani LDR karena Kenzie harus mengambil S2 di luar negeri.
Binar tidak tau jika kepergian Kenzie bersama dengan sahabatnya Mozza yang diam-diam mencintai Kenzie dan selalu merasa tau tentang Kenzie kebiasaannya dan hobbynya.
Di karenakan kesibukan mereka perpisahan yang seharusnya masih bisa membuat hubungan mereka tetap terjalin akhirnya tidak pernah kontak lagi, mereka terpisah oleh jarak dan waktu.
Malam sebelum mereka berpisah Binar telah menyerahkan miliknya yang berharga ke Kenzie kekasihnya itu.
Bagaimana kisah cinta segitiga Binar-Kenzie-Mozza.. yuk ikuti ceritanya..
Salam,
ariista
🩷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Kenzie
Kenzie masih terbaring di atas kasur empuknya, Kenzie sudah mencoba menghubungi kekasihnya kembali tetapi nomornya tidak aktif. Kenzie bingung kemana kekasihnya. Apa yang sedang di lakukannya.
Sedikit banyak Kenzie terpengaruh dengan ucapan sahabatnya saat di club, apakah kekasihnya bisa hamil karena ia tidak memakai pengaman.
Shiit..
Kenzie tak tenang, sebagai laki-laki yang mencintai kekasihnya tentu saja ia akan bertanggungjawab jika kekasih tercintanya itu hamil.
Kenzie tidak bisa pulang ke tanah air baru sebulan lebih ia meninggalkan tanah air gak mungkin ia harus kembali. Jadwal kuliahnya juga tidak bisa di tinggal. Harusnya Kenzie fokus dengan kuliahnya. Tetapi karena tidak bisa menghubungi kekasihnya membuat dirinya menjadi kalut.
Sayang kamu kenapa susah sekali di hubungi, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?
Kegelisahan di hati Kenzie tidak bisa disembunyikannya. Hari ini ia ada jadwal kuliah siang. Ia agak bisa bersantai sejenak di kamarnya.
Kenzie sedang melamun di kamar. Ia mendengar bel pintunya berbunyi.
Siapa pagi-pagi sudah mengganggu lamunanku, batin Kenzie.
Dengan malas Kenzie berjalan ke pintu apartemen. Di intipnya dar lubang pintu, tampak wajah Mozza sedang menunduk menunggu pintu di buka. Kenzie membuka pintunya.
"Pagi, Ken, kusut banget, ini aku bawain sarapan, ayo kita sarapan,"
Kenzie berjalan membiarkan Mozza masuk. Mozza membawa dia box sarapan dan dua cup coffe.
Kenzie duduk di sofa sambil menengadahkan kepalanya di kepala sofa, dengan mengenakan celana pendek dan kaos oblong hitam ketampanan Kenzie tidak berkurang dengan kulit putih dan rambut model quiff haircut sudah persis oppa Korea.
Mozza mengambil piring dan minuman mineral dari dapur di bawanya ke meja dimana Kenzie duduk.
"Lo kenapa kusut gitu? Ada masalah?"
Kenzie terdiam tidak menjawab.
"Antarin gue ya habis sarapan, gue mo belikan nyokap sepatu,"
"Gue gak bisa,"
"Napa? Bukannya jadwal kuliah lo siang? Bentar aja, ya.. ya.."
Mozza meminta ke Kenzie dengan puppy eyes nya.
"Aku mandi dulu,"
"Makan dulu aja, baru juga jam berapa,"
Akhirnya mereka makan berdua. Mozza senang sekali kebersamaan dengan Kenzie tidak ada yang mengganggu, kapan pun ia mau menemui Kenzie ia tidak merasa kesulitan. Beda saat mereka di tanah air, Kenzie selalu sibuk dan susah untuk di temui.
Wajah Mozza secerah mentari pagi yang bersinar. Hatinya bermekaran dengan bunga-bunga berwarna warni.
Selesai makan, Kenzie beranjak dari duduknya ia menuju ke kamarnya.
Mozza menunggu di ruang tamu, ia sudah siap dengan outfit casualnya. Mozza memainkan ponselnya ia memposting foto nya yang sedang makan berdua dengan Kenzie di medsosnya dan mentag sahabatnya itu.
Mozza memberikan caption.
Senangnya breakfast berdua dengan oppa Korea..
Dalam waktu singkat banyak yang komen dengan postingannya itu.
Mozza bertambah semangat, ia menjawab semua komen dari teman-temannya.
Mozza sedang senyum-senyum sendiri di sofa, Kenzie datang menghampirinya, ia heran dengan Mozza yang senyum-senyum sendiri.
"Liat apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?"
Mozza kaget ia menatap Kenzie hanya nyengir dengan menampilkan gigi-giginya yang rapi dan putih.
"Sudah ya? Ayo kita pergi," Mozza mengambil tas nya dan beranjak dari duduknya.
Kenzie dan Mozza keluar dari unit apartemen Kenzie.
Mozza selalu menggamit lengan Kenzie. Orang yang melihat mereka pasti mengira Kenzie dan Mozza adalah sepasang kekasih.
Kenzie sebenarnya risih lengannya selalu di gamit Mozza di manapun mereka berada. Sudah diingatkan tetap juga Mozza akan kembali seperti itu. Lama-lama Kenzie bosan ia membiarkan saja lengannya di gamit sahabatnya. Hanya saja Kenzie gak tau jika gara-gara itu kekasihnya yang melihat mereka jadi salah paham.
Kenzie dan Mozza pergi mengendarai mobil mewah Kenzie.
Mozza merasa nyaman bisa berdekatan dengan sahabat rasa pacarnya itu. Mozza bener-bener ingin menikmati kesempatan berduaan dengan sahabatnya tanpa ada gangguan dari siapapun.
Kenzie sebenarnya masih galau, meskipun ia pergi dengan Mozza tetapi pikiran dan hatinya selalu untuk kekasihnya.
Aku harap kamu baik-baik sayang, aku sudah tidak mendengar kabarmu lagi sejak terakhir kita kontak sebulan yang lalu.
Kenzie menyetir sambil melamun tidak di dengarnya ocehan Mozza di sebelahnya.
Saat mereka memasuki mall besar, Kenzie tak sengaja bertabrakan dengan Gala, kakak kekasihnya.
"Maaf," ucap Kenzie.
"Never mind," jawab Gala.
Mereka saling mengangkat wajah.
"Gala,"
"Kenzie,"
Mozza yang melihat Gala mengalihkan pandangannya.
Mereka bersalaman, meski orangtua mereka bermusuhan karena bersaing di dunia bisnis tetapi sesama pengusaha muda Kenzie dan Gala tetap berteman baik. Mereka tidak ada masalah satu sama lain. Kenzie tau Gala kakaknya kekasihnya, sedangkan Gala tidak tau Kenzie adalah pacar adiknya.
"Gue ke sana dulu," ucap Gala.
"Yap, lanjutlah,"
Gala sempat melirik tangan Mozza yang menggamit lengan Kenzie. Gala mengira jika Kenzie dan Mozza berpacaran.
Kenzie dan Mozza melanjutkan jalannya mereka menuju ke outlet sepatu yang ada di mall.
Mereka seperti sepasang kekasih yang mesra. Mozza selalu saja tersenyum sumringah sedangkan Kenzie dengan wajah datarnya tak pedulikan pandangan mata orang ke mereka.
***
Di kota B di tanah air, Binar akhirnya menyetujui untuk tinggal di rumah besar milik Richard. Binar masih di rumah, ia sedang mencari lowongan pekerjaan lewat ponselnya.
Tiba-tiba saja ada notif masuk di ponselnya tentang kekasihnya. Binar membukanya medsos kekasihnya yang di tag oleh Mozza.
Binar melihat kebersamaan kekasihnya dengan wanita yang di lihatnya di bandara. Hati Binar terasa teriris perih.
Teganya kamu, Ken, mana yang katanya kamu cinta aku, katanya aku gak boleh dekat dengan laki-laki lain tapi nyatanya kamu sendiri yang dekat dengan wanita lain, kamu jahat Ken.
Airmata Binar menetes di ujung mata. Binar tidak tau yang di lakukannya di perhatikan oleh lelaki tampan yang sedang berdiri di tembok dinding.
"Kenapa lagi?" tanya Richard yang baru pulang kerja sudah seminggu Binar tinggal di rumah Richard.
Richard melihat Binar yang mencoret-coret nama-nama perusahaan di kertas.
"Kamu lagi apa? Mencari pekerjaan? Apa kamu memamg mau tinggal di kota ini? Tak pulang lagi ke kota A?" tanya Richard ia berjalan dan duduk di sofa tanpa mengganti baju kerjanya.
Binar menatap wajah Richard, mata mereka bertaut, Binar menundukkan kepalanya.
"Apa kamu mau jadi sekretarisku? Aku membutuhkan seorang sekretaris sekarang, sekretaris lama mengundurkan diri ingin pulang kampung katanya,"
"Hah?"
"Jangan kaget gitu, ini serius, di kantor ada kepala cabang tapi belum ada sekretaris pengganti, kamu gak usah lagi sibuk mencari lowongan kerja di tempat lain,"
"Pak, saya lagi hamil, tinggal di sini juga saya sementara aja pak, saya akan mencari kos-kosan aja,"
"Kenapa kalo lagi hamil? Orang hamil juga bisa kerja kan? Kamu yakin mau pindah ke kos-kosan?"
"Iya Pak, gak mungkin saya tinggal dengan Bapak jika saya jadi sekretaris Bapak, apa gak bikin heboh nantinya di kantor?"
"Siapa yang berani menggosipkan bosnya sendiri? Kalo ada tinggal aku pecat saja, mereka digaji untuk bekerja bukan untuk menggosip, lagian kenapa harus pikirkan omongan orang Miss,"
"Panggil Binar saja Pak, saya bukan guru putri Bapak lagi sekarang,"
"Baiklah, tetap lah di rumah ini, aku juga jarang berada di rumah, besok aku akan kembali ke kota A, Angel juga sudah sibuk minta daddy nya pulang,"
"Terimakasih Pak untuk semua bantuan yang Bapak berikan, saya banyak berhutang budi ke Bapak,"
"Jangan bicara seperti itu, sudah saya bilang kita ini hidup harus saling tolong menolong, kamu tak usah sungkan meminta tolong ke saya jika ada apa-apa, ya sudah saya akan ke kamar saya, nanti kita bicara lagi,"
"Baik Pak,"
Richard meninggalkan Binar seorang diri, Binar tadinya udah lupa dengan notif yang di terimanya tentang kekasihnya, ia sekarang ia mengingat lagi hatinya kembali berserdih.
Sabar ya nak, kita akan berjuang bersama, papa mu tidak tau jika kamu ada, mama akan menjagamu sayang.
Binar mengelus perutnya dengan lembut, ia mengajak bayi dalam perutnya berbicara.
emang murahan sih gituan sebelum nikah.. wajar menderita itu karma..
paling ha suka cerita ceweknya gampangan laki2nya pecundang dan cemen.. gimana bisa bertanggung jawab sama keluarga bertanggung jawab sama keputusan sendiri jg ga bisa.. jd males bacanya
maaf thor