Seorang gadis berusia 23 tahun bernama Aleta Quenby Elvina yang biasa dipanggil Vina ini memiliki jiwa kepemimpinan dan suka menolong dalam bidang kesehatan. ia seorang dokter muda yang memiliki talenta dalam ilmu kedokteran hingga ia bertemu dengan dengan orang yang sangat menyebalkan itu. mau tau selengkapnya mari simak bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon carlin_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
🌼 HAPPY READING 🌼
" jangan maksa dong " ucap Alvin masih berdiri di samping Vina
Haikal melirik jam tangan " ini sudah sangat terlambat, masuk dan berkerjalah " perintah Haikal
ceh, desis Alvin langsung berjalan memasuki pintu rumah sakit.
Haikal berada didalam satu mobil dengan Vina membuat jantungnya berdetak kencang, Haikal untuk melihat gugupnya ia memutar musik
*Ooh-la-la-la
Ooh-la-la-la
Your savage lo-lo-love
Ooh-la-la-la
Your savage lo-lo-love
Ooh-la-la-la
You could use me
Baby
Savage love
Did somebody, did somebody
Break your heart?
Lookin' like an angel
But your savage love
But when you kiss me
I know you don't give two fucks
But I still want that
Your savage love (savage love)
Your savage lo-lo-love
Your savage lo-lo-love
Girl, you could use me
'Cause I still want that, your savage love*
mobil Pajero hitam membelah kota dengan lantunan lagu membuat suara sedikit mencair
" hihi..savage love " kekeh Vina sambil geleng-geleng kepala dengan lirik lagu
" kamu sudah punya pacar? " tanya Haikal tetap fokus menyetir mobil
" tidak ada " jawab sambil bergumam lagu yang dia dengar
" tidak ada rencana gitu " ucap Haikal
" tidak! aku mau satu untuk selamanya " jawab Vina
" tipe? " ucap Haikal
" mau beli rumah om pake tanya tipe " tawa Vina membuat Haikal tersenyum melihat Vina tertawa lepas
" maap " ucap Vina sambil senyum manisnya kepada Haikal
membuat Haikal tidak fokus menyetir mobil, tapi mobil Haikal berhenti karena kemacetan. Vina merasa terpanggil langsung turun dari mobil menghampiri keramaian itu melihat ada dua orang sedang berada dibawah kolong truk, warga mengeluarkan seorang pria dari bawah truk Vina memeriksa pria itu masih setengah sadar
" tolong bantu calon istri saya " ucap pria itu sudah mulai melemah dan tak sadarkan diri
Vina langsung melihat kebawah truk seorang wanita tidak sadarkan diri, dua ambulance telah tiba di tempat kecelakaan. membawa kedua pasang itu ke rumah sakit milik Vina karena itu terdekat dengan tempat kejadian.
dua jam lima puluh enam menit Vina diruang operasi menyelamatkan nyawa korban wanita sedang Haikal korban pria, Haikal sudah tida puluh menit menunggu didepan pintu ruang operasi Vina karena tadi Haikal mendengar kalo dari semalam Vina belum makan dan tidur membuat dia khawatir dengan Vina.
lampu ruang operasi mati menandakan kalo Operasi telah selesai, tidak lama pintu terbuka Haikal melihat Vina dan Nia berjalan keluar. tapi beberapa langkah Haikal melihat cara jalan Vina aneh dan langsung mendekati.
Vina pingsan di pelukan Haikal masih menggunakan baju operasi lengkap dengan masker. Haikal membuka masker Vina mengendong Vina menuju UGD langsung memeriksa Vina. Haikal sendiri yang memasang infus di tangan kanan Vina dengan telaten. Nia yang setia menemani Vina tetap berada di samping Vina yang terbaring bukan sebagai dokter tapi pasien.
" dia kelelahan dan belum makan " ucap Haikal menghela nafas berat
" aku dengar tadi malam dia mengambil jam dokter Andi " ucap Nia
" khawatir banget sih " goda Nia sedang mengotak atik ponsel milik dengan tangan gemetar langsung menelpon Vano
" Lo telfon siapa " tanya Nia
" Om Vano " jawab Haikal
" Vano.. Gavin Elvano pemilik rumah sakit ini " teriak Nia
" pelankan suara Lo " ucap Haikal
" ngapain Lo telfon pak Elvano, buat apa, mau ngapain, gue nanya nih " tanya Nia
" masa kita biarkan anaknya sakit tanpa kasih tau orang tuanya " jawab Haikal tidak sadar apa yang dia ucapkan
" maksud Lo apa " tanya Nia heran dengan perkataan
" maksud Lo Vina ini anak pak Vano " tanya Nia sekali lagi
" bukan begitu Vin " terpotong
" Lo nggak bisa bohong kal dari gue " ucap Haikal
" gue kasih tau tapi jangan ember ya.. Vina itu anak dari om Vano dan Tante Tasya tapi dia tidak mau ada yang tau identitas aslinya jadi tolong rahasiakan ya.. kumohon " ucap Haikal sambil mengabungkan kedua tangan tanda memohon dengan wajah memelas
" iya iya, Pantasan saja dia sangat tau setiap sudut rumah sakit ini " ucap Nia
" berarti posisi Lo dikit lagi diganti dong hahaha " ucap Nia tertawa
" shut diam, siapkan ruangan VIP milik om Vano " perintah Haikal pada suster yang baru datang
Vina sudah berada di kamar inap, Vina belum sadar dari pingsannya sudah tiga puluh menit ini mungkin karena dia sangat lelah. ini sudah kantong infus kedua dan tentu Haikal masih setia menemani Vina, Nia sedang menjaga Daniel terus melanjutkan kerjaannya.
ceklek..
suara pintu terbuka Tasya masuk dengan tergesa-gesa menuju tempat tidur melihat putrinya sedang menutup mata dengan selang infus berada ditangan kanannya Vano pun melakukan hal yang sama dengan Tasya, Haikal melihat kedua orang tua dengan raut wajah mengawatirkan.
" Vina kenapa kal " tanya Vano
" Vina dari kemarin tidak makan dan ditambah dengan istirahat membuat kondisi tubuh Vina drop " jelas Haikal
" makasih kal sudah merawat Vina " ucap Tasya
" iya Tante "
' kalo rawat dan merawat Vinaseumur hidup aku bersedia kok ' batin Haikal
" Om.. Haikal permisi sebentar dulu harus ada yang diurus " pamit Haikal
Vina bangun dari siuman disambut oleh kedua orangtuanya, Vina melihat raut khawatir terbit di kedua wajah tersebut. Vina tidak habis pikir dengan tubuhnya sendiri bisa drop, ini baru pertama kali Vina pingsan makannya kedua orangtuanya begitu khawatir.
" kamu sudah bangun? mau makan? minum? " tanya Tasya
" minum aja ma " ucap Vina pelan tubuhnya sangat lemah saat ini
ceklek
sosok Haikal membuka pintu dan ikuti Brian, keduanya berjalan mendekati Vina. Vina sedang minum pun merasa terganggu melihat dua orang itu melihat. menatap tajam kedua orang itu bukannya takut Brian pun mencubit pipi adiknya itu.
" auhh! kak sakit " ucap Vina pelan tidak ada tenaga untuk melawan Brian
" kasian sakit ya.. maaf " ucap Brian sambil mengelus pipi yang tadi dia cubit
Vina merasa nyaman dielus pipinya sambil memejamkan mata, Brian dari kantor kepikiran dengan adiknya firasatnya begitu kuat walaupun mereka bukan saudara kandung tapi jiwa kakak beradik pasti ada.
" Ade mau makan " tanya Tasya
" iya ma " jawab Vina
" ayo kita makan bareng ya.. " ucap Brian
Tasya menyiapkan makan pada meja yang berada ditengah sofa yang tersedia, Haikal melihat tangan kanan vina bengkak.
" vina " panggil Haikal
" ya " ucap Vina berusaha turun dari tempat tidur dan berhasil turun dengan baik
" lepas infus mu dulu tangan kamu sudah bengkak itu " ucap Haikal menunjuk tangan Vina membuat Vina melihat arah yang ditunjukkan Haikal