Pernikahan berlatar belakang perjodohan terpaksa harus Ares dan Queen jalani meskibtidak ada cinta di antara keduanya, bahkan mereka juga sama-sama sudah memiliki kekasih masing-masing, mereka sepakat untuk menerima perjodohan yang di atur oleh orang tua mereka demi tujuan mereka masing-masing, lantas bagimana Ares dan Queen menutupi rumah rangga mereka yang penuh kepalsuan itu, dan bagaimana kisah cinta mereka dengan pasangan mereka masing-masing, jika ternyata sebuah bencana justru menumbuhkan benih-benih cinta di antara keduanya, yuk ikuti kisahnya di sini ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri duyung
"Kenapa kita ke Sulawesi Selatan, bukankah Bunaken ada di sulawesi utara?" protes Queen saat melihat papan di sepanjang perjalanan mereka.
Mereka kini berada dalam mobil jemputan dari utusan kantor cabang yang akan Ares kunjungi.
"Bukankah sejak awal tujuan keberangkatan ku untuk bekerja? Pabrik yang akan aku kunjungi berada di sini, bukan di tempat tujuan yang kau inginkan." ujar Ares cuek.
"Tapi--- kamu gak bilang sejak awal kalau tujuan mu berlainan?" sewot Queen menekuk wajahnya.
"Kau yang memaksa untuk ikut dan tidak tanya-tanya pada ku kemana tujuan ku. Jika kau ingin ke Bunaken, kau bisa kembali ke bandara dan terbang ke sana, hanya sekitar kurang dari dua jam saja kau akan sampai di sana!" kata Ares dengan santainya.
"Tenang saja nyonya, pantai di dekat pabrik kami juga tidak kalah bagus kok, nanti nyonya bisa main ke sana." ujar Basir, yang merupakan penanggung jawab pabrik yang kebetulan menjemput mereka di bandara.
"Nyonya? Dia memanggil ku nyonya?" bisik Queen di telinga Ares yang duduk di sampingnya dengan mata terbelalak.
"Terus,, kau minta di panggil apa? Baginda ratu?" kata Ares dengan entengnya membuat Queen memutar bola matanya kesal dan memilih untuk memejamkan matanya di sepanjang perjalanan darat yang rasa-rasanya tidak kunjung sampai juga.
Hati Queen sangat kesal, dia merasa tertipu dengan perjalanan bersama Ares ini, meskipun sebenarnya dalam hal ini Ares tidak salah sama sekali karena benar kata dia, sejak awal keberangkatannya itu untuk tujuan bisnis, justru yang salah dalam hal ini adalah Queen yang terlalu exited saat tahu Ares akan pergi ke Sulawesi, tanpa bertanya ke Sulawesi bagian mana Ares akan berkunjung.
Namun Queen tidak mau mengakui jika itu adalah kesalahannya, dia tetap merasa jika Ares lah satu-satunya yang bersalah dalam hal ini, karena tidak memberi tahu dirinya tentang tujuan mereka yang berbeda.
**
Entah berapa jam perjalanan yang di tempuh perjalanan darat dari Bandara menuju tempat yang sore hari baru berhasil di tuju, yang jelas bokong Queen terasa panas dan pegal akibat duduk sekian lamanya di mobil, beberapa kali Queen terbangun dan tertidur lagi karena lagi-lagi sopir mengatakan jika perjalanannya masih jauh.
Mungkin ini bisa di katakan perjalanan darat terpanjang yang pernah Queen lalui di sepanjang hidupnya.
"Waw....." pekik Queen begitu dia turun dari dari dalam mobil.
Benar apa yang dikatakan sopir tadi, pemandangan di sekitar tempat dirinya berdiri sangatlah indah, langit sore di atas laut yang bersih itu terlihat sangat indah.
Hamparan pasir putih dengan deburan ombak yang suaranya terdengar indah di telinga Queen, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk berlari menuju pantai yang terlihat sangat bersih namun sepi itu, pantai itu terasa seperti pantai milik dirinya sendiri.
"Hey,,, jangan jauh-jauh! Dasar bocil, tadi manyun sepanjang perjalanan, sekarang sudah ketawa-ketawa kegirangan." ujar Ares.
Namun Queen hanya menjulurkan lidahnya sambil berlari menuju ke tepi pantai.
"Biar saja pak, nanti saya akan suruh istri dan anak saya untuk menemani nyonya," kata penanggung jawab pabrik bernama Basir itu.
Sebagai penggila kerja, Ares yang baru saja sampai di tempat itu langsung menuju pabrik kopra yang letaknya tidak jauh dari pantai, tentu saja tujuannya hanya satu, yaitu agar pekerjaannya cepat selesai, dengan begitu dia bisa cepat pulang untuk bertemu kembali dengan kekasihnya yang baru belum sehari dia tinggalkan sudah dia rindukan itu.
Queen duduk di tepi pantai sendirian, sesekali dia memotret didinya sendiri dengan pemandangan langit yang mulai berwarna jingga, dia juga mengambil gambar dirinya dengan latar belakang matahari yang tenggelam seperti di telan laut.
Senyumnya sesekali terukir di bibirnya saat beberapa temannya me like dan mengomentari foto-foto yang dia posting di laman sosial medianya itu.
"Happy holiday bestie,, tenang aja Reza aku jaga ketat di sini biar gak macem-macem!" sebuah chat masuk dari Mega, bahkan dia mengirim foto Reza yang sedang mengikuti perkuliahan.
Mega dan Reza memang satu fakultas dan satu jurusan, mereka juga teman sejak SMU, sementara Queen memang berbeda jurusan dengan mereka yang mengambil jurusan manajeman bisnis. Queen lebih tertarik dengan jurusan psikologi meski orangtuanya berharap dia kuliah di bidang bisnis karena nantinya akan menjadi satu-satunya penerus perusahaan milik keluarga mereka.
"Nyonya, pak Ares menyuruh saya untuk menjemput anda!" ujar perempuan yang usianya sepertinya hampir sama atau bahkan mungkin sepantaran denganya itu membuyarkan konsentrasinya yang asik membalas pesan di ponselnya.
"Sebentar lagi, tunggu mataharinya benar-benar hilang," ujar Queen kembali menatap ke depan menikmati senja di pantai yang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah dia temukan, sehingga kesempatan ini termasuk langka dan mahal baginya.
"Tante suka melihat matahari bersembunyi, ya?" suara anak perempuan berusia sekitar lima tahunan yang datang bersama wanita tadi membuat Queen tersenyum saat mendengar kata bersembunyi terucap dari mulut bocah itu dengan polosnya.
"Maaf, ini anak saya," kata perempuan itu menarik tangan anaknya yang mendekat ke arah Queen.
"Tidak apa-apa, dia cantik dan lucu, siapa nama mu?" tanya Queen.
"Ilma tante," jawab bocah itu tanpa malu.
"Nama ku Queen, apa boleh Ilma memanggi ku dengan sebutan Kak Queen saja, jangan tante, rasanya itu terdengar terlalu tua," kata Queen.
Bocah itu mengangguk patuh, "Iya, kak Queen. Kakak sangat cantik seperti putri duyung yang ada di buku cerita yang ibu belikan di pasar." puji bocah itu seraya terus memperhatikan wajah Queen yang terlihat beberapa kali lebih cantik karena terkena sinar jingga dari langit.
"Coba kamu siram kakinya, apa akan berubah menjadi ekor ikan!" suara Ares tiba-tiba menyela di antara pembicaraan Queen dan bocah kecil bernama Ilma itu.
Sontak saja semua orang tertawa saat Ilma tiba-tiba menyiramkan air mineral yang sejak tadi di pegangnya ke kaki Queen.
"Maafkan anak saya Nyonya!" ujar Basir.
"Ishhh,,, kamu mengganggu saja, kenapa harus di jemput segala sih, lagi asik juga!" dengus Queen pada Ares.
"Pak Ares sepertinya sangat khawatir, untuk ikut menyusul anda ke sini, padahal saya sudah menyuruh istri saya untuk menjemput anda." terang Basir.
"Mana ada aku khawatir, aku lapar, jika kau tidak aku jemput paksa aku akan kelaparan, Santi tentu saja tidak akan berani memaksa mu untuk pulang," elak Ares.
"Santi?" Queen mengerutkan keningnya.
"Ah itu saya, nyonya!" ujar wanita yang di akui Basir sebagai istrinya itu.
Kalau Basir sepertinya Queen sudah tau namanya karena di sepanjang perjalanan tadi Ares sempat beberapa kali menyebut nama pria itu.
"Kita menginap di sini?" tanya Queen berbisik saat mereka tiba di sebuah rumah sederhana terbuat dari anyaman bambu milik keluarga basir.
"Tidak ada hotel di sekitar sini, apa kau ingin mendirikan tenda di pinggir laut? Masih untung mereka berbaik hati memberikan tempat tinggal untuk kita!" ujar Ares.
"Maaf nyonya rumah kami begini adanya," kata Basir yang merasa kalau istri bosnya kurang berkenan dengan keadan rumahnya yang jauh dari kata mewah itu.
"Tidak apa Pak Basir, kami yang seharusnya minta maaf karena merepotkan anda sekeluarga." jawab Ares.
Ares tersenyum penuh misteri ke arah Queen yang masih beradaptasi dengan suasana rumah yang bahkan ubinnya saja masih berupa plesteran semen tanpa keramik apalagi granit seperti lantai rumahnya.
"Sesekali belajar hidup sederhana! Besok-besok, tanya dulu kalau mau ikut perjalanan bisnis dengan ku, biar gak nyesel kayak sekarang ini." bisik Ares di telinga Queen dengan raut wajah yang terlihat sangat puas melihat Queen yang kebingungan.
katanya reza brandalan dan memanfaatkan quin.. lalu apa bedanya dg ares laki2.brenhsekmdan tdk bertanggungjawab.. selingkuh pula.. bukannyaembaea istei ke jalan yg benar malah menjerumuskan..
kau melaknat pelakor dan membinasakannya kayak bukan manusia
tapi kau begitu spesial kan pebinor thomas
*Thomas bisa merasakan tubuh queen
*queen sangat lembut dan pengertian dengan Thomas
*Thomas berkali merendahkan bahkan melecehkan harga diri suami queen dan queen diam saja
author ini kelakuan menjijikan lelaki yang begitu kau spesial kan di novel ini(Thomas)
*penjahat
*lelaki murahan yang nyesek sana sini
*lelaki menjijikan yang membayangkan tubuh istri orang
*lelaki menjijikan yang menjamah tubuh istri orang dengan ancaman
lelaki kayak begini yang kau spesial kan thor, miris polah pikirmu thor
pola pikir wanita dan istri jablay mereka akan kebaaperan dengan pria lain yang suka padanya, bahkan jika lelaki itu menghalalkan tubuh nya bahkan sampai menjamah tubuh, istri kayak gini tetap akan lembut pada pria itu, dan kalau wanita2 kayak gini berkarya buat novel jadi novel2 kayak gini yang sangat memuja2 pebinor, begitu lembutnya merekan memperlakukan pebinor bahkan mereka biarkan pebinor menjamah tubuh pemeran utama wanita (sudut pandang authornya)
ingat novel kalian adalah cerminan karakter kalian