Pernikahan Yang tidak diinginkan, akhirnya terjawab sudah, jalan terakhir adalah perpisahan.
Siapa sangka jika kenyataannya telah ternoda sebelum nikah dengan lelaki lain. Hancur sudah harapan suaminya ketika istrinya mengatakan hal yang jujur saat malam dimana sang suami meminta haknya.
Sungguh sangat terkejut saat Devan mengetahui kebenaran soal pengakuan istrinya telah direnggut mahkotanya, dan saat malam itu juga Liyan diceraikan.
Sungguh terluka hatinya, dan dikembalikan kepada orang tuanya.
Kedua orang tuanya murka, itu sudah pasti. Dengan tekad serta keputusan yang diambil, yakni mengasingkan putrinya jauh dari kota.
Siapa sangka, jika kenyataannya telah hamil.
Siapa dia? Lianva.
Penasaran? yuk ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai di kampung
Cukup lama dalam perjalanan menuju kampung halaman ibunya, tidak terasa sudah memasuki perkampungan. Tiba-tiba Liyan tersenyum saat teringat aksi konyolnya di masa lalu yang sudah melarikan diri dari rumah demi menghindari perjodohan.
Bayang-bayang saat bertemu Vando, membuatnya tidak sadarkan diri tawa kecilnya dapat didengar oleh supirnya.
Bahkan, Liyan teringat saat meminta Vando untuk menikahinya, namun permintaannya tertolak karena sudah mempunyai calon istri.
'Sepertinya Nona sedang bahagia, atau mungkin teringat kenangan masa lalunya, bisa saja begitu.' Batin pak supir saat mendapati anak majikannya tertawa kecil.
Sudah hampir mau sore, rupanya sudah sampai di depan rumahnya seseorang yang akan dititipkan sosok Liyan.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap pak supir setelah mematikan mesin mobilnya.
Liyan justru tidak menghiraukannya, ia celingukan melihat area di sekitar, ingatannya kembali saat baru sampai di kampung ketika melarikan diri dari rumah.
"Nona, kita sudah sampai." Pak supir mengulangi lagi kalimatnya.
Liyan sendiri baru menyadarinya.
"Sudah sampai ya, Pak."
"Ya, Nona. Kita sudah sampai." Jawab pak supir bergegas turun dan membukakan pintu untuk Liyan.
Liyan sendiri segera melepaskan sabuk pengamannya.
"Nona. Mari silakan turun." Ucap pak supir saat baru saja membuka pintu mobil.
Liyan segera turun.
Saat sudah turun dari mobil, Liyan kembali menghirup udara yang terasa berbeda dengan kota. Meski sudah sore, udara di desa tetap asri.
"Loh loh loh, tamu dari mana ini?" tanya seseorang perempuan paruh baya tengah menghampirinya.
Meski tahu siapa yang akan datang, tetap saja seperti mimpi ketika kedatangan tamu besar dari kota.
"Loh, Pak Kerto ya, kirain siapa."
"Ya ini, Rum. Aku bawa anaknya majikan, dan kamu siap melakukan tugas kamu." Jawab Pak Kerto yang baru saja mengambil koper dari dalam bagasi mobil.
"Ya udah, kita masuk dulu, istirahat. Ayo Nak, silakan masuk ke rumah Ibu. Maaf, berantakan. Soalnya Pak Kerto dadakan yang ngasih kabar sama Ibu." Ucap Ibu Arum, Liyan hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya, karena masih terasa asing.
Saat sudah masuk kedalam rumah, Liyan celingukan mengamati isi dalam ruangan.
"Silakan duduk, Nak. Maaf, keadaan Ibu seadanya." Ucap Ibu Arum mempersilakan duduk.
Liyan duduk di hadapan pemilik rumah.
"Perkenalkan, nama Ibu, Arumi. Ibu saudaranya Pak Kerto, Ibu janda punya anak satu, anak Ibu perempuan, ada keponakan juga di rumah Ibu, dia laki-laki." Ucap Ibu Arum yang langsung memperkenalkan diri.
"Bapak kakaknya Ibu Arum, Nona tidak perlu khawatir. Di rumah ini aman, Nona gak usah takut. Tapi sebelumnya, Tuan berpesan sama Bapak untuk meminta ponsel miliknya Nona, maaf." Sambung Pak Kerto dengan perasaan tidak enak hati.
Liyan yang tidak mempunyai pilihan, akhirnya mengiyakan dan mengambil ponselnya dalam tas miliknya. Kemudian, memberikannya kepada Pak Kerto. Awalnya berat dan tidak rela, tapi mau bagaimana lagi, Liyan tidak bisa membantah sama sekali.
"Ini, Pak. Ambillah, Liyan tidak membutuhkan ponsel ini." Jawab Liyan dengan terpaksa.
"Maafkan Bapak ya, Nona. Semoga betah di rumah ini, Bapak mau langsung pulang. Nanti soal izin tinggal di kampung ini, nanti Aditya dan Yena yang akan membantu kamu selama ada di kampung sini. Jaga diri Nona baik-baik, Bapak mau langsung pulang." Ucap pak Kerto.
Liyan mengangguk dan mengiyakan.
"Terima kasih banyak ya, Pak. Sudah mengantarkan Liyan dengan selamat. Untuk Bapak, hati-hati di perjalanan, semoga selamat sampai di kota." Jawab Liyan berusaha untuk tetap tegar, meski terasa sakit ketika harus berpisah.
Pak Kerto mengangguk dan pamit pulang ke kota.
namanya juga novel ya...
suami selingkuh dengan saudaramu, suami menghamili saudaramu, dan akhir kalian pisah, dan suami hidup dengan dikejar banyak ma wanita dia hidup normal saja setelah berpisah dan akhir dia menikah dengan saudaramu sedangkan author terpuruk, tapi malah author dibuat bucin yang terus berharap pada mantan suami, author dibuat mengejar dan berjuang untuk mantan suami, apakah adil jika author diperlakukan seperti itu, renungkan lah, karena jawaban author menentukan karakter author
jika author tidak masalah jika diperlakukan seperti itu, tidak masalah berati author sportif
tapi kalau author merasa tidak adil, maka itu lah yang author lakukan pada devan
kalau novel pemeran utama pria, dan pemeran wanita korban ini yang terjadi
*pemeran utama pria menyesal dan dia yang berjuang dapat kesempatan
*kalian hadirkan lelaki lain pahlawan bagi pemeran utama wanita
sekarang ini novelnya pemran utama wanita melakukan kesalahan pada pemran utama pria tapi apa yang terjadi
*tetap saja pemeran utama pria yang dibuat salah dan menyesal dan berjuang
*tetap saja dihadirkan lelaki lain jadi pahlawan, kalian tidak berani hadirkan wanita lain yang jadi pahlawan bagi devan
author coba kau bayang diposisi devan adil tidak author untuk dia
*calon istrinya selingkuh dan sesudah menikah dia tau istri hamil anak saudaranya sendiri tapi kalian buat dia seolah2 salah dan menyesal, dia yang author buat berjuang dan mengejar cinta,
adil tidak kalau author diposisi devan????
lihat dari segala sudut pandang jangan hanya melihat dari sudut pemeran utama wanita karena itu sangat membuat kalian jadi egois
sedihnya 😢