Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.
Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Rasa, atau perasaan, apa bisa dibohongi?"
Saat berkata demikian, Elena merasa kalau Anres tengah menatapnya, dilihat dari tatapan lelaki itu yang seolah mengarah padanya. Di titik ini, Elena bukan hanya merasa tidak nyaman. Tapi, denyut jantung wanita itu sudah di ambang batas normal. Ia tahu kalau ada maksud tersendiri di balik ucapan itu. Tapi, ia tak bisa memahami secara penuh apa maksud semuanya. Hanya satu yang dimengerti oleh Elena. Bahwa, lelaki di depannya itu, bukan seorang yang mudah dibohongi, meski ia sudah kehilangan penglihatannya. Bahkan, bukan tidak mungkin dengan kebenaran tentang Elea dan Elena, Anres juga sudah mengetahuinya.
Pertanyaannya sekarang, jika Anres sebenarnya tahu, kalau yang ada di depannya sekarang adalah Elena, bukan Elea istrinya, kenapa lelaki itu membiarkan sandiwara ini terus berjalan, bahkan di dalamnya, ia juga ikut ambil peran. Apa maksud Anres di balik semua ini?
Elena terpaku sendiri dengan maya pikirnya yang terus mencari-cari.
"Kau mengantarkan sarapan?"
Pertanyaan Anres membuyarkan semua pikiran yang menggelayut dalam benak wanita cantik itu. "Iya," jawabnya cepat.
"Sarapan apa?"
"Ini." Elena memerhatikan sejenak menu sarapan yang hanya berupa roti bakar dengan toping sayur, dadar telur dan irisan keju. "Aku tidak tau, apa menu sarapan kesukaanmu. Ini, disiapkan oleh mereka, katanya atas instruksi dari Edward," lanjut wanita itu. Dan Anres hanya mengangguk singkat.
"Jika, kau ingin menu yang lain, aku akan siapkan," kata Elena lagi.
"Kau akan membuatkan sarapan untukku?"
"Iya. Tapi, aku tak cukup pandai memasak. Hanya ada beberapa saja yang aku bisa," kata Elena dengan perasaan tak nyaman.
Anres diam, tapi sesaat kemudian terlihat lelaki itu menarik sudut bibirnya samar. Ia tersenyum. Elena terpaku menatapnya. Antara mengagumi senyuman indah lelaki tampan di hadapannya itu, dan juga merasa salah, karena mungkin ia telah mengatakan apa yang bukan merupakan jati diri seorang Elea.
"Ee ma'af ya, jika kau tidak berkenan. A-aku hanya ..."
"Kau berhasil menyenangkan hatiku dengan ucapanmu itu, Elea."
"Ohh." Elena langsung memahami sesuatu dari ucapan Anres itu. Bahwa mungkin selama ini, Elea sudah tidak pernah membuatkan Anres sarapan, padahal dulu, hal itu rutin ia lakukan. Di titik ini wanita itu juga merasa senang. Karena ternyata ide yang datang secara spontan, membuat Anres memberikan senyuman. Ya, meskipun wajah lelaki itu tak mengarah pada Elena saat senyuman indah itu terbit di kedua bibirnya.
"Baiklah. Aku akan buat sarapan untukmu." Dengan penuh semangat, Elena memutar tumitnya hendak berlalu. Namun, hanya satu tapak saja ia kembali berbalik arah. "Kau mau aku buatkan sarapan apa?" tanyanya pada Anres yang tegap tak beranjak dari posisi semula.
"Terserah kau saja, Elea. Kau tau apa kesukaanku."
Masalah kedua datang. Elena akan membuatkan sarapan sesuai dengan selera Anres. Sedangkan wanita itu tidak tahu, apa menu kesukaan suami Elea tersebut.
"Ee baiklah."
Elena meneruskan langkah untuk keluar dari kamar, seraya membawa kebingungan yang kini mulai menyerang. Sembari melangkah, otaknya terus bekerja keras menimbang-nimbang kiranya menu apa yang akan ia buatkan. Yang bisa disajikan dengan cepat, punya cita rasa lezat, dan tentu saja yang sesuai dengan lidah Anres.
"Nyonya Elea." Panggilan dari Ranti menghentikan langkah Elena yang gontai.
"Aku akan membuatkan sarapan untuk Anres," tutur Elena saat Ranti telah berdiri di depannya.
"Tuan Anres tidak suka dengan sarapannya? Maaf, Nyonya. Itu saya hanya mengikuti perintah mas Edward." Ranti terlihat tidak nyaman. Karena memang ia yang telah menyiapkan sarapan.
"Tidak apa-apa,Ranti. Kira-kira Anres suka sarapan apa ya?"
"Kurang tahu pasti, Nyonya. Selama ini hanya mas Edward yang menyiapkan segala keperluan tuan."
Elena diam berpikir. Itu berarti Anres sangat percaya pada Edward. Tapi kenapa orang kepercayaannya tersebut justru menghadirkan Elea palsu untuk Anres.
Ah. Elena menggeleng sendiri. Perkara menu sarapan saja masih belum selesai, pikirannya sudah diserang dengan pertanyaan lain yang tak kalah penting.
"Aku akan ke dapur," putusnya segera dan kembali teruskan langkah.
"Nyonya, kau mau ke dapur?" Ranti masih bertanya, padahal Elena sudah jelas mengatakannya barusan.
"Iya."
"Mas Edward bilang, Nyonya Elea hanya lupa beberapa hal kecil. Ternyata, kau juga lupa dimana letak dapur di rumah ini."
Ucapan Ranti itu membuat langkah Elena seketika berhenti.
Masalah ketiga datang. Dia tidak tahu di mana letak dapur dalam rumah keluarga besar Tanujaya. Sedangkan masalah kedua saja belum terpecahkan. Rasanya Elena ingin memukul kepalanya sekarang.
"Itu, arah yang ke taman belakang, Nyonya. Dapurnya ada di sebelah sana. Mari saya antarkan."
🥀🥀🥀
"Bagaimana?" Akhirnya Elena memberanikan diri untuk bertanya, setelah sekian menit ia hanya duduk dengan rasa gelisah, sembari menemani Anres yang menikmati sarapannya.
Elena ingin tahu apa tanggapan pria itu terkait sarapan yang ia buatkan.
"Enak," jawab Anres singkat seraya kembali menyuapkan potongan wafle dengan saus strawberry yang dibuatkan Elena sebagai menu sarapannya pagi ini. Wafle, bila digolongkan dalam menu sarapan kontinental--ala menu sarapan hotel bintang lima--wafle termasuk bagian dessertnya, atau sajian penutup. Sedangkan appatizernya, atau menu utama, adalah salah satunya berupa roti yang merupakan hidangan sarapan Anres yang pertama. Tapi, lelaki itu memilih menyantap wafle nya langsung, dan mengabaikan roti bakar dengan toping menarik yang sudah disiapkan sebelumnya.
Hal ini karena ia sengaja ingin menghargai jerih payah Elena yang membuatkan sarapan untuknya secara langsung, atau karena ia memang lebih suka dengan hidangan itu. Hal itu Elena belum tahu pasti, karena pada saat ditanya, lelaki tersebut malah hanya memberi jawaban singkat, yang membuat Elena diam-diam menahan napas.
"Seperti biasa, Elea. Kau selalu tau seleraku," tambah Anres dalam sebentuk kalimat pujian.
Ucapan yang membuat Elena terdongak dan langsung tersenyum, setelah sebelumnya wajah cantik itu tertunduk lesu. "Benarkah?" Bahkan Elena masih ingin mendengar ucapan pria itu sekali lagi.
"Iya," sahut Anres singkat. Elena kian merasa senang, tapi hanya sesaat. Karena ia tahu kalimat itu untuk Elea, bukan untuk dirinya. Dan kemungkinanya lagi, Anres hanya sedang menyelami perannya juga sebagaimana Elena saat ini, yang sebenarnya ia kurang suka dengan menu sarapannya. Karena tak terlihat lelaki itu begitu menikmati hidangan tersebut. Tapi, ini hanya menurut dugaan Elena saja.
Ah. Kenapa tidak pernah ada kata tenang dalam sebuah kebohongan. Setiap saat hanya kecurigaan yang bersemayam.
Anres sudah menuntaskan sarapannya, dan sudah meminum obatnya seperti biasa. Elena berinisiatif hendak menyingkirkan bekas sarapan itu ketika Anres berkata, "Aku senang kau telah kembali."
"Oh." Kalimat singkat, namun cukup membuat semua gerakan Elena berhenti. Bahkan termasuk dengan denyut jantungnya, yang seakan ikut berkompromi, membuat wanita itu harus menarik napasnya berkali-kali.
"Kau masih di sana?" tanya Anres, karena sekian detik Elena berpaku dalam sunyi setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Anres barusan.
"I-iya Anres aku masih di sini."
"Kenapa hanya diam saja?"
"Mm aku ... Anres jika kau suka dengan sarapan yang aku buatkan, aku akan membuatkan sarapan untukmu setiap pagi," kata Elena segera mengubah topik pembicaraan.
"Bukankah dulu kau memang selalu melakukan itu?" tukas Anres yang membuat Elena terhenyak.
"Iya, Maaf. Karena aku sudah lama melalaikan kebiasaan itu. Maafkan aku."
Elena bahkan sedikit menundukkan wajahnya dengan perasaan yang tak nyaman.
"Terima kasih Elea. Kau membuatku merasa senang." Terlihat Anres memberikan senyuman. Senyuman kedua yang dilihat Elena pagi ini. Senyuman yang lebih jelas dan lebih indah, yang menghadirkan debaran tak menentu dalam dada Elena yang melihatnya. "Apa ini?" rutuk wanita itu dalam hati. Sebelum aktivitas jantungnya semakin tak terkendali, Elena harus buru-buru pergi. Namun, lagi-lagi ucapan Anres menahan ayunan langkah kaki.
"Aku mau minta bantuanmu, Elea."
"Ah iya. Apa?"
Anres tak langsung menjawab. Ia lalu meraih sebuah Ipad dari atas nakas. "Aku ingin memeriksa ini," ujarnya.
Elena segera mendekati. "Jadi, apa yang bisa aku bantu?"
"Ini menggunakan layar kunci. Tolong kau buka kuncinya." Anres mengangsurkan benda pipih yang berlogo buah tak utuh tersebut pada Elena.
Wanita itu menerimanya dan segera duduk tak jauh di samping Anres.
"Baik, aku buka layarnya. Apa kuncinya?"
Anres tak segera menjawab. Mungkin lelaki itu masih sedang mengingat-ingat. Hingga Elena menoleh ke arahnya.
"Anres?"
"Tanggal lahirmu."
"Apa?" Elena masih gagal paham saat mendengarnya.
"Kuncinya, nama dan tanggal lahirmu Elea."
"Oh iya." Elena mengangguk paham. Dalam hati ia mengakui keterangan Edward, kalau Anres sangat mencintai Elea. Wanita cantik itu pun segera mengetik nama istri Anres tersebut. Tapi, kemudian gerakan tangannya berhenti, saat ia menyadari kalau ia tidak tahu kapan tanggal lahir Elea.
Masalah yang kesekian.
"Sudah Elea?" tanya Anres beberapa jenak kemudian.
"Belum," sahut Elena dengan sedikit gugup.
"Apa kuncinya tidak bisa dipakai?"
"Entahlah," jawab Elena dengan suara yang hampir tenggelam.
"Aku tidak pernah merubah kata kuncinya."
"Mm bukan begitu, Anres. Aku ..."
🥀🥀🥀
Hallo kakak yang baik, Maaf ya. Elena baru bisa hadir lagi sekarang, beberapa hari terakhir, saya lagi kurang sehat, jadi gak bisa update. Maaf banget..
Oh ya, mohon dukungannya terus untuk cerita ini ya..love u all
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
semangat ya...