Hawwa Ananda Putri Abizar (Hawwa) Gadis yang baru duduk di Kelas 12 memaksa menikahi Sepupu nya, Juliandra Adam Elvano.(Adam) CEO perusahaan minyak terbesar di negara nya, Meski mendapatkan banyak pertentangan, dengan segala cara akhirnya Adam menyetujui untuk menikahi nya namun hanya sebatas Istri sirri nya saja, karena ada Cinta yang lain di hati Adam.
"Aku selalu berharap bisa menjadi bunga dalam genggaman mu, yang bisa kau petik lalu kau sunting, meski aku sadari ada bunga yang lain dalam dekapanmu, walau aku tahu suatu saat aku akan tercampakkan begitu saja seperti cermin retak yang tak berharga," Hawwa.
"Hadirmu selalu ku hindari, Cintamu tak pernah ingin kumiliki, namun kepergianmu membuatku menyadari Ada ikrar suci yang tak bisa aku ingkari," Adam.
"Ya Allah, jika dia benar-benar untuk ku, dekatkan hatinya dengan hatiku, jika dia bukan milikku damai kan aku dengan ketentuanmu," Hawwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chacha shyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi penyelamatan Cinta.
Mendengar Kata-kata Adam yang mengatakan diri nya adalah pembawa sial, membuat Hawwa menjadi sangat kecewa, bahkan kini matanya sedang berkaca-kaca dengan kedua tangan yang mengepal.
''Aku akan buktikan padamu jika anggapanmu itu salah, aku bukanlah seperti yang kau ucapkan tadi'' geramnya namun tetap mencoba menahan ledakan amarah dalam hatinya.
Mendengar apa yang di katakan Hawwa, Adam yang tengah berjalan melewati Hawwa kini menjeda langkahnya.
''Oh ya! dengan apa kau akan membuktikan bahwa kau bukanlah seperti yang aku ucapkan dan sangka kan?'' ujarnya dengan tersenyum mengejek.
"Mari kita menikah." Tantang Hawwa, membuat Adam membulatkan matanya terkejut.
"Apa…! Apa kau sudah gila? kau itu masih di bawah umur, kau juga masih sekolah, dan apa kata Orang-orang jika aku menikahi adik sepupuku yang aneh seperti dirimu?" tolak Adam sedikit mencemooh.
"Jadi benarkan kau takut untuk menikah denganku?" Hawwa menatap Adam begitu dalam.
"Aku tahu saat ini kau takut, untuk itu kau sangat menolakku iyakan kakak? Aku sudah sangat tahu sebenarnya kau sama sekali tidak takut untuk menikahiku hanya saja kau takut untuk untuk membuktikan jika Aku bukanlah pembawa sial untuk mu." Timpal Hawwa kembali membuat Adam semakin tidak suka dengan apa yang di ucapkan gadis yang berstatus sebagai adik sepupunya itu.
"Kau benar-benar membuat kesabaranku habis Hawwa, Aku jadi curiga jika kau bukanlah gadis yang seperti aku sangkakan selama ini, kau hanyalah seorang wanita murahan!" tekannya lagi.
Plak.
Satu tamparan keras mendarat tepat mengenai wajah Adam.
"Tega kau menuduhku seperti itu kak, kau jahat! Aku membencimu!" sergah Hawwa menahan tangis ia pun berlari meninggalkan Adam yang masih di kejutkan dengan sikap dan sifat Hawwa yang begitu sensitif Dan juga posesif, sedangkan Adam hanya menatap kepergiannya tanpa ingin mencegahnya sama sekali.
Malam.
"Bagaimana Adam apa kau sudah mendapatkan kabar tentang Hawwa? dimana anak itu sekarang?"
"Haaah…" untuk kesekian kalinya Adam menarik napas dalam-dalam saat pertanyaan yang sama di lontarkan sang bunda, dan untuk sekalian kalinya ia akan menjelaskan di mana posisi Hawwa saat ini.
"Bunda, Hawwa berada di rumahnya Oma, kan Adam sudah menjelaskannya dari tadi, kalau Hawwa akan bermalam di sana." Jawab Adam merasa sedikit kesal, karena sang Bunda selalu memikirkan Hawwa, Hawwa, dan Hawwa.
"Bagaimana dengan Amar Bun?" tanya Adam mengalihkan pembicaraan.
"Amar tadi pamit karena ada urusan." Ucap sang bunda.
Sementara itu Hawwa yang duduk merenung di kejutkan oleh pelukan seseorang dari Belakang.
"Cucunya Oma, kau sedang apa disini?" tanya sang oma mengurai pelukannya.
"Tidak ada Oma, Hawwa hanya rindu Papa dan Mama saja, bohongnya padahal ia sangat merindukan Adam.
"Kau ini aneh ya, kalau rindu kenapa tidak di telpon?" ujar Bu Hesti pada cucunya itu.
"Su-sudah om-Oma," ucap Hawwa tergagap.
"Sudah berapa kali Oma katakan kalau kau tidak perlu berbohong, Oma tahu kamu Hawwa jadi kau tidak usah berbohong lagi pada Oma tentang apa yang kau fikirkan saat ini." Tegur sang Oma, membuat Hanya menyesal karena telah berbohong, oma sendiri tahu betul cucunya jika berbohong maka Dia akan gagap.
"Oma... Aku ingin menikah dengan Kak Adam" ucap Hawwa terpaksa jujur, sambil menunduk malu.
"Apa…? apa kau sadar dengan apa yang kau katakan ini?" kejut Bu Hesti, sedikit tak percaya dengan kejujuran cucunya itu.
"Oma Hawwa serius, dan tujuan Hawwa pindah kemari hanya ingin dekat dengannya karena Hawwa punya firasat yang tidak baik selama ini tentang Kak Adam, Hawwa melihat Ada seorang wanita yang akan menghancurkan kak Adam, dan Hawwa melihat ini dalam mimpi Hawwa Oma, dan itu sudah terjadi berkali-kali." Terang Hawwa lagi.
Ya! di balik ia sangat mencintai Adam sebenarnya Hawwa juga ingin menyelamatkan Adam, sebenarnya Hawwa sudah berulang kali ingin melupakan mimpi buruknya itu. Mimpi buruk yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, dan itu terjadi di saat ia jatuh pingsan setelah menolong seorang lelaki yang tenggelam di kolam renang.
"Hawwa jika kau ingin menikah dengan Adam tentu Papa dan Mamamu akan menentang, karena kamu tahu sendiri, di usiamu ini masih rentan dengan segala percekcokan, dan Oma tidak mau kau dan Adam akan bercerai pada akhirnya jika di antara kalian tidak ada kecocokan, tapi Oma punya ide bagaimana kalau kau bertanya pada Papamu dulu" ucap sang Oma memberikan nasehat, dan saran pada akhirnya.
"Terima kasih Oma karena sudah memberikan saran untuk Hawwa, dan Hawwa akan berjanji jika Hawwa berpisah dengan Kak Adam, tidak akan pernah terjadi kebencian di antara kami, yang penting Hawwa minta dukungan dari Oma dulu, dan Oma harus merahasiakan ini semua, karena misi ini akan Hawwa beri nama misi penyelamatan cinta, dan Oma jangan khawatir Aku tetap akan sekolah dan belajar," ucapnya kembali berusaha meyakinkan.
"Baiklah, terserah kau saja," ucap Oma, karena ia sadar cucunya yang satu ini sangat keras Kepala dan tidak mudah di tundukkan, namun walaupun seperti itu ia juga punya kelemahan jika ia akan selalu tergagap di saat ia berbohong, Namun Adam dan yang lainnya tidak ada yang tahu, yang tahu hanya kedua orang tuanya Daniel dan juga Oma.
Sekarang masuklah tidur, besok kau harus bangun pagi untuk kesekolah, biarkan Oma yang berbicara tentang keinginanmu pada papa dan mama mu," ucap Oma lagi, Hawwa pun mengangguk sambil tersenyum bahagia di saat ia mendapatkan sebuah dukungan dari sang Oma.
Tin…tin…tin…
Suara klakson mobil sport mewah yang terparkir di halaman rumah sang Oma kini mengejutkan langkah nya kaki gadis yang baru saja keluar dari dalam rumah oma. Dan Hawwa tahu siapa yang berada di dalam mobil tersebut.
Tidak lain dan tiada bukan pasti ada Adam. Dan benar saja lelaki itu membuka pintu mobil lalu turun dengan tatapan tajam yang menghujam jantung, ia melangkah dengan begitu Angkuhnya mendekat lalu tanpa banyak tanya atau sepatah kata pun ia menarik pegelangan tangan Hawwa begitu kencangnya hingga membuat gadis itu sedikit meringis, namun Dia tidak mau peduli karena hari ini ia begitu dongkol di saat sang Bunda Lagi-lagi menyuruh menjemput Hawwa yang bermalam di rumah sang Oma.
"Kak sakit…!" pekik Hawwa di saat tubuhnya di dorong masuk ke dalam mobil.
"Diam kau! kenapa kau suka sekali membuat masalah denganku? apa ini yang ingin kau buktikan padaku, kau mengatakan tidak akan membuatku dalam kesialan, lalu apa ini? pagi-pagi Bunda menyuruhku untuk menjemputmu padahal hari ini Alexa memintaku bertemu, dan dia berjanji akan memaafkanku jika Aku datang menjemputnya tepat waktu. Tapi kau? Lagi-lagi mengacaukan semuanya" sentaknya panjang kali lebar.
"Ya sudah, turunkan aku! Aku akan meminta Kak Daniel untuk menjemputku, Aku tidak mau di jemput dengan orang yang tidak ihklas!" timpal Hawwa dengan sedikit menggebu.
Mendengar Hawwa menyebut nama Daniel, entah mengapa Emosi Adam kembali memuncak, wajah yang semula datar kini seperti menampakkan Aura membunuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
ada setangkai mawar utk mu