CINTA TIDAK HARUS MEMILIKI?
‘KARENA TIDAK SEMUA CINTA,SEJATI.’
Bugh
Bugh
Bugh
“Gue bersumpah,seujung kuku pun elo nggak akan pernah menemukan keberadaan Kanaya.”Teriakku tepat didepan wajahnya.Lalu kutinggalkan dia begitu saja.
Sejak saat hari itu,aku memutuskan untuk tidak tinggal bersama keluargaku.
Ya,memang itu yang aku alami.Bahkan lebih rumit dari yang sekadar orang lain pikirkan.
• Agra Atthafarizt Herdinata
• Agam Rayyan Atthafarizt
• Kirana Andrea Hilaya
• Kanaya Eisya Putra
Kuy baca ceritanya
Ini kisah Agra,Agam,Kanaya dan Kirana ya.Yang nanti bakal berlanjut keanak-anak mereka...
MAU MEREVISI DULU DAN MAAF JIKA NANTI TIDAK SINKRON DENGAN 'DARI SAHABAT KEAKAD' TERLALU LAMA HIARUS MEMBUTA DAKU LUPA ALUR TEPATNYA😂😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UTiik KriStiantii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alexandra Adara Rawnie
Alexandra Adara Rawnie. Putri tunggal tuan Alex Rawnie. Dialah anak perempuan Alex yang Alex maksud akan membantu Agra dalam proses perintisan perusahaan nantinya. Adara pula yang akan mengawasi Agra dan Enggar selama proses pemantauan kinerja keduanya nantinya.
Usianya kini memasuki ke25 tahun. Single, cantik, pintar, mapan mampu membuat banyak rekan bisnis Alex Rawnie tertarik pada sosok Adara. Hanya saja Adara tidak tertarik dengan mereka semua. Adara masih ingin melebarkan kemampuannya dalam dunia bisnis.
Sebenarnya Alex memiliki maksud terselubung untuk Adara dan Agra. Ia ingin agar keduanya bisa lebih dekat dan syukur-syukur bisa saling jatuh cinta lalu akhirnya menikah. Sejak awal Alex sudah dapat melihat kemampuan dari Agra. Hanya saja karena belum diasah sehingga belum terlalu terlihat.
Melihat bagaimana Agra mempresentasikan proposal yang ia ajukan. Alex seketika tertarik dengan sosok Agra. Hanya saja ia sengaja menguji sejauh mana kemampuan Agra.
Dan terbukti. Agra bukanlah orang sembarangan. Ia mempunyai kemampuan yang luar biasa.
Kemampuan yang akan membawa suatu perusahaan menjadi sukses dan maju dalam waktu yang cepat.
Dan hari ini, Agra juga Enggar akan mulai bekerja di perusahaan cabang dari Rawnie corporation.
Hari pertama, keduanya memilih untuk berangkat lebih awal. Tidak mau membuat kesan buruk sudah terlambat di hari pertama kerja, mereka akhirnya sampai lebih awal. Saat kantor masih dalam suasana sepi. Sebab baru satpam kantor saja yang terlihat sudah tiba.
Di depan gedung perkantoran Rawnie corporation. Bersama Enggar ia memandangi sejenak gedung itu. Megah dan besar. Hanya itu yang mampu keduanya ucapkan saat melihat gedung itu. Gedyng yang keseluruhan lantainya dipergunakan untuk pergerakan kemajuan perusahaan Rawnie corp. Karena memang hanya kantor cabang, sehingga gedungnya tidak sebesar gedung pusat.
Cukup lama kedua anak manusia itu harus menunggu di lobi kantor karena resepsionis belum datang. Maklum masih pukuL 07.15, sedangkan jam kerja dimulai pukul 08.00.
Setelah nyaris bosan menunggu, akhirnya bagian resepsionis sudah datang. Dua perempuan cantik berdiri di belakang meja kerja mereka. Tersenyum ramah pada setiap tamu yang datang.
“Permisi mbak. Saya Agra. Kemarin tuan Alex sudah membuatkan janji untuk bertemu saya dengan nona Adara.” Ucap Agra sopan. Wilayah baru, lingkungan baru ia harus bisa bersikap sesuai pada tempatnya.
Kedua resepsionis itu memandang Agra dari bawah hingga ke atas dengan tatapan kagum. Sedangkan yang ditatap memasang wajah datar.
“Mbak.” Ucap Enggar sambil melambaikan tangannya di depan mata kedua resepsionis itu.
Resepsionis tersebut tergagap. Mereka segera menghubungi bosnya apakah benar adanya yang dikatakan Agra.
“Ruangan nona Adara berada dilantai paling atas. Silakan menggunakan lift sebelah kanan!” Jelas resepsionis tersebut sambil menunjuk arah lift. Sedikit malu karena ketahuan mengagumi ketampanan seseorang secara langsung. Bahkan sampai melamun.
Agra dan Enggar mengangguk. Keduanya melangkah menuju ruangan Adara.
Di lift itu hanya ada Agra dan Enggar. Lift bahkan langsung menuju lantai paling atas tanpa berhenti pada setiap lantai.
“Ck. Besok-besok Gra itu muka jelekin dikit!” Ujar Enggar pada Agra.
“Ck. Hampir semua orang selalu terpesona sama ketampanan gue yang menurun dari papa, tapi kenapa Kanaya lempeng aja ya Nggar? Heran loh gue tuh.” Heran Agra.
“Sama herannya gue ke elo. Sudah tahu pacar Abang sendiri masih aja cinta. Emang sih cinta itu buta, tapi butanya elo kelewat akut.” Sindir Enggar. Agra menatap sinis ke arah Enggar, sejak awal Enggar memang kurang setuju jika Agra tetap memperjuangkan perasannya pada Kanaya yang notabenenya sudah memiliki kekasih.
Ting
Lift berbunyi. Itu artinya mereka sudah sampai di lantai tempat ruangan Adara berada.
“Percuma cerita ke elo. Kagak bakal nemu jawaban.” Desis Agra kesal.
Enggar mengedikkan baju tidak terlalu peduli dengan kekesalan Agra.
Di ujung lantai terdapat tulisan 'Ruangan Direktur'. Dan di depan ruangan terdapat sebuah bilik lengkap dengan satu set meja kerja. Sepertinya meja sekretaris Adara.
Agra menanyakan perihal keberadaan Adara pada sekretaris Adara. Dan setelah mendapatkan jawaban perihal keberadaan Adara, mereka saling membungkukkan badan memberikan hormat.
Tok tok tok
“Masuk!” suara bariton seorang perempuan terdengar menggema sampai di luar ruangan. Suaranya terdengar lembut namun tidak lepas dari kesan tegas.
Agra dan Enggar segera masuk. Ruangan dengan luas yang besar, dicat dengan warna cream yang merupakan warna kesukaan pemilik ruangan.
Desain interior yang sangat indah. Siapapun yang melihat, walau sekilas pasti tahu jika ini adalah hasil karya tangan yang luar biasa.
Agra jadi teringat akan keinginannya untuk kuliah jurusan desain. Hanya saja ia ubah demi mendalami ilmunya dibidang bisnis.
Semua tertata rapi sesuai pada tempatnya.
Dan tak jauh dari mereka berdiri saat ini, terlihat seorang perempuan cantik yang sedang duduk dengan sangat elegan. Kepalanya menunduk mengamati berkas yang berada di atas meja.
Rambutnya berwarna kecoklatan dan bergelombang. Tergerai indah hingga di atas punggungnya. Kulitnya yang putih terlihat jelas jika ia menuruni darah orang luar.
Ia masih terfokus pada berkas di depannya. Seperti tidak peduli dengan keberadaan Agra dan Enggar.
Melihat Adara, Enggar bahkan sampai membuka mulutnya karena terkagum dengan kecantikan Adara.
Gadis keturuanan Thailand asli. Ibunya orang Thailand, sedangkan papanya orang Indonesia tetapi juga campuran orang Thailand.
Tubuhnya ramping. Tingginya juga proposional. Cara berpakaiannya sangat modis. Make up yang ia gunakan juga seperlunya saja, tidak terlalu menor.
‘9.’ Gumam Agra.
“Permisi Bu.” sapa Agra.
Adara langsung mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.
Sekilas bila dilihat dari wajahnya ia seperti bos yang galak. Dingin dan sombong. Tetapi pada nyatanya tidak.
Adara tersenyum manis pada Agra dan Enggar. Kecantikannya membuatnya terlihat tidak cocok dengan usianya. Baik Agra maupun Enggar sempat berpikir jika Adara akan bersikap ketus dan sombong pada mereka, tetapi ternyata tidak. Adara tetap bersikap ramah pada keduanya.
“Silahkan duduk!” Perintah Adara. Agra dan Enggar menuruti. Mereka duduk di sofa yang sudah tersedia di ruangan itu.
Adara sendiri segera berdiri, dan berjalan dengan anggun menuju sofa yang sama dengan Agra dan Enggar.
“Kalian dua pemuda yang kemarin papa ceritakan?” Agra dan Enggar kompak mengangguk. “Dari profil kalian, kalian masih bocah ya? Belum ada 20 tahun. Tapi prospek kalian sangat bagus.” Ucap Adara sambil membaca berkas-berkas tentang Agra dan Agam.
Ia juga terkekeh pelan saat mengatakan jika dua orang itu masih bocah. Terkesan sedikit galak dan meremehkan.
“Tetapi meskipun kami masih bocah kadang bahkan masih ingusan, kami niat bekerja dengan baik bu.” Sahut Agra.
‘Bu? Yang benar saja gue dipanggil Bu?’ gumam Adara dalam hati.
“Iya saya percaya. Kalau kalian tidak memiliki bakat, tidak akan papa percaya pada bocah kemarin sore seperti kalian.
Maaf nih ya, bukan maksud merendahkan atau meremehkan, sebab saya sangat tahu bagaimana papa saya itu. Jika tidak berpotensi, beliau juga tidak akan memberikan kesempatan. Paham kan maksud saya?” tanya Adara. Agra dan Enggar mengangguk.
“Selamat bergabung dengan perusahaan ini.” Ucap Adara sambil mengulurkan tangannya setelah cukup lam saling diam.
Agra langsung membalas uluran tangan Adara dan tak lupa juga tersenyum manis.
Deg
Deg
Deg
Jantung Adara langsung berdetak lebih cepat saat bersalaman dengan Agra.
Ini tidak seperti biasanya. Biasanya juga tidak seperti ini.
‘Tidak bagus buat kesehatan jantung ternyata salaman sama doi. Jantung oh jantung ada apa denganmu? Kenap tumben-tumbenan kek gini.'Ucap Adara dalam hati. Ia pun segera melepaskan jabatan tangan itu.
Enggar juga ikut bersalaman dengan Adara.
Agra dapat melihat pancaran rasa suka dari mata Enggar. Sudah lama ia berteman dengan Enggar, dan ini kedua kalinya ia melihat pancaran mata Enggar yang menunjukkan rasa suka pada wanita. Setelah dulu saat SMA Enggar pernah sekali jatuh cinta pada seorang teman sekolah mereka.
“Kalian saya tempatkan disalah satu divisi dulu ya?” Ucap Adara.
“Saya ingin melihat kinerja kalian terlebih dahulu dalam satu bulan ini.Jika bagus akan saya pindahkan kebagian yang sesuai dengan kemampuan kalian.”Jelas Adara lagi.
“Meskipun kalian rekomendasi dari papa, tapi saya akan tetap melihat usaha kalian dari bawah. 6 bulan kan masa percobaan?”
“Iya Bu.” Jawab keduanya bersamaan.
“Harus kalian ketahui, selama 6 bulan itu kalian juga harus mulia mengerjakan usaha yang akan kalian rintis! Nanti di awal bisa kalian meminta bantuan para karyawan perusahaan ini, tetapi jika kantornya sudah selesai dibangun oleh papa, kalian bisa menggunakan fasilitas itu. Untuk perekrutan karyawan bisa perusahaan ini yang bantu.” Jelas Adara lagi.
Sumpah hadiah jackpot apa lagi ini dalam hidup Agra? Ia mendapatkan banyak kemudahan pada ikhtiar yang sedang ia lakukan. Semua terasa dipermudah jalannya.
“Dengan kata lain, 6 bulan itu kalian memang harus prihatin dulu! Pintar membagi waktu antara bekerja, menjalankan usaha dan kuliah. Apa kalian sanggup untuk konsisten? Seandainya tidak, katakan sejak sekarang!” ucap Adara lagi.
“Maaf Bu boleh saya minta tolong?” Ucap Agra hati-hati. Semalaman ia sudah berpikir tentang hal ini. Dan ia putuskan untuk minta bantuan pada Adara. Ia ingin mendapatkan
“Ya apa?” Tanya Adara.
“Saya ingin ssya mulai menjalankan perusahaan saya sendiri nantinya, mohon ibu Adara mau menjadi mentor saya. Saya menaruh harapan besar pada ibu.” Jelas Agra.
“Saya bisa membantu kamu. Bukan perkara mudah itu. Asal di 6 bulan selama bekerja di perusahaan ini, tunjukkan kemampuan kamu! Agar saya yakin jika kamu memang pantas memagng perusahaan yang diinvestori oleh papa.” Jawab Agra.
“Baik Bu. Baik.” jawab Agra cepat. Adara tersenyum melihat bagaimana Agra terlihat sangat senang dengan hal itu.
“Dan untuk kamu!” tunjuk Adara pada Enggar yang sedari tadi hanya diam saja.
“Kamu kenapa diam saja? Saya tidak akan menggigit kamu kalau kamu berbicara.” Canda Adara. Enggar yang hampir saja ketakutan seketika bernapas lega.
“Di luar lingkup pekerjaan kita bisa seperti teman, namun di kantor tempatkan diri kalian sesuai posisi kalian. Paham?”
Agra dan Enggar kembali mengangguk kompak.
Ya, sejak hari itu keduanya resmi bergabung dengan Rawnie corp. Yang sudah tentu pastinya Agra akan semakin sibuk.
Setelah dari ruangan Adara, Agra dan Enggar di perkenalkan langsung oleh Adara pada staf bagian tempat Agra dan Enggar ditempatkan. Beruntung mereka diterima dengan baik.
udh seneng up tiap hari