Belum hadirnya seorang buah cinta di tengah-tengah keluarga kecilnya di usia pernikahannya hampir sepuluh tahun itu membuatnya bersedih.
Segala upaya dan usaha sudah mereka tempuh dan lakukan, tapi hasilnya tetap nihil hingga mereka memutuskan untuk bekerjasama dengan seorang ibu hamil yang ditinggal oleh suaminya itu yang sudah memiliki tiga orang anak untuk bekerjasama dengannya.
Akankah kehidupan rumah tangganya akan bahagia dengan kehadiran seorang bayi laki-laki yang dipersembahkan oleh mamanya dengan sukarela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Perawat segera mengamankan kedua bayi kembarnya Anna Jamilah dan memanggil Ibrahim untuk segera mengadzani kedua bayi mungil yang terlahir sempurna, montok dan tidak kekurangan apapun itu.
Ayunda shock dan semakin terpukul melihat kondisi dari wanita yang sudah di anggapnya sebagai kakaknya kandungnya sendiri, "Dokter tolong! apa yang terjadi dengan saudariku! cepat lakukan apapun untuk menyelematkan nya!" jeritnya Ayun yang seperti orang yang tidak waras saja setelah melihat Mbak Anna memejamkan matanya untuk terakhir kalinya itu.
Tangis haru serta tangisan dua orang bayi saling bersahutan mewarnai ruangan operasi itu. Tim dokter dan perawat segera membantu untuk memberikan pertolongan kepada Anna Jamilah.
Akhirnya setelah melakukan berbagai macam cara prosedur kesehatan untuk menyelamatkan nyawa Anna Jamilah, tapi semuanya sudah terlambat dan sia-sia saja. Anna menghembuskan nafas terakhirnya setelah berhasil melahirkan kedua bayi kembarnya itu.
"Tidak! Dokter lakukan apapun yang terbaik untuk Mbak Anna, berapapun biayanya akan aku bayar," mohonnya Ayunda Atifa Balqis.
"Maafkan kami Mbak Ayun, kami sudah berusaha sekuat tenaga dan semampu kami, tapi Allah SWT berkehendak lain, Ibu Anna sudah meninggal dunia," ungkapnya Dokter Aulia sepesial kandungan yang selama ini menangani kesehatannya Anna Jamilah.
Ibrahim segera memeluk tubuh istrinya itu dengan erat agar bisa lebih tenang," sayang kalau kamu seperti ini terus berarti kamu tidak ikhlas melepaskan kepergian Mbak Anna,sama saja kita menyiksa dirinya Mbak annat, ingat jangan sampai hal ini terendus hingga ke telinganya Mama Widya, jadi aku mohon padamu tolonglah bersabar jangan seperti ini terus, ini juga tidak baik untuk kesehatanmu, serahkan pada Mas yang akan mengatur semuanya dengan baik," ujarnya Ibrahim ibrani Asy'ari..
Setelah kondisi tubuhnya Ayun tenang, Ibra mengatur kamar perawatannya dengan kedua anak angkatnya itu. Semua adminitrasi kelahiran anak itu sudah diatur sedemikian rupa hingga satupun tidak akan mampu membongkar rahasia mereka.
Kecuali orang itu memiliki kemampuan yang cukup besar dibandingkan kekuasaan yang dimiliknya hal ini bisa saja terbongkar. Dokter Aulia mendatangi Ibra yang sedang mengurus jenazahnya Mbak Anna.
"Tuan Ibra kami menemukan dua orang bayi yang sudah meninggal dunia, apa kita sebaiknya memakai kedua anak itu sebagai gantinya anaknya?" Tanyanya Dokter Aulia.
"Cukup satu saja Dokter, dan tolong kuburkan dengan layak jenazahnya Mbak Anna Jamilah di desa asalnya," pintanya Ibrahim dengan raut wajahnya sendu yang juga sangat kehilangan perempuan yang begitu ikhlas menbantunya dengan sukarela mengikhlaskan kedua anak kembarnya untuknya.
Aerin,Hana dan Gun berjalan ke Ibra dengan suara tangisannya itu," Tuan Ibra kami tidak punya mama lagi, bagaimana nasib kami selanjutnya, sedangkan saya dengan adik-adik tidak tahu siapa saja keluarganya Mama," ratapnya Hana anak tertuanya Mbak Anna Jamilah.
Ibra langsung berlutut di hadapan ketiga anak kecil itu sambil satu persatu mengelus surau anak itu.
"Mulai detik ini panggil saya Papa bukan Tuan lagi, kalian tidak sendirian di dunia ini,ada saya dan Mama Ayun yang akan menjaga kalian, lupakan kenangan pahit yang pernah terjadi di dalam hidup kalian, setelah adik kecil keluar dari rumah sakit barulah kita ke makam mama kalian untuk berziarah," imbuhnya Ibra sambil memeluk tubuh ketiga anak kecil itu yang sama sekali tidak mengetahui jika kedua adiknya terlahir kembar dan selamat.
Ayun masih berat untuk melepas kepergiannya Anna Jamilah, perempuan yang sudah baik hati dan tulus menyelesaikan permasalahannya di dalam rumah tangganya yang hampir sepuluh tahun itu.
"Ya Allah… ya Robbi ampunilah segala dosa dan khilafnya Mbak Anna Jamilah, tempatkan lah dia di tempat yang terbaik dan terindah menurut Engkau Ya Allah… lapangkan lah hati dan perasaan kami agar ikhlas melepas kepergiannya untuk selama-lamanya dari sisi hidup kami," lirihnya Ayun.
Ayun menitikkan air matanya menangisi kepergian satu-satunya orang yang jujur dan dekat dengannya, karena tidak memiliki maksud,niat dan kepentingan yang terselubung.
Ayun menoel pipi dan hidungnya bayi kecil yang malang itu,"Mbak makasih banyak atas bantuannya Mbak, saya dan suamiku tidak akan pernah melupakan jasa-jasa dan kebaikanmu aku akan menjaga mereka seperti layaknya anak kandungku sendiri,anak yang terlahir bukan dari rahimku, aku janji akan hal itu, kelima anaknya Mbak adalah amanah buatku hingga akhir hayatku," cicitnya sendu dengan meneteskan air matanya.
Beberapa perawat mengurusi jenazahnya Mbak Anna dan sebagian segera membersihkan kedua tubuhnya anak bayi yang baru lahir itu. Ibra segera merangkul pinggang Istrinya itu, dengan erat.
"Sabar sayang, semua ini sudah menjadi garis tangannya Mbak Anna, do'akan saja yang terbaik untuk beliau semoga meninggal dalam keadaan husnul khotimah dan diampuni segala dosanya," Timpalnya Ibra.
sungguh mulia hati pak ibra