"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Bawang dan Boneka Santet
Napas Lavanya memburu. Dadanya naik-turun menahan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun. Rasanya ia ingin meledak saat itu juga di tengah kubikel kantor yang dingin.
"Sampai mulut gue berbusa pun, lo tetep ngeyel ya. Capek gue!" Laila mendelik jengkel. Matanya menelusuri penampilan Lavanya dari ujung kepala sampai kaki, lalu bertepuk tangan sarkastik. "Hebat. Jangan bilang Pak Singa yang nyuruh lo pakai dress pendek tanpa lengan ke kantor?"
Laila punya alasan kuat berasumsi begitu. Tadi di parkiran, ia melihat Lavanya turun dari mobil Pak Leo sambil berlari tunggang-langgang seolah habis melakukan tindakan kriminal.
Lavanya mendongak dengan tatapan lesu. Mood-nya sudah berada di titik nadir. "Apaan sih, Mbak? Kenapa dress ini terus yang jadi masalah?"
"Selalu? Hei! Lavanya yang gue kenal itu identik sama blazer dan celana panjang kaku. Bukan perempuan yang tiba-tiba pamer 'aurora' begini!" Laila mencubit paha Lavanya gemas, membuat gadis itu memekik.
"Stop, Mbak! Sakit!" Lavanya menghindar. "Ini baju hangout aku. Rencananya mau absen, tapi Bos kesayangan Mbak itu malah nge- grab aku paksa!"
"Hah?"
"Lihat! Aku cuma bawa tas kecil, nggak bawa dompet, bahkan sepatuku cuma kets, bukan heels!" seru Lavanya frustrasi.
Laila terdiam, memperhatikan rambut ekor kuda Lavanya yang kini tergerai bebas layaknya model iklan sampo. "Gue kira... lo habis 'dijajanin' Pak Leo karena udah nemenin dia semalam."
Lavanya mendengus keras. "Aku bukan perempuan murahan ya, Mbak! Pacaran aja belum pernah, apalagi... itu!"
"Pantas."
Sebuah suara dingin memotong pembicaraan mereka. Lelaki itu, Yudi, baru saja keluar dari ruangan Leo dan kini duduk di kubikelnya dengan santai. Tanpa rasa bersalah, ia menyambung, "Anak bawang kayak dia mana ada yang mau. Menyusahkan, iya. Berisik, apalagi."
Lavanya mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Maksud lo apa, Yud?!"
Laila menelan ludah. Ia terjepit di antara si bungsu tim yang sedang emosian dan si jenius paling mulut berbisa di Limocom.
Yudi tersenyum miring, menatap Lavanya melalui bingkai kacamatanya yang mengilat. "Oh, 'lo-gue'? Mana embel-embel 'aku-kamu' yang biasa lo pakai buat pencitraan jadi anak jaim?"
Lavanya berdiri, menggebrak meja pembatas kubikel mereka. Matanya memerah menahan tangis sekaligus amarah. "Berdiri lo! Biar gue gampar mulut banci lo itu!"
Tak disangka, Yudi benar-benar berdiri. Tubuhnya yang jakung menjulang, mencondongkan wajahnya hingga hanya tersisa beberapa sentimeter dari wajah Lavanya.
"Gampar. Buruan," tantang Yudi dengan suara rendah yang mengancam. "Biar gue punya alasan buat balas lo lebih dari sekadar kata-kata."
Lavanya gentar. Tatapan Yudi mengingatkannya pada boneka Chucky yang sedang mengincar nyawa korbannya. Dingin dan tak punya empati.
"Sudah! Kalian kayak anak kecil!" Laila menarik Lavanya duduk. "Yud, berhenti. Dia lagi nggak stabil."
"Ck, penakut," desis Yudi tajam. Ia melirik Lavanya dengan jijik sebelum memberikan pesan terakhir. "Bilang ke anak bawang itu, Pak Leo manggil ke ruangannya. Sekarang."
"Berhenti panggil gue anak bawang!!!" teriak Lavanya pecah. "Gue benci banget sama lo, Yud!"
"Perasaan itu timbal balik, Anak Bawang. Sekarang sana masuk, sebelum 'Tuan' lo makin murka."
🦁🦁🦁
Lavanya memasuki ruangan Leo dengan wajah yang diatur se-ramah mungkin, meski batinnya sedang meronta. Kejadian diseret paksa ke mobil pagi tadi masih membekas.
"Bapak manggil saya?"
"Duduk." Leo menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
Lavanya menurut. Namun, sesaat setelah duduk, indra penciumannya menangkap sesuatu. Bau parfum Leo... berbeda dari biasanya. Bau ini terasa seperti oase di tengah padang pasir. Begitu menenangkan, maskulin, dan entah bagaimana membuat saraf-saraf Lavanya yang tegang menjadi rileks seketika.
Tanpa sadar, Lavanya memejamkan mata dan mengembuskan napas lega yang cukup panjang.
"Jangan bilang kamu sedang membayangkan hal mesum dengan menjadikan saya objeknya."
Mata Lavanya membelalak. Leo sedang menatapnya dengan tatapan risih yang amat sangat.
"Isi kepala kamu terlalu jelas, Lavanya. Inilah alasan saya tidak suka ada perempuan di tim saya," cetus Leo tajam.
"Hah? Bapak salah paham!" Lavanya refleks menutup hidungnya, wajahnya memerah karena malu dan kesal. "Saya cuma... indra penciuman saya sensitif, Pak. Bapak ganti parfum, ya? Baunya enak."
Leo memutuskan kontak mata, seolah penjelasan Lavanya hanya angin lalu yang tak penting. Ia menyodorkan selembar kertas. "Ini surat tugasmu. Kamu berangkat ke Lombok untuk tiga hari ke depan."
Lavanya meringis. "Tapi Pak, saya—"
"Alasan kamu selalu tidak masuk akal," potong Leo telak.
Lavanya yakin, ini pasti hasil hasutan si 'Boneka Santet' Yudi. Rekan kerjanya itu pasti sengaja membuang Lavanya jauh-jauh agar tidak perlu melihat mukanya lagi.
"Lakukan tugasmu dengan benar. Buktikan kalau kamu memang pantas ada di tim saya, bukan cuma sekadar pelengkap," tambah Leo dingin.
"Baik, Pak." Lavanya mengangguk lesu. Protes pun tak ada gunanya jika Singa ini sudah mengeluarkan titah.
Namun, saat tangan Lavanya sudah menyentuh gagang pintu untuk keluar, suara Leo kembali menghentikannya.
"Di belakang kamu bilang saya bau, di depan kamu memuji parfum saya. Muka dua yang sangat nyata, huh?"
Lavanya membeku. Tangannya mengepal kuat pada gagang pintu. Ia berbalik perlahan. "Bapak bicara sama saya?"
Leo kini menatapnya dengan senyum tipis yang meremehkan. "Kamu bisa sekalian membersihkan isi kepala dan telingamu selama di Lombok nanti. Biar tidak sering salah dengar dan salah paham."
Mulut singa ini benar-benar minta disikat pakai kawat baja! batin Lavanya geram.
"Terima kasih sarannya, Pak. Selamat siang!" Lavanya keluar dan membanting pintu—sedikit saja—agar tidak diseret ke pengadilan.
Sekarang masalahnya tinggal satu: Bagaimana meyakinkan Ibunya? Ke bioskop saja dilarang, apalagi terbang ke Lombok!
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....