NovelToon NovelToon
Pernikahan Anak SMA

Pernikahan Anak SMA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:29.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asni J Kasim

Nina Verra Gandi, akibat cinta monyetnya–dia berulang kali hampir di lecehkan. Hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan Nina dengan sahabatnya sendiri, Rifki Yohanes, namanya. Seiring berjalannya waktu, Nina jatuh cinta pada sahabatnya itu. Saat cinta itu mulai tumbuh di masa SMK, Nina diduga mengidap penyakit kanker otak. Saat pengobatannya telah berhasil, musibah lain menimpa Nina hingga membuat Rifki menjadi pendiam dan hemat bicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Mengakhiri hubungannya dengan Haikal lalu memulai hubungan baru dengan Zeto. Itulah yang terjadi saat ini. Dalam sehari, Nina membuat dua keputusan sekaligus. Tentu hal itu membuat Rifki mendesah kasar.

"Aku dan Kak Zeto sudah jadian," bisik Nina di telinga Iki yang sementara memejamkan mata di atas meja.

"Terserah kamu, nanti kalau disakiti jangan menangis kek anak kecil," ujar Iki memelas.

"Tentu saja nggak, lagian dia nggak mungkin sakiti aku yang cantik jelita ini. Kau tahu, banyak wanita yang cemburu melihatku berduaan dengan Zeto di kantin Ci Lia," ucap Nina penuh binar bahagia.

"Ya sudah, jaga dirimu dengan baik," ujar Iki dengan santai. Dia tidak mengenal Zeto dengan baik. Tapi, berdasarkan rumor yang dia dengar dari teman-temannya yang di sekolah lain, Zeto memiliki kekasih yang tak lain dari anak Smandu, wanita itu tinggal di Tomori. Dia dan Zeto menjalin cinta sejak SMA kelas satu hingga kini kelas tiga SMA.

Apel istirahat terdengar, Iki ke lapangan voli setelah beberapa hari dia tidak bermain voli. Dia bergabung dengan beberapa pria anak TKJ juga ada anak Sekretaris. Mereka melawan anak Akutansi termasuk Zeto.

"Iki ... kalau menang aku traktir kamu ...." teriak Ana.

Nina yang di kantin segera ke lapangan voli. Ia bingung harus menyemangati siapa. Karena bingung, dia pun hanya diam dan menjadi penonton tanpa membuka suara. Satu poin berhasil di dapatkan oleh tim Iki. Dalam hati Nina senang.

Zeto kesal. "Berikan aku bola yang bagus, aku ingin memberi pelajaran pada Iki," bisik Zeto pada temannya.

Sesuai rencana, Zeto melakukan smash dengan kuat dan hampir sedikit saja mengenai wajah Iki. Beruntung Iki memiliki keahlian dalam bermain voli sehingga dia berhasil menerima bola yang dipukul dengan kuat itu. Iki yang berada di posisi bagian belakang tak dapat membalas smash dari Zeto namun Dika yang bagian depan berhasil mencetak poin.

"Yes!" sorak Dika.

"Iki, bersiap!" kata Dika. Permainan semakin memanas, Zeto tak henti hentinya berusaha memberi bogem mentah lewat bola. Namun Iki bukanlah tandingannya.

"Iki ...." panggil Dika meminta Iki mencetak satu poin lagi. Dan ya, Iki berhasil memberi bogem mentah pada kekasih sahabatnya itu, Zeto.

"Iki! Kalau main jangan kasar!" seru Nina.

Iki tersenyum, dia tak berniat memberi bogem mentah, tapi Zeto saja yang tidak siap. Kembali memulai permainan, Iki tetap bermain santai hingga timnya memenangkan permainan. Keluar dari lapangan, Iki menghampiri Ana. "Minta airnya," ucap Iki lalu membuka penutup botol.

"Kamu sengaja melakukannya, kan?" tuding Ana.

Iki terkekeh. "Untuk apa? Aku nggak ada masalah dengannya. Dianya saja yang nggak tahu main voli," ujar Iki dengan santai.

Sesuai janji Ana, wanita itu mentraktir Iki makan di kantin. Iki tak menghiraukan Nina yang menatap tajam padanya. Selesai makan, Iki kembali ke kelasnya begitu juga dengan Ana. Masuk ke dalam kelas, Iki mendapati Nina membuang tas Iki di belakang kelas.

"Kamu kenapa?" tanya Iki menghampiri.

"Aku yang harusnya nanya, kamu kenapa? Kenapa kamu bermain kasar?" tanya Nina marah.

Iki menggelengkan kepala, dia menatap aneh sahabatnya itu. Pergi mengambil tasnya, Iki mengabaikan Nina yang terus mengomel. Merasa Nina sudah keterlaluan, Iki mendekati Nina. "Aku nggak punya alasan untuk melukai Zeto. Jadi jangan bersikap seakan aku melakukan itu karena aku marah padanya. Jika kau tak ingin dia terkena bola, sana katakan padanya untuk belajar dulu baru masuk lapangan,"

Nina tak suka kalimat yang baru saja didengarnya, dia mengambil tasnya lalu keluar kelas. Dan Iki pun masa bodoh, dia membiarkan Nina pergi di jam sekolah. "Dasar kekanakan!" umpat Iki dalam hatinya.

Jam sekolah usai, Iki menghubungi Nina namun tak dijawab oleh Nina. Menghela napas panjang, Iki menyalakan mesin motornya. Mengendarainya dengan pelan sambil bersiul. Melewati jalan Indah, Iki melihat Nina dan Zeto keluar dari satu rumah. Iki menghampiri Nina.

"Jadi kamu bolos sekolah hanya untuk pacaran. Bagus!" sindir Iki lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Nina mencibir, dia tak tahu, kejadian yang takkan dia lupakan sedang menunggunya. Mengikuti Zeto, Nina dibawa ke indekos yang tak jauh dari sekolah. Nina ragu untuk masuk namun Zeto terus membujuknya. Cara Zeto berbeda dengan cara Haikal, Zeto bermain dengan bahasa halusnya, bukan seperti Haikal yang kasar.

Masuk ke dalam, Nina langsung mengambil gelas karena memang dia haus. Tiba-tiba Zeto memeluknya dari belakang. Kaget, Nina menjatuhkan gelas yang sementara ia pegang.

"Biar aku yang bersihkan," ujar Zeto segera menunduk membersihkan pecahan gelas.

Nina berniat membuka pintu namun pintu terkunci dan kuncinya tidak ada di pintu. Nina berbalik, mendapati Zeto tersenyum ke arahnya. "Kamu jangan takut, aku nggak akan bertindak jauh." ucapnya.

Jleb!! Nina menelan saliva nya yang tercekat. Lagi lagi Iki kembali diingatnya. Melihat Zeto mendekat, Nina mundur namun kamar kos tak sebesar kamar Nina. "Kamu mau apa?" tanya Nina gemetar.

Tersenyum, Zeto semakin mendekat. "Kamu mau pacaran denganku, itu berarti kamu siap untuk aku peluk dan aku cium. Jadi mari kita lakukan yang dasar saja."

Degh!! Nina menggeleng kuat. "Nggak, Zeto. Aku nggak mau. Aku mohon, tolong biarkan aku pergi." Nina mengatupkan tangan di dada.

Kembali tersenyum, Zeto memeluk paksa Nina. "Aku nggak akan bertindak lebih jauh, jadi jangan memberontak, mari kita nikmati bersama."

Di lain tempat, Iki sudah sampai di rumahnya. Hari ini dia akan ke Labuha bertemu teman-temannya di cafe Cinta dekat pantai Mandaong. Menarik langkah ke kamar, dia mendengar ponselnya berdering, Iki mengabaikan, dia terus menarik langkah hingga berdiri di depan pintu.

"Dia sudah besar, dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Sudahlah, Iki. Biarkan Nina berbuat sesukanya," gumam Iki. Merebahkan tubuh di atas tempat tidur, Iki menatap langit-langit kamar. Ponsel Iki kembali berdering, Iki segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.

"Nina," gumam Iki menatap layar ponselnya.

"Hallo." Mendaratkan ponsel di telinga, Iki mendengar Nina menangis. "Kamu kenapa? Kamu dimana sekarang?" tanya Iki segera bangkit dari tempat tidur.

"Aku di lapangan merdeka, Iki, tolong jemput aku," pinta Nina terisak.

Tanpa melepas pakaian seragamnya, Iki berlari menuruni anak tangga. Di depan pintu, dia berpapasan dengan Mama Sarah. "Iki, dimana Nina?" tanya Mama Sarah.

"Ini mau aku jemput, Tante." balas Iki segera menyalakan mesin motornya.

Melaju dengan kecepatan tinggi, Iki tak memperdulikan teriakan Ibu-Ibu kompleks. Tiba di lapangan merdeka, ia mendapati Nina duduk di bawa pohon dekat panggung. Segera Iki menghampirinya. "Nina, kamu___" kalimat Iki terhenti saat melihat tanda merah di leher Nina.

"Zeto yang melakukan itu?" tanya Iki mengepal kuat tangannya.

Nina terisak, tentu hal itu membuat Iki semakin yakin, Zeto penyebab Nina menangis. Dan Zeto juga yang meninggalkan bekas merah di leher Nina.

"Ayo!" Iki menarik kuat tangan Nina. "Bawa aku ke rumahnya!" tegasnya.

"A_ayo pulang," ajak Nina terisak.

Memejamkan mata, Iki ingin menangis. Naik di atas motor, disusul oleh Nina. Dalam perjalanan pulang, Nina tak berhenti terisak. Tentu hal itu membuat Iki marah. "Berhenti!" bentak Iki. "Bukannya itu yang kamu cari! Lalu kenapa kamu menangis?" seru nya membentak.

"Jangan menangis, Nina! Aku benci air mata palsu mu itu! Kau suka kan? Aku tahu itu. Kau suka dinodai itu sebabnya kau mau diajak ke mana saja oleh kekasihmu!" seru Iki berapi api.

1
Sumiati Aja
cerita nya g msuk nni kn udah sembuh kok menninggal aja
mama Al: karena kanker tidak bisa di tebak kak.
banyak di dunia nyata yang di nyatakan sembuh oleh dokter malah meninggal dunia.
total 1 replies
Zana aripin
Aduh kenapa ceritanya begitu. Nina meninggal... semoga itu hanya mimpi iki ya thor
aris Widiatmoko
kok Nina meninggal kasihan Riki
Aji Sangpengembara
bagus banget
Asni J Kasim: Masya Allah, terima kasih banyak KK 🥰
total 1 replies
Rina Halawa
the best
Asni J Kasim: Terima Kasih untuk bintang 5nya Kak 😊🥰
total 1 replies
Zana aripin
Fuh ramai juga yg jadi pelakor ni. Novi dan vindian pelakor
Asni J Kasim: Vindian main belakangan 🤣
total 1 replies
Razana Razlan
cerita yg sgt best
Asni J Kasim: Terima kasih 🥰
total 1 replies
Razana Razlan
cerita yg best..byk pengajaran yg blh diambil.nilai kasih sayang yg hebat..maruah diri yg tinggi
Asni J Kasim: Terima kasih untuk bintangnya, Kak. Walau hanya bintang 4 udah senang, apalagi 5 🤣🤣🤣
total 1 replies
Queen
Hai kak, Mampir di novelku yaa
Mbah Gatot
lanjut bro ceritanya keren
Mbah Gatot
emosi cokkk Nina kek perempuan arggggggg tol anjayy


tpi keren ceritanya tingkat kan
Asni J Kasim: Tingkatkan kesabaran 🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!