Nayla Arthama seorang yang lugu, lemah, dan terlalu baik. Menjalani kehidupan yang begitu tragis, dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Kedua orang tua, harta, bahkan nyawa yang satu-satunya ia miliki direnggut secara paksa.
Ia terbangun, dan kembali pada 3 tahun yang lalu sebelum menikah dengan suaminya. Kesempatan itu ia gunakan untuk merubah keadaan dan melakukan balas dendam.
Akankah Nayla berhasil merubah keadaan? Dan bagaimanakah cara dia membalas dendamnya?
***
Baca juga cerita My Son Is My Strength' yang sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naaila Qaireen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahinya
Lamaran dadakan dengan keseriusan yang dilontarkan Abimayu membuat hening sejenak, mereka diam dengan isi hati yang terus berbicara sendiri-sendiri.
Nayla masih menunduk, mencerna dengan baik ucapan dari Abimayu beserta perjalanan kehidupannya selama ini. Sebagai orang yang mendapatkan kesempatan kehidupan kedua, ia tentu ingin memperbaiki kehidupannya sekaligus memberikan pelajaran pada mereka yang menyakitinya.
Jika dipikir, Abimayu melakukan ini mungkin karena bukti perselingkuhan Maya yang ia kirim kemarin dan laki-laki ini ingin membalasnya.
Baiklah ... tidak ada salahnya melakukan ini. Apapun motif lelaki di depannya, sekedarnya ia bisa membalas perlakuan Maya. Membuatnya kehilangan orang yang peduli padanya, walaupun bukan orang yang dicintai.
Ya, kalau Maya mencintai Abimayu. Tidak mungkin ia bersama Barra, selain karena perempuan itu mengincar hartanya saja.
“Jadi bagaimana jawaban, Nona?” Abimayu bertanya memastikan.
Nayla kembali menegakkan kepalanya, ia memandang kedua orang tuannya yang balas menatapnya dengan maksud ‘semua keputusan ada padanya’.
Sebenarnya Abimayu sudah mengira kalau akan sangat sulit mendapatkan kata ‘iya’ sebagai jawaban atas lamarannya, apalagi saat ini ia mengalami kelumpuhan dan jauh dari kata sempurna membuatnya yakin perempuan di depannya akan menolak, hanya Maya yang menerimanya dengan tulus. Dan karena hal itulah ia sulit menolak permintaan dari sang kekasih.
Nayla mengangguk dengan yakin, “Ya, aku menerima lamaran ini.” Jawabnya.
Ia sudah memutuskan menjalani hubungan dengan Abimayu. Jika dipikir, lebih baik Abimayu yang mengalami kelumpuhan dari pada dengan Barra yang sialnya sudah berkhianat, mengakhiri nyawanya pula.
Kini giliran Abimayu yang terkesima. Ia sedikit tidak percaya, tapi dengan cepat ia mengendalikan dirinya. Secercah senyuman bahagia terlontar dari wajahnya, dan itu terlihat jelas di mata kedua orang tua Nayla. Membuat mereka saling mengangguk, berharap pemuda di depannya adalah orang yang tepat untuk anak mereka dan bisa membuat melupakan kejadian menyakitkan di hari pernikahannya yang gagal.
“Tolong bantu jaga putri kami, Nak Abimayu.” Timpal Nila memandang pemuda itu, ia tidak masalah dengan keadaannya karena putrinya sudah memberikan keputusan.
“Dan jangan kecewakan dia, jika terjadi sesuatu kau bisa mengembalikannya pada kami!” lontar Arsyad tegas.
Abimayu mengangguk, walau dalam hati tak yakin dan berlawanan dengan akal pikirannya.
Maya tampak sangat senang dengan kabar yang diberikan Abimayu, ia tertawa bak orang gila merayakan hal tersebut.
“Kehancuranmu dimulai Nayla Arthama!!!” teriaknya kalap.
Ia sungguh tak menyukai orang yang pernah menjadi sahabatnya itu, rasa iri dan menginginkan kehidupan seperti Nayla sangat dominan. Ia tidak suka melihat kehidupan Nayla yang penuh kesempurnaan. Anak orang kaya, memiliki orang tua lengkap dan baik, serta kekasih yang menjadi pelengkap hidupnya. Sedangkan dirinya sangat bertolak balikan dengan semua itu, menganggap Tuhan sungguh tidak adil akan takdir hidup yang dimilikinya.
Rasa tidak adil itu, perlahan menuntutnya untuk merebut semua yang dimiliki Nayla. Bagaimana pun dan dengan cara apapun. Ia tak ingin hidup perempuan itu bahagia. Kebahagiaannya akan ia renggut satu per satu.
Maya kembali tertawa, lalu tiba-tiba memukul meja, tatapan dingin dengan aura kegelapan.
*****
Sore yang begitu menyejukkan, Nayla mendorong kursi roda Abimayu dengan perlahan mengelilingi taman kota.
Mereka memutuskan untuk bertemu agar saling mengenal lagi, dan tentu itu ajakan Abimayu atas perintah Maya. Perempuan itu entah lah sedang merencanakan apa, tapi yang pasti Abimayu selalu mengikuti keinginan kekasihnya.
Suasana taman yang ramai membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian, tak sedikit ada yang mengenal Abimayu membuat mereka melontarkan ucapan-ucapan tak mengenakan di dengar.
Banyak yang mengatakan kalau perempuan yang bersama CEO muda itu hanya mengincar hartanya saja, kalau tidak siapa yang mau bersama orang yang cacat.
Hinaan dan cemoohan itu terdengar begitu menyenangkan di telinga seorang perempuan yang mengenakan kacamata hitam dengan bibir merah, ia sangat bahagia mendengar hinaan itu tertuju pada Nayla.
Abimayu dan Nayla menghampiri kursi taman, Nayla memilih duduk di sana sedangkan Abimayu duduk di kursi rodanya.
“Kenapa?” tanya Nayla mendengar helaan napas Abimayu.
Laki-laki itu sendiri tidak percaya dengan pertanyaan Nayla, tidakkah perempuan itu merasa tersinggung dengan hinaan barusan. Jujur saja ia merasa tak nyaman, karena baru kali ini ia mendapatkan hinaan pada dirinya yang selalu dipuji. Datang di tempat ramai seperti ini juga bukan tipenya, acara penting perusahaan saja ia menyuruh orang lain mewakilinya.
“Kenapa kau menerima lamaran ku?” Abimayu bertanya balik, ia terpikirkan dengan perkataan orang-orang yang menghina mereka. Karena bagaimana pun sulit untuk menerima orang cacat sepertinya, kecuali Maya karena mereka saling mencintai. Nayla dan dirinya tidak ada perasaan apa-apa.
Nayla mengernyit, “Menurutmu ... kenapa kau melamar ku?” Abimayu geming.
“Aku ingin berusaha menjalani kehidupan ku dengan baik setelah aku dikhianati oleh calon suami dan mantan sahabat ku.” Nayla menjawab sendiri pertanyaannya setelah keheningan dan kecanggungan cukup lama. Tidak ada raut kesedihan di sana, yang ada hanya rasa bencinya yang menunggu untuk balas dendam.
Abimayu menoleh, menatap dari samping wajah perempuan yang sudah dilamarnya. Tidak ada ekspresi sedih atau suara mencekam yang ditunjukkan, membuat Abimayu berdecak dalam hati. Sungguh akting yang buruk, seharusnya ia menunjukkan rasa kehilangan untuk pelengkap kebohongannya. Dengan begitu Abimayu merasa muak dan membenarkan segala ucapan kekasihnya Maya.
“Eh, ada es krim. Aku ingin membeli es krim, tunggulah di sani.” Melihat es krim, Nayla berbinar. Ia meninggal Abimayu setelah meminta ijin.
“Cih ... kekanakan,” gumam Abimayu.
“Sayang.” Seorang perempuan berkacamata hitam dengan bibir merah melingkarkan kedua lengannya di leher Abimayu dari belakang. Tanpa menoleh pun Abimayu tahu kalau itu adalah kekasihnya.
Abimayu mengecup tangan Maya sekilas, lalu perempuan itu menduduki kursi taman tempat Nayla duduk.
“Maaf merepotkan mu.” Maya melepaskan kaca matanya.
“Tentu saja tidak, aku tulus melakukannya demi mu untuk membalas kesakitan dan hinaan dari perempuan itu.” Matanya lekat menatap Maya.
“Aku tahu, terima kasih. Kau memang yang terbaik.” Kepala Maya bertengger di bahu Abimayu sedangkan tangannya memeluk lengan laki-laki itu.
“Aku mau kau membuat perempuan itu jatuh cinta pada mu, bahkan kalian harus menikah.” Ucapan Maya membuat Abimayu terdiam, bahkan sampai mengernyit.
“Menikah?”
“Setelah kalian menikah dan dia jatuh cinta, maka rasa sakit ku dan hinaan darinya akan terbalaskan setelah kau mencampakkannya.” Senyum smirk tergambar jelas, itulah rencana Maya. Ia ingin membuat Nayla merasakan kehilangan lagi dan lagi. Bahkan rencana mencelakai kedua orang tua Nayla masih ia lakukan bersama Barra.
“Tapi—“
“Tidak ada tapi, kau sudah berjanji membantu ku.” Perkataan Abimayu terpotong. “Kau mencintai ku ‘kan?” tanya Maya dengan raut tiba-tiba sedih, Abimayu merasa bersalah.
“Tentu saja aku mencintaimu!” tegas Abimayu membuat Maya langsung tersenyum lebar.
“Hai, maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Nayla datang membawa es krim di kedua tangganya. Maya sudah dari tadi pergi setelah melontarkan kata-kata manis untuk Abimayu.
“Tidak masalah.” Abimayu memberikan senyum.
“Mau es krim?” Abimayu menggeleng sebagai penolakan.
Nayla mengangkat bahu, lalu dengan senang hati menikmati es krimnya. Sebenarnya ia tidak ada niat untuk membaginya, apalagi sudah mengantri panjang. Tawaran hanya sebagai basa-basi agar tidak dianggap kurang ajar.
Melihat Nayla begitu menikmati es krim nya ada rasa iri dan ingin mencicipi di diri Abimayu, tapi ia merasa gengsi menikmati itu di usianya yang tak muda lagi.
*****
Bersambung...