Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Arka
Arkan tidak membuang waktu. Di bawah pengawasan tim Black-Shield , ia membawa Zia dan Widya melalui lorong bawah tanah hotel menuju sebuah mobil van hitam yang tidak mencolok. Di dalam van itu, barisan layar monitor menyala, menampilkan grafik saham Holding yang terjun bebas seiring perintah "Scorched Earth" dijalankan.
“Om, kita benar-benar akan ke sana?” tanya Zia, tangannya dingin dan gemetar.
Arkan mengokang sebuah senjata pendek dan menyisipkannya di pinggang belakang. "Hendra adalah predator, Zia. Jika kita lari, dia akan memburu kita selamanya. Satu-satunya cara menghentikan predator adalah dengan menghancurkan taringnya."ucap Arkan sambil menggenggam tangan Eliza.
Mereka sampai di sebuah kediaman kolonial tua di pinggiran kota yang dijaga ketat. Tanpa ragu, Arkan turun dari mobil. Namun, ia tidak menyerang. Ia berjalan tenang dengan tangan terbuka, menunjukkan bahwa ia datang tanpa pasukan besar.
"Hanya aku dan Zia," perintah Arkan pada penjaga di gerbang. “Biarkan tante Widya pergi bersama timku.”
Setelah itu, mereka masuk. Di dalam ruangan yang megah, Hendra Mahendra duduk menanti sambil memegang segelas wiski.
"Menghancurkan nilai sahammu sendiri? Itu langkah gila, Arkan," Hendra tersenyum sinis. "Kamu rela jadi gelandangan hanya demi anak ini?"ucapnya sambil tertawa kecil.
Arkan duduk di hadapan Hendra, sementara Zia berdiri kaku di sebelahnya. "Uang bisa dicari, Hendra. Tapi aku tahu alasan sebenarnya kamu menginginkan Zia. Ini bukan soal silsilah keluarga, kan?"
Arkan melemparkan sebuah flashdisk ke atas meja.
"Aku meretas server pribadi Hadi sebelum dia datang ke rumahku. Di sana ada dokumen rahasia medis. Zia bukan hanya keponakanmu. Dia adalah pemilik tunggal dari Trust Fund yang ditinggalkan ayahmu, dana abadi yang hanya bisa dicairkan jika Zia menikah dengan orang yang kalian pilih, atau jika dia meninggal sebelum usia 21 tahun."
Hendra tak menjawab. Senyumnya yang tadi perlahan memudar.
"Kamu mengirimnya padaku karena kamu pikir kamu bisa mengendalikan aku. Kamu pikir aku akan menjadi pionmu untuk mencairkan dana itu," lanjut Arkan, suaranya meninggi"Tapi kamu salah perhitungan. Aku sudah menikahi Zia secara sah, dan aku sudah memindahkan seluruh hak kelola dana abadi itu ke dalam yayasan perlindungan Saksi internasional sepuluh menit yang lalu."ucap Arkan
Hendra tertawa terbahak-bahak mendengar setiap kalimat dari Arkan. "Kamu pikir kamu pintar, Arkan? Kamu lupa siapa yang mengajarimu cara bermain?"
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Rio , asisten kepercayaan Arkan, masuk dengan wajah datar. Ia tidak berdiri di belakang Arkan, melainkan melangkah ke samping Hendra.
"Maaf, Bos," ucap Rio pendek.
Arkan terletak. Jantungnya seakan berhenti. "Rio? Kamu?"
“Hendra yang membiayai pengobatan adikku selama lima tahun ini, Arkan,” ujar Rio dingin. "Dia yang memegang kendali atas umur panjang, jauh sebelum aku bertemu denganmu. Protokol Scorched Earth ? Aku tidak menjalankannya. Sahammu masih utuh, dan sekarang semuanya sudah ditransfer ke tangan Hendra melalui surat kuasa yang aku palsukan atas namamu tadi siang."
Zia menjerit saat dua penjaga memegangi lengannya. Arkan mencoba berdiri, namun sebuah moncong senjata menempel di pelipisnya.
"Sekarang," Hendra berdiri dan mendekati Zia. "Zia akan ikut denganku ke Singapura. Dan kau, Arkan... kau akan mati sebagai pengusaha yang bangkrut dan 'bunuh diri' karena depresi."
Di tengah situasi buntu itu, Arkan tiba-tiba tersedak. Sebuah kekehan kecil yang terdengar gila di bawah ancaman senjata.
Rio.kamu pikir aku tidak tahu kamu bekerja untuknya?
Rio dan Hendra.
Arkan menatap tangannya. "Aku sengaja membiarkanmu memalsukan surat kuasa itu, Rio. Karena surat kuasa yang kamu buat menggunakan identitas perusahaan cangkang yang sebenarnya sudah aku laporkan ke Interpol sebagai kedok sindikat perdagangan manusia sejak sebulan lalu."
Tiba-tiba, terdengar suara helikopter di atas gedung. Lampu sorot raksasa menembus jendela ruangan itu.
"Hendra, kamu bilang aku belajar darimu? Salah. Aku belajar dari kesalahanmu ," Arkan berdiri pelan, mengabaikan senjata di kepalanya. "Aku tidak pernah menggunakan uang untuk mengikat orang. Aku menggunakan loyalitas. Dan Rio... dia tidak pernah menjalin hubungan denganku."
Rio tiba-tiba memutar senjatanya dan mengarahkannya tepat ke jantung Hendra.
"Adikku sudah aman di London sejak dua jam lalu, Hendra. Tim Arkan yang menyambutnya," ucap Rio dengan senyum tipis.
ledakan Ketegangan
Hendra panik. Ia meraih sebuah remote kecil dari sakunya,sebuah pemicu ledakan. "Jika aku jatuh, gedung ini akan rata dengan tanah! Semua orang di sini akan mati!"
Zia melihat celah. Dengan keberanian yang tidak pernah ia miliki, ia menginjak kaki penjaga yang memegangnya dan menyambar botol wiski di meja, lalu menghantamkannya ke tangan Hendra.
Remote itu terjatuh. Arkan menerjang maju, memberikan pukulan telak ke rahang Hendra hingga mentornya itu tersungkur.
Namun, di saat yang sama, salah satu pengawal Hendra melepaskan tembakan pembohong sebelum diringkus oleh tim khusus yang masuk melalui jendela.
"ZIA, AWAS!"
Arkan memutar tubuhnya, memeluk Zia untuk melindunginya.
DOR!
Suasana tiba-tiba hening. Arkan terengah-engah, matanya menatap Zia untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Namun, saat ia melihat ke bawah, kemeja putih Arkan mulai berubah menjadi merah pekat.
"Om Arkan..." bisik Zia, wajahnya pucat pasi saat melihat darah merembes dari punggung Arkan.
Arkan tersenyum tipis, meski kesadarannya mulai memudar. "Setidaknya... kali ini... aku tidak kehilangan tawamu..."
Arkan ambruk didalam dekapan Zia
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔