Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelanggaran Kewajiban
Bisikan-bisikan itu bermula seperti tetesan air kecil, namun dalam sekejap berubah menjadi banjir bandang yang menghancurkan.
Di dalam ruang-ruang teh yang berlapis emas dan galeri-galeri Aurelia yang sunyi, nama Aurora kini telah menjadi sinonim untuk sebuah pengkhianatan.
"Kau sudah dengar? Direktur muda itu menjual isi brankas pribadi keluarganya," gumam seorang sosialita di balik kipas rendanya.
"Sungguh sebuah tragedi," balas yang lain, matanya berkilat penuh kebencian yang disamarkan.
"Begitu banyak bakat, namun sangat sedikit disiplin. Kurasa warisan Ashford terlalu berat untuk dia pikul sendiri."
Rumor itu tumbuh semakin liar—klaim tentang lelang rahasia tengah malam hingga akun bank di luar negeri. Pada akhir minggu, dunia elit sudah menjatuhkan vonis padanya.
Aurora bukan lagi seniman berbakat— dia adalah pencuri yang dipermalukan. Reputasinya dipreteli dengan presisi yang sangat kejam.
Kebencian itu merembes hingga ke dunia digital. Berita-berita tanpa nama mulai muncul di tabloid masyarakat kelas atas.
“Seorang muse telah berubah menjadi tentara bayaran,” tulis salah satu tajuk berita, menyiratkan kebutuhan mendesak akan uang tunai untuk mendanai gaya hidup mewah yang rahasia.
Bahkan staf museum mulai menatapnya dengan cara yang berbeda.
Para kurator yang dulunya membungkuk hormat pada visi artistiknya, kini menghindari tatapannya. Keheningan mereka terasa berat, penuh dengan kecurigaan.
Setiap kali Aurora berjalan melewati lorong, percakapan akan langsung terhenti seketika.
Ia bisa merasakan penghakiman mereka seperti beban fisik yang nyata—angin dingin yang berhembus melalui galeri.
Aurora sedang menjadi hantu di museumnya sendiri, dihantui oleh kejahatan yang tidak pernah ia lakukan, sementara dunia hanya duduk diam menunggu kehancurannya.
......................
Studio itu adalah sebuah suaka.
Sebuah ruangan luas di mansion Valehart yang sengaja Lucien dedikasikan hanya untuknya.
Di sini, di balik dinding kokoh milik suaminya, Aurora bisa bernapas. Ia bisa melupakan sejenak tatapan menghakimi yang kini memenuhi setiap sudut museum.
Aurora bertengger di atas tangga kayu tinggi.
Tubuhnya terjaga dalam keseimbangan yang berbahaya saat jemarinya menjangkau sudut atas kanvas raksasa itu.
Ia mengenakan gaun sutra gading. Mahakarya keanggunan dengan renda halus yang kini tak lagi suci. Gaun itu telah menjadi kanvas baru.
Noda warna-warna kobalt mengotori keliman bawahnya. Garis warna merah tua melingkar di pergelangan tangannya seperti luka.
Saat ini, ia bukan lagi seorang Direktur. Ia adalah makhluk yang tercipta dari seni murni. Noda cat itu adalah satu-satunya hal jujur yang tersisa di hidupnya. Sisanya? Hanyalah kebohongan yang rapi.
Tok. Tok.
Suara kuas yang menggesek kanvas terhenti.
Kepala pelayan masuk dengan nampan perak di tangannya.
"Maaf mengganggu, Nyonya," gumamnya pelan.
"Seorang kurir resmi baru saja tiba dari Pengadilan Tinggi. Ini membutuhkan perhatian Anda segera."
Aurora turun dari tangga. Sutra gading gaunnya berdesir halus menyentuh kayu.
Ia mengambil perkamen berat itu. Segel pengadilan di atasnya terasa dingin di kulitnya. Begitu ia merobeknya, kata-kata di dalamnya menghantam Aurora seperti pukulan fisik yang nyata.
"Permohonan Pencopotan Wali Amanat karena Pelanggaran Kewajiban Fidusia."
Di bawah baris kalimat hukum yang kaku itu, tercantum nama pemohonnya. Sebuah nama yang sudah Aurora duga, namun tetap terasa seperti tusukan belati saat ia melihatnya tertulis di atas kertas resmi pengadilan.
Moltemer Ashford.
Pamannya. Pria yang selama ini bersembunyi di balik senyum palsu, kini benar-benar menunjukkan taringnya secara terbuka.
Moltemer tidak lagi bermain di balik layar. Ia menyeret Aurora ke pengadilan untuk melucuti segalanya secara sah.
Kertas itu terlepas dari jemari Aurora.
Melayang jatuh tepat di atas percikan cat merah tua di lantai. Seolah-olah kertas itu baru saja bersimbah darah.
Mereka tidak lagi berbisik di belakang punggungnya.
Moltemer telah datang untuk merampas dunianya.
Aurora menatap perkamen itu dengan tatapan kosong. Dunia di sekelilingnya seolah berputar pada porosnya, namun ia tetap bergeming.
Pelanggaran kewajiban.
Bahasa hukum yang kaku itu terasa seperti vonis mati bagi impiannya. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada keinginan untuk berteriak. Hanya ada rasa dingin yang merayap naik dari ujung kakinya, membekukan segala sesuatu di dalamnya.
Ia luruh ke lantai dengan gerakan yang lambat, hampir menyerupai helai daun yang jatuh.
Gaun sutra gadingnya menyerap noda warna kobalt yang masih basah dari permukaan kayu. Di sana, di tengah kemegahan studionya, ia merasa kecil. Kosong. Benar-benar habis.
Beban warisan Ashford yang selama ini ia pikul dengan bangga, akhirnya benar-benar meremukkannya hingga tak bersisa.
Sebuah suara serak dan patah lolos dari tenggorokan Aurora. Bukan rintihan, melainkan sebuah tawa kering yang hampa. Sebuah suara yang lebih menyerupai retakan kaca daripada tawa manusia—suara yang menggema mengerikan di sepanjang ruangan studio yang luas itu.
Ia menyandarkan kepalanya pada tangga kayu, menatap langit-langit dengan mata lebar yang redup. Keabsurdan dari semua ini terasa begitu menyesakkan hingga rasa sakit pun tak lagi mampu memicu air mata.
Ia telah mengikuti setiap aturan. Ia telah menghormati setiap kenangan orang tuanya dengan setia. Namun, di akhir semua pengabdian itu, ia tetap dibuang seperti potongan kanvas sisa yang tak lagi berguna.
"Tentu saja," bisiknya. Suaranya datar, tanpa emosi, lebih menyeramkan daripada isak tangis mana pun.
"Mengapa harus berbeda? Aku hanyalah sosok cantik di dalam bingkai. Dan sekarang, mereka memutuskan bahwa bingkainya sudah terlalu rusak untuk dipajang."
Ia menatap tangannya yang berlumuran cat. Tangan yang selama ini mencoba membangun kembali kejayaan keluarganya kini gemetar hebat di atas hamparan sutra gading gaunnya.
Tidak ada air mata yang jatuh. Matanya kering, namun di dalamnya terpancar kekecewaan yang begitu luas hingga mampu menenggelamkan seluruh studio itu ke dalam kegelapan.