Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.
Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…
Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.
Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.
Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…
Akan merasakan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pernikahan Dua pewaris
Hari itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan bagi keluarga besar William Anderlecht hari yang kelak selalu dikenang sebagai momen penyatuan dua hati sekaligus dua garis keturunan. Bukan hanya satu pesta pernikahan yang digelar, tetapi dua sekaligus, sebuah peristiwa langka yang membuat seluruh keluarga berkumpul dan merayakan kebahagiaan bersama.
Aula megah tempat upacara berlangsung telah dihias dengan ribuan bunga putih yang memenuhi setiap sudut. Aroma segar dari mawar, lili, dan baby’s breath menyatu dengan udara, membawa ketenangan sekaligus kemegahan. Lampu kristal raksasa yang menggantung anggun memantulkan cahaya keemasan, membuat seluruh ruangan tampak berkilau bagaikan istana dalam dongeng. Iringan musik lembut dari orkestra membuat suasana terasa semakin sakral dan menyentuh.
Dua cucu perempuan kesayangan Heron William Anderlecht Viora dan Viola menjadi pusat perhatian seluruh tamu. Keduanya tampil memukau dalam gaun pengantin putih yang seolah dipintal dari cahaya. Payet berkilau, renda yang dirajut dengan detail sempurna, semuanya membuat mereka tampak seperti bidadari yang turun dari langit.
Masing-masing berjalan memasuki aula dengan digandeng oleh ayah mereka.
Viora berjalan di sisi Victor William Anderlecht, langkahnya elegan dan berwibawa.
Sementara Viola melangkah manis didampingi Albert William Anderlecht, senyumnya merekah penuh kebahagiaan.
Para tamu undangan menahan napas melihat keduanya. Ada rasa bangga, haru, dan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. Beberapa bahkan tampak menyeka air mata, seakan tidak percaya bahwa dua gadis kecil yang dulu berlarian di halaman rumah besar keluarga Anderlecht kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang siap membangun keluarga mereka sendiri.
PERNIKAHAN VIORA & ROBERT
Viora menjadi mempelai pertama yang melangkah menuju altar. Meski rona gugup samar terlihat di wajahnya, langkahnya tetap mantap. Robert Pattinson sudah berdiri menunggunya. Dengan setelan hitam elegan, posturnya tegap dan tatapannya penuh kelembutan, memperlihatkan betapa berharganya momen itu baginya.
Ketika mata mereka bertemu, kegugupan di wajah Viora mencair, berganti dengan senyum hangat.
Pendeta Steven Gerrard memulai prosesi dengan suara lembut namun berwibawa, menenangkan seluruh ruangan.
“Robert Pattinson, apakah Anda bersedia menerima Viora William Anderlecht sebagai istri Anda dan ibu dari anak-anak Anda kelak?”
“Saya bersedia,” jawab Robert penuh keyakinan. Suaranya mantap, tanpa keraguan sedikit pun.
Giliran Viora.
“Viora William Anderlecht, apakah Anda bersedia menerima Robert Pattinson sebagai suami Anda dan ayah dari anak-anak Anda di masa depan?”
“Saya bersedia,” jawabnya dengan suara bergetar oleh haru, namun begitu tegas.
Mereka saling memasangkan cincin—simbol janji yang tidak hanya mengikat dua manusia, tetapi juga dua keluarga besar.
“Dengan ini, kalian resmi menjadi pasangan suami istri.”
Sorakan tamu undangan langsung memenuhi aula, menggema dari dinding ke dinding.
“Cium! Cium! Cium!” seru mereka serempak.
Robert tersenyum, menangkup wajah Viora dengan penuh kelembutan, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Viora dalam ciuman manis yang terasa seperti awal dari babak baru kehidupan mereka. Tepuk tangan pecah, meriah seperti pesta kemenangan.
PERNIKAHAN VIOLA & JAVI
Upacara berlanjut ke pernikahan kedua.
Viola berjalan mantap bersama ayahnya, Albert. Setiap langkahnya mantap, memancarkan keanggunan alami yang selalu menjadi ciri khasnya. Javi Alexander, yang menunggu di altar, tampak tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya. Tatapan matanya melembut, seakan tidak percaya bahwa wanita yang ia cintai kini benar-benar datang untuk menjadi istrinya.
Pendeta kembali memulai prosesi sakral.
“Javi Alexander, apakah Anda bersedia menerima Viola William Anderlecht sebagai istri Anda?”
“Saya bersedia.”
“Viola William Anderlecht, apakah Anda bersedia menerima Javi Alexander sebagai suami Anda?”
“Saya bersedia.”
Mereka bertukar cincin, gerakan sederhana namun sarat makna, seolah menyegel janji bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan tetap bersama.
“Dengan ini, kalian resmi menjadi suami dan istri.”
Tepuk tangan kembali bergema melingkupi ruangan.
“Cium! Cium!” teriak para tamu.
Javi menarik Viola ke dalam pelukan lembut dan mengecup bibirnya. Ciuman itu pelan, penuh kasih, seakan ingin mengatakan bahwa ia akan menjaganya seumur hidup. Sorakan dan tepuk tangan menyusul, membuat suasana semakin meriah dan penuh sukacita.
KEBAHAGIAAN KELUARGA
Liora berdiri di antara mereka, menyaksikan kebahagiaan keluarga besarnya dengan mata berkaca-kaca. Di hadapannya, dua keponakan nya telah melewati salah satu momen paling penting dalam hidup mereka. Hatinya terasa penuh penuh rasa syukur, bangga, dan cinta.
Ia memandang ke arah anak-anak dan keponakan-Keponakannya yang tersenyum, tertawa, dan saling berpelukan. Untuk sejenak, ia merasa waktu berhenti, membiarkan dirinya menikmati momen berharga itu. Sebuah keluarga besar yang dulu ia bangun dengan keringat, doa, dan keteguhan hati, kini berdiri kokoh, bersatu dalam kebahagiaan yang tak terukur.
Dan hari itu… menjadi sejarah baru bagi keluarga Anderlecht.
Hari ketika dua cinta disatukan.
Hari ketika dua generasi melangkah ke masa depan.
Hari ketika seluruh keluarga merayakan cinta, harapan, dan kehidupan.