Cerita ini berpusat pada seorang wanita yang terjebak dalam pernikahan kontrak atau "pernikahan pajangan" dengan pewaris takhta perusahaan besar (Chaebol). Peran utamanya adalah menjadi pendamping sempurna di acara publik, namun di balik layar, hubungan mereka mungkin dingin atau penuh benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Percikan Api di Kota Cinta
Setelah berdebat dengan pikirannya sendiri di kamar, Devan akhirnya memutuskan untuk bergerak. Rasa lapar dan rasa penasaran akan keberadaan Vanya membuatnya meraih ponsel.
Devan: Vanya, kamu di mana?
Satu menit kemudian, sebuah balasan singkat masuk.
Vanya: Aku di restoran hotel. Sedang ada pertemuan singkat.
Tanpa membuang waktu, Devan segera berganti pakaian. Ia memilih kemeja slim-fit yang menonjolkan bentuk tubuhnya, menyisir rambutnya ke belakang dengan rapi, dan menyemprotkan parfum maskulinnya. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak kalah bersinar di tengah kota mode ini.
Begitu melangkah masuk ke area restoran hotel yang mewah dengan pemandangan taman vertikal, mata Devan langsung menyisir setiap sudut. Langkahnya terhenti seketika. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal di samping tubuh.
Di sebuah meja sudut, Vanya sedang duduk dengan beberapa dokumen di depannya. Namun, yang membuat darah Devan mendidih adalah sosok pria yang berdiri sangat dekat di samping Vanya. Pria itu tampan, bertubuh gagah dalam balutan setelan jas Italia yang sangat pas, dan memancarkan aura maskulin yang kuat. Pria itu membungkuk sedikit, membuat wajahnya sejajar dengan wajah Vanya, seolah sedang membisikkan sesuatu yang sangat rahasia.
Devan tidak bisa menahan diri lagi. Ia berjalan dengan langkah lebar, membelah keramaian restoran, dan langsung merangkul pinggang Vanya dengan posesif.
"Sayang, kamu lagi apa?" tanya Devan dengan nada yang sengaja dibuat manis namun terdengar menuntut.
Vanya tersentak kaget. Matanya membelalak melihat kehadiran Devan yang tiba-tiba. "Ah, ini aku sedang..."
"Kenalkan, aku suaminya," potong Devan cepat, menatap pria asing itu dengan pandangan menantang.
Pria itu tidak tampak terintimidasi. Ia justru tersenyum sinis, sebuah senyuman yang terlihat sangat tenang dan penuh percaya diri. "Ah, jadi ini Tuan Jacob? Senang bertemu denganmu. Aku Billy Hutama."
"Billy Hutama?" Devan mengulang nama itu dengan nada meremehkan. "Ah, silakan duduk, jangan berdiri terus di samping istriku. Nanti kakimu pegal."
Vanya merasa atmosfer di meja itu menjadi sangat canggung. Ia melirik Devan dengan tatapan peringatan. "Ada apa, Devan?"
"Shuut... kok panggil Devan sih? Sayang, coba panggilnya apa kalau di depan orang lain?" Devan menaikkan sebelah alisnya, tangannya beralih mengelus rambut Vanya dengan lembut, sebuah gestur yang belum pernah ia lakukan selama tiga tahun pernikahan mereka.
Vanya merasa wajahnya memanas. Ia tahu Devan sedang berakting, tapi entah mengapa jantungnya berkhianat dengan berdegup kencang. "Sa... sayang," ucap Vanya pelan, hampir tidak terdengar.
"Bagus," bisik Devan sambil tersenyum puas ke arah Billy.
Billy Hutama terkekeh pelan, sebuah tawa mengejek yang sangat halus. Ia merapikan jasnya dan menutup map dokumen di meja. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona Vanya. Pertemuan kita sangat produktif. Nanti kuhubungi lagi untuk detail teknisnya."
"Yeh! Apaan main hubungi-hubungi lagi?!" semprot Devan saat Billy mulai melangkah pergi.
Setelah Billy menghilang di balik pintu lobi, Vanya langsung melepaskan tangan Devan dari pinggangnya. Ia berdiri dan menatap Devan dengan kemarahan yang tertahan.
"Devan! Kamu kenapa sih? Malu-maluin tahu tidak?" seru Vanya. "Billy itu mitra strategis untuk distribusi kita di Eropa! Dia dari keluarga Hutama, koneksi penting Papa!"
"Aku? Kamu yang harus mikir, Vanya!" Devan membalas dengan volume suara yang sama. "Kamu itu sudah punya suami, masih saja lirik cowok lain sampai wajah menempel begitu! Memangnya dia sehebat apa? Badan aku juga tidak kalah sexy dari si Billy itu kalau kamu mau tahu!"
Vanya terdiam sejenak, menatap suaminya yang sedang meledak-ledak karena cemburu buta. Sebuah tawa pahit keluar dari bibirnya.
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh dekat dengan pria lain?" tanya Vanya dengan nada bicara yang tiba-tiba merendah namun tajam. "Kalau kamu boleh dekat dengan Viona, bahkan terang-terangan di depan mataku, kenapa aku tidak boleh profesional dengan pria lain?"
Vanya melangkah satu langkah lebih dekat, menatap mata Devan yang mulai goyah. "Jangan bersikap seolah-olah kamu peduli padaku sekarang, Devan. Ingatlah, dalam malam pertama kita pun, kamu meninggalkan aku sendirian di rumah besar itu hanya untuk menemui wanita lain. Selama tiga tahun, aku sudah terbiasa sendiri. Jadi, jangan tiba-tiba bertingkah seperti suami yang posesif hanya karena egomu terluka melihat pria yang lebih kompeten darimu."
Vanya menyambar tas dan dokumennya. Tanpa menunggu jawaban dari Devan yang terpaku membisu, ia berbalik dan pergi meninggalkan restoran itu dengan langkah tegap.
Devan berdiri sendirian di tengah restoran yang mewah itu. Kata-kata Vanya menghantamnya tepat di ulu hati. Ia ingin membalas, ingin berteriak bahwa ia berhak cemburu, namun kenyataan tentang "malam pertama" itu membungkam mulutnya rapat-rapat. Ia baru menyadari bahwa luka yang ia goreskan pada Vanya jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan, dan setelan jas mahal Billy Hutama hanyalah pengingat betapa tidak bergunanya dirinya selama ini sebagai seorang suami.
Vanya duduk di kursi kerja kecil di sudut kamar hotel, cahaya temaram dari lampu meja menyinari wajahnya yang tampak lelah namun tetap fokus. Jemarinya menari di atas keyboard laptop, menyusun laporan pertemuan yang baru saja terinterupsi oleh keributan di restoran bawah.
Pintu kamar terbuka pelan. Devan melangkah masuk dengan bahu yang sedikit merosot. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan yang ia tunjukkan di depan Billy tadi. Ia berdiri diam di dekat tempat tidur, menatap punggung Vanya yang tetap tegak dan tak bergeming sedikit pun.
"Vanya," panggil Devan pelan. "Masih marah?"
Vanya tidak berhenti mengetik. Matanya tetap terpaku pada layar. "Tidak."
"Maafkan aku soal tadi," ucap Devan lagi. Ia berjalan mendekat, mencoba mencari celah untuk melihat wajah istrinya. "Aku hanya... aku tidak suka melihat pria itu menatapmu seperti itu."
Vanya akhirnya menghentikan ketikannya. Ia menarik napas panjang, menutup laptopnya perlahan, lalu berputar untuk menatap Devan. Tidak ada amarah di matanya, hanya ada kelelahan yang begitu dalam dan kekosongan yang membuat Devan merinding.
"Tidak ada yang salah, Devan. Kamu tidak perlu minta maaf," ucap Vanya lirih.
"Lalu kenapa suaramu sedingin ini?"
Vanya menyandarkan punggungnya, menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku hanya ingin kamu bersikap seperti biasa saja, Devan. Bersikaplah seperti Devan yang kukenal selama tiga tahun terakhir. Cuek, acuh, dingin, dan jarang pulang."
Devan tertegun. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan Olivia tempo hari. "Kenapa? Kenapa kau memintaku bersikap seperti itu saat aku mencoba untuk... untuk lebih peduli?"
"Karena itu lebih mudah bagiku," jawab Vanya jujur. "Saat kamu bersikap acuh, aku tahu di mana posisiku. Aku tahu aku adalah wanita yang hanya ada dalam kontrak pernikahanmu. Aku bisa fokus pada pekerjaanku, pada Jacob Group, dan pada hidupku sendiri tanpa harus merasa bingung dengan sikapmu yang tiba-tiba berubah."
Vanya berdiri, berjalan menuju balkon, menatap kerlip lampu menara Eiffel di kejauhan. "Tidak ada alasan lain, Devan. Aku hanya tidak ingin membangun harapan di atas pasir yang sebentar lagi akan hanyut terbawa ombak saat Viona kembali."
Devan terdiam membisu di tengah kamar. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa kehadirannya di Paris adalah bukti bahwa ia mulai melihat Vanya lebih dari sekadar "pajangan". Namun, kenyataan bahwa ia masih mencintai—atau setidaknya merasa terikat dengan Viona—membuat lidahnya kelu.
Malam itu, di kota yang disebut paling romantis di dunia, Devan menyadari bahwa dimaafkan oleh Vanya jauh lebih menakutkan daripada dimarahi. Karena di balik maaf itu, Vanya sedang perlahan-lahan menghapus nama Devan dari hatinya, bersiap untuk hidup sepenuhnya tanpa membutuhkan perhatian pria yang terlambat menyadari nilai berlian di depannya.