"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: AMBANG KEHANCURAN YANG ELEGAN
"Dunia malam ini akan melihatmu sebagai seorang Lynn yang sesungguhnya, Elysia. Jangan biarkan mawar liar itu mencuri perhatianmu."
Suara Andrew Fred Fidelis terdengar seperti bisikan pemujaan di telinga Elysia saat mereka berdiri di depan pintu besar ballroom hotel bintang lima milik keluarga Lynn. Andrew merapikan kerah jasnya, sementara tangannya yang lain tak lepas dari pinggang Elysia yang terbalut gaun putih sutra.
Nerina, yang berdiri hanya dua langkah di belakang mereka, mendengar setiap kata itu. Ia hanya menatap punggung Andrew dengan senyum simpul yang nyaris tak terlihat. Di sampingnya, Ergino berdiri dengan posisi tegak, memegang tas tangan Nerina dengan pengabdian seorang pelayan yang luar biasa, namun tatapannya sedingin es.
"Andrew, aku gugup," bisik Elysia, suaranya dibuat bergetar. Ia melirik Nerina melalui bahunya, memberikan tatapan kemenangan yang tersembunyi. "Bagaimana jika tamu-tamu itu lebih menyukai Kak Nerina? Dia terlihat begitu... berkuasa malam ini."
Andrew mendengus, matanya sekilas melirik Nerina yang mengenakan gaun hitam backless yang kontras. "Berkuasa? Dia hanya terlihat seperti wanita yang sedang berkabung untuk dirinya sendiri, Elysia. Jangan khawatirkan dia. Malam ini adalah milikmu."
Nerina melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. "Berkabung, Andrew? Kurasa kamu salah menilai warna. Hitam malam ini adalah warna untuk merayakan akhir dari sebuah kebohongan."
Andrew berbalik, menatap Nerina dengan dahi berkerut. "Apa maksudmu?"
"Tidak ada," Nerina membenahi letak anting mutiaranya di depan cermin besar koridor. "Hanya saja, gaun putih Elysia terlihat sangat... rapuh. Sedikit noda saja, maka semuanya akan hancur. Bukankah begitu, Gino?"
Ergino menunduk hormat, namun suaranya terdengar sangat jernih di lorong yang sunyi itu. "Benar, Nona. Sesuatu yang terlalu bersih sering kali menyembunyikan kotoran yang paling sulit dibersihkan."
"Tutup mulutmu, Pelayan!" bentak Andrew. "Berani-beraninya kamu menyindir calon pengantin keluarga Fidelis!"
"Gino hanya menjawab pertanyaanku, Andrew. Kenapa kamu begitu sensitif?" Nerina terkekeh, lalu menatap Elysia yang mulai tampak gelisah sambil memegangi kalung permata biru di lehernya. "Kalung yang indah, Elysia. Pastikan kamu memakainya dengan bangga saat Ayah mengumumkannya nanti."
Elysia memaksakan senyum. "Tentu, Kak Nerina. Terima kasih sudah mengizinkanku memakainya."
Pintu ballroom terbuka lebar. Cahaya lampu gantung kristal yang megah menyambut mereka, diikuti oleh ribuan pasang mata dari kalangan elit bisnis dan media. Pengumuman resmi bahwa keluarga Lynn menemukan kembali putri kandung mereka adalah berita terbesar tahun ini.
Andrew melangkah masuk lebih dulu dengan Elysia di lengannya. Sorot lampu langsung mengikuti mereka. Tepuk tangan membahana.
Nerina masuk beberapa saat setelahnya, berjalan sendirian tanpa pendamping. Namun, auranya yang dingin dan gaun hitamnya justru menciptakan magnet tersendiri. Beberapa pengusaha besar berbisik-bisik, mengagumi ketenangan Nerina yang tetap terlihat seperti ratu meski posisinya sedang terancam.
"Nerina! Di sini!" Nero melambaikan tangan dari meja utama, tempat Elyas dan Anora sudah duduk dengan wajah berseri-seri.
Nerina duduk di kursi yang sudah disediakan, tepat di sebelah Anora. Di belakangnya, Ergino tetap berdiri diam, mengamati setiap tamu yang mendekat seolah ia adalah perisai yang tak terlihat.
"Kamu terlambat masuk, Nerina," bisik Anora, matanya tak lepas dari Elysia yang sedang disalami para tamu. "Dan kenapa baju ini lagi? Ibu sudah bilang, pakailah warna yang lembut agar kamu terlihat mendukung adikmu."
"Hitam adalah dukungan terbaikku, Ibu. Ini melambangkan kedalaman rasa syukurku atas kembalinya Elysia," jawab Nerina tanpa emosi.
"Kamu selalu punya jawaban," keluh Anora, lalu beralih menyambut tamu penting.
Tiba-tiba, Andrew mendekati meja mereka, membisikkan sesuatu pada Elyas Lynn. Elyas mengangguk penuh semangat, lalu berdiri dan berjalan menuju podium utama. Suasana seketika hening.
"Malam ini," suara Elyas menggema melalui pengeras suara, "Bukan hanya perayaan tahunan perusahaan kita. Malam ini adalah kepulangan hati kami. Setelah sepuluh tahun dalam kegelapan, putri kandung kami, Elysia Lynn, telah kembali ke rumah."
Elysia naik ke podium dengan langkah anggun, air mata palsu mulai menggenang di matanya. Andrew berdiri di sampingnya, tampak sangat bangga.
"Banyak yang bertanya," lanjut Elyas, "Bagaimana dengan Nerina? Nerina tetap menjadi bagian dari keluarga kami. Namun, posisi ahli waris utama dan kepemimpinan divisi operasional akan mulai kami alihkan secara bertahap kepada Elysia, agar ia bisa mempelajari warisan darahnya."
Bisik-bisik kaget terdengar dari arah tamu. Ini adalah pengambilalihan kekuasaan secara terang-terangan.
Andrew menatap Nerina dari atas podium, memberikan senyum kemenangan yang sangat merendahkan. Seolah ia baru saja berhasil menendang Nerina keluar dari takhtanya.
Namun, di bawah meja, tangan Nerina menggenggam ponselnya. Ia merasakan getaran pendek. Sebuah pesan dari Ergino yang berdiri di belakangnya.
Gino: "Transmisi dimulai. Permata biru itu kini menyiarkan percakapan mereka di ruang tunggu tadi ke server media."
Nerina mendongak, menatap mata Ergino melalui pantulan gelas sampanye di depannya. Ergino memberikan anggukan mikro.
"Ayah," Nerina tiba-tiba berdiri, memotong pidato Elyas yang hampir selesai.
Elyas mengernyit. "Ya, Nerina? Ada yang ingin kamu sampaikan sebagai kakak?"
Nerina melangkah menuju podium, membuat Andrew dan Elysia sedikit waspada. Nerina mengambil mikrofon tambahan dengan tenang.
"Aku hanya ingin mengatakan," Nerina menatap Elysia, lalu ke arah kamera media yang sedang melakukan siaran langsung. "Bahwa aku sangat menghargai kejujuran. Dan aku berharap, pengakuan ini adalah awal dari transparansi total di keluarga kita."
Nerina berpaling pada Andrew. "Andrew, apakah kamu juga memiliki kejujuran yang sama untuk malam ini?"
Andrew tertawa gugup. "Tentu, Nerina. Kejujuranku adalah mendukung keluarga Lynn sepenuhnya."
"Benarkah?" Nerina tersenyum misterius. "Kalau begitu, mari kita rayakan kejujuran itu dengan sebuah video kenangan yang sudah disiapkan oleh tim IT kita. Sebuah video tentang perjalanan Elysia selama sepuluh tahun ini... yang mungkin Ayah dan Ibu belum sempat lihat sepenuhnya."
Wajah Elysia mendadak pucat. Ia meraba kalung permatanya dengan tangan gemetar.
"Video apa, Nerina?" Nero berteriak dari mejanya, mulai merasa ada yang tidak beres.
"Hanya video singkat," sahut Nerina sambil melirik Ergino. "Gino, silakan putar."
Layar raksasa di belakang podium mendadak menyala. Namun, yang muncul bukanlah foto-foto masa kecil Elysia, melainkan sebuah rekaman audio dan visual yang jernih—rekaman dari sepuluh menit yang lalu di ruang tunggu VIP, saat Elysia dan Andrew berpikir mereka hanya berdua.
"Sabar sayang," suara Andrew terdengar sangat jelas di seluruh ballroom. "Setelah pesta ini, Nerina akan segera disingkirkan. Aku sudah mengatur agar audit perusahaan menyalahkan dia atas kerugian bulan lalu. Kamu akan mendapatkan takhtanya, dan aku akan mendapatkanmu."
Lalu terdengar suara Elysia, tajam dan penuh kemenangan, sangat berbeda dengan suaranya yang lembut di panggung. "Ayah dan Ibu sangat bodoh, mereka percaya begitu saja dengan air mata palsuku. Nerina pikir dia pintar? Dia hanya anak angkat yang malang. Aku tidak sabar melihatnya mengemis di jalanan."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Ribuan tamu terpaku. Wajah Elyas Lynn berubah menjadi merah padam, sementara Anora nyaris pingsan di kursinya.
Nerina berdiri di sana, di bawah lampu sorot, tampak begitu tenang dan berwibawa di dalam gaun hitamnya. Ia menoleh pada Elysia yang kini menggigil hebat.
"Selamat datang di rumah yang sebenarnya, Elysia," bisik Nerina tanpa mikrofon, namun cukup untuk membuat Elysia terjatuh lemas di lantai podium.
Permainan baru saja mencapai level yang mematikan.