Naura Aurora, (18thn). Gadis SMA yang memiliki nasib menyedihkan, karena selalu diremehkan oleh ketiga kakaknya bahkan dia nyaris dijual untuk membayar hutang sang kakak.
Arnold William Maxime (35thn). Seorang pengusaha besar, tampan dan gagah yang memiliki hobi membawa racun serangga kemanapun dirinya pergi, memiliki tangan ajaib, takut ketinggian, dan hal-hal aneh yang belum pernah dia lihat.
Kira-kira, bagaimana jadinya jika mereka disatukan secara tidak sengaja dalam satu rumah? Ikuti terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zia Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Siang hari, Naura sedang membaca bukunya di depan teras rumah Laila. Semilir angin yang begitu menyejukkan, menerbangkan anak rambut Naura yang keluar dari ikatan rambutnya.
Suasana rumah Laila sedang sepi, Laila pergi entah kemana. Sementara sandi anak semata wayang Laila sedang pergi bermain bola bersama teman-temannya.
Sebuah motor tiba-tiba berhenti di depan rumah Laila, seorang pria yang merupakan kondektur Fredi menghampiri Naura sambil tersenyum.
"Neng Naura, ini ada titipan dari Abang Fredi. Katanya buat bayar SPP, tapi bang Fredi bilang, suruh Laila yang membayarnya ke sekolah." kondektur itu mengasongkan sejumlah uang ke tangan Naura.
"Oh, makasih ya Om."
"Iya sama-sama, saya pamit dulu."
"Iya, eh Om tunggu." Naura bangkit dari duduknya dan menghampiri kondektur tersebut. "Em, begini om. Naura kan lagi banyak kebutuhan, boleh nggak kalau uangnya Naura ambil lima puluh ribu tapi om jangan bilang ke Abang ya."
"Itu sih terserah, neng Naura aja yang penting saya sudah menyampaikan titipannya ke neng," jawab kondektur bernama wahyu.
"Iya, tapi om jangan bilang kalau Naura ambil uangnya sebagian."
"Iya, saya nggak akan bilang. Kalau begitu saya permisi dulu."
"Makasih ya, Om." Naura kembali duduk dan melihat berapa jumlah uang yang diberikan oleh kakaknya, ini adalah pertama kalinya lagi sang kakak memberikan uang sekolah padanya. "Aku ambil sedikit gak apa-apa kali ya, buat bayar buku. Toh Laila juga nggak akan tahu." Naura masuk ke dalam rumah dan menunggu kakaknya pulang.
🌸🌸🌸
"Kak, ini uang dari kak Fredi katanya buat bayar spp." Naura memberikan tiga lembar uang berwarna merah pada Laila kemudian kembali ke kamarnya.
Tidak ada apapun yang terjadi pada Naura, hari ini suasana rumah terasa damai dan tenang. Baru kali ini juga naura merasa betah berada dirumahnya , dia mencoba mengirim pesan pada Calista dan membicarakan hal random pada sahabatnya itu.
"Ca."
Pesan terkirim.
Ting.
"Oy."
"Gue kangen sama lo, emot cium."
"Ish, sorry gue masih normal, emot mendelik."
"Sok, jual mahal lo, emot tertawa."
"Emang gue mahal kali, Ra. Tapi kalau di bayar pake semangkok bakso juga gue nggak bakal nolak, otw Yo'o. Emot terbahak."
"Anjay, Yo'o nggak tahu,wkwkwk."
"Eh, Ra katanya lo lagi butuh duit. Ada nih kerjaan buat lo gajinya 30 juta /hari."
"Kerja apaan, Ca?."
"Ngelurusin cabe keriting, haha."
Naura membalas chat Calista, dengan spam stiker bom.
Baru saja naura merasakan ketenangan hidup dan bisa tertawa lagi meskipun, lewat pesan singkat bersama Calista. Laila tiba-tiba mendobrak pintu kamarnya sambil marah-marah.
"Kamu ngambil uang yang dari si fredi?" Laila bertanya dengan nada tinggi.
Naura terdiam, tak berani mengatakan apapun karena saat ini dirinya yang bersalah.
"Jawab, Naura!"
Naura terhenyak dengan bentakan Laila.
"I-iya, aku ngambil lima puluh ribu buat bayar buku," jawab naura terbata.
"Dasar goblok, maling lo ... ih, Naura bisa nggak sih sehari aja nggak bikin masalah," ujar Laila yang terlihat gemas sekali pada adiknya yang selalu membuat darahnya tinggi.
"M-maaf, kak. Tapi aku sangat butuh untuk membayar buku," ucap Naura tertunduk.
"Butuh ya bilang, nggak usah mencuri. Kamu pikir aku nggak bakal bertanya pada kakak kamu hah, kecil-kecil udah jadi maling gimana udah besar mau jadi apa kamu!" Laila terus menghardik adiknya hanya karena uang lima puluh ribu.
"Maafkan aku, kak. Aku salah."
"Ya emang kamu salah, sekarang kembalikan uangnya."
"Tapi kak, aku sangat butuh buat bayar buku," lirih Naura memelas.
"Aku tidak peduli! Kalau kamu butuh uang, sana kerja … balik lagi ke rumah juragan Jaka."
Naura menggelengkan kepalanya cepat, memohon pada Laila agar tidak mengirimnya lagi ke rumah Jaka yang hampir membuat kegadisannya hilang.
"J-jangan kak, aku mohon jangan kirim aku kesana lagi."
"Ya sudah, berikan uangnya," sentak Laila. Ia terus memaksa agar Naura mengembalikan uang yang tadi ia ambil.
Setelah ia mendapatkan uang tersebut, Laila pergi sambil tersenyum meninggalkan kamar Naura.
Naura menutup kembali pintu kamarnya, ia melorotkan tubuhnya di depan pintu kamar, dan kembali menangis.
"Mah, pah. Kenapa hidup aku harus seperti ini? Bahkan disaat aku mengambil hak milikku, Laila begitu tega mengatai aku pencuri," gumam Naura dalam Isak tangisnya.
"Kapan aku bisa bahagia? Kapan aku bisa bebas seperti orang lain, aku capek terus-terusan hidup seperti ini, Ma." Naura memeluk kedua lututnya, menenggelamkan wajah ke atas lututnya dan kembali menangis.
Dan lagi, untuk meluapkan rasa kesalnya pada Laila. Ia kembali menggores lengannya yang masih terluka dengan silet, dan menyebabkan darah segar kembali menetes dari sana.
🌸🌸🌸
"Astaga, Ra. Tangan lo kenapa?" Pekik Calista yang melihat lengan sahabatnya di penuhi luka goresan yang masih basah.
Naura menutupi tangannya dari Calista. "Gue, nggak apa-apa ko Ca."
"Jangan bohong lo, sama gue."
"Beneran gue, nggak bohong Ca."
Calista menatap Naura penuh selidik, sementara Naura hanya tersenyum seakan tidak ada apapun yang sedang dia sembunyikan dari sahabatnya itu.
"Ra," lirih Calista.
"Hem," jawab Naura yang sedang sibuk menulis.
"Gue tahu, permasalahan lo berat. Tapi, please jangan pernah sakitin diri lo sendiri," tutur Calista. Hatinya begitu prihatin dengan kehidupan Naura yang selalu dirundung masalah.
"Iya, nanti gue sakitin Reyhan aja kan dia baik," balas Naura tanpa melihat Calista.
Calista menarik napasnya dalam, ia merasa kesal pada kebiasaan sahabatnya yang selalu menutupi semua permasalahannya dengan candaan.
"Ra, please deh. Gue lagi ngomong serius sama lo," rengek Calista.
"Gue juga serius, Ca." Naura menatap Calista lalu, ia terkekeh saat melihat sahabatnya sedang cemberut.
"Nggak lucu tahu, Ra."
Naura menghela napasnya, meletakan pulpennya dan menggenggam tangan Calista. "Yes, Baby. Aku tidak akan melakukan itu," ujar Naura dengan tatapan genit.
"Ih, jijik sekali wle."
Kedua gadis itu kemudian terkekeh, merasa konyol dengan tingkah lakunya sendiri.
Kelakuan mereka memang berbeda dengan siswi yang lainnya, di saat gadis yang lain lebih suka menjaga image dan caper kesana kemari. Mereka berdua tidak terlalu mementingkan image, yang penting nyaman selalu menjadi pegangan mereka berdua.
Sikap santuy, dan bodo amat membuat mereka terkadang banyak tidak disukai oleh teman-temannya yang lain. Tapi mereka tidak peduli, mau seperti apapun pandangan teman-temannya terhadap mereka. Naura dan Calista tidak pernah ambil pusing, selagi mereka berdua bahagia, Naura dan Calista akan tetap melakukan apapun yang mereka mau tanpa merugikan orang lain.
Bersambung.