Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status baru
Nara sudah bersiap dengan seragam sekolahnya. Ia masih menunggu Daffin yang tengah berganti baju setelah mandi tadi.
"Fin cepatan, gue gak mau telat." pekik Nara dari depan pintu kamar.
"Gak usah teriak, gue udah kelar. Ayo buruan, entar elo telat lagi. Kalo elo telat 'kan gak etis, masa asisten BK telat. Terus entar yang hukum gue siapa.?" cerocos Daffin, Nara melongo mendengar ucapan Daffin barusan.
Nara meletakan punggung tangannya di kening Daffin "elo sehat kan?"
"Elo pikir gue sakit, hah.?"
"Ya kali aja, soalnya baru kali ini gue denger elo ngomong panjang lebar. Bawel!" Nara mengedikan bahunya kemudian meninggalkan Daffin di kamar yang masih diam menatap punggung Nara yang mulai menghilang tertelan jarak.
Nara menyiapkan piring dan nasi dengan lauk lengkap untuk Daffin suaminya. Ah rasanya masih ngeri jika ingat setatusnya saat ini, bahkan di umur yang belum genap 17 ia sudah menjadi seorang istri.
"Berasa punya istri benaran." gumam Daffin sembari menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulutnya.
"Elo pikir gue imajinasi elo."
Daffin tidak menjawab ia memilih melanjutkan makannya.
"Gue berangkat naik taksi aja ya."
"Elo bareng gue, hari ini sampai seterusnya."
"Tapi kan_"
"Gue bakal bilang ke semua orang kalo elo itu cewek gue."
"Gak segampang itu Fin."
"Kenapa karena elo sama gue beda gitu? Jadi gue gak pantes jadi cowok elo?"
"Bukan gitu maksud gue."
"Serah elo deh."
"Fin tunggu."panggil Nara, Daffin berbalik. "Gue bareng elo." Sedikit ujung bibir Daffin tertarik ke atas.
Daffin memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah, ia keluar dari mobil dan berjalan ke sebelah pintu tempat Nara duduk. Setelah pintu di buka Daffin Nara pun keluar.
Murid yang kebetulan sedang berada di sekitar parkiran, banyak yang menatap heran pada keduanya. Pasalnya ini kali pertama dalam sejarah, Daffin si badboy yang biasa datang terlambat dan selalu di hukum oleh Nara gadis pintar asisten OSIS juga asisten BK hari ini mereka datang bersama.
Tak jauh dari mereka Baim terlihat menggeram marah dengan kedua tangan mengepal kuat. Nara melihat Baim sekilas ada rasa bersalah di hatinya jika ingat kejadian kemarin. Tapi ia tidak mau menambah masalah dengan menghampiri Baim saat ini, mengingat ia masih bersama Daffin.
"Ayo." Daffin meraih tangan Nara dan menggandengnya. Mereka berjalan dengan santai melewati setiap murid yang tengah menatap dan ada juga yang berbisik membicarakan mereka berdua.
Nara menundukkan kepalanya. Dia malu menjadi pusat perhatian seperti saat ini. Di koridor, keduanya bertemu dengan dua sahabat Daffin, yang juga tak kalah terkejut. Tapi Daffin seolah tidak peduli ia melewati kedua temannya begitu saja.
Sampai di depan kelas Nara baru Daffin melepaskan tangannya. Tangan itu terulur mengusak rambut Nara dengan senyum manis tercetak di bibirnya.
"Gue balik ke kelas dulu."
"Fin." dengan cepat Nara menarik tangan Daffin, membuat Daffin berbalik dengan sebelah kening terangkat "jangan bolos!"
Daffin tidak menjawab ia hanya tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya.
Sepeninggal Daffin kelas mulai heboh, ada yang mencie-cie Nara, ada yang menggoda dan lain sebagainya.
"Ra. Ra. Sejak kapan elo deket dengan si badboy?" Nara mengedikan bahunya "ish. Nara jawab dong!" Mia mengguncang bahu Nara.
"Berisik Mia, guru udah mau masuk tuh." bentak Baim yang baru masuk dan duduk di kursinya.
Nara bangkit menghampiri Baim "Im elo gak apa 'kan? Sory ya atas ke jadian kemarin."
"Bukan salah elo Ra, kenapa elo yang minta maaf?" Daffin menepis pelan tangan Nara yang akan menyentuh wajah lebamnya.
"Loh Im, elo berantem? Sama siapa? Elo gak papa kan?" cerocos Mia.
"Gue gak apa, udah kalian balik ke kursi masing-masing sana!" Nara dan Mia mendengus mereka kembali ke kursinya.
padahal kan Nara tokoh sentralnya.