Ellena adalah sosok gadis yang mandiri, kuat, keras kelapa, sedikit kasar, namun hatinya baik dan murah hati. Ellena sangat sering membantu teman-teman di daerahnya yang kurang mampu.
Ia dibesarkan dari sepasang suami istri yaitu Papa dan Mamanya, yang memulai hidup berumah tangga dari O saat mereka menikah, sampai mereka membuka bisnis dan hidup berkecukupan.
Masa pertumbuhan Ellena, ia mendapat didikkan yang sangat keras oleh Papanya. Karenaa banyaknya pengalaman saat merantau semasa muda, menjadikan Papa Ellena sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Begitu juga dengan Ibunya yang menjadi guru SD dan SMP didaerahnya. Ia adalah wanita mandiri.
Papa Ellena sering melayangkan tangan, kaki, barang atau pun dengan ucapan yang keras dan kasar kepada Ellena dan Mamanya.
Ellena memilih satu Adik laki-laki yang sangat di sayangi oleh Papanya. Dibanding terbalik dengan Ellena.
Karena semua itu, bertahun-tahun lamanya, Ellena memendam kebencian terhadap Papanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellena24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Tamparan Keras Melayang
"Papa bunuh aja aku!! Papa bunuh anak kandung Papa nih!!" kali ini Ellena melontarkan kalimatnya dengan bibir gemetar sambil meneteskan air mata.
Saat ini Ellena merasa, hanya ada dirinya dan papa yang ada di situ. Tidak ada suara lain yang terdengar! Padahal Om Natus berbicara membujuk Papa, Tio yang menangis kencang dan tangan Ellena yang ditarik-tarik oleh Mamanya juga tidak berpengaruh untuk keduanya.
Papa dan seorang anak gadisnya ini, hanya fokus saling bertatapan dengan mata yang besar dan di penuh amarah yang membara. Begitu juga dengan Ellena, rasa ini sudah ia tahan selama bertahun-tahun.
Selalu ingin ia ucapkan, namun tidak pernah tersampaikan. Mungkin malam ini adalah puncaknya.
"Bang!! Bang!! Udah Bang... Tidak usah begitu Bang..." kata Om Natus menenangkan Papa Ellena.
"Anak ini, kurang ajar Tus!! Makin besar makin kurang ajar sama orang tua!!"
"Iya Bang... Walaupun begitu, tidak boleh seperti ini Bang... Kasihan sama Ellen Bang"
Om Natus menarik obeng yang ada di tangan Papa. Juga Ellena yang menurunkan pandangan bola matanya.
Namun tidak disangka-sangaka tangan kanan Papa Ellena melayang ke bagian pipi kiri Ellena sampai ke bagian telinganya.
Praakkkkkk!!!
Satu tamparan melayang di pipi Ellena, yang dilakukan oleh Papanya dengan keras.
Ellena pun tidak mampu menahan tangis, walau dengan bibir yang tertutup. Badannya masih tegak berdiri di hadapan Papanya.
Rasa ingin membalas dilampiaskannya dengan begitu keras mengepal kedua tangannya, sehingga kuku panjang Ellena menusuk dan melukai bagian telapak tangannya.
"Bawa Ellen masuk kamar!" kata Om Natus kepada Mama Ellena.
Segera dengan kuat, Mama Ellena langsung menarik anaknya itu masuk ke kamar.
Ellena yang masih belum bisa mendengar apa pun perkataan dari Mamanya, karena ia masih bergumul dengan dirinya sendiri.
Rasa kecewa, rasa marah dan rasa sedih yang kini bercampur aduk di dasar hati seorang anak gadis malang ini. Karena perbuatan keras yang sudah dilakukan oleh Papa nya sendiri.
Tamparan keras dari telapak tangan tebal dan kasar, yang mendarat di pipinya pun belum ia rasakan.
Ia hanya menangis dengan tersendat-sendat seperti tertahan. Sambil diarahkan oleh Mama nya untuk duduk bersandar di tempat tidur.
"Ellen!!"
"Len..."
"Ellen..."
Terdengar suara yang memanggil Ellena sambil menggoyang-goyangkan badannya.
Seketika Ellena tersadar dan melihat Mama nya sedang terbungkuk menatapnya dengan khawatir.
"Kamu tidak apa-apa? Kamu lawan Papa kayak gitu! Mama kan sudah pernah bilang, kalau dia marah langsung lari saja. Jangan dilawan! Orang kayak Papa itu tidak bisa dilawan"
Ellena mulai berhenti menangis. Ia tidak merasa menyesal telah menantang Papa nya tadi.
'Ya... Aku tidak ada melakukan kesalahan sama sekali. Mengapa aku harus diam, ketika aku di perlakukan seperti itu tanpa alasan yang jelas?' Ellena berbicara dalam hati.
Dengan perlahan Ellena mengingat kembali, apa yang sudah ia lakukan sebelum kejadian tadi. Dan Ellena kembali yakin dengan dirinya, bahwa ia tidak melakukan kesalahan apa pun dan terhadap siapa pun.
Hanya saja tidak menyangka dan masih bingung tentang apa yang terjadi.
"Ma... Aku mau bicara sama Papa sebentar!" kata Ellena tiba-tiba."
"Hah? Kamu mau bicara apa? Jangan Len! Sudah... Tenang dulu sebentar" kata Mama Ellena sambil menahan Ellena agar tetap duduk di tempat tidurnya.
"Aku masih tidak puas Ma, dengan apa yang sudah Papa ucapkan atau lakukan ke aku tadi. Aku belum bisa terima! Aku tidak menemukan kesalahan apa pun pada diriku, yang bisa menjadi alasan dia harus berbuat seperti itu kepadaku"
"Kamu belum kenal Papa, Len? Apa selama ini dengan semua kekerasan yang dia lakukan sama Mama, sama kamu ada alasan yang jelas?" Mama memberi pertanyaan yang juga mengandung pernyataan.
"Iya memang betul itu Ma! Karena itu aku mau bicara sama Papa! Mengapa dia selalu memperlakukan kita seperti ini! Berartikan ada yang salah dengan pribadi Papa!"
"Mama tahu Ellen, kebenaran harus di luruskan tapi ada kalanya kita cukup diam agar semuanya berjalan lurus!"
"Ma...!" kata Ellena menggenggam tangan Mama nya yang mulai menangis. "Mama jangan nangis, Ma!"
"Mama sudah capek, Nak... Capek badan, capek pikiran... Sudah cukup satu saja yang model Papa di rumah ini, kamu jangan!"
Bersambung...
next next