Andika Saputra seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja di ibu kota. Dia seorang arsitek, bekerja di perusahaan kontraktor "Satria Group" yang cukup punya nama di ibu kota. Kinerjanya sangat bagus dan kejujurannya menjadi perhatian manajemen perusahaan termasuk Gunawan Presdir perusahaan tersebut. Hingga Gunawan sangat menginginkan Andika menjadi menantunya, suami untuk Karina anak semata wayangnya.
Ujian demi ujian kehidupan dilalui oleh Andika, dari mulai kepergian ibunya utk selamanya, perjuangan meraih karirnya, termasuk perjuangan cintanya.
Akankah Andika berjodoh dengan Karina?
ataukah ada wanita lain yang dicintainya?
Temukan jawabannya.....!
Selamat membaca.
Salam
Umi Haifa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Haifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bolehkah Berharap?
Hari minggu memang enaknya istirahat di rumah, bersantai-santai melepas kelelahan setelah beraktifitas di hari kerja. Begitu pun yang dilakukan Andika di kamar kostnya. Ia berencana untuk menghabiskan waktunya untuk membaca buku motivasi yang belum selesai dibacanya dan nonton film di laptopnya. Andika jarang membuka medsos, entah kenapa hari itu dia membuka akun FBnya yang sudah beberapa bulan tidak pernah dibuka.
Banyak permintaan pertemanan baru. Andika mengeceknya. Ada Marsya, Riska, Dio dan beberapa karyawan Satria Group yang sudah kenal dengannya. Andika pun menekan tombol konfirmasi pada beberapa permintaan pertemanan yang dikenalnya, termasuk Marsya dan Riska.
Banyak juga notifikasi sahabat FB nya yang meng like postingan terakhir Andika. Terakhir kali Andika memposting beberapa gambar rumah minimalis yang ia rancang.
Andika pun melihat beranda, membaca beberapa postingan sahabat FBnya. Dan ada akun Riana muncul dengan statusnya
" Menunggu....Menunggu saat itu datang"
Menunggu apa dia, menunggu siapa? Jadi pengen ngegodain. Pikir Andika
Andika langsung mengambil HPnya dan membuka chat WA Riana
" Assalamualaikum"
" Lagi ngapain Ri?"
Sepuluh menit berlalu belum ada balasan. Andika mulai beralih ke buku motivasi yang akan dibacanya, buku motivasi tentang meraih keajaiban karangan motivator terkenal tanah air. Andika memang percaya dengan keajaiban, keajaiban itu ada bagi yang percaya. Dia pun merasakan beberapa kali mendapat keajaiban, saat hal yang tidak mungkin terjadi menurutnya, ternyata terjadi. Dan tentu saja keajaiban itu Allah yang mentakdirkannya.
Tring...tring.... notifikasi pesan WA. Akhirnya Riana membalas WAnya.
" Waalaikumsalam."
"Baru selesai bantuin mama masak."
"Tumben nih nge WA ada apa mas?"
Andika memang jarang ngirim chat dengan Riana kalau ada perlu banget baru ngechat.
" Nggak, penasaran aja ada yang bikin status "Menunggu" Jawab Andika
"Pengen tau menunggu apa sih."
Ah mas Andika pasti baca postinganku di FB. Jawab apa dong....masa saya harus jujur kalau saya lagi menunggu mas Dika datang ke rumah dan memintaku untuk menjadi pendampingnya....aaaahhh gak mungkin kan. Postingan Riana memang maksudnya menunggu Andika datang pada suatu hari untuk melamarnya.
Sejak obrolannya dengan Andika satu minggu yang lalu saat keluarga Andika mengajaknya pergi makan nasi liwet di sebuah resto dengan pemandangan alam terbuka , Riana jadi berpikir kalau Andika sebenarnya menyukainya dan ingin menjadikannya pendamping hidup, namun belum waktunya, entah sampai kapan waktunya akan datang, Dia akan menunggunya.
Saat itu di sebuah resto ....
Dita mengajak ibu dan Adit untuk sholat Dhuhur ke musola yang ada di resto, sengaja meninggalkan kakaknya Andika dan Riana berdua. Dita tau banget kalau Riana menyukai kakaknya tapi tentang perasaan kakaknya Dita masih belum yakin walaupun ada tanda-tanda kalau Kakaknya juga menyukai Riana.
"Ri...gimana skripsi kamu?" tanya Andika
" Lagi pengajuan penelitian mas, rencana penelitian di tempat tumbuh kembang anak. penelitian saya tentang anak Down Syndrome."
"Semoga lancar yah. Trus setelah lulus kuliah rencananya mau ngapain?"
"Yah paling ngelamar kerja, standar kan setelah lulus kuliah dapet pekerjaan kaya Mas Dika." Jawab Riana
" Nggak pengen dilamar? " Tanya Dika lagi, Andika kaget sendiri kenapa bertanya seperti itu
Riana juga kaget dengan pertanyaan Andika, mukanya tampak memerah, jantungnya pun berdetak lebih kencang.
Pengennya sih dilamar langsung Mas Andika. Batin Riana
" Gak ada yang mau melamarnya..he...he..." Riana mencoba menenangkan dirinya.
"Kalau ada yang mau melamar memangnya siap menerima?" tanya Andika sambil senyum-senyum
Kalau yang melamar Mas Andika saya siap.....aduuuh gimana ini jawab jujur jangan.
" Hhmmmm ....siap gak yah, ... tergantung siapa dulu yang melamarnya. " Riana menjawab dengan ragu-ragu
"Maksudnya? " tanya Andika
"Ya kalau yang melamarnya laki-laki yang saya suka diterima aja." muka Riana tampak memerah.
" Memangnya sudah ada yah laki-laki yang kamu suka."
Ahhh....mas Dika kok nanya terus sih, ada....kamu yang saya suka, beneran kamu mau tau, tapi kamunya suka sama aku gakkk....ahhhh
"Ada sih....tapi gak tau dianya suka apa nggak?" jawab Riana sedikit menunduk meremas kedua tangannya di bawah meja yang berkeringat.
" Siapa?....siapa orangnya biar mas Dika bantuin taarufnya." Andika mencoba memperlihatkan ekspresi wajah penuh semangat walaupun hatinya sedikit khawatir karena ternyata sudah ada laki-laki yang disukai Riana.
Aahhh....Mas Dika ini gak bisa gitu baca perasaan saya, gak merasa gitu kalau saya tuh sukanya sama kamu, kamu benar-benar gak berperasaan.
" Udah ah...jangan bahas ini, lagian saya juga kan belum selesai kuliahnya, masih mau fokus skripsi dulu. Nah Mas Dika sendiri gimana, kalau Mas Dika udah pas mikirin pendamping hidup, udah ada yang yang mau dilamar?" Tanya Riana ragu-ragu.
Gimana kalau jawaban Mas Dika sudah ada calon yang mau dilamar.....saya belum siap mendengarnya, saya gak mau nangis di sini , gak mau nangis sekarang.......Batin Riana
" Ri kamu mau tau atau mau tau banget ?"
tanya Dika sambil tersenyum
Saya gak mau tau Mas Dika, gak apa-apa gak usah dijawab. Jangan-jangan calonnya teman kerjanya yang mirip saya itu.
" Ibu juga semalam bertanya seperti itu."
" Trus Mas Dika jawab apa?" tanya Riana penasaran
Hey katanya gak mau dengar......tapi nanya terus....
" Mas Dika jawab belum kepikiran kesana, Mas Dika ingin membahagiakan ibu dulu."
Ah syukurlah....ternyata Mas Dika belum punya calon. Lega rasanya. Batin Riana sambil menarik nafas panjang.
" Tau gak Ri, Dita bilang kita pasangan yang cocok, Dita itu memang kalau ngomong suka asal. Kita kan memang dari dulu dekat dan bersahabat, bahkan kamu sudah seperti adik sendiri."
Aahhh....Mas Dika ternyata kamu memang menganggapku sahabat yah, dan menganggap adik. Jadi benar tidak ada harapan? Dita benar kok Mas kita cocok, kita sudah tau pribadi masing-masing, dan saya siap membahagiakan ibu juga.
" Tapi Ri, kita kan gak tau yah....jodoh itu Allah yang ngatur, siapa tau kita juga berjodoh, gak ada yang tidak mungkin kan?" Dika berusaha mencari tau respon Riana dengan pertanyaannya.
Kok ekspresinya biasa aja sih, gak kelihatan senang. Bati Andika
Ri......jaga mukamu, jangan kelihatan terlalu senang, dia cuma sedang godain kamu, jangan sampe dia tau kamu suka sama dia. Tapi benar kan itu yang diucapkan mas Dika, bener Mas bisa aja kita berjodoh. Jadi boleh kan berharap ?
" Iya Mas, jodoh memang rahasia Allah, dan sudah ditentukan oleh Allah, makanya saya juga gak terlalu ambil pusing urusan ini, jalanin saja, kalau sudah jodohnya gak akan kemana kan?
Jawaban yang elegan kan? gak kelihatan kan kalau saya berharap sama Mas Dika
" Ternyata pemikiran kita sama Ri." kata Andika
Apa mungkin karena kita sehati, ah...semoga saja kita berjodoh. Dika
Pembicaraan mereka waktu itu terputus dengan kedatangan Dita , Ibu dan Adit yang sudah melaksanakan sholat dhuhur.
Tring....tring...pesan WA masuk, Dita tersentak kaget dan segera membuka pesan dari
Andika.
"Kok gak dibalas." tanya Andika
Ternyata hampir satu jam waktu berlalu Riana belum membalas chat Andika.
" Maaf tadi Mama manggil, ada yang harus dibantu."
Maaf ya Ma Riana bohong bawa-bawa nama mama
" Saya lagi menunggu gak sabar ingin segera ke lapangan praktek penelitian." jawab Riana
Aaahhh....saya bohong lagi....maaf Mas Dika belum saatnya saya jujur sama kamu.
" Kirain nunggu yang ngelamar..he..he..."
Iya nunggu Mas Dika melamar.
" Iya nunggu Mas Dika melamar." tanpa sadar Riana menulis di chatnya.
Eeehhhh kenapa ditulis....cepet hapus.....mumpung belum dibaca. Gawat kalau dibaca Mas Dika.
Pesan pun dihapus Riana sebelum Andika
membacanya.
Andika mengirim stiker yang bertuliskan
" Kenapa dihapus, saya kan belum baca"
" Salah kirim" Balas Riana
Untung aja dia belum baca.
" Ya udah semoga lancar, cepat keluar ijinnya, sampai ketemu bulan depan."
" Ok mas....makasih yah,"
Yaaah...kok udahan sih chat nya, ah mungkin dia lagi sibuk. Aneh yah kok Mas Dika obrolannya nyerempet-nyerempet lamaran terus, apa ini kode, kalau saya masih punya harapan ....harapan dilamar mas Dika.
Riana senyum-senyum sendiri.
Waktu pun sudah menunjukan waktu dzuhur, Riana segera bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan sholat dzuhur.
bersambung
terimakasih