Ettan Naraya tak pernah menyangka, jika kepulangannya ke kampung halaman untuk menjenguk adik kembarnya, berubah menjadi pernikahan dadakan untuknya.
"Bu, ngga mungkin aku menikahi Fatmala, aku punya kekasih!" ujar Ettan geram.
"Ibu mohon Ra, demi menjaga nama baik keluarga kita Nara, Fatma ... hamil," lirih Mayang.
Bak petir menyambar, Ettan terkejut mendengar penuturan sang ibu. Ia tak menyangka jika adiknya yang terlihat alim dan pemalu itu berani menghamili seorang gadis, yang tak lain adalah keponakan dari orang kepercayaan keluarga mereka.
Ettan Naraya seorang lelaki berpendirian teguh harus terjebak dalam situasi rumit kisah asmara adiknya. Terlebih lagi dia harus mengusut misteri tentang kematian adik kembarnya.
Mampukah Ettan Naraya memegang teguh prinsipnya sebagai lelaki?
Dan mebongkar kasus kematian adiknya?
Ikuti lika liku kisah mereka, jangan lupa tinggalkan Fav, like dan komen ya untuk dukung saya, terima kasih.
Follow juga
Fb:Vi Redwhite
IG :@vi_redwhite
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum Ada Titik Terang
Kabar yang aku tunggu dari kepolisian belum menemui titik terang.
Dari beberapa saksi yang di temui pihak kepolisian, mereka melihat Nathan berada di tempat hiburan malam di kotaku.
Aku mengernyit heran saat mendengar kabar itu. Nathan ke tempat hiburan malam jelas suatu kabar yang mengejutkan bagiku. Sebab yang aku tahu, dia tak mungkin ke tempat seperti itu. Tapi entahlah, aku tidak pernah terlalu ikut campur urusan pribadinya.
Lagi pula kami jarang bertemu akhir-akhir ini, mungkin dia hanya sekedar melepas penat seperti yang biasa Saka lakukan.
Aku sendiri beberapa kali datang ke tempat seperti itu bersama Arman dan Saka. Tapi tak sekalipun aku menyentuh minuman berbau menyengat itu. Yang kulakukan hanya sekedar menemani Saka saja.
Tapi menurut ibuku, Nathan memang pamit pergi untuk menemui seseorang. Apa dia berbohong, atau memang orang yang ingin di temuinya ada di tempat hiburan malam itu.
Berhubung pihak kepolisian masih mencari saksi, aku hanya bisa pasrah menunggu kabar selanjutnya.
Tak lama ponselku kembali berdering, tertera nama ibu di sana.
"Iya Bu?"
"Nara! Kamu kapan pulang? Tiga hari lagi pernikahan kamu loh! Jangan bilang kamu lupa!" ucapnya.
Ya ampun aku sampai lupa jika ternyata sudah seminggu aku kembali ke kota untuk bekerja.
Mungkin karena pernikahan itu bukanlah keinginanku, jadi aku tidak merasa hal itu penting untuk di ingat.
"Ibu tenang aja, pas akad aku ada di sana," balasku sambil terkekeh.
"Masa kamu ngga mau cari cincin nikah sih Ra?" rengek ibuku.
"Udahlah Bu, Ibu aja yang beli. Nanti uangnya aku kirim. Aku sampe lupa ngga kasih uang nikahan ke ibu."
Teringat aku belum memberikan sepeser pun uang untuk acara pernikahan terpaksa ini.
"Siapa yang nikah Tan?" tanya Saka yang tiba-tiba masuk ke ruanganku.
Aku yang terkejut sontak menghentikan pembicaraan dengan ibuku.
"Udah ya Bu, nanti Nara kabar in lagi, Assalamualaikum," ucapku berusaha tenang, meski jantungku saat ini berdebar sangat kencang.
Berpikir apa Saka mendengar pembicaraanku dengan ibu atau tidak.
"Kebiasaan lu kalo mau masuk kagak ngetok pintu dulu! Mentang-mentang bos lu!" gerutuku.
Dia hanya terkekeh mendengar gerutuanku. Aku bernapas lega sepertinya dia tidak mendengar pembicaraanku dengan ibu tadi.
"Sory lah, siapa yang mau kawin? Eh nikah maksudnya?"
"Sodara ibu gue. Emm ... Ka, gue ijin cuti ya lusa, tiga hari."
"Lama bener!" sungutnya.
"Keluar kota soalnya. Mana tega gue biar in ibu sendirian," dustaku berharap Saka percaya dan mau mengizinkan.
"Elah, lagi banyak gawean sebenernya. Ya udahlah, bonusan lu gue kasih si Arman entar, adil kan?" tawarnya.
"Atur aja, lagian dia emang bantuin gue terus akhir-akhir ini."
"Ngapa sih! Masih sibuk ngurus kasus Nathan lu?" tanyanya sedikit serius.
"Iya, belum nemu titik terang, baru ketemu saksi-saksi aja."
"Sabarlah, gue yakin nanti juga pasti ketahuan penyebab kematian Nathan." Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas dukungannya.
"Ngomong-ngomong ada apaan lu kemari?"
Tanyaku berusaha mengalihkan topik pembicaraan dari kasus Nathan yang masih membuat sesak dadaku.
Terlebih lagi, mengingatkan aku pada Fatmala dan pernikahan sialan itu.
"Eh iya gue ampe lupa mau cerita ma elu!"
"Serius kayaknya nih," selorohku.
Tak biasanya Saka yang terkenal arogan mendadak salah tingkah di hadapanku.
"Ada apaan sih! Muka lu dah kaya pantat monyet merah begitu!"
"Serius?" dia lantas membuka layar ponselnya dan bercermin di sana membuatku tertawa terpingkal-pingkal.
"Vangsat!" dengusnya setelah selesai bercermin.
"Lagian lu kaya anak abegeh jatuh cinta tau ngga?" ucapku masih dengan menahan tawa.
Dia lantas menceritakan jika akhir-akhir ini dia sulit tidur, sebab terbayang wajah Siska yang dilihatnya berbincang dengan seorang lelaki.
"Elu cemburu?" tukasku dan membuatnya mendengus.
"Ngapain gue cemburu kampret!"
"Lah trus, dia yang ngobrol sama cowok kenapa elu yang kebakaran jenggot?"
Saka berkata jika ia takut gadis sederhana seperti Siska di tipu oleh lelaki.
Jelas sekali terlihat olehku jika dia mengkhawatirkan sekretarisnya itu.
"Ya elah, dia bukan anak kecil. Emang lu siapa ngelarang dia deket ma cowok ha!" ujarku terkekeh.
"Ya, iya sih cuma kan kalo nanti dia ngga pokus kerja gue juga yang repot," kilahnya.
“Yang paling di takutin sama cewek model kek Siska itu, terpesona sama playboy kek elu,” jelasku.
Aku terkekeh mendengar curahan hatinya. Benar dugaanku, sang cassanova akhirnya jatuh cinta sungguhan dengan gadis biasa dan sederhana seperti Siska.
Namun Saka enggan mengakui perasaannya yang jelas-jelas jatuh hati pada gadis itu.
"Lu udah mulai demen ma tuh cewek! Syukur, kena azab kan lu, biasa maenin cewek, jatohnya demen ma cewek yang jauh dari selera lu!" cibirku.
"Cih! Gue kagak demen ma dia!" elaknya.
"Lah trus ngapain lu ngomong kek gini ke gua? Keliatan banget lu lagi jatuh cinta tau ngga lu! Gue sumpah in ngemis-ngemis lu ma dia entar!" sindirku sambil terkekeh.
"Nah itu! Masa iya gue jatuh cinta sama papan penggilesan Tan? Sialan!"
"Lu tau gue Tan, mana ada sih cewek yang ngga klepek-klepek ma gue, cuma dia aja yang sombong banget ma gue," jelasnya.
"Sombong gimana?"
Dia lantas bercerita saat kemarin mereka makan malam usai menerima jamuan rekan bisnisnya. Siska memperhatikannya, dan dengan percaya dirinya Saka berkata jika Siska jatuh hati padanya.
Namun apa yang di ucapkan membuatnya seperti di hempaskan ke dasar sungai Amazon menurutnya.
Siska berkata padanya jika gadis itu menatapnya sebab ada secuil nasi di dekat pipinya, tapi gadis itu tak berani mengatakannya pada Saka.
Sungguh aku di buat tertawa oleh ucapan saka yang menceritakan kejadian mereka itu. Membayangkan wajah angkuh Saka yang tenang tiba-tiba berubah pias karena malu.
Kuacungkan dua jempol kepada Siska yang berhasil menaklukkan hati Saka.
Saka memang sang penjelajah wanita. tapi tak ada satu Wanita pun yang berhasil menaklukkan hatinya. Semua wanita hanya di jadikannya teman tidur, tidak lebih dari itu.
Ada alasan yang membuat atasan sekaligus sahabatku susah jatuh cinta karena rasa traumanya.
Dia di khianati oleh kekasihnya. Wanita yang sudah di pacarinya semenjak masa SMA, sejak saat itu dia mulai bergonta-ganti wanita.
Bahkan dia berkata tidak akan pernah jatuh cinta sebab semua wanita sama saja menurutnya.
Sebesar apa pun perhatian dan kesetiaan yang di berikan jika ada yang lebih menjanjikan pasti akan di tinggalkan, begitu menurutnya.
Meski aku sendiri tidak setuju, sebab Sherly yang notabenenya adik Saka, sangat setia padaku meski aku adalah bawahan kakaknya.
Entah apa yang spesial dari Siska, aku jarang sekali berinteraksi dengan gadis itu.
Tapi aku yakin sahabatku ini benar-benar jatuh hati padanya.
.
.
.
Tbc.
itu lh q suka nya klw bc novel yg udh end ...
bisa bc terooosss smpe siapp