Kisah seorang santri bernama Zahra Khoirunnisa yang di jodohkan dengan seorang pengusaha muda bernama Arkan yang tak lain adalah teman dari kakak nya.
Di satu sisi Zahra sudah menyukai seseorang dalam hatinya. Di sisi lain Zahra tidak bisa menolak keinginan ayahnya.
"Bagaimana aku bisa menikah dengannya, sedangkan hatiku sudah untuk orang lain"_Zahra
"Aku bukan orang baik, aku pemabuk dan aku juga tidak suka wanita sepertimu" _Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri risdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebahagiaan
Arkan POV
Air mata tak mampu lagi untuk ku bendung, bukan karna sedih melainkan bahagia, mendengar ungkapan cinta dan pelukan hangat dari wanita shalihahku, untuk pertama kalinya.
Ku lepaskan pelukan kami untuk melihat wajahnya yang kini berlinangan air mata.
"Jangan menangis sayang, aku tak sanggup melihat air matamu" ku usap air matanya. Tak kusangka dia berhambur kembali kepelukanku
Memelukku erat seakan aku akan pergi meninggalkan nya. Seakan ini adalah pelukan terakhir kami. Padahal ini adalah Pelukan pertama kalinya untuk kami.
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, aku tidak ingin kehilanganmu, kau milikku bukan? Tetaplah menjadi milikku." Ucapnya dengan isak tangis.
"Selama ini aku selalu berusaha menjalankan kewajiban ku dengan baik. meskipun mas Arkan selalu menghindari ku, tapi aku selalu terima, karena aku tidak pernah berpikir untuk berpisah. bagiku menikah hanya satu kali."
Aku tersenyum dan mengangguk mendengarnya, entah mengapa ucapannya terdengar begitu indah. Apa Zahra bilang? Tetaplah jadi miliknya? Benarkah dia tak ingin kehilanganku? Sungguh tak mampu ku sembunyikan kebahagian ini.
"Iya sayang, aku milikmu."
Ku peluk erat tubuhnya, sampai aku sadar kami masih ada di mesjid.
Ku putuskan mengajaknya pulang sebelum ada orang yang melihat keadaan kami saat ini. Walaupun jarang ada orang yang ke mesjid pagi buta begini.
Ku lepas pelukannya, dia menatapku heran.
"Kenapa di lepas? Mas tak suka ku peluk? Aku masih ingin memelukmu." Ucapnya dengan sedikit cemberut. Sangat manis membuat ku gemas melihat nya.
Entah kenapa setiap kata yang dia ucapkan membuat jantungku berdetak cepat dan dia panggil aku apa? "Mas?" senyum di bibirku tak mampu ku tahan.
Ku usap kepalanya, "Kita masih di mesjid zahra, mari kita pulang, kamu bisa memelukku sesukamu di rumah, bahkan lebih dari sebuah pelukan aku tak keberatan, jika kau mau." Entah mengapa aku berani menggodanya. Ku lihat rona merah menghiasi pipinya saat itu. Dia malu, Ya tuhan dia benar benar indah.
Akhirnya kami pulang ke rumah. Selama perjalanan dia sama sekali tak melepaskan pegangan tangan kami. Aku sungguh belum percaya dengan apa yang terjadi. Ini lebih indah dari apa yang selama ini ku bayangkan.
Kami berjalan dalam keheningan. dengan pikiran masing masing. entah Zahra sedang memikirkan apa saat ini, yang jelas dia memegang erat tanganku.
Sampailah kami di depan rumah.
"Masuklah Zahra," ku bukakan pintu untuknya.
"Terima kasih," ucapnya dengan senyuman. Senyuman indah yang membuat ku tak ingin berpaling.
Tetaplah seperti ini zahra, tetaplah jadikan aku sebagai alasan kau tersenyum. Tetaplah berikan senyuman itu hanya untukku. Hanya aku.
Selama ini, kami bahkan jarang berbincang hangat, aku selalu berusaha menghindar. bukan tanpa alasan, tapi berada dekat dekat dengan nya aku selalu merasa gugup sampai bingung harus melakukan apa.
Kadang aku merasa seperti orang bodoh jika sudah berhadapan dengannya. maka dari itu aku selalu berusaha menghindar.
Padahal dalam lubuk hati yang paling dalam, aku selalu ingin berdekatan dengannya. Kadang berfikir untuk mendekat, tapi aku takut dia akan menjauh. Aku terlalu naif untuk mengatakan bahwa aku sangat sangat menginginkan Zahra sebagai pendamping.
Aku tak pernah berfikir dia akan menerima ku seperti ini. Di luar dugaanku, tapi bagaimanpun aku sangat bahagia. Tak bisa terlukis bagaimana bahagianya aku saat ini.
"Jadi selama ini mas menghilang karna pergi ke mesjid?" Tanya Zahra
"Selama ini? maksud nya kamu sudah lama tahu aku selalu pergi setiap jam segini?"
"sudah lama, bahkan Zahra sering mengikuti mas. Tapi tak pernah berhasil. Selalu kehilangan jejak."
Jujur aku kaget mendengannya.
"kenapa mengikuti ku?"
"Emm sebenarnya.. aku minta maaf sebelumnya karena awalnya aku berfikir yang tidak baik tentang mas."
"iya gak apa-apa. Mas ngerti kok."
"sekarang kita mulai semua dari awal ya, Mas mau kita selalu terbuka, jangan ada yang di tutup tutupi." ku sentuh bahunya.
"Iya mas Zahra setuju."
#**Hai readers jangan lupa dukung terus karyaku ya, boleh banget loh kalau mau vote seikhlasnya 😁😁 salam hangat dari author
oh iya author selalu usahain buat up tiap hari**.
"