NovelToon NovelToon
LAST STAND

LAST STAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi / Zombie / Epik Petualangan / Hari Kiamat / Evolusi dan Mutasi / Sci-Fi
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: KURORYU

Hari dimana umat manusia menyaksikan sebuah meteor menhancurkan sebuah desa di kaki gunung Tasikmalaya yang menyebabkan tercemarnya aliran air dan juga menjadi sebuah wabah terjangkitnya yang di sebut "Inang" sebutan bagi manusia yang terjangkit di karenakan mereka bertingkah monster yang memakan manusia dan menginfeksi korban mereka, Mampukah manusia bertahan atau "inang" yang menang dalam wabah ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KURORYU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. REVENGE!!!

Setelah cukup lama enggak sadar, Gilang bangun dengan posisi tangan dan kaki terikat. Di depannya, Pak Herdi lagi duduk bengong, nungguin Gilang sadar. "Lang, udah bangun?" tanya Pak Herdi singkat sambil nyender di tembok.

"Apa yang terjadi, Pak? Kita di mana? Siapa mereka? Ismi gimana?" Gilang nanya bertubi-tubi, heran karena mereka berdua sekarang di ruangan kosong.

"Kita ditawan, Lang. Semua bahan makanan kita dibawa sama mereka. Kalau Ismira, enggak tahu di mana, yang jelas dia ada, cuma enggak tahu di ruangan mana," jawab Pak Herdi lirih, kelihatan pasrah sama nasibnya.

Gilang berusaha ngerangkak deketin Pak Herdi, minta tolong bukain resleting celananya. "Pak, bisa tolongin bukain resleting jaket Gilang? Di dalamnya ada pisau lipat," bisiknya, takut kedengaran penjaga.

Pak Herdi pun cepat-cepat ngebuka resleting jaket Gilang, terus nyari pisau yang disebut Gilang. Setelah ketemu, Gilang langsung minta Pak Herdi ngelepasin dia biar bisa kabur dari tempat itu.

Setelah bebas, Gilang langsung buka celananya buat ngobatin betisnya yang tadi kena panah. Dia pakai P3K yang ada di tas kecil yang melilit di pahanya.

Habis ngobatin betis, mereka langsung nyusun rencana buat balas dendam sekaligus kabur. "Sekarang kita bikin keributan dulu," kata Pak Herdi, ngasih instruksi ke Gilang.

Setelah Gilang ngerti, mereka pura-pura berantem. Ributnya lumayan kenceng, bikin salah satu penjaga cowok masuk dan nyuruh mereka berhenti.

"Eh, t*i! Bisa diam enggak?! Goblok kalian!" bentak pria itu, berdiri tepat di belakang Gilang.

Gilang langsung balik badan dan ngerok leher pria itu sambil membekap mulutnya biar enggak teriak. "Harusnya lu yang sopan kalau ngomong!!!" ucap Gilang dingin, terus nusuk dada pria itu sampai lemas dan terkapar.

Mereka bersembunyi di balik pintu yang sekarang terbuka, karena kedengeran suara cewek manggil-manggil orang yang baru aja mereka bunuh.

"Cuk...! Lama amat lu ngen*ot! Ngecek doang padahal!" kata cewek itu sambil masuk ruangan. Dia kaget pas lihat temannya udah terkapar berlumuran darah.

Pas mau kabur, cewek itu dijambak sama Gilang, terus ditusuk di tengkuknya sampai tembus ke luar dari mulutnya. Cewek itu langsung mati di tempat.

Setelah merasa aman, mereka mutusin buat nyari Ismira. Mereka keluar dari ruangan itu. Setelah cukup lama nyari, mereka nemuin Ismira terkunci di sebuah ruangan. Mereka langsung bebasin Ismira.

Setelah mereka semua kumpul lagi, mereka cepat-cepat nyari jalan keluar. Mereka lari turun tangga. Tiba-tiba, Pak Herdi udah enggak ada di samping mereka. Ternyata dia udah disandera sama komplotan itu.

"Oh... halo, ketemu lagi. Bawa orang tua gini susah ya..." kata salah satu pria, bikin mereka berhenti lari.

"Anjing lu! Mau apa?!" Gilang ngomong gitu, marah banget, ke orang-orang yang nyandera Pak Herdi.

"Gue cuma mau—" Belum selesai pria itu ngomong, Pak Herdi teriak ke mereka berdua. "Lari! Jangan peduliin Bapak!" ucap Pak Herdi lantang, nyuruh mereka pergi dan ninggalin dia.

"Dukkk..."

Kedengeran suara pukulan mendarat di perut Pak Herdi, dilayangkan sama orang di sampingnya.

"Kalau orang lagi ngomong... tuh dengerin!" katanya. Gilang lihat darah mulai netes ke lantai. Ternyata Pak Herdi ditusuk sama mereka.

"Udah tua... Bukannya ngajarin sopan, malah ngelunjak!" kata pria itu, terus ngelayangan pisau yang pas banget kena leher Pak Herdi. Dia dorong badan Pak Herdi ke balkon sampai jatuh ke lantai satu, sambil ketawa kegirangan.

Ismira yang lihat itu langsung teriak dan nangis. "Pak... kenapa..."

Pria yang tadi nusuk Pak Herdi jalan ninggalin anak buahnya. "Kalian urus mereka," katanya sambil nepuk pundak salah satu anak buahnya.

Setelah lihat kejadian itu, Gilang langsung ngelempar dua botol plastik yang langsung ngeluarin banyak asap putih pekat, diakhiri ledakan kecil. Empat pengawal itu bingung, kaget karena asap dengan cepat nutupin pandangan mereka.

Gilang langsung lari nerjang mereka semua, sendirian pakai golok sama katana. Kedengeran jeritan sama suara bagian tubuh manusia yang mulai kelihatan bergelimpangan pas asapnya mulai agak hilang.

Kelihatan Gilang udah numbangin tiga orang. Dia motong kepala mereka, ngebelah badan jadi dua, sama nusuk katana dari dada sampai tembus ke tengkuk.

Orang yang pertama kali nusuk Pak Herdi ketakutan banget lihat kejadian itu. Pembunuhan yang dilakukan Gilang itu cuma dalam dua puluh detik aja. Dia panik, terus jatuh karena kesandung kepala temannya.

Pas mau berdiri, Gilang langsung ngegagalin dia. Dia nusuk pas di kemaluan pria itu, bikin pria itu kesakitan banget dan mau teriak. Tapi, naas, pas dia teriak malah 'disuapin' katana sama Gilang.

"Coba ngomong sekarang!" kata Gilang sambil neken katananya yang udah masuk mulut pria itu.

"Ewrgh...." pria itu ngelantur enggak jelas, kayak minta maaf karena udah bikin Gilang marah.

Gilang langsung neken katananya sampai nembus kepala orang itu. "Lain kali lu pakai isi otak dulu," ucap Gilang dingin, terus nyabut katananya yang penuh darah.

Dia langsung nyamperin Ismira yang duduk tertegun melihat dua kejadian di luar nalar terjadi di depan matanya. "Mi... keluar aja duluan, tunggu di tempat aman!"

Ucap Gilang dingin, sambil bantu Ismira berdiri dan ngasih pisau lipat dari saku celananya. "Nih... buat jaga-jaga! Ada hal yang harus aku urus." Ismira pun ngikutin.

Setelah yakin Ismira aman di luar dan udah sembunyi, Gilang langsung masuk lagi, lari nyari pria yang bunuh Pak Herdi.

Dia jalan ke arah mayat Pak Herdi yang udah terbujur kaku di tengah ruangan. Tapi malah ada pria yang bunuh dia lagi duduk di atas mayat Pak Herdi.

"Balik lagi nih anak! Apa sih yang spesial dari tua bangka ini?!" kata pria itu sambil loncat berdiri.

"Lu enggak bakal tahu seberapa baik orang yang lu bunuh pakai tangan busuk lu!" Gilang ngomong gitu sambil jalan deketin pria itu. Dia ngelempar katana sama goloknya jauh-jauh dari mereka berdua.

"Wihhh... keren banget kayak di film-film..." ejek pria itu. Gilang enggak peduli, dia terus jalan sampai cukup dekat sama pria itu.

"Gue suka gaya lo!" kata pria itu sambil nepuk tangan pas di muka Gilang.

"Bacot lu!" Gilang emosi, langsung nonjok muka pria itu, tapi ditahan. Pria itu berhasil nendang dada Gilang sampai terpental beberapa langkah.

Gilang langsung lari dan loncat, nyerang pakai lututnya yang pas banget kena muka orang itu.

Mereka mulai jual beli serangan. Pria yang dilawan Gilang mulai terdesak, terus berhasil dilempar Gilang sampai tersungkur keras ke tembok.

"Diri lu!" ucap Gilang sambil berdiri nunggu pria itu berdiri. Setelah pria itu berdiri, Gilang langsung ngehujani pukulan bertubi-tubi ke tubuh pria itu, terus berhasil ngebenturin kepala pria itu ke tembok sampai keluar darah dari pelipisnya.

Tapi pas Gilang mau mukul biar dia pingsan, pria itu ngeludah ke muka Gilang. Gilang lengah, dan pria itu cepat-cepat nyayat kaki Gilang pakai pisau yang dia sembunyiin.

Dia juga nusuk paha kanan Gilang. Gilang berhasil mukul mundur orang itu, terus ngelap mukanya.

Belum selesai dia ngilangin noda darah di matanya, dia langsung ditendang dadanya sama pria itu. Langsung terkapar telentang, jadi bulan-bulanan pria itu. "Jangan sok keras lu!" kata pria itu sambil ketawa, mukulin wajah Gilang. Tapi Gilang berhasil nghentiin dia. Dia narik rambut pria itu sampai setengah telentang, terus ngecekik kepala pria itu pakai kakinya.

Ada peluang buat bebas, Gilang cepat-cepat ngerangkak, berusaha ngambil golok yang sebelumnya dia lempar buat ngadepin pria itu.

"Lumayan juga pukulan lu... Cuh..." kata pria itu sambil ngeludah, kelihatan dua giginya udah jatuh di lantai.

"Heh... kita belum beres..." ucap Gilang sambil berdiri, berniat ngakhiri pertarungan mereka.

Mereka pun mulai lagi pertarungan, tapi kali ini tensinya saling pengen bunuh.

Ting... ting...

Suara benturan besi yang keras mulai kedengeran, diiringi kilatan api kecil dari efek benturan itu. Cipratan darah mulai kelihatan di baju masing-masing.

Pertarungan berubah jadi adu ketahanan. Tapi enggak lama, tusukan terakhir pria itu meleset dari Gilang. Itu jadi kesempatan Gilang buat nebas pergelangan tangan kanan pria itu sampai putus.

Pria itu langsung ambruk dan teriak kesakitan. Gilang langsung nusuk pundak kirinya, hampir bikin tangan pria itu putus juga.

Pria itu sekarang enggak bisa gerak lagi. Gilang langsung ninggalin pria itu dan jalan ke arah mayat Pak Herdi buat lihat dia terakhir kali.

Pas di depan mayat Pak Herdi, dia nyari secarik surat yang sebelumnya Pak Herdi tunjukkin ke anaknya, Yukky.

Setelah berhasil nemuin, dia langsung buka dan baca isinya.

'Semoga Papa bisa ketemu Mamah ya, Neng. Papa sayang Neng.'

Itu isi pesan di secarik kertas itu. Gilang nangis, netesin air mata. Dia nyabut kalung di leher Pak Herdi, terus bawa surat yang udah penuh darah itu buat pulang.

Tapi pria yang terkapar tadi terus teriak-teriak nyaci maki Gilang. Gilang pun balik ke dia, terus nyumpel mulutnya pakai handphone yang udah dia setel alarmnya biar ngeluarin suara yang udah direkam.

"Selamat ngerasain neraka dunia," ucap Gilang sambil masangin sumpal handphone itu.

Dia pun langsung membopong mayat Pak Herdi keluar gedung buat dimakamin dengan layak. Pintu-pintu dia biarin kebuka semua biar banyak makhluk bisa masuk ke tempat itu.

1
Mitt²🍒⃞⃟🦅
semangat 👍
Mitt²🍒⃞⃟🦅
saat dialog setelah tanda petik huruf pertama kapital kak 🙏
Mitt²🍒⃞⃟🦅: sama saya juga kak 🙏, mampir kak kalau berkenan
total 2 replies
➳ᴹᴿ᭄✍ ₑₖₐ ⱼᵤₙₕₐₜₐ✎㎡
Karya yang luar biasa
mia sarfi
zombie bucin
mia sarfi
semoga selamet
Anisa Fitria
bencana tingkat kota
Anisa Fitria
baru nyoba baca novel zombi sih
Anisa Fitria
semangat kakak
mey
lanjut Thor kalo gak lanjut di tampol setiap detik. 😁
OGLOST: bjir :v
total 1 replies
OGLOST
semangat
OGLOST
nice plot
RSL
sebenarnya ga ada salahnyakan setiap awal cerita dimulai dengan alarm, MCnya kesiangan, lari terburu-buru berangkat sekolah. thanks japan mana 🙏
tintakering
jadi bencana nasional😁
tintakering
salam kenal thor. cerita yg menarik👍
OGLOST: makasih kakak
total 1 replies
EMB tri.g
lanjut thor, semngat
OGLOST: iya sama sama ka :)
total 2 replies
OGLOST
nice novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!