Musim ke tiga sequel dari
Omku Suamiku season 1 dan 2
Disarankan membaca
Omku Suamiku season 1 revisi
Omku Suamiku season 2
Julie, terjebak dalam perjanjian dengan tiga orang pemuda Bara, Neo dan Alan karena iklan tipu tipu.
Jadi pembatu ketiganya karena kontrak yang sudah terlanjur disetujui tanpa melihat isi kontrak kerja yang sudah ditandatangani.
Bagaimana Julie menjalani hari hari menghadapi Bara yang dingin dan jutek, Neo yang gak jelas kadang baik kadang lebih jutek dari kembarannya dan Alan yang hobi ngegombal.
Khas playboy cap badak bercula ?
Dan Alana, adik perempuan Alan yang baru berusia enam belas tahun, akan menikahi gurunya sendiri karena rasa dan permintaan sang Opa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Tragedi celana dalam
" Tidak bisakah jangan terus melototi model itu ? Bekerjalah profesional "
Decaknya kesal.
Pria berambut gondrong itu terkekeh.
" Bagaimana aku bisa tidak melihat dia, aku sedang memotretnya, kalau aku terpejam, tentu aku tidak bisa mengambil angel yang tepat, sayang "
Ujarnya sembari melihat lihat hasil jepretannya.
Pemotretan baru saja selesai, semua awak yang terlibat dengan tiap pemotretan untuk semua jenis permintaan klien, sudah dari lima menit yang lalu meninggalkan lokasi, termasuk sang model, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
" Alasan ? "
" Sayang, jangan cemburu! Ini profesi-ku, percayalah, aku bekerja profesional, kamu kan selalu mengawasi gerak gerikku, memangnya aku berani macam macam ? Lagi pula banyak karyawan juga "
Tangannya merengkuh bahu gadis yang bibirnya terlihat mencebik itu
" Jangan begini, nanti Papa melihat, kamu bisa dipecatnya "
Ancamannya sembari melepaskan telapak tangan yang ada di bahunya.
" Sampai kapan kita menyembunyikan hubungan ini ? Sudah dua tahun kita kucing kucingan "
" Tunggulah sampai aku menyelesaikan study-ku, aku berjanji, disaat aku di wisuda, aku akan memperkenalkan kamu pada Papa "
" Papamu sudah mengenalku, bukankah aku satu satunya fotografer di Agency ini ? "
Reino, ya putra pertama Papa Adam dan Mama Regina, memilih sebagai fotografer dan bekerja pada perusahaan milik Alfian, suami Dinda.
Bekerja selama tiga tahun, sering bertemu dengan Malika, Malika sebagai salah satu calon pewaris perusahaan Agency milik Alfian, sementara sang kakak, Saka, lebih memilih pabrik untuk segala macam produk,
Pertemuan Malika dan Reino yang hampir setiap hari membuat keduanya saling jatuh cinta, tetapi Malika belum berani mempublikasikan hubungan mereka pada orang lain maupun pada kedua orang tuanya, kuatir kedua orang tuanya tidak setuju.
Kisah Om Sam yang istrinya berselingkuh dengan model yang selalu di potretnya, menjadi momok tersendiri bagi keluarga Alfian untuk seorang yang profesinya sebagai fotografer.
" Baiklah, terserah padamu, hari sudah semakin malam, ayo kita pulang ! "
Reino menggandeng jemari tangan Malika.
" Ikuti aku dari belakang seperti biasa ! "
Ujarnya manja.
" Iya sayang, aku akan mengikuti mu sampai ke rumah, kalau perlu sampai ke dalam kamar "
" Ngaco ! "
Reino Terkekeh.
" Besok tidak ada pemotretan, aku mau menginap ditempat adik adikku, jadi jangan cari aku ya sayang "
Tangan Reino mengusap rambut di kepala Malika dengan sayang
" Beneran ? Gak ketempat cewek lain ? "
Reino tergelak.
" Satu cewek saja masih belum kelar, ngapain cari cewek lain ? "
" Jadi punya rencana mau cari yang lain gitu ? "
Duh, salah ngomong nih.
" Enggak, cuma kamu dan hanya kamu, oke ? "
Reino menatap lembut wajah Malika, keduanya bertatapan lama di anak tangga, Reino perlahan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Malika.
" Mau mencium ? Gak boleh ! "
Malika cepat berlari menuruni anak tangga.
Reino hanya bisa mengusap belakang kepalanya, lalu menyusul Malika turun ke bawah.
Reino mirip Papa Adam kan ? Lembut dan manis seperti gulali.
...******...
Sampai di rumah tempat Bara, Neo dan Alan, waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam.
Reino lebih memilih menghubungi Alan yang doyan begadang.
" Malam betul kemarinya, bang, untung aku belum tidur "
Omel Alan pelan sembari membuka pintu pagar.
" Mau bagaimana lagi, pemotretan baru selesai "
Sahut Reino menutup pintu mobilnya sedikit kencang.
" Bara dan Neo sudah tidur ? "
" Sudah "
" Ya sudah, Abang tidur di kamarmu saja "
Alan lupa jika ada Julie dirumah, lagi pula tidak mungkin kan membangunkan Julie di tengah malam lalu menyuruhnya bermain yang jauh, yang benar saja.
Setelah membersihkan diri, Reino dan Alan tidur saling memunggungi, mau ngobrol sudah terlalu malam.
...*****...
" Aaarrggghh "
Lengkingan teriakan pada jam empat dini hari, membuat Bara, Neo, Alan dan Reino terbangun.
Secepat kilat Bara, Neo dan Alan berlari ke arah dapur, tetapi tidak dengan Reino, pikirannya masih belum nyambung.
Suara apa itu ? Dedemit ? Ah tidak mungkin ?
Akhirnya ia ikut keluar dari dalam kamar juga karena melihat Alan yang tergopoh-gopoh bangun dengan melompat
" Ada apa ? "
Tanya ketiganya serentak berdiri di depan Julie yang berjongkok di depan mesin cuci, sebelah tangannya memegang hanger untuk menunjukkan sesuatu yang membuat dia menjerit kencang sehingga membangunkan semua orang.
" Ini punya siapa ? Kenapa ada diantara pakaian milikku yang aku cuci "
Julie menunjuk satu buah pakaian dalam milik pria.
Alan mengangkat kedua bahunya.
" Abang belum ada mencuci Juliette "
Bara melirik ke arah Neo.
Neo berjalan cepat lalu mengambil pakaian dalamnya yang ada diujung hanger yang Julie pegang.
" Baru pakaian dalam saja sudah membuatmu menjerit histeris, apalagi...."
" Ekhem "
Reino berdehem.
Alan menepuk dahinya, dia lupa ada Julie yang harus disembunyikan pada Reino, Bara, Alan dan Neo saling berpandangan.
" Hai cantik, kamu siapa ? Kok bisa dini hari begini ada dirumah ini ? "
Reino berjalan mendekat ke arah Julie yang baru menyadari ada pria lain selain ketiga pria seperti biasa.
" Aku...."
Julie melihat ke arah Bara, Neo dan Alan secara bergantian.
" Bang, kami akan menjelaskan siapa dia "
Sela Alan.
" Kalian tunggulah di ruang depan, nanti Abang akan berbicara pada kalian bertiga "
Perintah Reino tanpa melihat ke arah Bara, Alan dan Neo.
" Siapa namamu cantik "
Tanya Reino pelan
" Julie "
Sahut Julie sama pelannya.
Siapa pria ini ? Gayanya sama manisnya seperti bang Alan, pasti pintar merayu, dengan senyumnya itu, sudah bisa kujamin dia banyak memperdaya perempuan seperti bang Alan.
Julie berdecak dalam hati.
" Mereka tidak ada yang bersikap kurang sopan padamu bukan ? "
Julie menggeleng.
" Oke, lanjutkan apa yang kamu lakukan tadi, Ju-Julie, kenapa Alan memanggil Juliette ? Apakah kalian berpacaran ? "
Julie menggeleng gelengkan kepalanya berkali kali.
Reino terkekeh.
" Jangan menggeleng terlalu kencang, nanti lehermu bisa lepas, Julie "
Reino berbalik lalu berjalan mendekati ketiga pria yang sudah menantinya di ruang tamu.
Alan yang semula melongokkan kepalanya ke arah belakang melihat Julie dan Reino, segera bersikap biasa saja.
" Kenapa ? Kau takut bang Reino merayu Julie ? Dia lebih keren dan lebih dewasa darimu "
Ejek Neo mencibir.
Alan tidak menanggapi, percuma, karena jika ditanggapi, ntar Neo akan mengatakan.
Kau tidak sopan terhadap Om mu sendiri.
Menyebalkan bukan ? Lebih baik pura pura tidak mendengar.
" Siapa dia ? "
Tanya Reino ketika sudah duduk di depan ketiganya.
" Abang bisa menjamin jika kalian bertiga menyembunyikan keberadaan dirinya dari orang tua kalian bukan ? "
Neo menendang kaki Alan, agar dia saja yang menjelaskan pada Reino.
Alan mendesah jengah.
" Begitu ceritanya bang "
Ujar Alan dengan jujur.
Reino terkekeh.
" Tidak Abang duga jika kalian bertiga nakal juga ya ? Menahan dia hanya untuk memasak untuk kalian semua dan membereskan rumah ? Pasti diantara kalian ada yang menyukai dirinya "
Reino menatap Bara yang terlihat acuh, lalu beralih pada Neo dan Alan yang sama sama saling pandang.
Reino kembali tertawa.
" Sebagai sesama pria, Abang akan merahasiakan ini, asal kalian ingat, jaga dia seperti kalian menjaga, Laura, Kania dan Alana "
" Iya Bang, pasti "
Sahut Alan, Neo mencibir ke arah Alan lagi.
...******...
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...